NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Di Antara Bukti dan Kepercayaan

Sejak membuka amplop berisi tuduhan itu, suasana hati Arga berubah drastis. Wajahnya yang biasanya mulai sering tersenyum kini kembali tertutup rapat, tatapannya menjadi gelap dan penuh pertarungan batin yang berat. Ia berusaha tetap tenang di depan orang lain, tapi gejolak di dalam dadanya terasa seperti badai yang menghancurkan ketenangan yang baru saja ia bangun.

Semua bukti yang ada terlihat begitu sempurna. Ada salinan catatan transaksi bank yang tertulis jelas atas nama Laras, foto pertemuan di sebuah kafe, bahkan ada catatan percakapan yang seolah-olah menunjukkan kesepakatan diam-diam. Logikanya sebagai pengusaha terlatih berteriak: “Semua ini terlihat nyata, tidak ada celah yang terlihat.” Namun hatinya yang baru saja mulai terbuka membisikkan hal lain: “Tidak mungkin Laras melakukan ini. Dia tidak pernah meminta apa pun selain harga diri dan kepercayaan.”

Selama dua hari itu, Arga menjadi pendiam dan menjauh. Ia pulang larut malam, menghindari tatapan mata Laras, dan menjawab setiap pertanyaan istrinya hanya dengan kalimat singkat dan datar. Perubahan sikap itu tidak luput dari perhatian Laras. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang salah, ada jarak yang tiba-tiba tercipta kembali di antara mereka, terasa lebih menusuk daripada dinginnya sikap Arga di awal pernikahan.

Malam ketiga, ketika Arga baru saja masuk dan hendak langsung melangkah ke ruang kerjanya, Laras tidak tahan lagi. Ia berdiri menghadang di depan pintu, menatap suaminya dengan pandangan cemas sekaligus tegas.

“Arga, tunggu. Kita bicara sebentar,” pinta Laras dengan suara lembut namun mantap. “Selama dua hari ini kau berbeda. Kau menghindariku. Apa yang terjadi? Apakah ada masalah berat di kantor, atau… apakah ada kesalahanku yang tidak kusadari?”

Arga berhenti melangkah. Ia menatap wajah Laras—wajah yang penuh ketulusan, mata yang terlihat jujur dan khawatir. Untuk sesaat ia ragu, ingin membuang semua tuduhan itu dan percaya begitu saja. Namun rasa takut dikhianati yang tertanam dalam selama puluhan tahun itu menyerang kembali, membuatnya sulit berpikir jernih.

“Kau tanya ada apa?” suara Arga terdengar rendah, bergetar menahan gejolak emosi. Ia mengeluarkan amplop itu dari dalam tasnya dan meletakkannya dengan agak keras di atas meja ruang tamu. “Mungkin kau sendiri yang bisa menjelaskannya. Apa arti semua ini?”

Laras mengerutkan dahi, bingung. Ia mengambil lembaran-lembaran kertas itu dan mulai membacanya. Semakin ia baca, semakin pucat wajahnya berubah. Tangannya sedikit gemetar, matanya membesar karena keterkejutan yang luar biasa. Tuduhan itu sangat kejam—menuduhnya menjual rahasia perusahaan, menerima uang dari pesaing, mengkhianati kepercayaan suaminya sendiri.

“Ini… ini tidak benar, Arga!” seru Laras menatap Arga dengan mata berkaca-kaca. “Semua ini fitnah! Aku tidak pernah membuka rekening itu, tidak pernah menerima uang sepeser pun selain nafkah yang kau berikan, dan apalagi menjual rahasia perusahaan. Aku tidak tahu darimana asalnya dokumen ini!”

“Tidak tahu?” potong Arga, suaranya meninggi sedikit namun terasa pahit. “Lihatlah baik-baik, Laras. Nama tertulis jelas, nomor transaksi tercatat, bahkan ada foto pertemuanmu dengan wakil perusahaan sainganku. Bagaimana kau bisa menjelaskan semuanya ini jika bukan bukti nyata?”

Pertanyaan itu terasa seperti pisau yang berputar di dalam luka. Laras merasakan sakit bukan hanya karena dituduh, tapi lebih sakit lagi karena melihat keraguan tergambar jelas di mata Arga. Pria yang baru saja mengaku mencintainya itu kini tergoyahkan hanya karena selembar kertas dan foto.

“Arga, dengarkan aku,” suara Laras bergetar namun tetap berusaha tenang. “Aku mengerti kenapa kau ragu. Masa lalumu membuatmu takut dipermainkan lagi. Tapi percayalah padaku sekali saja. Jika aku benar-benar ingin mengambil hartamu atau mengkhianatimu, mengapa aku menunggu sampai sekarang? Mengapa aku tidak lari saat kau sakit dan lengah, atau saat aku bisa meminta apa saja darimu dengan mudah? Aku hanya ingin hidup jujur mendampingimu.”

Arga memejamkan matanya erat, bergumam pelan. “Logikaku berkata itu masuk akal… tapi buktinya ada di depan mata. Bagaimana aku bisa membedakan mana kenyataan dan mana kebohongan jika hatiku sendiri sudah terlalu sering tertipu?”

“Kalau begitu jangan percaya kata-kataku saja,” tantang Laras dengan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipi. “Selidiki sampai ke akar-akarnya. Cek ke bank, telusuri jalur uangnya, cari siapa yang benar-benar bertemu orang di foto itu. Jika setelah kau selidiki dan terbukti aku bersalah, aku akan pergi sendiri tanpa menuntut apa pun. Tapi jika nanti terbukti ini kebohongan… harapannya, kau bisa memaafkan dirimu sendiri karena sempat meragukan orang yang kau katakan kau cintai.”

Kata-kata itu menusuk hati Arga. Ia melihat ketegasan dan kepedihan di wajah Laras, bukan rasa bersalah. Ia menghela napas panjang, dada terasa sesak. “Baiklah. Aku akan menyelidiki semuanya sampai tuntas. Tapi ingat, jika ini terbukti benar… tidak ada tempat untuk pengkhianat di hidupku.”

Setelah berkata demikian, Arga berbalik dan pergi masuk ke ruang kerjanya, meninggalkan Laras berdiri sendirian di tengah ruangan yang tiba-tiba terasa sangat dingin. Air matanya mengalir deras, namun ia segera mengusapnya dengan kasar dan menegakkan punggungnya kembali. Ia tidak akan menyerah atau kabur. Ia akan membuktikan ketidakbersalahannya—bukan hanya demi namanya, tapi demi menyelamatkan cinta yang baru saja tumbuh di antara mereka.

 

Di balik tirai kegelapan, Dimas dan Bibi Ratna tersenyum puas menerima laporan dari orang suruhan mereka.

“Lihatlah, rencananya berjalan mulus,” kata Dimas terkekeh. “Sekarang Arga sudah dipenuhi keraguan. Percayanya sudah retak. Seperti pepatah lama, sekali percaya hilang, sulit dipulihkan kembali. Bahkan jika nanti dia mencoba membuktikan dirinya tidak bersalah, rasa curiga itu akan tetap ada selamanya.”

“Bagus sekali,” sahut Bibi Ratna dengan sorot mata jahat. “Selama dia tidak bisa membuktikan asal muasal uang itu, tuduhan itu akan tetap menggantung di lehernya. Arga yang paling takut dikhianati pasti akan selalu mengingatnya. Lambat laun dia akan membuang gadis itu sendiri karena takut disakiti lagi.”

Namun mereka meremehkan satu hal: Arga mungkin mudah ragu karena luka masa lalunya, tapi dia bukan orang yang mengambil keputusan tergesa-gesa tanpa bukti mutlak. Malam itu juga, Arga memanggil tim penyelidik pribadinya yang paling terpercaya, orang yang sudah bekerja untuk keluarganya lebih dari dua puluh tahun dan tidak terlibat dalam urusan politik internal perusahaan.

“Selidiki semuanya dari awal sampai akhir,” perintah Arga dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah. “Cari setiap jejak, temui setiap saksi, cek setiap nomor rekening, setiap kamera pengawas di tempat kejadian. Jangan percaya apa pun yang tertulis di kertas itu sebelum kau melihat bukti aslinya. Cari tahu siapa yang diuntungkan jika Laras jatuh dari posisinya.”

Saat tim penyelidik itu pergi, Arga duduk sendirian di kursi kerjanya, memegang kepalanya yang terasa berat. Bayangan wajah Laras yang terluka terus terlintas di pikirannya. Ia membenci dirinya sendiri karena membiarkan rasa takut masa lalu kembali menguasainya, namun ia juga takut—takut jika dia percaya buta, dan ternyata benar-benar dikhianati lagi, dia tidak akan sanggup bangkit kembali.

“Berikan aku jawaban yang pasti,” bisiknya dalam hati. “Semoga saja aku tidak salah memilih antara percaya pada bukti atau percaya pada hatiku sendiri.”

 

Sementara itu, Laras tidak tinggal diam menunggu hasil penyelidikan. Ia tahu dirinya tidak bersalah, jadi ia harus mencari jalan sendiri untuk membuktikannya juga. Ia mengingat siapa yang ada di balik semua ini. Ia berpikir siapa yang paling diuntungkan jika dia dan Arga terpisah. Pikirannya tertuju pada Bibi Ratna dan Dimas, yang sejak awal terlihat tidak menyukai keberadaannya.

Keesokan harinya, Laras menemui Bu Rina, orang yang paling dipercaya di rumah itu. Dengan suara tenang namun tegas, ia menceritakan semuanya.

“Bu Rina, aku tahu kau sudah lama mengabdi dan mengenal seluk-beluk keluarga ini. Aku butuh bantuanmu. Aku tidak meminta kau melawan siapa pun, tapi jika ada hal mencurigakan yang kau lihat belakangan ini—pergerakan Dimas atau Bibi Ratna, atau siapa pun yang sering mengirimkan informasi ke Arga—tolong kabari aku. Aku tidak ingin Arga hancur karena percaya pada kebohongan orang yang ingin menjatuhkannya.”

Bu Rina mendengarkan dengan serius, matanya berkaca melihat ketulusan hati Laras. Ia sudah menyadari bahwa ada suasana tidak beres beberapa minggu terakhir ini. “Nyonya, saya percaya pada hatimu. Mata saya sudah melihat cukup banyak orang datang demi keuntungan, tapi Nyonya datang hanya membawa ketulusan. Saya akan bantu sebisa kemampuan saya. Percayalah, kebohongan tidak akan bisa selamanya tertutup rapat.”

Hari-hari berikutnya terasa berat bagi kedua hati yang saling mencintai itu. Mereka tidur di bawah satu atap, namun terpisah oleh tembok keraguan dan tuduhan. Tidak ada lagi senyum lepas, tidak ada canda tawa hangat. Setiap tatapan membawa pertanyaan yang belum terjawab. Namun di balik semua itu, di hati masing-masing masih tersisa secercah harapan—bahwa kebenaran akan terungkap, dan cinta mereka cukup kuat untuk bertahan melewati badai ini.

Hingga seminggu kemudian, laporan lengkap dari tim penyelidik itu akhirnya sampai di meja Arga. Dengan jantung berdebar kencang, tangan sedikit gemetar karena rasa cemas yang luar biasa, Arga mulai membuka dan membaca isinya baris demi baris. Apa yang tertulis di sana akan menentukan nasib rumah tangga dan hatinya sendiri—apakah ia akan membenci selamanya, atau justru merasakan penyesalan yang mendalam yang akan menguji cintanya hingga ke batas tertinggi.

1
Lisa
Ceritanya menarik Kak
ayu ambara: maksih kk😍
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: oke Kak Ayu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!