*Kelanjutan dari karya sebelumnya, yaitu BENANG TANPA UJUNG*
Cinta tumbuh seiring dengan bertambahnya usia, saat kita tinggal bersama dalam satu keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novi niajohan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
"Kenapa bicara seperti itu? Kita harus bertanya padanya bukan?" ucap Riko ingin menghampiri Yuan.
Namun dengan cepat Mei Chen mencekalnya "Jangan Pak Riko, dia bukan Yuan. Tadi aku sudah bertemu dengannya dan dia sama sekali tidak mengenaliku, bahkan dia sempat mendorongku."
"Begitukah? Tapi kenapa?" tanya Riko heran.
"Karena aku telah menabraknya secara tidak sengaja dan kami sempat mengobrol, awalnya aku juga bilang kalau dia adalah Yuan. Tapi dia sama sekali tidak mengakui dan tidak mengenalku atau nama yang Yuan," balas Mei Chen lesu.
Riko terdiam menatap Mei Chen yang menunduk sedih, lalu berganti menatap Yuan yang sedang berbincang dengan orang-orang. Apakah benar yang dikatakan oleh putri bosnya itu? Tapi dirinya juga merasa yakin jika Tan Yu adalah Yuan.
"Pak Riko, acara peresmiannya sudah selesai. Bagaimana kalau kita kembali ke kantor?" ucap Mei Chen ingin pergi.
"Tapi kita belum memberikan selamat kepada Y-- ... Tidak, maksud Bapak pada Tan Yu," balas Riko.
"Kurasa tidak perlu, Pak. Kita langsung kembali saja," ajak Mei Chen enggan.
Riko menghela nafas panjang, ia mengerti kenapa Mei Chen sampai tidak mau menghampiri pemilik hotel tersebut. Karena ia yakin saat ini hati Mei Chen sedih tidak karuan.
"Ya sudah, kamu tunggu saja disini. Biar Bapak yang pergi kesana untuk menyalaminya."
Mei Chen mengangguk. "Ya."
Riko segera menghampiri Yuan, selain karena ingin memberikan selamat, ia juga ingin memastikannya sendiri jika pria pemilik hotel tersebut adalah benar Yuan atau bukan.
Pria paruh baya itu tersenyum dan mengulurkan lengan kanannya. "Selamat atas peresmian hotelnya Pak Tan Yu," ucapnya memberi selamat.
Yuan tersenyum. "Terima kasih karena telah datang kesini dan memberi saya selamat, tapi jika boleh tahu anda perwakilan dari perusahaan apa?"
"Saya Riko perwakilan dari PT Mei Tama, perusahaan pengembang properti di kota. Kebetulan pemilik perusahaan kami tidak bisa datang karena ada urusan mendadak," jelas Riko.
"Oh begitu, saya tidak menyangka jika perusahaan besar seperti Mei Tama akan sudi menghadiri acara kecil seperti ini," ucap Yuan.
"Ya karena kalian mengundang perusahaan kami," balas Riko.
"Mengundang perusahaan kalian?" tanya Yuan heran lalu menatap Ken.
"Ya Pak Y-- eh maksud saja Pak Yu, kebetulan perusahaan Mei Tama lah yang merekomendasikan kontraktor terbaiknya untuk pembangunan ini," jelas Ken.
Karena memang sebelumnya Yuan telah mempercayai Ken untuk mencari kontraktor berpengalaman, dan Ken pun tahu dari ayahnya yang kebetulan teman dari Riko ini.
Dan sebagai bentuk terima kasihnya, Ken pun turut menyempilkan nama perusahaan Mei Tama dalam acara peresmian, karena telah membantunya merekomendasikan kontraktor rekanan milik perusahaan Mei Tama.
Akan tetapi Ken tidak tahu jika perusahaan tersebut memiliki hubungan dengan keluarga bosnya.
"Oh kalau begitu saya harus berterima kasih kepada anda karena telah merekomendasikan kontraktor terbaiknya," ucap Yuan.
"Sama-sama," balas Riko. Sambil terus memindai penampilan sang pemilik hotel dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Begitu mirip, hanya saja pria dihadapannya itu lebih berwibawa dan terlihat dingin. Berbeda sikap dengan Yuan yang hangat dan murah senyum terhadap siapa saja, terlebih kepada orang-orang terdekat yang mengenalnya.
Yuan menatap Mei Chen yang memandang kearah berbeda. "Apa gadis itu ikut dengan anda Pak Riko?" tanyanya menyenggol.
"Oh iya, dia adalah putri sulung dari Pak Hendrik. Namanya Mei Chen, hari ini hari pertamanya bekerja dan Pak Hendrik mengutus dia juga untuk datang kesini," balas Riko.
Yuan berdecih. "Tidak kusangka pemilik perusahaan besar Mei Tama memiliki putri berparas cantik, tapi sayangnya dia sedikit ceroboh."
Riko tersenyum. "Anda benar, Pak Yu. Saya meminta maaf jika ada tindakan tindakan tidak menyenangkan Mei kepada anda," ucapnya mewakili.
"Tidak masalah, tapi aku juga tidak menyangka putri pemilik perusahaan anda bukan hanya ceroboh saja, tapi juga tidak memiliki sopan santun," balas Yuan menyindir.
Riko menelan ludahnya kasar, ia mengerti maksud dari perkataan pria dihadapannya itu. Lalu ia pun segera memanggil Mei Chen agar menghampirinya.
"Mei, kesini sebentar!" panggil Riko.
Mei Chen melangkah malas. "Ada apa Pak Riko?" tanyanya tidak ingin menatap Yuan yang dingin.
"Kenalkan ini adalah Mei Chen, putrinya Pak Hendrik dan kebetulan menemani saya mewakili perusahaan. Dan Mei, kenalkan dia adalah Pak Tan Yu," ucap Riko saling mengenalkan.
"Tan Yu," ucap Yuan mengulurkan lengannya.
Mei Chen terdiam sambil memikirkan kejadian belum lama tadi, sikap Yuan yang dingin dan kasar. Membuat ia malas-malasan menyambut uluran tangan pria dihadapannya itu.
"Mei," balas Mei singkat. Lalu menarik uluran tangannya kembali dan berkata pada Riko. "Pak Riko, Mei tunggu di parkiran saja ya." Mei Chen kemudian meninggalkan ballroom.
"Maafkan sikap Mei, dia bersikap seperti itu mungkin karena teringat dengan saudara tirinya yang sudah lama menghilang dan kebetulan anda memang terlihat mirip dengannya," ucap Riko. "Kalau begitu, saya pamit harus segera pergi dari tempat ini dan sekali lagi daya ucapkan selamat atas dibukanya hotel ini," sambungnya.
Yuan mengangguk. "Baiklah, terima kasih atas kehadirannya."
Riko kemudian undur diri dan menyusul Mei Chen di parkiran, ia melihat gadis itu bersedih. "Mei ayo kita kembali ke kantor," ajaknya.
"Ya Pak," balas Mei Chen.
"Tan Yu sangat mirip dengan Yuan, tapi sikapnya sangatlah berbanding terbalik. Apa perlu kita beritahu hal ini kepada daddymu?" tanya Riko.
Mei Chen mengangkat kedua bahunya. "Entahlah Pak Riko, tapi lebih baik tidak usah saja."
"Kenapa?" tanya Riko.
"Tidak tahu, tapi aku merasa ada baiknya kita menyembunyikan hal ini dari daddy," balas Mei Chen.
"Kau benar, lagipula kita belum punya bukti kuat kalau Tan Yu itu adalah Yuan. Mungkin kita harus selidiki lebih dalam lagi," ucap Riko.
"Kalau pun Tan Yu itu adalah Yuan, tapi apa alasan dia menolakku saat berpapasan dengannya tadi? Apa karena dia memang sudah benar-benar memutuskan tali persaudaraan kami yang sudah terjalin sejak lama dan melupakan semuanya?" heran Mei Chen.
"Ya itulah yang harus kita dalami lagi," balas Riko.
Mei Chen mengangguk. "Ya Pak," balasnya setuju.
...----------------...
Sementara itu di dalam kantor hotel, Yuan tengah melamun, mengingat kembali masa-masa bertemunya Mei Chen saat bertabrakan didekat lobi tadi.
Ada perasaan senang ketika bertemu, karena rasa rindu yang sudah ia pendam selama ini akhirnya sedikit terobati.
Akan tetapi hatinya merasa tidak enak, karena telah membentak gadis itu dan berkata kasar yang mungkin saja bisa melukai hatinya. Apalagi ia harus berbohong menjadi orang lain.
"Maaf Mei, aku tidak berniat melukai hatimu. Tapi ini aku lakukan demi kebaikan kita berdua," gumam Yuan sambil membereskan diri untuk kembali memakai seragam cleaning service nya.
...~ Bersambung ~...
slam dri Madu pilihan Ibu kak
ditunggu kisah terbarunya ya kak 🤗