Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Beberapa hari berlalu sejak insiden itu.
Pagi itu, Kael berdiri membungkuk di depan wastafel kamar mandinya. Sejak membuka mata, perutnya terus bergolak. Rasa mual datang silih berganti, memaksanya beberapa kali menunduk di depan kloset.
Ia bahkan berusaha memuntahkan isi lambungnya, tetapi tak ada yang keluar selain cairan bening dengan rasa asam dan pahit yang memenuhi rongga mulutnya.
Kael mengusap bibirnya pelan, lalu memutar keran. Air dingin membasuh wajahnya, namun sama sekali tidak mampu menghilangkan rasa tidak nyaman yang menguasai tubuhnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" gumamnya lirih sambil menatap bayangannya sendiri di cermin. "Jangan-jangan aku tanpa sadar menelan sesuatu yang beracun? Kenapa mualnya separah ini?"
Wajah pria berusia tiga puluh lima tahun itu terlihat sedikit pucat. Alisnya bertaut, mencoba mengingat apa pun yang mungkin menjadi penyebab kondisi aneh tersebut, tetapi pikirannya sama sekali buntu.
"Kael."
Suara seseorang memanggil dari balik pintu kamar.
Nada santai tanpa basa-basi itu membuat Kael langsung mengenali pemiliknya. Tak banyak orang yang berani memanggil namanya begitu saja tanpa embel-embel sapaan formal.
"Itu pasti Raka."
Raka bukan sekadar sahabat lamanya. Pria itu juga telah menjadi bagian dari keluarganya setelah menikahi sepupu Kael. Hubungan mereka lebih menyerupai saudara daripada sekadar teman.
Kael membuka pintu kamar mandi sambil mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil.
"Ada apa?" tanyanya datar.
Saat memasuki kamar, ia mendapati Raka sudah duduk santai di tepi ranjangnya. Seprai yang masih sedikit kusut menjadi bukti bahwa Kael baru saja bangun beberapa saat yang lalu.
"Aku sebenarnya datang mau membicarakan sesuatu, tapi..." ucapan Raka terputus ketika melihat kondisi sahabat sekaligus sepupunya itu. Meski mereka kerap saling mengejek dan berdebat, kepedulian di antara keduanya tak pernah benar-benar hilang. Hubungan keluarga mereka selalu dipenuhi pertengkaran kecil yang justru menjadi bagian dari kebersamaan.
Raka segera bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Kael yang baru keluar dari kamar mandi. Pria itu berdiri dengan tubuh sedikit limbung, wajahnya kehilangan warna, dan sorot matanya tampak lelah.
"Kael, kau baik-baik saja?" tanya Raka sambil mengangkat tangan hendak menyentuh dahi Kael untuk memastikan suhu tubuhnya.
Namun sebelum telapak tangan itu sempat menyentuh kulitnya, Kael menepisnya pelan dengan raut tak suka.
"Aku tidak sakit." jawabnya singkat.
Raka mengangkat sebelah alis, jelas tidak percaya.
"Tidak sakit, katamu? Lihat wajahmu. Pucat sekali. Kau seperti mayat yang dipaksa berdiri."
Kael menghela napas kasar. Ia berjalan menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan letih.
"Aku sendiri tidak mengerti. Sudah lebih dari seminggu tubuhku begini. Aku sudah memeriksakan diri ke rumah sakit, tapi semua hasil pemeriksaan menyatakan aku sehat." Ia mengusap wajahnya pelan sebelum melanjutkan. "Sampai-sampai aku sempat berpikir jangan-jangan aku tanpa sadar mencicipi racun buatanku sendiri."
Raka tertawa kecil, menganggap itu hanya lelucon khas Kael.
"Apa saja yang kau rasakan?"
"Setiap pagi aku selalu mual. Kadang sampai ingin muntah. Nafsu makanku juga hilang, bahkan makanan favoritku sekarang membuatku muak." Kael berhenti sejenak, lalu mengernyit tajam. "Dan... kenapa tubuhmu baunya menyengat sekali?"
Seketika Kael mendorong bahu Raka agar menjauh beberapa langkah.
"Menjauh sedikit."
Raka melongo.
"Apa? Aku pakai parfum yang sama seperti biasanya. Parfum ini mahal."
"Boleh mahal, tapi di hidungku baunya tetap menyiksa." Kael menutup hidungnya dengan punggung tangan sambil bangkit mengambil sebotol minyak angin dari laci nakas di samping tempat tidur. Ia mengoleskannya tipis di pelipis, berharap rasa mual itu sedikit mereda.
Raka menatap tingkah Kael dengan wajah heran, lalu terkekeh pelan.
"Astaga... sejak kapan bos mafia sepertimu berubah jadi selemah ini?"
Kael hanya mendengus pelan. Wajahnya masih pucat, bahkan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Biasanya ia akan membalas ejekan itu tanpa ampun, tetapi kali ini ia terlalu lelah untuk berdebat. Yang memenuhi pikirannya hanyalah satu pertanyaan—mengapa tubuhnya tiba-tiba berubah sedrastis ini, padahal seluruh hasil pemeriksaan medis menyatakan dirinya baik-baik saja?
"Entahlah, Raka," gumamnya pelan. "Jangan-jangan aku terkena kiriman ilmu hitam dari musuh-musuhku. Atau... jangan-jangan ulahmu?"
Biasanya Raka akan langsung membalas sindiran itu. Namun kali ini ia justru terdiam. Tatapannya berubah serius, seolah ada kepingan ingatan yang perlahan tersusun di benaknya.
Semua keluhan yang diucapkan Kael terdengar begitu familiar.
Mual setiap pagi.
Mudah muntah.
Kehilangan selera makan.
Bahkan menjadi sangat sensitif terhadap aroma tertentu.
Raka pernah melihat gejala-gejala itu sebelumnya. Bukan pada dirinya, melainkan saat istrinya mengandung anak pertama mereka, dan kembali terulang ketika kehamilan anak kedua.
Ia mengusap dagunya pelan sambil berpikir.
"Apa mungkin..."
Kael mengernyit melihat sahabatnya itu mendadak melamun.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
Raka menarik napas sebelum akhirnya berkata dengan hati-hati.
"Kael... ada satu kemungkinan yang terlintas di pikiranku."
"Kemungkinan apa?"
"Kau pernah dengar tentang couvade syndrome?"
Kael menggeleng dengan wajah datar.
"Itu kondisi ketika seorang pria ikut mengalami gejala yang menyerupai kehamilan pasangannya. Mulai dari mual, muntah, perubahan nafsu makan, perut terasa tidak nyaman, sampai emosinya ikut berubah."
Raka melanjutkan penjelasannya dengan tenang.
"Beberapa penelitian menyebutkan, kondisi itu bisa muncul pada pria yang memiliki ikatan emosional kuat dengan pasangan yang sedang mengandung. Tubuh seolah merespons secara psikologis hingga memunculkan gejala fisik. Orang-orang menyebutnya kehamilan simpatik."
Kael memandang Raka beberapa detik tanpa berkedip.
Lalu ia mendengus pelan.
"Jangan bicara yang tidak masuk akal di hadapanku, Raka."
Nada suaranya tetap dingin, tetapi ada sedikit kegelisahan yang gagal ia sembunyikan.
Baginya, penjelasan itu terdengar jauh lebih mustahil daripada dugaan dirinya diracuni musuh.
Namun Raka tidak lagi menganggapnya sebagai lelucon.
Semakin ia memperhatikan kondisi Kael, semakin kuat firasatnya bahwa semua gejala itu bukan sekadar sakit biasa.
Raka mengembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Kael dengan sorot mata serius.
"Aku tidak asal bicara, Kael," ujarnya tenang. "Coba pikirkan lagi baik-baik. Mungkin saja tanpa kau sadari, kau pernah bersama seorang wanita yang sedang berada di masa suburnya. Dan... bisa jadi saat itu kalian tidak menggunakan pengaman."
Kael menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya tetap datar, seolah sedang mengingat sesuatu yang terjadi di masa lalu.
"Aku memang tidak pernah menggunakan pengaman," katanya tanpa ragu. "Sebagai gantinya, aku selalu memastikan wanita yang bersamaku berada dalam kondisi sehat."
Raka menggeleng pelan, lalu mendecakkan lidah.
"Kau benar-benar keterlaluan, Kael."
Sudut bibir Kael terangkat tipis.
"Aku tahu."
Keheningan sesaat menyelimuti ruangan sebelum Kael kembali bersuara. Kali ini nada suaranya berubah lebih serius.
"Tapi satu hal yang harus kau ingat, Raka."
Tatapan tajamnya langsung mengunci wajah pria di hadapannya.
"Jangan pernah menyakiti sepupuku."
Ucapan itu meluncur pelan, namun terasa lebih mengancam daripada bentakan.
"Kau tahu aku sangat menyayangi Raya. Jika suatu hari kau berani membuatnya menangis atau menghancurkan hidupnya..." Kael berhenti sejenak, memberi jeda yang membuat udara terasa menegang. "Aku sendiri yang akan memastikan kau menyesali semuanya. Aku bisa mengambil segala yang kau miliki, termasuk kesempatanmu menikmati hidup sebagai seorang ayah."
Ancaman itu bukan sekadar emosi sesaat. Raka mengenal Kael dengan baik. Jika pria itu sudah mengucapkannya, berarti ia benar-benar sanggup melakukannya.
Namun Raka tidak sedikit pun tersinggung. Ia justru tersenyum tipis, memahami bahwa semua itu lahir dari rasa sayang seorang saudara.
"Kau tak perlu meragukan kesetiaanku, Kael," jawabnya mantap. "Satu-satunya wanita yang kucintai hanyalah Raya. Tidak ada wanita lain."
Ia menatap Kael dengan keyakinan penuh.
"Aku tidak akan pernah mengkhianatinya. Jadi tenangkan pikiranmu. Sepupumu telah memilih pria yang akan mencintainya seumur hidup."
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Kael tidak membalas dengan sindiran. Ia hanya mengangguk tipis. Meski mulutnya enggan mengakuinya, jauh di dalam hati ia memang percaya bahwa Raka akan menjaga Raya dengan seluruh hidupnya.
Kael terdiam cukup lama. Pandangannya kosong, menembus jendela kamar tanpa benar-benar melihat apa pun. Pikirannya masih dipenuhi penjelasan Raka tentang kehamilan simpatik yang terdengar begitu mustahil.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya memecah keheningan.
"Raka... menurutmu, kondisi seperti kehamilan simpatik itu benar-benar ada?"
Nada suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, seolah ia sendiri ragu dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari bibirnya.
Raka tidak langsung menjawab. Ia mengamati wajah Kael yang tetap datar, mencoba membaca isi kepala pria yang selama ini terkenal sulit ditebak. Meski ekspresinya nyaris tak berubah, Raka tahu sahabatnya sedang memutar berbagai kemungkinan di dalam benaknya.
Ia menarik napas perlahan sebelum menjawab.
"Kalau berdasarkan dunia medis, kondisi itu memang dikenal. Tidak semua pria mengalaminya, tetapi ada kasus-kasus tertentu."
Kael tetap diam. Tatapannya masih menerawang, seolah sedang menyusun potongan-potongan peristiwa yang selama ini ia abaikan.
Melihat Kael begitu tenggelam dalam pikirannya, Raka mencoba mencairkan suasana dengan senyum jahil.
"Tapi tunggu dulu..."
Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Setahuku kau bahkan belum punya istri. Jadi... wanita mana yang sedang mengandung sampai kau bisa mengalami gejala seperti itu?"
Ucapan itu terdengar setengah bercanda, namun berhasil membuat Kael tersentak.
Matanya membelalak sesaat.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, pertanyaan sederhana dari Raka terasa menghantam pikirannya lebih keras daripada semua penjelasan medis yang baru saja ia dengar.
Ruangan kembali hening.
Kael tidak segera menjawab.
Di balik wajah dinginnya, satu nama perlahan muncul dalam benaknya—nama yang selama ini berusaha ia kubur sedalam mungkin. Namun ia buru-buru menepis pikiran itu, menolak mempercayai kemungkinan yang mulai terbentuk di dalam kepalanya.
...****************...
maap,unfollow dan unsubscribe