Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter : 06
Hampir saja Ayunda terjungkal ketika melompat dari ranjang, dia sangat panik. Waktu sepuluh menit begitu singkat, sementara dirinya masih dalam keadaan jauh dari kata layak untuk bertemu orang terlebih ini kedua temannya.
Pintu kamar mandi dihempaskan, berulang kali Ayunda menggeleng mengenyahkan rasa pusing akibat belum cukup waktu tidur. Dia baru terlelap di pukul tiga pagi.
Tidak sempat mandi, cuma bersih-bersih badan, menggosok gigi dan membasuh wajah. Ayunda berganti pakaian tidur dengan setelan santai, lalu membubuhkan krim penutup noda merah keunguan yang memenuhi area pundak, dada, serta memar terasa nyeri bila tertekan.
“Tak ada waktu untuk merenung, Yunda!” bentaknya pada diri sendiri.
Bertepatan dengan itu terdengar suara bel berbunyi, bergegas menyimpan tas makeup nya, berlari keluar dari dalam kamar mandi.
Sebelum membuka pintu, terlebih dahulu mematut diri pada cermin setinggi badan, memastikan penampilannya sudah sempurna, noda pada kulit tertutup rapat, barulah mengatur ekspresi senatural mungkin.
“Lama amat sih buka pintunya? Jangan bilang lu nyembunyiin laki-laki, atau selama ini berbagi uang sewa dengan pria, makanya mampu tinggal di apartemen terbilang mewah ini?” belum apa-apa, Seila langsung mencecar tajam, mimik wajahnya penuh rasa curiga.
“Astaga! Kapan sih sifat nyebelin lu musnah, Sei? Tujuan kita kesini itu mau seneng-seneng, bukannya ngajak ribut!” Dwira sedikit menyesal mengajak sahabatnya ini.
“Diem lu! Kita loh, udah nunggu hampir sepuluh menit baru dibukain pintu. Kalau gak mau disambangi ya ngomong sedari tadi, bukan mengulur waktu.” Seila maju, tanpa permisi masuk ke dalam apartemen, sengaja lengannya menabrak tangan kiri Ayunda.
Ayunda menggigit bibir, menahan nyeri pada bekas memar tertutup kaos lengan panjang.
“Maaf ya, Ra. Tadi lama di kamar mandi, perutku mulas,” dustanya memberi alasan masuk akal.
“Aku yang kudu minta maaf, tau gitu gak tak ajak si biang rese itu.” Dwira pun masuk, kedua tangannya menjinjing plastik menguarkan aroma harum.
“Kamu belum sarapan kan, Yunda? Ini tak beliin bubur ayam. Ayo makan! Aku, Seila juga belum sarapan.”
“Letakin di meja makan aja, Ra!” Ia menutup pintu apartment, lalu menyusul sahabatnya sambil melirik Seila yang sedang membuka pintu penghubung ke balkon.
“Ini bubur ayam Barito ya?” matanya berbinar kala melihat seporsi menu sarapan lengkap dengan topping stik keju, suwiran daging ayam, cakwe, tongcai, daun bawang.
“Iya. Sengaja kami mampir di warung langganan lu.” Dwira menuang air putih ke dalam tiga gelas.
“Makasih, Ra, Sei.” Ia duduk, menunggu Seila bergabung baru mulai makan.
“Siniin daun bawangnya, Sei,” pinta Ayunda ketika temannya menyingkirkan daun segar ke penutup styrofoam.
“Lu tu udah mirip tong sampah tau, nggak? Hobinya ngais makanan sisa yang gak diinginkan. Buang deh sifat gak banget itu,” cibir Seila menatap jengah jemari Ayunda.
“Selagi masih layak untuk dimakan, kenapa nggak. Yang penting bukan dari hasil mencuri,” jawabnya dengan nada biasa saja.
‘Andai kamu tahu, dulu untuk makan saja harus nunggu sisa mereka. Bahkan tak jarang pula cuma kebagian kuah sayur, bumbu kari,’ lanjut batinnya miris, terkenang masa-masa diperlakukan tidak adil, haknya sebagai seorang anak dirampas sadis.
Suasana menjadi canggung, Seila tidak lagi berkomentar pedas, ia makan dalam diam.
Dwira menatap sengit sang sahabat yang kalau berucap, tidak pernah berpikir terlebih dahulu – pantas tidak kalimatnya.
“Habis ini ke mal yuk? Aku tuh penasaran banget pengen nonton film kisah raja difitnah, dikudeta terus diasingkan,” celetuk Dwira.
“Entar lu mewek, bikin repot yang ada,” sindir Seila.
“Iya sih, tapi tu cuplikan film asik lewat beranda, kayaknya seru walaupun sad ending. Ayo dong!” ia keukeuh mengajak nonton bioskop.
Sebenarnya Ayunda enggan, badannya juga pegal-pegal, tapi tidak tega mendengar rengekan Dwira. “Aku ngikut aja.”
Betapa senangnya Dwira, mimik wajahnya langsung sumringah. “Naik mobilmu atau taksi?”
“Terserah kalian. Naik mobilku ya hayok, taksi juga gapapa.” Ayunda membereskan wadah bubur, memasukkan ke dalam plastik sampah.
Seila mengelap meja menggunakan tisu basah. “Naik taksi. Takutnya duduk di jok mobil yang belum tentu dibeli dari uang halal, malah kena tulah lagi.”
Brak!
Dwira menggebrak meja, wajahnya memerah menatap marah wanita yang sama sekali tidak merasa bersalah.
Ayunda cepat-cepat menjadi penengah. “Sudah! Habis makan kok mau adu jotos.”
“Mulutnya itu loh, ngeselin banget,” ketus nya.
“Gua cuma berusaha menghindarkan kita dari bencana. Harusnya lu berterima kasih bukan malah mau nyerang,” ia seolah tidak peduli pada perasaan Ayunda.
“Jadi mau pergi nggak? Atau lanjut saling sindir menyindir?” sarkas Ayunda mulai naik tensi emosinya.
Seila dan Dwira sama-sama bungkam, membuat Ayunda memutuskan berganti pakaian bepergian, menganggap perdebatan ini sudah terselesaikan.
***
Satu jam kemudian, ketiga wanita berpakaian santai sudah tiba di mal megah – mereka sama-sama mengenakan celana jeans panjang, bedanya pada baju atasan.
Ayunda memakai kaos lengan panjang menyerupai cardigan, rambutnya dibiarkan terurai. Kedua temannya mengenakan kaos longgar lengan pendek.
“Kok rame banget ya?” Dwira menoleh ke kiri dan kanan, memperhatikan banyaknya pengunjung memadati atrium lantai dasar mal.
“Ada pameran atau fashion show mungkin,” terka Ayunda, mulai merasa tidak nyaman apabila berada di tempat terlalu ramai.
“Buruan naik ke lantai lima, pesen tiket film yang mau ditonton!” titah Seila, tapi tidak diindahkan oleh Dwira.
“Ira, mau kemana?” Ayunda hendak mencekal lengan Dwira, namun gagal karena temannya malah menyelinap masuk diantara kerumunan lautan manusia.
“Awas! Lu tuh lihat-lihat dong! Mirip orang udik banget!” sentak Seila seraya menarik baju Ayunda, menghindarkan dari seseorang berjalan asal demi maju ke depan.
Ayunda baru tersadar kalau sudah diselamatkan dari tabrakan yang kalau sempat terjadi sudah pasti membuatnya malu. “Maaf, Sei … dan, terima kasih.”
“Ternyata bakalan kedatangan artis Syafira Bekti, dan Vinira Guntara!” jerit kecil Dwira yang berhasil keluar dari kerumunan orang. “Nontonnya nanti dulu aja ya, aku mau war biar bisa foto bareng!”
“Kenapa mereka ada disini?”
.
.
Bersambung.
Selia ini nanti kayaknya bakalan jadi pawangnya pak iyan🤭.
Bu Niar...,, mqkn sudah mengetahui sesuatu yang tersembunyi d antara padak dan Yunda...,, tapi qta belum tau apa yang d sembunyikan oleh Dwira🤔.
ini gmn ya
apa karna tau mantunya hamil jd mau menetap
wis mboh lah
tauuu aja🤭
Amran tabarik-Daksa wangsa
daksa ga doyan yang udah di laletin
doyannya yg tertutup kaya Yunda hanya daksa yg buka .
ga kaya kamu di obral di ewer2 ke semua orang,,