Rania, gadis yatim piatu yang hidup bersama neneknya. Kesulitan ekonomi membuatnya terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan membantu neneknya bekerja di rumah majikannya di kota. Kasih sayang sang majikan dengan menganggap Rania seperti cucunya bahkan membiayai kuliahnya, membuat seisi rumah perlahan membencinya. Hingga pada puncaknya ketika Tuan Haryo sang majikan terbaring sakit tak berdaya, sejak itulah penderitaan Rania dimulai. Nasib baik tak melulu berpihak pada Rania, bahkan sang kekasih yang selama ini selalu mendukungnya pun meninggalkan Rania saat hamil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon baby Fy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2.5 "Keputusan besar"
“Tunggu aku, sayang. Tunggu aku, Rania ku.” Gumam Vano.
-
Rania duduk termenung memikirkan ulang keputusannya. Setelah diberi tahu dokter bahwa biaya yang harus segera dibayar agar Arkan bisa operasi haruslah lunas minggu ini, Rania menjadi kalang kabut.
Hal itu semakin di perparah dengan kabar yang tadi pagi ia terima dari kepala pelayan tempatnya bekerja yang mengatakan bahwa Rania telah dipecat tanpa diberi pesangon.
Ingin rasanya Rania membawa hal tersebut ke jalur hukum akan tetapi biaya yang dikeluarkan tidaklah murah untuk melawan tempat kerjanya itu. Sampai pada akhirnya Rania memutuskan untuk melakukan cara instan agar bisa mendapatkan uang dengan cepat.
Menarik napas dalam, akhirnya Rania berdiri dari duduk nya dan menghampiri wanita berparas cantik tak jauh dari tempat ia duduk tadi.
“Apa kamu yakin?” Tanya wanita itu memastikan.
“Iya, itu semua demi anak saya, anda menjamin pengobatannya bukan?” Wania itu mengangguk.
“Baik, kamu sudah tidak bisa merubah keputusanmu lagi setelah ini.” Kata wanita tadi sebelum akhirnya dia membawa Rania masuk ke dalam ruangan.
-
“Kau tidak menyangka bukan, Rania akan memilih jalan itu untuk menyelamatkan anaknya.” Dimas menatap jalanan di depan.
“Apakah itu yang membuat anda senang seharian ini, Tuan?” Tanya Pras tanpa mengalihkan pandangannya dari kaca kemudi.
“Aku hanya terkenang masa lalu.” Dimas tersenyum singkat lalu kembali pada wajah datarnya saat mengetahui Pras mengintip raut wajahnya lewat spion.
“Aku rasa aku perlu robot untuk menggantikan asisten yang selalu ikut campur sepertimu.” Sindiran Dimas langsung saja membuat Pras berdeham dan tak beberapa lama terdengar gema tawa mereka berdua.
-
Beberapa bulan setelahnya
Terik matahari semakin panas, ditambah lalu lintas yang begitu padat membuat emosi orang-orang di sekitar sedikit sensitif. Seperti yang terjadi di salah satu toko yang ada di deretan pertokoan pinggir jalan tersebut, nampak seorang pelanggan marah dan mencaci maki salah seorang penjahit di toko tersebut.
“Saya sudah menunggu sampai 2 minggu! Tapi hasilnya di luar ekspetasi saya! Berapa kali sudah saya bilang, jangan terlalu ketat!” Bentak wanita itu.
Sedangkan si penjahit sedari tadi telah meminta maaf dan juga memberikan pengertian.
Tak beberapa lama wanita itu pergi dengan amarah yang masih menyelubungi nya, penjahit yang tadi di marahi akhirnya bisa bernapas lega.
Rania tersenyum menenangkan rekannya itu, ditepuknya pundak sang rekan lalu memberikan tatapan semangat agar tidak menangis.
“Sudah, jangan terlalu diambil hati. Kamu sudah berusaha maksimal kok.” Rekan Rania tersenyum tipis mendengar kata penyemangat dari Rania.
Merekapun kembali melanjutkan menjahit pesanan baju para pelanggan yang akhir-akhir ini bertambah semakin banyak. Sejak Rania tak lagi bekerja di tempat karaoke, ia lebih memilih pekerjaan yang dirasa tidak menguras cukup banyak emosi serta tenaganya dan kebetulan Rania cakap dalam hal jahit menjahit, hingga sampailah kini ia bekerja sebagai salah satu penjahit di butik tersebut.
Meskipun gajinya tidak sebanyak di tempat kerjanya dulu, akan tetapi kebutuhan sehari-hari Rania dan juga Arkan masih bisa dipenuhinya dan lagi Rania masih memiliki uang lebih dari biaya operasi Arkan dulu.
“Perhatian semua!” Rania yang tengah menjahit lekas berhenti dan memusatkan perhatiannya pada bosnya yang merupakan designer pemilik butik tempatnya bekerja.
“Butik kita terpilih untuk menrancang pakaian salah seorang pengusaha ternama di Asia. Selama satu minggu acaranya di Bali nanti, kita akan membuatkan beberapa pasang baju untuknya.” Sontak saja pengumuman itu membuat para pekerja bersorak senang termasuk juga Rania.
Butik tersebut tergolong butik baru, dan untuk pertama kali mendapatkan pesanan dari orang penting se asia, tentu saja mereka semua senang karena bonus yang nantinya didapat juga banyak.
“Mama.” Rania segera menengok ke arah Arkan yang baru saja bangun dari tidurnya. Rania tersenyum lalu membelai rambut Arkan yang sudah mulai tumbuh.
“let's go home.” Kata Arkan dengan suara khas anak umur 3 tahunan.
Sejak tetangga yang biasa Rania titipkan Arkan padanya itu pindah beberapa minggu lalu, ia memutuskan untuk membawa Arkan ikut ke tempat nya bekerja, beruntung bosnya begitu baik hingga mengijinkan anak lelakinya itu menemani Rania selama bekerja.
“Sebentar, sayang. Mama masih harus kejar setoran.” Rania mengecup kening Arkan sayang, ia mencoba memberi pengertian pada Arkan yang kini memasang wajah cemberut.
Rania berlatih sabar menghadapi kerewelan Arkan, bentakan tak pernah ia berikan pada Arkan mengingat dulu sewaktu Rania kecil, ia sering kali menerima bentakan serta perlakuan kasar dari saudara jauh neneknya.
Beruntung Arkan adalah tipikal lelaki yang cuek dan ingin selalu jaga image, Rania sempat heran dengan pembawaan Arkan yang sudah acuh tak acuh dengan sekitarnya terkesan dingin dan pendiam.
Akan tetapi begitu ingat siapa ayah Arkan, Rania pun memaklumi hal tersebut.
Sebenarnya, Rania sedikit bersyukur Arkan menurunkan sifat pendiam ayahnya karena dengan begitu kerewelan Arkan tidak begitu memusingkan Rania seperti sekarang ini, dengan sedikit rayuan maka Arkan akan mengerti dan memainkan mainan nya untuk mengisi waktu selama menunggu Rania menyelesaikan pekerjaan nya.
“Do you hungry, dear?” Tanya Tanya yang hanya dibalas celengan oleh Arkan karena anak tersebut sudah asik dengan mobil-mobilan di tangannya. Rania tersenyum melihat respon yang begitu irit dari anaknya.
Rania memang sudah membiasakan Arkan untuk berbicara menggunakan bahasa Inggris, walaupun begitu Arkan juga sudah fasih dengan bahasa Indonesia meskipun logat anak-anaknya masih begitu ketara.
Rania cukup bersyukur Arkan tidak kebingungan dengan kedua bahasa tersebut. Bahkan kini Arkan juga mulai mengerti bahasa Spanyol karena seringkali pelanggan butik yang berasal dari Spanyol mengajak Arkan main.
-
Rania menggendong Arkan yang tertidur pulas di pelukan nya, meskipun masih anak kecil akan tetapi tubuh Arkan tergolong besar melebihi anak seusianya. Rania begitu memperhatikan kondisi kesehatan termasuk juga kebutuhan gizi anaknya, ditambah darah blasteran yang menurun baik dari Rania maupun Vano membuat perawakan Arkan sudah terlihat bongsor sejak usianya yang sekarang.
“Ma... Es krim.” Rania menghentikan langkahnya lalu melirik ke bawah, rupanya Arkan tengah mengerjakan mata indah perpaduan dirinya dengan Vano.
“No! Arkan, Kamu sedang gejala flue.” Arkan mencebikan bibirnya kesal mendengar peringatan tegas dari Rania. Tak lama kemudian Rania melanjutkan jalannya menuju rumah.
Ceklek
Rania membuka perlahan pintu rumah agar tidak membangunkan Arkan yang kembali tidur dalam dekapannya. Setelah kembali menutup pintu, Rania berjalan menuju kamar untuk meletakan tubuh lelap putranya ke atas tempat tidur.
Rania berjalan menuju dapur dan menyiapkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil, setelah itu Rania kembali berjalan menuju kamar. Dipandanginya wajah tenang Arkan saat tidur sebelum akhirnya Rania melepaskan dengan pelan baju anaknya lalu membasuh badan putranya yang sedang terkena gejala flue itu.
Setelah selesai membersihkan badan dan juga memakaikan pakaian tidur pada putranya, barulah Rania berbenah dan mengistirahatkan tubuh lelahnya.
“Aw!” Rania merintis memegang perutnya yang sakit.
“Ah, sepertinya aku terlalu kelelahan hari ini.” Ujarnya sambil meletakan gelas air minum yang dipakainya tadi di atas meja.
----
Rate Menunggu Mu
ga sudi pake banget klw rania balik sm vano yg najisin....
yuhhh.. sudah bekasan gitu... menjijikan..