**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7 bertemu ibu mertua
Hari yang paling dicemaskan Alya akhirnya tiba.
Dua hari setelah insiden di pusat perbelanjaan, sebuah undangan resmi datang ke Penthouse Lavender. Bukan dari kolega bisnis Devan, melainkan dari **Nyonya Sofia Dirgantara**—ibu kandung Devan, sang Nyonya Besar dari keluarga Dirgantara. Beliau menuntut pertemuan makan siang di kediaman utama keluarga Dirgantara setelah mendengar desas-desus bahwa putra tunggalnya telah membawa seorang gadis miskin ke penthousenya dan mengklaimnya sebagai calon istri.
Alya berdiri di depan cermin besar kamar utamanya, merapikan dress rajut longgar berwarna krem lembut yang dibelikan Devan tempo hari. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai rapi, memberikan kesan anggun namun tetap bersahaja.
"El... jantung Ibu rasanya mau copot," bisik Alya sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Bagaimana kalau ibunya Devan itu tipe ibu mertua kejam di sinetron yang akan melemparkan selembar cek kosong lalu menyuruhku pergi?"
> *[Hmph. Melemparkan cek kosong? Jika Nenek melakukan itu, aku akan langsung mendiktekan angka sembilan ratus sembilan puluh sembilan miliar rupiah untuk Ibu tulis di cek itu. Biarkan dia tahu rasa.]*
Alya tertawa kecil, ketegangannya sedikit mengendur berkat gurauan bayinya.
> *[Tapi Ibu, dari analisis gelombang energi yang kubaca melalui ingatan Ayah, Nyonya Sofia sebenarnya bukan orang jahat. Dia hanya wanita aristokrat yang sangat protektif terhadap putranya. Tenang saja, aku akan mendampingimu.]*
Pintu kamar terbuka, dan Devan melangkah masuk dengan setelan kasual formal—kemeja biru dongker tanpa dasi. Pria itu menatap Alya sesaat, matanya sedikit terpaku pada penampilan Alya yang terlihat sangat cantik dan tenang dengan gaun krem tersebut.
"Sudah siap?" tanya Devan datar, menyembunyikan kekagumannya. "Ibuku tidak suka orang yang tidak tepat waktu."
"Sudah, Tuan Devan," jawab Alya pelan.
---
Perjalanan menuju Mansion Dirgantara memakan waktu empat puluh menit. Begitu mobil Rolls-Royce mereka memasuki gerbang besi raksasa, Alya disuguhi pemandangan sebuah istana megah bergaya klasik Eropa modern dengan halaman rumput seluas lapangan sepak bola dan air mancur besar di tengahnya.
Devan membimbing Alya masuk melewati pintu jati kembar yang tinggi. Di dalam ruang tamu utama yang megah, seorang wanita paruh baya berpenampilan luar biasa elegan sudah duduk menanti. Nyonya Sofia Dirgantara mengenakan tunik sutra berwarna zamrud, rambutnya disanggul rapi tanpa cela, dan seuntai kalung mutiara melingkari lehernya. Wajahnya cantik, namun memancarkan wibawa ketat khas garis keturunan bangsawan.
Begitu melangkah masuk, Devan langsung menyapa, "Ibu."
Nyonya Sofia meletakkan cangkir teh porselennya dengan anggun. Matanya yang tajam—persis seperti mata Devan—langsung tertuju pada Alya, menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang dingin.
"Jadi... ini gadis yang membuat gempar seluruh jaringan informasi keluarga kita?" suara Nyonya Sofia terdengar tenang, namun memiliki tekanan yang kuat. "Silakan duduk."
Alya duduk di sofa mewah di samping Devan dengan punggung tegak, mencoba menahan napasnya agar tidak terdengar gemetar.
"Alya Putri, benar?" Nyonya Sofia melipat tangannya di pangkuan. "Aku sudah membaca seluruh latar belakangmu yang dikirimkan oleh agen intelijen keluarga. Yatim piatu, mantan pekerja paruh waktu, dan tidak memiliki latar belakang bisnis sama sekali. Devan... apa yang sebenarnya kamu pikirkan membawa gadis ini masuk ke lingkungan kita? Dan apa ini tentang kehamilan?"
Devan baru saja hendak membuka mulut untuk membela dengan alasan logisnya, namun Nyonya Sofia langsung memotong dengan lambaian tangan. "Aku tidak bertanya padamu, Devan. Aku ingin mendengar langsung dari wanita ini. Apakah kamu mendekati putraku demi harta, Alya?"
Pertanyaan frontal itu bagaikan hantaman telak. Ruangan mendadak terasa sangat dingin. Alya mengepalkan tangannya di atas pangkuannya, bersiap menghadapi penghinaan.
Namun, di tengah tekanan mental yang berat itu, Baby El di dalam kandungannya tidak tinggal diam. Janin ajaib itu langsung melepaskan gelombang frekuensi batiniahnya, memotong langsung ke dalam pusat kesadaran Nyonya Sofia.
*BZZZZT!*
Nyonya Sofia tiba-tiba tersentak pelan di kursinya. Pandangan matanya yang tadinya dingin dan tajam mendadak bergetar. Di dalam kepalanya, sebuah suara anak kecil yang sangat menggemaskan, lembut, namun penuh kehangatan bergaung dengan nada manja.
> *[Nenek... Nenek Cantik... jangan galak-galak pada Ibuku, dong. Aku di dalam sini jadi ketakutan dan pusing. Ibuku wanita yang sangat baik, dia tidak peduli pada uang Ayah, dia hanya menyayangiku.]*
Mata Nyonya Sofia membelalak sempurna. Ia meletakkan tangannya di dadanya sendiri yang mendadak berdesir hangat. Suara itu begitu nyata, begitu suci, dan entah bagaimana langsung meruntuhkan seluruh dinding pertahanan emosionalnya sebagai seorang ibu. Nenek mana yang tidak akan meleleh mendengar suara cucu pertamanya memanggilnya "Nenek Cantik" dengan nada semanja itu?
> *[Nenek, jantung Ibuku berdetak sangat cepat karena dia takut Nenek tidak menyukaiku. Padahal, aku sengaja memilih rahim Ibu agar bisa terlahir di keluarga Dirgantara dan berbakti pada Nenek Cantik...]*
Nyonya Sofia menarik napas dalam-dalam, matanya mendadak berkaca-kaca. Perubahan ekspresi yang drastis ini tentu saja membuat Devan yang duduk di seberangnya mengernyitkan dahi kebingungan. *Apakah ibuku juga baru saja diserang secara spiritual oleh janin gila ini?* batin Devan tak percaya.
Nyonya Sofia terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna keajaiban yang baru saja ia alami. Pandangannya yang tadinya menatap Alya dengan penuh curiga, kini berubah total menjadi tatapan yang luar biasa lembut, bahkan cenderung penuh rasa sayang.
"A-Alya..." suara Nyonya Sofia mendadak bergetar lembut. Beliau berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Alya, mengabaikan segala tata krama aristokrat yang biasa ia junjung tinggi.
Nyonya Sofia langsung duduk di sisi lain Alya, meraih kedua tangan Alya yang terasa dingin, dan menggenggamnya dengan sangat hangat. "Maafkan kata-kata kasar Ibu tadi, ya? Ibu hanya... hanya ingin memastikan segalanya aman. Tapi sekarang, Ibu tahu... kamu adalah gadis yang baik."
Alya tertegun, menatap ibu mertuanya dengan mata berkedip-kedip kebingungan. "N-Nyonya Sofia?"
"Panggil Ibu, Sayang. Jangan Nyonya," potong Sofia dengan senyum merekah yang sangat tulus. Mata Sofia kemudian beralih ke arah perut Alya yang masih rata. Dengan gerakan perlahan, ia menyentuhkan telapak tangannya ke perut Alya dengan penuh kasih sayang. "Kandungannya sudah berapa minggu? Apakah kamu sering mual? Devan, apakah kamu memberi calon menantuku ini makanan yang bergizi?!"
Nyonya Sofia mendadak berbalik dan memelototi Devan dengan galak. "Jika aku tahu kamu menelantarkannya atau membuatnya stres di penthouse, Ibu sendiri yang akan mencoret namamu dari daftar ahli waris!"
Devan hanya bisa mengembus napas pasrah, menopang dagunya dengan tangan di atas sandaran sofa. "Ibu, aku menyewa koki pribadi dan ahli gizi terbaik untuknya. Dia sangat aman denganku."
> *[Hahaha! Sukses besar! Ibu, lihat kan? Nenek Cantik ini langsung berpihak pada kita. Sekarang, kita punya pelindung paling kuat untuk menundukkan Ayah Dingin!]*
Alya tersenyum sangat lebar, merasakan kehangatan yang luar biasa menyelimuti hatinya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup sebatang kara, ia kembali merasakan kasih sayang dari sosok seorang ibu.
Makan siang hari itu berubah dari interogasi yang menegangkan menjadi obrolan hangat penuh tawa, di mana Nyonya Sofia terus-menerus memanjakan Alya dengan berbagai hidangan lezat dan bahkan menjanjikan akan membelikan seluruh perhiasan terbaik di kota untuk menyambut pernikahan kontrak mereka yang—tanpa Devan sadari—kini tampaknya akan diarahkan oleh ibunya menjadi pernikahan yang sangat nyata.