Anyelir, gadis pekerja keras yang tak mengandalkan orangtuanya dalam menata masa depan pilihannya sendiri. Tiba-tiba harus mengabulkan satu-satunya permintaan papanya yaitu menikah dengan anak teman papanya.
Diandra, seorang pengusaha yang ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Apakah kehadiran Anyelir mampu melupakan kekasihnya itu?
Atau mereka akan memilih jalan berbeda?
#slow update
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jojo Natasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Tentang Dia
Setelah selesai mandi, Diandra turun ke meja makan. Diandra terlihat segar dalam balutan kaos oblong dan celana chinos selutut miliknya. Jika di rumah atau sedang tidak bekerja, Diandra terbiasa berpakaian santai yang nyaman di tubuhnya.
"Sudah selesai mandinya Mas? Sini ayo cepat makan." Ajak Anyelir sambil mengisi nasi di piring Diandra.
"Kayaknya enak kalau dilihat dari aromanya"
"Buktikan aja"
"Memang sudah tak sabar, padahal tadi rencananya mau sekalian ngajak kamu makan di luar. Tapi yang mau diajak makan dah pulang duluan." Ucap Diandra dengan gaya merajuk yang dibuat-buat. Entah sejak kapan dia mempunyai sifat seperti itu. Mungkin setelah menemukan tempat yang tepat yaitu pada diri Anyelir, istrinya.
Makan malam itu berlangsung tenang seperti biasanya. Tidak ada pembicaraan serius di antara mereka. Selesai makan dan beberes, Anyelir membawa dua cangkir teh, dan setoples keripik kentang. Menyusul Diandra yang duduk di teras belakang.
"Nyemil Mas" ucap Anyelir sambil meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja.
"Iya. Makasih."
"Malam ini ternyata purnama ya Fir. Baru sekarang aku bisa memperhatikan malam dalam guyuran sinar bulan penuh. Begitu indah dan menenangkan."
"Itu yang aku suka ketika tinggal di pinggiran kota Mas. Apalagi di pedesaan, sinar bulan terlihat begitu indah. Lebih syahdu ketika diiringi suara binatang malam. Aku suka."
"Ternyata itu alasannya kamu memilih rumah ini dari pada yang lainnya?"
"Salah satunya Mas. Selain itu, rumah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, bisa mengurangi rasa lelah dan stres kita setelah seharian bekerja. Memang iya sih, perjalanan pulang lebih jauh. Tapi ketika sampai di rumah, kita seperti menemukan tempat istirahat yang sempurna."
"Kalau kamu lelah bekerja, cukup di rumah aja menunggu aku pulang sambil merawat anak-anak. Aku sanggup kok mencukupi segala kebutuhanmu dan anak-anak kita."
"Pernah juga aku berpikir begitu Mas, diam di rumah, mengurus suami dan anak-anak. Tapi ternyata aku tak sesabar itu, banyak hal yang ingin aku kerjakan, banyak hal yang aku mimpikan, yang tidak bisa diwakilkan pada orang lain."
"Cukup titipkan mimpi itu di pundakku Fir, biar kuwujudkan semuanya untukmu. Berhentilah bekerja dan manjakan dirimu di rumah." Ucap Diandra tulus sambil menggenggam tangan Anyelir erat. Berharap Anyelir memahami ketulusan dan mau membuka diri untuknya.
"Sebenarnya aku juga sempat berpikir begitu Mas. Tapi aku tidak bisa berhenti." Ada getar ragu dalam nada bicara Anyelir yang dapat dirasakan Diandra.
"Kenapa tidak bisa berhenti?"
"Bukankah Mas sudah disibukkan dengan pekerjaan Mas sendiri. Aku khawatir kalau Mas diberi tambahan pekerjaan menggantikan aku, Mas akan semakin tidak punya waktu di rumah."
"Aku akan berusaha membagi waktu dengan baik."
"Sepertinya tidak akan semudah itu Mas, sebab bukan sedikit yang akan aku bebankan. Apalagi, Mas tahu sendiri sifat orang-orang dalam lingkaran pekerjaanku."
"Orang-orang yang mana? Yang pernah aku temui bersamamu? Kalau mereka, sedikit banyaknya aku tahu bagaimana mereka. Sepertinya rekan kerja yang menyenangkan."
"Memang mereka teman kerja yang menyenangkan dan dapat diandalkan, tapi agak susah dikendalikan jika sudah tidak sejalan."
"Apakah mereka tidak bisa mencari penggantimu?" Diandra menggeser posisi duduknya dan membawa Anyelir kedalam pangkuannya. Memeluk Anyelir dengan sikap memiliki yang kuat. Anyelir memandang wajah suaminya lekat, kemudian menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Diandra. Menyelami ketulusan di mata Diandra.
"Bukan mereka yang berhak mengganti ku Mas, tapi aku yang mengganti mereka." Ucap Anyelir sambil mengecup bibir Diandra gemas.
"Jadi aku harus bangga atau takut dengan kekuatan istriku yang tidak aku ketahui ini?" Diandra balas mengecup Bibir lembut Anyelir.
"Seiring waktu Mas pasti akan mengetahuinya.''
"Kalau begitu katakan."
"Apa yang ingin Mas ketahui?"
"Banyak Fir. Banyak sekali."
"Yang paling Mas pengen tahu sekarang?"
"Siapa Albert dalam lingkaran pertemananmu Fir?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Semua orang juga tahu Albert itu bagaimana Fir. Banyak orang yang ingin dekat sekaligus menghindar darinya. Tapi kamu malah begitu bebas berada di sekitarnya." Diandra membenamkan wajahnya di telapak tangan Anyelir kemudian menarik Anyelir lebih dekat lagi ketubuhnya hingga aroma nafas keduanya berbaur dan melebur menjadi satu.
"Apakah Mas benar-benar pengen tahu?" Diandra mengangguk lucu dan membuat Anyelir tertawa gemas dan menyatukan puncak hidung mereka.
"Albert adalah adikku sebagaimana Kaisar, Raditya, Bunga, Tiara dan Sidiq sebagai anakku."
"Terus?"
"Terus apa?"
"Kenapa dia mengirim orang-orangnya untuk mengikutimu?"
"Kata siapa?"
"Aku tadi sebelum pulang sudah melihat rekaman CCTV di tempat Rachel kecelakaan. Dan dari rekaman itu memang terlihat jelas ada mobil yang menabrak mobil Rachel. Dan aku yakin dan percaya itu mobil orang -orang Albert karena aku pernah beberapa kali melihat mereka di tempat Albert." Mendengar penjelasan Diandra, Anyelir tiba-tiba beranjak dari pangkuan Diandra dan kembali duduk di kursinya tadi. Diandra mencoba menahan tangan Anyelir, tetapi ditolak Anyelir dengan halus. Entah mengapa melihat tingkah istrinya yang seperti itu Diandra begitu suka. Suka melihat Anyelir cemburu.
Diandra beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjongkok di depan istrinya. Menggenggam tangan Anyelir yang terasa dingin.
"Kenapa jadi cemberut gitu? Padahal tadi manis banget loh. Aku suka."
"Siapa yang cemberut? Biasa aja loh Mas."
"Lah itu wajahnya kayak kain kusut." Diandra terus menggoda Anyelir yang terus berusaha menyembunyikan kekesalannya.
"Aku baik-baik saja Mas." Tekan Anyelir dengan senyum yang sedikit dipaksakan.
"Fira, sekarang cuma kamu yang ada di hati Mas. Bagaimana pun kisah kita bermula, tapi yakinlah aku tidak pernah bermain-main dengan keputusan yang telah aku tentukan. Menikahimu sudah aku pilih. Jadi tidak ada alasan untuk aku mengingkarinya. Rachel adalah masa lalu dan akan tetap terus begitu. Kamu percaya kan sama aku?"
Anyelir diam memahami perkataan Diandra. Memang selama yang Anyelir tahu, Diandra selalu berusaha menghindari perempuan itu. Walau di awal pernikahan mereka, Anyelir juga tahu Diandra masih bermain-main di belakangnya, hanya saja ia pura-pura tidak tahu.
"Aku mencari tahu rekaman CCTV itu hanya ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Dan sekarang aku sudah menemukan alasan kenapa mobil Rachel ditabrak oleh pengawal bayangan yang dikirim Albert untukmu. Jujur aku cemburu Fir, seorang Albert yang hanya kamu anggap sebagai adik begitu melindungimu dan menjagamu begitu rupa. Tapi aku suamimu, malah tidak mengetahui apa pun tentang istrinya."
"Tidak ada hal yang seharusnya kamu risaukan Mas. Terutama hubunganku dengan Albert. Aku tahu bagaimana menempatkan diri di mana pun. Cukup percaya. Dan akan aku jaga kepercayaan itu dengan baik."
"Yakinkan aku lebih baik lagi."
"Bagaimana cara aku meyakinkan Mas?"
"Terserah kamu aja."
-tbc-
lanjut ya author aku menunggu mu😘
kirain dah pada pindahan semua 🤭