NovelToon NovelToon
TIRAKAT 5

TIRAKAT 5

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mata Batin / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata dari narasumber (Nisa dan Gendis).
.
.
.
SERIES KE LIMA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Kini... Gendis sudah menjadi anak angkatku, dengan nama baru yaitu "Harum" yang kuberikan untuknya...

Harum menjalani kehidupan barunya bersamaku, setelah tragedi yang hampir merenggut sukma jiwanya di pondok pesantren daerah Kediri itu...

Aku menjalani kehidupan yang bahagia bersama Harum, tapi juga dengan segala bahaya yang mengintai jiwaku dan jiwanya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 DUNIA MASA LALU YANG DILIHAT IBUKU

"MASIHKAH KAMU INGAT TEMPAT INI?" tanya Sekar Arum kemudian.

"I-iya... A-aku... Ingat..." jawabku.

Aku memandang ke sekeliling. Suasana di tempat ini, langsung mengingatkanku pada masa laluku, bersama kedua orang tua kandungku.

Dan juga, mengingatkanku pada perjuangan Ibu angkatku ketika ia berusaha menyelamatkan jiwaku.

Saat aku sedang mengingat semuanya, Sekar Arum berkata...

"AKULAH YANG MENYATUKAN KAMU DENGAN NISA."

Ku pandangi wajah Sekar Arum yang masih berdiri di sampingku. Meski aku masih tak mengerti, tapi setidaknya aku bisa memahami sesuatu sekarang.

Ternyata, semua jalan hidupku memang sudah ditentukan seperti ini.

Atau, apakah selama ini, aku sendiri yang menentukan semua itu?

Dan, seolah Sekar Arum mengetahui apa yang sedang ku pikirkan, ia langsung berkata lagi padaku.

"ITU SEMUA BUKAN SALAHMU..."

Lalu, Sekar Arum berjalan, dan kini ia berjongkok di depanku. Menatapku dengan kedua matanya yang berwarna kuning keemasan.

"HARUM SEKAR PUTRI PURNAMASARI..." katanya, sambil berjongkok, dan mulai menyentuh kedua pipiku dengan kedua tangannya.

"MAAF JIKA AKU DATANG TERLAMBAT DALAM HIDUPMU..." tambahnya.

Aku pun terheran lagi dengan ucapannya.

"Apa maksudnya?" tanyaku.

"SEANDAINYA AKU DATANG JAUH SEBELUM KEDUA ORANG TUA KANDUNGMU DITIPU OLEH SOSOK PESUGIHAN ITU, PASTI HIDUPMU TAK AKAN MENDERITA."

Sejenak, ia terdiam. Masih dengan posisi yang sama di depanku.

Lalu, ia berkata lagi, dengan suara yang terasa sangat menenangkan hatiku.

"TAPI, IBUMU YANG BARU SEKARANG, ADALAH ORANG YANG PALING TEPAT UNTUKMU..."

Setelah ia berkata itu, Sekar Arum kembali berdiri.

Namun...

Seiring dengan tubuhnya berdiri itu, segalanya pun kembali berubah di tempat mencekam ini.

Aku kembali berpindah tempat dengan cepat.

.....

.....

Kini...

Aku sudah berada di sebuah ruangan yang bisa di sebut sebagai kamar.

Tapi, aku sangat merasa asing dengan kamar ini. Seisi kamar terlihat jelas di pandangan mataku.

Dindingnya seluruhnya terbuat dari bata merah.

Dengan lampu penerangan seperti terbuat dari kayu, yang di bagian atasnya ada nyala api. Aku tak tahu apa nama benda itu. Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat lampu penerang yang seperti itu.

Ku edarkan pandanganku ke sisi lain kamar ini.

Ada sebuah kasur yang terlihat cukup bagus. Namun bentuknya juga asing bagiku.

Kasur itu, seperti lebih tinggi dari pada kasur yang selama ini ku tahu. Sekelilingnya terdapat kain penutup, yang dihiasi dengan jahitan benang kuning keemasan.

Dan juga, pintu kamarnya terbuat dari papan kayu, penuh dengan ukiran yang juga terlihat bagus.

Lagi-lagi, aku juga baru pertama kali melihat sebuah pintu seperti itu.

Aku tak tahu bagaimana menjelaskannya.

Ruangan kamar ini, terasa...

Seperti ada di zaman dahulu...

Seperti di zaman kerajaan-kerajaan yang pernah ku pelajari di sekolahku, di dunia nyata.

Dan, sedetik kemudian, aku baru sadar, ternyata aku berada di dalam kamar ini, SENDIRIAN.

AKU PINDAH TEMPAT KESINI, TANPA SEKAR ARUM.

Aku menjadi kebingungan, bahkan mulai merasa sedikit panik.

Lantas, aku berusaha memanggilnya.

"Sekar Arum? Dimana kamu? Kenapa aku ditinggal sendirian disini? Sekar Arum? Sekar Arum?"

Dan, tak ada jawaban darinya. Ruangan kamar ini benar-benar sepi.

Lalu, tiba-tiba saja...

Ku mendengar sebuah suara tangisan seorang perempuan. Arahnya berasal dari balik pintu kamar itu.

"Sekar Arum? Sekar Arum?" panggilku pelan, sambil mulai berjalan menuju ke pintu kamar itu.

Ketika sudah berada di dekat pintu kamar itu, semakin jelas suara tangisan seorang perempuan dari balik sana.

"Hiks hiks hiks... Huhuuu... Huhuuu..."

Suara tangisannya sangat menyayat hati.

Sedikit bergetar tanganku hendak menyentuh pintu itu.

Tapi, karena dorongan rasa ingin tahu yang besar, bercampur rasa penasaran, akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, aku dorong pintu kamar di depanku ini.

Namun, terasa sangat berat pintu itu. Aku bahkan sampai harus mendorongnya dengan kekuatan penuh.

"Kriiieeettt..." suara pintu yang sangat berat itu pun berhasil ku buka.

Akan tetapi...

Saat sudah terbuka pintu itu...

Justru aku melihat pemandangan yang sangat mengejutkan bagiku.

.....

.....

.....

Dengan sangat jelas di pandangan mataku yang bisa melihat di dunia masa lalu Ibuku ini, aku berada di sebuah kamar yang lain setelah pintu itu berhasil ku buka.

Dan...

Di tengah kamar yang lain ini, aku melihat ada Ibuku, Nisa.

Akan tetapi, Ibuku itu tak sendirian. Melainkan ada lagi dua orang wanita di dekatnya.

Salah satunya yang masih tersadar di atas sebuah kasur kayu, dan satunya lagi pingsan tak sadarkan diri di atas lantai kamar.

SUNGGUH, AKU SAMA SEKALI TAK MEMAHAMI, APA YANG TERJADI SEBENARNYA DI DUNIA INI?

APA YANG SEDANG DILAKUKAN OLEH NISA, IBUKU ITU, DI DALAM DUNIA SEPERTI INI?

DAN, SIAPA DUA WANITA ITU?

"Huuuu huuuu huuuu... Hiks hiks hiks... Hiks hiks..." suara tangisan wanita yang masih tersadar itu, terdengar jelas. Dan aku langsung tahu, bahwa sedari tadi, suara tangisan yang ku dengar berasal darinya.

Ibuku seperti sedang bersembunyi di balik salah satu tiang kamar itu. Ibuku hanya diam memperhatikan mereka berdua dari sana.

Lalu, ku lihat wanita yang masih tersadar itu, menoleh ke salah satunya lagi yang pingsan di atas lantai.

"Hiks hiks... Hiks hiks hiks... Huuu huuu huuu..." suara tangisannya terasa sangat menyayat hatiku.

Rasanya, aku ingin mendekati Ibuku.

Rasanya, ingin bertanya padanya.

Tapi, tubuhku terasa kaku. Diam. Membeku.

Hanya bisa menyaksikan semuanya, dengan sejuta kebingungan di dalam kepalaku ini.

Dan kemudian, dengan susah payah, wanita di atas kasur kayu itu turun. Terjatuh.

Ia mencoba merangkak. Mendekati wanita satu lagi yang masih saja pingsan di atas lantai sedari tadi.

"Hiks hiks hiks... Bangunlaaah... Hiks hiks... Kumohon, bangunlaaah..."

Ucapnya sambil memegang pipi wanita itu.

Aku bisa melihat, Ibuku yang sedang bersembunyi di belakang tiang kamar di ujung sana, seperti ingin menolong dua wanita itu. Tapi, kenapa ia tak kunjung menolong mereka?

Dan, tiba-tiba saja...

"BRAKKK!!!"

Suara pintu kamar di belakangku seperti di tendang, seperti dibuka kembali dengan kasar.

Lalu, dengan sangat cepat, dengan sangat tak terduga, masuklah lima orang lelaki.

Namun, tubuh mereka semua seperti bisa menembus tubuhku!

Lima orang lelaki itu seperti lewat begitu saja.

Dan, jika kuperhatikan, penampilan lima lelaki itu seperti prajurit kerajaan.

Dan...

Aku mulai merasa takut. Aku takut jika lima lelaki itu akan mencelakai Nisa, Ibuku.

Akan tetapi, semua perkiraanku ternyata salah!

Kelima lelaki gagah seperti prajurit kerajaan itu, justru mendekat kepada dua wanita tadi. Dan Ibuku masih saja diam di belakang tiang kamar di ujung sana.

Lalu, seketika jantungku terasa berhenti.

Napasku terasa tertahan dengan paksa.

Aku menyaksikan pemandangan yang amat sangat keji, amat sangat biadab!

Secara bergantian, lima orang lelaki itu memperkosa dua wanita tadi!

Satu wanita yang masih tersadar itu diperkosa oleh tiga lelaki, dia meronta, menjerit, menangis, berteriak. Namun apalah daya, ia hanya bisa berpasrah tubunnya di "makan" oleh tiga lelaki penuh nafsu bejat itu!

Dan wanita satu lagi, masih tak sadarkan diri, terbaring di atas lantai, tubuhnya pun diperkosa dengan sangat keji!

Sampai akhirnya, lima orang lelaki itu telah puas melampiaskan hasrat biadab mereka.

Dan dua wanita itu bagaikan mangsa yang hampir kehabisan nyawa.

Ditinggalkan begitu saja.

Seperti seonggok daging yang tak lagi bernilai.

SUNGGUH, JUJUR...

AKU YANG BARU BERUSIA 14 TAHUN INI...

SEPERTI DIPAKSA MENYAKSIKAN SEBUAH TRAGEDI MASA LALU YANG AMAT SANGAT BIADAB DI DUNIA INI.

KEPALAKU SEPERTI KOSONG.

TAK BISA MENCERNA APA YANG SESUNGGUHNYA TERJADI DI DEPAN MATA KEPALAKU INI.

Kemudian, aku lihat Ibuku mulai berjalan cepat, mendekati dua wanita itu.

"Bangunlah... Bangunlah..." ucap Ibuku.

Ia mencoba membangunkan mereka berdua.

Dengan kondisi tubuh yang sudah tanpa busana sedikitpun, dengan darah segar mengalir dari kemaluan mereka berdua, dan sekujur tubuh yang penuh luka lebam dan memar kebiruan.

Lalu, Ibuku itu mencoba melihat sekeliling, seperti mencari kain agar bisa menutupi tubuh ke duanya.

Lantas, setelah Ibuku menutupi tubuh ke duanya, ia seperti melihat sesuatu di leher mereka berdua.

Dan, tiba-tiba lagi...

Terdengar suara orang yang datang.

Aku pun berbalik badan, berdiri tepat di depan pintu. Dan benar saja.

"Krieeeettt..." pintu itu dibuka kembali.

Kali ini tampak dua orang lelaki yang masuk. Lagi-lagi, tubuh mereka menembus tubuhku, seolah tubuhku ini hanya seperti bayangan yang tak bisa mereka sadari.

Dan dengan segera mereka berdua menggendong dua tubuh wanita tadi. Menuju keluar ruangan ini. Sementara Ibuku sudah bersembunyi lagi di balik tiang di ujung sana.

Lantas, Ibuku mengikuti mereka dari belakang.

Dan...

Ketika Ibuku melangkah ke arah pintu, tubuhnya semakin dekat dengan tubuhku yang masih berdiri di tengah-tengah pintu.

Ingin sekali rasanya, sangat-sangat ingin, aku peluk tubuhnya.

Akan tetapi, ternyata, Ibuku pun sama seperti dua lelaki barusan.

Tubuhnya menembus tubuhku!

Ibuku tak bisa menyadari keberadaanku!

Ibuku seperti tak memperhatikan sekitar, pandangannya hanya tertuju pada dua lelaki yang menggendong tubuh dua wanita itu.

Aku pun dengan tergesa, mengikuti langkah kaki Ibuku di belakangnya, yang sedang mengikuti dua lelaki itu.

Sampai akhirnya, aku melihat Ibu berhenti melangkah, karena dua kalung wanita tadi jatuh terlepas.

Ibuku pun segera mengambilnya tanpa ia lihat tulisannya.

Ku ikuti terus langkah Ibuku di depan. Dengan sekuat tenaga supaya aku tak tertinggal olehnya.

Dan, sampailah aku di sebuah area terbuka. Tepat di luar bangunan kerajaan ini.

Seperti sebuah area untuk pembuangan.

Seketika itu juga tercium aroma anyir darah, bercampur dengan aroma busuk.

Tapi aku tak tahu, bau busuk itu entah berasal dari bangkai apa.

Aku masih memperhatikan Ibuku, yang kini sedang memperhatikan dua lelaki itu, sambil menutup hidungnya.

Dan aku juga melihat dua lelaki itu meletakkan dua tubuh wanita tadi di atas tanah.

Ketika sudah diletakkan, secara tiba-tiba, dua wanita itu tersadar bersamaan.

"T-t-to... Tolooong... Eeennnggghhh... Lepaskan... Ka-ka-kamiiii..." ucap salah satunya.

Sungguh sangat menyedihkan aku melihat mereka berdua.

Namun aku tak bisa melakukan apapun.

Aku tak tahu harus berbuat apa.

AKU HANYA SEORANG GADIS BERUSIA 14 TAHUN, YANG TERLEMPAR KE DUNIA MASA LALU IBUKU ITU.

"Bagaimana?" ucap salah seorang lelaki itu.

"Sudah, lakukan saja. Lagi pula dua wanita ini sudah rusak. Raja pasti sudah tak sudi menikmati mereka berdua." jawab salah satunya lagi.

Dan...

Aku melihat mereka berdua mencabut pedangnya masing-masing.

Aku hanya bisa menutup mulut sambil terbelalak menyaksikan apa yang hendak di lakukan oleh dua lelaki itu.

Dan ternyata, Ibuku pun sama, ia menutup mulutnya. Menahan suaranya.

"To-tolooong... Ja-ja-jangan... Bu-bu-bunuh... Ka-kami..."

Salah satu wanita itu kembali memohon, sambil mengangkat tangan kanannya. Memohon pada dua lelaki yang sudah menghunus pedangnya.

Akan tetapi, wanita itu sudah tak berdaya.

Dan wanita itu menoleh ke arah wanita satunya lagi.

Tangan kanan dan tangan kiri mereka saling menggenggam.

Dan...

.....

.....

"CRAAATTT!!!"

.....

.....

MATAKU TERBELALAK.

SAMBIL MENAHAN MULUTKU.

MENAHAN NAPASKU.

Saat dengan sangat jelas...

Ku lihat dua lelaki itu secara bersamaan menebas leher dua wanita itu secara bersamaan.

Tanpa banyak gerakan, tanpa banyak perlawanan, tubuh dua wanita itu kini diam.

Dan aku tahu, kematian sudah menjemput mereka.

.....

.....

Setelah beberapa saat aku terpaku, mematung, melihat semua kejadian mengerikan itu, kembali aku menoleh ke arah Ibuku.

Ibuku itu hanya bisa meratapi semua yang terlihat di depan matanya.

Menyaksikan kematian dua orang wanita dalam keadaan yang sangat amat menyayat hati.

Lalu, Ibuku menangis.

Dengan dua kalung, milik dua wanita itu yang masih ia pegang.

Ibuku langsung menutupi wajahnya sendiri.

Dan aku langsung bisa merasakan.

Bagaimana betapa sakit hati Ibuku.

Betapa tersayat batin Ibuku.

Beberapa detik kemudian, Ibuku membuka tangannya. Dan dengan mata yang sudah basah dengan air mata, ia melihat tulisan pada dua kalung milik dua wanita itu.

Dan, sedikit aku bisa melihat tulisan di dua kalung itu.

Tulisannya adalah...

"SEKAR MAYANG" dan "DAYANG PUTRI"

Lalu, tiba-tiba...

Ibuku menghilang. Seperti sebuah kepingan bayangan yang terbang menghilang.

Kini, hanya ada diriku. Di dekat dua jasad wanita tadi.

Aku seketika menjadi panik. Menjadi takut.

Dengan isi kepalaku yang tak tahu harus berbuat apa.

Sontak, aku berteriak sendirian, mencoba memanggil Ibuku lagi.

"IBUUU??!! IBUUU??!! JANGAN TINGGALIN HARUM BUUU??!! IBUUU??!!"

Namun, semuanya terasa sangat hening. Dengan pemandangan mengerikan dari dua jasad wanita itu.

.....

.....

Di tengah kepanikan dan kebingunganku, tiba-tiba terdengar lagi suara.

Berasal dari arah bangunan kerajaan itu.

Aku pun menoleh, dan ternyata...

Apa yang kulihat selanjutnya adalah...

Sesosok wanita dengan memakai baju seperti seorang ratu dari kerajaan itu.

Dia di seret dengan paksa oleh tiga orang prajurit!

DAN... AKU LANGSUNG SANGAT MENGENALINYA...

SANGAT KENAL AKU, DENGAN SOSOK WANITA RATU ITU...

DIA ADALAH... SEKAR ARUM!!!

.....

.....

Dengan cepat, tanpa memberikan jeda pada pikiranku untuk mencerna apa yang terjadi...

SEKAR ARUM PUN DIBUNUH DENGAN SAMA SADISNYA SEPERTI DUA WANITA TADI!!

LEHERNYA DITEBAS DENGAN PEDANG MEREKA!!

BAHKAN, SAMPAI PUTUS LEHERNYA!!

KEPALANYA MENGGELINDING, DAN BERHENTI, TEPAT DI ANTARA JASAD DUA WANITA TADI.

.....

.....

Lalu...

Semuanya memudar...

Segalanya menghilang dari pandanganku...

Berganti dengan warna keemasan yang menyilaukan kedua mataku...

1
Athnares
😍😍
💜⃞⃟𝓛 🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣѕ⍣⃝✰
next nya mana ini?
Ayuk Witanto
alm.bapakku juga dulu gitu kalau di bilangin
Deni Komarulloh: Sama dong Mas, hehehe... Saya juga jawab gitu kalo dibilangin buat berhenti merokok, hehehe... 🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!