NovelToon NovelToon
(Batas Tipis) CINTA & PROFESI

(Batas Tipis) CINTA & PROFESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Cintapertama
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Penasigembul

Dorongan kuat yang diberikan sepupunya berhasil membuat Marvin, pria dengan luka yang terus berusaha di kuburnya melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang praktek seorang Psikolog muda. Kedatangannya ke dalam ruang praktek Bianca mampu membuat wanita muda itu mengingat sosok anak laki-laki yang pernah menolongnya belasan tahun lalu. Tanpa Bianca sadari kehadiran Marvin yang penuh luka dan kabut mendung itu berhasil menjadi kunci bagi banyak pintu yang sudah dengan susah payah berusaha ia tutup.
Sesi demi sesi konsultasi dilalui oleh keduanya hingga tanpa sadar rasa ketertarikan mulai muncul satu sama lain. Marvin menyadari bahwa Bianca adalah wanita yang berhasil menjadi penenang bagi dirinya. Cerita masa lalu Marvin mampu membawa Bianca pada pusaran arus yang ia sendiri tidak tahu bagaimana cara keluar dari sana.
Ditengah perasaan dilema dan masalahnya sendiri mampukah Bianca memilih antara profesi dan perasaannya? apakah Marvin mampu meluluhkan wanita yang sudah menjadi candu baginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penasigembul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Sudah dua hari berlalu sejak PEMBICARAAN terakhirnya dengan Saka. Saat ini Marvin sedang berada di penthousenya, membakar sebatang rokok dan mengisapnya dalam. Perkataan terakhir Saka di ruangannya saat itu berhasil mengusik pikirannya.

“Masih tetap sama pendirian lu, Vin?” suara Saka yang tiba-tiba terdengar membuat Marvin menghembuskan asap rokoknya dan menoleh menatap sepupunya yang menjatuhkan diri tepat di sebelahnya.

“Terus gue harus apa?” bukannya menjawab, Marvin membalas pertanyaan Saka dengan pertanyaan.

“Mau nyerah Cuma karena ditolak sekali?” Saka mengambil rokok yang memang diletakkan oleh Marvin di atas meja, membakar kemudian mengisapnya.

“Bukannya sepanjang hidup gue memang selalu ditola?” Marvin mengalihkan pandangannya, sekali lagi ia mengisap rokoknya dalam dan menghembuskan asapnya bersamaan dengan helaan nafas kasar.

“Ini situasi yang berbeda, bahkan lu belum bicara serius mengenai perasaan kalian.” Ujar Saka tenang. “Lagipula dia bukan menolak, Cuma minta lu menunggu.”

Marvin terdiam mendengar ucapan Saka, penolakkan yang ia dapatkan sejak dulu membuatnya mudah sekali berhenti untuk memperjuangkan sesuatu. Karena ia tahu pada akhirnya ia akan sendiri dan tidak mendapatkan apapun.

Terlebih ketika ia begitu percaya akan cinta yang diberikan Nadira dulu kepadanya, wanita itu meyakinkan dirinya bahwa Marvin memilikinya untuk memiliki dan dimiliki, sampai hari itu tiba, hari dimana Nadira memutuskan pergi dengan alasan membangun karirnya.

Marvin pernah meyakinkan wanita itu bahwa dirinya bisa membantu apapun untuk perkembangan karirnya, tapi wanita yang begitu ia cintai hanya mengatakan bahwa ia mau berusaha di atas kakinya sendiri. Dengan segala rasa percayanya Marvin memberikan dukungan penuh kepada Nadira, namun sebuah pengkhianatan yang dilakukan wanita itu menghantam Marvin dengan telak, membuat pria itu memilih melepas dan mengubur bahwa dirinya layak untuk menerima cinta.

“Berjuanglah sekali ini Vin, buat meraih sesuatu yang memang membuat lu bahagia.” Saka kembali bersuara memecah keheningan ketika menyadari sepupunya hanya diam, sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Gue merasa percuma berjuang, pada akhirnya gue akan sendiri.”

“Kalau lu gak pernah mencoba, lu juga gak akan pernah tau.” Saka mematikan rokoknya dan menegak beer yang ada di meja.

*

Sementara itu di gedung conceling tempat Bianca bekerja, ia sedang menunggu seorang klien baru yang memang sudah dijadwalkan oleh Jean sesuai permintaannya. Hari inipun Bianca hanya memutuskan untuk melakukan satu sesi.

Ketika ketukan pada pintu ruangannya terdengar Bianca berdiri dan hendak menyambut kliennya. Senyum mengembang di wajah wanita itu ketika hendak membuka pintu, Jean dan seorang wanita sudah berdiri di hadapan Bianca, namun seketika senyum Bianca memudar, matanya membulat sempurna, ia mengenali wanita di hadapannya itu, Bianca tidak mengenalnya, tapi pertemuan di ruang rawat inap Marvin beberapa bulan lalu masih terpatri dalam kepala Bianca.

“silahkan masuk.” Ujar Bianca lembut sambil menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan wanita itu.

Tanpa sungkan wanita itu langsung duduk di sofa yang memang tersedia dalam ruangan yang cukup memberikan ketenangan bagi siapa saja yang ada disana.

Bianca melangkah kembali ke mejanya, mengambil profil wanita itu, membawanya dan kemudian duduk di sofa single yang berhadapan dengan wanita itu.

“Selamat siang, Mba Nadira.” Sapa Bianca lembut dan tenang. “Apakah sulit menemukan tempat ini?” imbuhnya lagi berbasa-basi, berusaha membangun kedekatan sebelum masuk pada intinya.

“Tidak perlu berbasa-basi, Mba Bianca.” Sahut Nadira sambil menyandarkan punggung dan menyilangkan tangannya di depan dada. “saya kesini bukan untuk berkonsultasi atau membangun hubungan baik dengan anda.”

Mendengar perkataan wanita dihadapannya, Bianca masih berusaha tenang dan memberikan senyuman lembutnya. “jika begitu, apa yang bisa saya bantu?”

“Saya kesini hanya untuk mengingatkan anda mengenai siapa anda dan siapa Marvin.”

Bianca menyipitkan matanya, ia mengingat bagaimana wanita ini begitu perhatian pada Marvin saat pria itu terbaring tidak berdaya, jauh sebelum hari ini Bianca tahu bahwa wanita dihadapannya memiliki suatu hubungan dengan Marvin, meski dirinya sendiri tidak tahu hubungan seperti apa. Marvin sendiri tidak pernah membahas wanita ini padanya.

“Maksud anda?” tanya Bianca, wajahnya masih menampakan ketenangan.

“Jauhi Marvin. Dalam bentuk hubungan apapun.” Tukas Nadira, suaranya terdengar lebih dingin kali ini. “Bukankah tidak pantas seorang Psikolog memiliki hubungan personal dengan kliennya?” imbuh Nadira lagi.

Bianca terdiam mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita bernama Nadira itu. Meski hatinya bergemuruh, ia masih berusaha tenang dan tidak merubah sedikitpun raut wajahnya.

“Anda perlu tahu Mba Bianca, sebelum anda hanya saya wanita yang berhasil membuatnya merasa dicintai, dimiliki dan bisa memiliki seseorang yang penting dalam hidupnya. Kehadiran anda hanya membuat Marvin dilema.” Tutur Nadira santai dan percaya diri. Bianca masih menatap Nadira menunggu kalimat apa lagi yang akan disampaikan wanita itu.

Nadira tersenyum tipis melihat bianca hanya terdiam, kemudian ia melanjutkan. “Jadi secara baik-baik, saya meminta anda mundur dari kehidupan Marvin. Dia tidak butuh anda, tidak juga butuh terapi yang anda berikan.” Senyum percaya diri kembali merekah di wajah Nadira.

“Jika Pak Marvin memang tidak membutuhkan terapi ini, kenapa dia mendatangi saya beberapa bulan lalu untuk melakukan terapi?” Bianca menatap wanita dihadapannya cukup lekat, ada kekesalan yang berhasil ia tutup dengan ketenangan dan suaranya yang tetap lembut.

Nadira menegakkan posisi duduknya ketika mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Bianca. “Ketika Marvin menemui anda saya sedang tidak berada disini karena suatu urusan.” Ketus Nadira sambil menatap tajam kearah Bianca. “Marvin hanya membutuhkan saya dan saya sudah kembali.”

Bianca menghela nafasnya perlahan, ia tetap berusaha menjaga profesionalitasnya dengan tetap tenang dan tidak mengarahkan pembicaraan pada sesuatu yang lebih personal.

“Saya rasa kebutuhan Pak Marvin akan terapi ini hanya beliau yang tahu, Mba Nadira. Jadi saya akan menyerahkan kembali kepada Pak Marvin, Jika beliau memang merasa sudah tidak membutuhkannya, Pak Marvin bisa menghentikannya kapan saja dan hal itu bisa langsung ia sampaikan kepada asisten saya.” Tutur Bianca akhirnya, ia merasa saat ini jawaban itulah yang paling bijak untuk ia berikan, karena Marvin bukan anak dibawah umur yang masih dalam pengawasan orangtua atau wali, sehingga Marvin bisa menentukan sendiri keputusannya.

*

Sepeninggalan Nadira dari ruangannya Bianca kembali memikirkan setiap perkataan wanita dengan rambut sebahu itu. Setiap ucapan wanita itu berhasil mengobrak abrik hati Bianca, entah mengapa mendengar penuturan Nadira mengenai Marvin hanya membutuhkan wanita itu membuat Bianca tidak senang, ada rasa tidak terima di dalam lubuk hatinya.

Bianca menegak air mineral untuk meredakan rasa tidak nyaman dalam hatinya, ingatannya kembali pada malam dimana Marvin mengakui perasaannya, ucapan Nadira dan pengakuan Marvin sangat bertolak belakang dan membuat Nadira semakin tidak mengerti.

Di satu sisi pria itu mengatakan hanya membutuhkan dirinya karena kehadirannya berhasil membuat pria itu merasa menjadi normal, tapi hari ini seorang wanita datang dan mengaku bahwa Marvin hanya membutuhkan wanita bernama Nadira itu.

Terlepas dari itu semua, Bianca tahu ada hal yang lebih mengganjal dihatinya dan hal itu menguatkan dirinya bahwa ia telah gagal dengan terapi terhadap Marvin.

Bianca sadar bukan soal siapa yang di butuhkan pria itu atau siapa yang bisa membuat Marvin merasa menjadi normal, dalam sudut pandangnya Marvin harus bisa sembuh dari masa lalunya tanpa berketergantungan dengan kehadiran siapapun, ia harus bisa menerima dan mencintai dirinya sendiri terlebih dulu.

“Argg” teriak Bianca merasa frustrasi dengan kebodohannya sendiri yang tidak bisa membedakan perasaannya.

1
Tít láo
Aku udah baca beberapa cerita disini, tapi ini yang paling bikin saya excited!
Michael
aku mendukung karya penulis baru, semangat kakak 👍
Gbi Clavijo🌙
Bagus banget! Aku jadi kangen sama tokoh-tokohnya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!