Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.
Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.
Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.
Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengenang masa lalu
Kening Dewa mengerut liar. Ia benar-benar tak mengerti dengan maksud ucapan Aza. Namun saat sadar sesuatu, pria itu lantas melongo, lalu terkekeh setelahnya. Membuat Aza yang melihatnya makin kesal.
Wanita itu lantas mendekat sembari menjinjing rok putihnya kesal. Menghadap ke arah Dewa yang malah terkekeh itu.
"Kok ketawa? Kamu fikir ini lucu?" gerutunya kesal.
Dewa menggeleng pelan, menahan senyum, sebelum akhirnya pria itu menoleh menatap kolam di samping kanannya.
"Jadi kamu sudah lihat?"
Aza semakin merasa geram. Bagaimana bisa Dewa setenang itu. Padahal istrinya terlihat begitu cantik dan sayang anak. Jarang ada wanita sosialita yang mau mengurus anaknya sendiri. Rata-rata kalo tidak diserahin ke baby sitter ya ke pembantu.
Sementara Dewa seolah menganggap ini hanyalah candaan. Lelucon receh yang bisa dianggap enteng.
"Aku serius, Dewa! Apa kamu tidak menghargai perasaan istrimu? Padahal kamu sudah dikaruniai seorang putra, tapi kamu malah menyimpan wanita lain di rumahmu? Coba kalo tadi aku tidak cepat-cepat pergi, aku pasti sudah menyakitinya!" gerutu Aza lagi
Dewa terkekeh kecil, menahan tawa sebisa mungkin, lalu menatap Aza yang kesal di depannya itu intens.
"Kamu yakin dia istriku?"
Mendengar itu kening Aza melebar, wanita itu lantas menoleh, kembali menatap Dewa di depannya yang tersenyum lebar padanya.
Satu alis Aza naik, "Lah terus? Sekarang pun kamu tidak nganggap dia istri, Dewa?"
Dewa menggeleng lemah, pria itu lantas menarik tangan Aza pelan menuju batu besar samping pohon besar, duduk disana sembari menatap ke arah depan.
"Dia bukan istriku, Lea. Tapi kakakku."
Mendengar itu Azalea langsung melongo, sebelum akhirnya berseru karena terkejut.
"Heee??! jadi dia—!"
Aza tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menutup mulutnya syok, membuat Dewa terkekeh kecil.
"Kamu menganggap dia istriku yah? Terus kamu kabur dan—"
Aza langsung membekap mulut Dewa, melotot syok. Ia benar-benar tak ingin mendengarkan jawaban Dewa yang sudah ketebak itu, sebelum akhirnya ia memberi jarak, menjauh darinya, kembali berjongkok di pinggir kolam.
"Aku gamau dengar!"
Dewa terkekeh kecil. Ia seperti melihat Azalea semasa remaja dahulu. Disaat pertemuan pertama mereka. Dewa menemukan Aza meringkuk di samping sungai, menangis sesegukan dengan kondisi pipi yang merah.
Disitu Aza mengumpat sedemikian rupa. Yang menurut Dewa itu cukup lucu. Dewa jadi sering datang ke sungai tersebut untuk mengintip Aza sedang menangis. Dan itu berjalan hingga 1 bulan.
Sampai di suatu hari, Aza tak lagi datang. Dewa menunggu dari 1 hari, 3 hari, hingga 1 Minggu. Aza tak pernah lagi datang ke tempat tersebut. Sampai akhirnya satu bulan kemudian, Dewa kembali melihat Aza berada di pinggir sungai itu lagi, namun kondisinya yang sekarang jauh lebih memprihatinkan, ia yang tak tega melihatnya lantas mendekat. Mencoba mengusir rasa gengsi dan malu dalam dirinya.
Disitu lah mereka menjadi sering bertemu. Masa-masa itu masa SMA kelas 3. Dewa kerap bolos dari sekolah demi menemui Aza di dekat sungai biasa wanita itu mencurahkan perasaannya.
Hingga akhirnya, sungai itu menjadi saksi jadian mereka untuk yang pertama kalinya. Dewa menyatakan perasaannya, dan Aza pun membalasnya dengan suka cita.
Disitu Dewa merasa seperti mendapatkan berlian yang berharga. Ia bahkan belum pernah menyentuhnya. Ia tidak ingin menyentuh Aza sebelum waktunya. Namun bagi Aza yang suka dengan sentuhan, menganggap Dewa tak mencintainya. Dan sekian lama hubungan mereka menjadi renggang. Semasa kuliah Dewa mulai suka balap liar dan tawuran sana sini. Karena hal itu juga Dewa jarang mengabari Aza.
Aza yang kesepian mulai sering menangis, hingga akhirnya ia bertemu Ramdan. Sosok pria yang menurut Aza lebih perhatian daripada Dewa. Disitu Aza mulai berpaling. Disaat Dewa sering tawuran, ia mulai menjalin kedekatan dengan Ramdan.
Sampai akhirnya hubungan mereka berdua diketahui oleh Dewa. Dewa yang emosi langsung menghajar Ramdan saat itu juga. Aza menangis, memohon pada Dewa untuk melepaskan Ramdan. Namun masa itu Dewa sedang liar-liarnya. Jadi memilih meninggalkan Aza dengan perasaan kesal.
Aza tau itu salah, dia sudah mengkhianati Dewa. Namun Dewa tak pernah sedikitpun memanjakannya seperti Ramdan memanjakannya. Ia hanya datang, membelikan sesuatu kesukaan Aza, lalu pergi lagi entah kemana.
Pernah suatu saat Aza hendak menciumnya. Dewa malah terkejut dengan muka memerah, lalu kabur begitu saja meninggalkannya. Sejak saat itu Aza mikir. Dewa ini pasti belok.
Sampai akhirnya balap liar yang menjadi tragedi perpisahan mereka. Dewa tak sengaja membuat salah satu peserta jatuh dan masuk rumah sakit. Aza yang benci akan kekerasan itu langsung mendatanginya, lalu menamparnya dan meninggalkannya begitu saja. Tak selang lama ia pun jadian dengan Ramdan. Dan disitu akhir dari hubungan mereka.
"Aku sudah faham kemana perginya kamu tanpa menebak sekalipun, Lea." ucap Dewa tiba-tiba sembari menatap kolam dengan senyum tipis.
Aza yang menutupi telinganya itu lantas menoleh, menatap polos Dewa yang asik mencabuti rumput, lalu melemparnya ke kolam.
"Maksudnya?"
"Iya, sedari dulu kamu kalo ada masalah pasti larinya kalo ngga ke sungai, ke kolam ya ke rawa-rawa kecil. Menatapi pantulan wajahmu yang jelek karena bengkak itu."
Aza langsung menggembungkan pipinya sebal, lalu memalingkan wajah acuh. Ia akui, Dewa paling tahu dirinya. Meski pria itu kaku dengan sentuhan, Dewa tidak pernah berlaku kasar padanya, sedikitpun.
"Sekarang aku tanya, kenapa kamu memilih untuk bunuh diri kemarin?"
Aza langsung bungkam, menatap kosong ke depan. Kilas balik kejadian beberapa Minggu lalu membuat hatinya kembali sesak. Dewa yang menyadari itu langsung tergagap.
"Tidak usah jika kau keberatan."
"Mas Ramdan selingkuh."
Dewa langsung bungkam, namun sudut bibirnya tertarik tipis. Menoleh menatap Aza dengan wajah yang dibuat memelas mungkin.
Aza mulai berkaca-kaca. Wanita itu segera bangkit lalu berjalan mendekat di batu besar samping Dewa, duduk disana.
"Mas Ramdan ngehamilin rekan satu kantornya. Lalu memintaku untuk terima dimadu. Tapi aku tak mau, makannya aku pergi. Setelah itu aku pulang kerumah, pun aku juga tidak diterima. Aku tidak punya jalan pulang dan rasanya mati itu jauh lebih baik untukku."
Dewa tatap lekat manik mata Aza yang menitikkan air mata itu. Ia ingin sekali menyentuhnya, namun ia tak bisa. Dewa bukan tipikal menyentuh jika bukan karena terpaksa.
"Jadi begitu. Tapi boleh tidak aku bersyukur, Lea?"
Lea spontan menoleh, "Bersyukur?"
Dewa mengangguk kecil, "Iya, karena itu artinya. Aku masih ada kesempatan untuk mendekatimu."
Pipi Aza langsung memerah, sontak merunduk, tangannya meremat ujung piyama di pangkuan, "Jangan bercanda, aku bahkan belum bercerai."
Dewa tersenyum tipis, "Aku sudah mengurusnya."
Mendengar itu Aza syok, refleks menoleh.
"Dan aku juga sudah membuatnya kehilangan pekerjaan yang menjadi pemicu sakit hatimu."