"Jangan paksa Humaira Mi... Aku itu Humaira, Humaira bukan Kak Asyifa yang bisa tahan menutup diri pakai jilbab."
Seluruh keluarganya selalu memaksanya menjadi seperti kakaknya yang muslimah namun Humaira merasa belum siap dan sikapnya tidak pantas untuk di jilbapin.
Dunia Humaira yang damai berubah 180 derajat setelah bertemu Bang Ashraf, lelaki yang membuat semua orang salah paham terhadapnya hingga mengikat keduanya di ikatan pernikahan.
Akankah Humaira menemukan cintanya dan bisa bahagia????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal
Pulang dari kampus Bang Ashraf langsung berbaring karena tubuhnya rasanya remuk redam, dirinya jarang berkelahi seperti Humaira yang hampir tiap hari tanding jadi biasa dengan pukulan dan tendangan. Humaira melepas sepatu suaminya yang sudah memejamkan mata di atas sofa ruang tamu.
Humaira melangkah ke dapur lalu membuat jus buah segar, setelah siap dirinya membawa pada Bang Ashraf lalu membantu suaminya untuk bangun dan memberikan jus Buah itu agar tubuh suaminya lebih segar.
"Abang... Mau makan apa ??? Di masakin apa beli aja...???" Tanya Humaira lalu memijit kaki suaminya pelan-pelan entah rasa bersalah pada hatinya masih terasa.
Bang Ashraf tersenyum devil lalu mendekat pada Humaira dan membisikan kata-kata yang membuat Humaira pucat di tempatnya.
"Masa itu sih Bang??? Humay belum siap..." Kata Humaira sambil menunduk.
"Kan hadiah Yang buat kelulusan ujian Abang..." Kata Bang Ashraf mulai cemberut, sampai kapan haknya sebagai suami tidak tertunaikan pikirnya, sudah cukup lama dirinya bersabar menunggu istrinya itu siap dan menawarkan dirinya tapi tak kunjung menawarkan diri.
"Yang... Please... Abang bakal pelan-pelan... Mau ya..." Kata Bang Ashraf lalu menarik Humaira kedalam pangkuannya.
"Ckkk Abang Badanya sakit loh barusan... Mas udah mau gituan..." Humaira berusaha menolak tapi tangan Bang Ashraf sudah bergerilya kemana-mana membuat sengatan-sengatan ke sekujur tubuh Humaira,sehingga tubuhnya pun bergerak gelisah.
Bang Ashraf mengambil wajah Humaira lalu mengambil candu dari dua merah merekah yang selalu nikmat dan manis saat di dalamnya. Humaira pun akhirnya mau tidak mau ikut membalas pendalaman itu hingga keduanya pun terbakar oleh rasa yang meminta lebih dari apa yang di lakukan saat ini.
Bang Ashraf menarik kausnya asal kemudian melepas jilbab yang di kenakan Humaira asal, lanjut melepas hoddy Humaira, namun ternyata di balik hoddy itu masih ada kaus panjang juga, Bang Ashraf kembali menarik kaus panjang Humaira namun lagi-lagi di sana masih ada kaos Ten top yang terpakai.
"Astaga.... Banyak banget bajunya berlapis-lapis..." Batin Bang Ashraf merasa sedikit tidak sabar saat melepas begitu banyak baju yang di pakai Humaira.
Bang Ashraf melepas celananya hingga menyisakan celana pendek lalu mengambil wajah Humaira lagi, menyatukan rasa dari candu utama yang terletak di wajah Humaira.
Bang Ashraf turun menyusuri leher jenjang Humaira meninggalkan banyak bekas kepemilikan di sana, berharap setelah ini Humaira akan selalu menutup leher jenjang mulus itu agar hanya dirinya yang bisa melihat dan menikmatinya.
Humaira merasa seluruh tubuhnya panas, begitupun tubuh Bang Ashraf keduanya sudah terbakar oleh api gelora, dari Syurga dunia yang akan mereka jajahi untuk pertama kalinya selama menikah.
Pipi Humaira memerah ingin menolak namun ini terlalu membuatnya penasaran begitu pun dengan Bang Ashraf sudah tidak mampu lagi menolaknya ataupun menahannya lebih lama lagi karena setelah melihat tubuh yang masih berbalut Tan top itu begitu menggoda imannya.
Bang Ashraf meraih celana panjang Humaira lalu melepasnya, ingin segera melihat apa yang tersimpan di Bali celana panjang itu namun begitu di buka masih ada celana pendek di sana, membuat kepala Bang Ashraf sedikit pusing karena harus menahan lagi, akhirnya Bang Ashraf pun mengambil celana pendek itu dan terpampang lah kejutan indah yaitu Hot pan Humaira yang berwarna hitam kontras dengan kulitnya yang begitu putih bersih.
Bang Ashraf meraih tubuh Humaira tangan nakalnya mulai menyapu masuk kedalam Ten Top Humaira, mencari dua bongkah harta Karun yang tersimpan segar di baliknya, Humaira memerah namun juga merasakan sensasi yang baru membuat dirinya semakin gelisah.
Bang Ashraf akan melepas Ten top Humaira sudah naik separuh hingga perut indah bersih putih itu terpampang nyata membuat sesuatu di bawah sana menjadi bergerak mendorong hasratnya. Namun tiba-tiba di luar terdengar bunyi Bel berkali-kali mengganggu kedua orang yang sedang di balut gelora itu.
"Ckkk Astaga... siapa sih???" Bang Ashraf bangkit lalu menutup Ten top Humaira lagi berjalan telanjang dada hanya memakai celana kolornya mengintip orang yang berada di luar melalui celah jendela rumahnya yang tertutup gorden.
"Astaga....!!! Kenapa ramai sekali sih... Kenapa hari ini!!!" Bang Ashraf mengacak rambutnya frustasi karena bakal gagal mencetak gol bersama Humaira.
bang Ashraf setengah berlari ke arah Humaira membuat Humaira terkejut dan panik lalu memunguti bajunya yang sudah berantakan kemana-mana.
"Siapa Bang???" Tanya Humaira deg-degan.
"Ckkk Ayuk pakai baju lagi Yang... Gagal cetak golnya..." Kata Bang Ashraf pelan sambil memakai baju dan celananya lagi, sembari menahan kepalanya yang pusing akibat tidak jadi tersalurkan.
"Yah Siapa???" Humaira penasaran namun tetap memakai kembali pakaiannya dengan asal-asalan.
"Di luar ada Mama, Papa, Umi, Abi, kak Asyifa, Bang Aryan, Alesha sama semua teman-teman mu..."Jawab Bang Ashraf membuat Humaira semakin panik lalu memakai jilbabnya.
"Astaga kok banyak banget orang pada kesini ada apa???" Humaira makin panik sambil memakai hoddy ya kembali dan merapikan bajunya lagi.
"Ckkk Gak tau... Tamu kaya jalangkung semua, tidak di undang tidak di antar... Mana datang pas tuan rumah mau gituan... Ckkk pusing Yang..." Bang Ashraf mengacak-acak rambutnya frustasi namun juga melangkah ke pintu untuk membukakan pintu semua tamu yang ada di luar.
Sedangkan Humaira berlari ke kamar untuk mencuci mukanya agar terlihat lebih segar dan memastikan tubuhnya aman tidak meninggalkan bekas apapun.
Bang Ashraf membuka pintu dengan wajah yang di tekuk luar biasa, Alesha langsung masuk dengan omelan-omelan dan serapahnya makin membuat wajah Bang Ashraf di tekuk-tekuk.
"Astaghfirullah... Gitu ada di rumah... Kami semua sampai jamuran di luar...!!!" Kata Alesha.
"Iya loh... Astaghfirullah Bang Ash... Perut besar Mama sampai kram loh... Apa gak kasian..." Mama Shafiya ikut mengomel.
"Iya Umi juga sampai encok loh... Pada Kemana sih???" Umi ikut-ikutan protes.
Sementara Abi dan Papa Fatih justru saling pandang dan tersenyum, lalu Papa Fatih menghampiri Bang Ashraf dan menepuk pundaknya sambil berkata," Maafkan Kami ya, datang di saat waktu tidak tepat..."
Abi juga ikut menepuk pundak Bang Ashraf sambil tersenyum, "Iya Maaf ya... Sabar... toh masih siang... Nanti malam saja ya...":Kata Abi Harun membuat wajah Bang Ashraf bersemu merah.
Sedang Bang Aryan bingung dengan percakapan Abi dan Papanya pada Bang Ashraf, "Ckkk Emang kenapa sih???" Ujarnya lalu melaju ke sofa dan duduk di sana.
Bang Ashraf dan yang lain ikut menyusul Bang Aryan dan mereka pun duduk di sofa, tak lama kemudian Humaira datang dari kamar, niat hati agar terlihat segar namun justru membuat prasangka yang tidak-tidak dari umi dan Mama mertuanya.
"Oalah... Baru itu ya... Pantas saja lama kalian itu... Hmmm yang di tunggu sampai jemuran malah pada lagi ibadah siang..." Kata Umi membuat pipi Humaira merona merah.
"Astaga, apa sih Bun... Udaranya panas makanya Humaira baru bersih-bersih di kamar mandi, maaf jadi gak dengar..." Elak Humaira yang membuat semua orang tertawa kecuali Alesha dan Bang Aryan.
"Ckkk mending kalau jadi, itu gagal gara-gara kalian semua..." Batin Bang Ashraf.
dosen kok sumbu pendek..
menantu kocak...