Anindya Basundari terbiasa menjadi tumbal keluarga semenjak perceraian orang tuanya. Kali ini, dia harus menikahi pria lumpuh menahun agar keluarga baru sang ayah tetap bisa makan. Padahal dia telah memiliki tambatan hati, seseorang yang istimewa di masa lalu.
Ketika dipertemukan pertama kali dengan Adyapi Bumandhala, Anin merasa minder karena lelaki itu terlihat tampan dari segala sisi meskipun cacat, sedangkan dia memiliki gangguan mental. Namun, sisi dirinya yang lembut, bergejolak iba. Ingin membantu pria tersebut untuk pulih.
Mereka menerima perjodohan setelah nadzor walaupun tak saling bicara. Disatukan oleh persamaan nasib, mungkinkah keduanya memiliki kisah masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Qiev, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. DIHUJANI SAYANG
Mendengar suara seorang wanita, Argan langsung berbalik badan. Senyumnya terbit saat melihat wajah Anindya. Namun, pandangan itu seketika berubah, karena sang menantu terlihat lelah dan pucat.
Mendapat tatapan intens dari sang mertua, juga ingatan peristiwa terakhir, membuat Anin berdiam diri sambil menunduk. Kedua jemarinya saling bertaut, takut bila Argan memarahi atau melempar cacian lagi.
Argan mendekat, paham bahasa tubuh menantunya yang ketakutan. "Nin, Ad sudah sadar belum?" tanyanya lembut, tak melepas pandangan dari wajah Anindya.
"Alhamdulillah, sudah, P-," balas Anin, tak berani menatap balik Argan yang berdiri tak jauh di hadapannya. Dia bahkan takut-takut menyebut nama panggilan sang mertua.
Argan ingin lebih dekat, tapi kuatir Anin makin sungkan. Dia terpaksa menahan diri. "Alhamdulillah, papa boleh masuk?" sambungnya lagi.
Anin hanya mengangguk, lalu bergeser ke samping agar Argan bisa lewat dan masuk ke ruangan tersebut.
Putri Agung lalu duduk di kursi tunggu tak jauh dari sana. Netranya terasa sangat berat, perut pun mulai pedih. Pikiran Anin bercabang, antara mengingat kondisi sang ayah, Ayu juga suaminya.
Dia memijit pangkal alisnya dengan buku jari sembari mengatur ritme napas. Setelah itu, Anin merogoh ponsel dari saku celana.
Pesan beruntun dari Giska, Bertha, manager juga sang ayah berderet menagih untuk dibaca. Giska mengatakan dirinya di rumahkan selama dua pekan sampai kondisi mentalnya pulih, membuat Anin menarik napas berat.
"Sebegitu antinya orang-orang membaur dengan manusia sepertiku," gumam Anin, menggeleng kepala seraya tersenyum miring.
Dia melanjutkan ke pesan berikutnya. "Ayah sudah pulang lagi ke rumah, alhamdulilah. Maafin Anin belum jenguk, yah."
Tangan kanan itu terkulai, andai bisa memilih, dia bakal hidup berdua saja dengan Agung. Pria itu berlaku sesukanya sejak menikahi Bertha, karena Anin yakin, Agung masih sosok ayah yang penyayang.
Anindya menyandarkan kepala ke sandaran kursi lalu menutup kedua mata. Pikirannya mulai carut marut. Banyak sekali urusan yang terjadi dan belum terselesaikan.
"Nin," sebut suara seseorang.
Anin membuka mata, dia pun menegakkan duduknya ketika tahu darimana asal suara tadi.
Argan duduk disampingnya, dia lalu menyandarkan tubuh di kursi yang sama. "Temani papa makan, yuk. Lapar banget," ujar Argan, sambil bangkit dan menunggu Anin mengikutinya.
Istri Ad itu mengerjap, bingung harus bagaimana bersikap. Dia masih canggung bila berhadapan dengan Argan apalagi di saat sendirian seperti ini.
Namun, karena segan membuat Argan menunggu, Anin pun bangun dan berjalan di belakang mertuanya itu.
Mereka menuju cafetaria tanpa mengobrol apapun. Argan masih terlihat gagah meski usianya jelang separuh abad. Ketika keduanya jalan bersisian, banyak pasang mata yang lalu lalang memandang dengan tatapan datar, aneh, bahkan senyam senyum, membuat Argan berniat menggoda Anin.
"Nin, kalau papa nikah lagi sama yang seumuran kamu, kayaknya masih oke, ya," kata Argan, melirik menantunya.
Anin yang berjalan menunduk, terkesiap. Dia melihat ke arah samping. "Huh?"
"Papa kalau punya istri muda kek kamu gini, masih pantes," kekehnya lagi.
"I-iya," jawab Anin cepat, menyembunyikan senyumnya.
"Tuh, mereka kayaknya ngira kalau kita ini suami istri," sambung Argan. "Apalagi kalau papa giniin kamu, nih." Dia menjulurkan tangan ke arah bahu Anindya hingga membuat gadis itu terkejut dan menghindar.
"Eh?" Anin langsung menjauh dan berjalan lambat di belakang mertuanya.
Argan tertawa. "Pantas Ad naksir, kamu itu polos meski nganuuuuu," ucapnya ketika telah memasuki cafetaria.
"Nganu apa?" tanya Anin tanpa suara. Jantungnya sudah berdegup kencang. Ketakutan akan caci maki terus membayangi benak Anin.
"Unik karena punya bipolar." Argan menarik lengan Anin ke arah ujung dimana piring dan alat makan diletakkan. Konsep prasmanan membuat napsu makan Argan muncul kala melihat rentetan menu. "Maafin papa, ya. Awalnya nggak ngerti harus bagaimana tapi sekarang papa tau. Anin juga pasti bingung sama diri sendiri, 'kan?" tuturnya panjang, sambil mendorong pinggan sang menantu ke depan.
Anin terpaku, dia sedang mencerna kalimat panjang Argan sampai lupa piring di tangannya sudah menjauh di tarik sang mertua.
"Tolong siapkan jus sehat untuk putriku, dan antar ke meja," pintanya pada waiter cafetaria.
"Ok, Pak. Adalagi?"
"Anin mau makan atau minum apa?" tanya Argan masih dengan nada lembut.
Anindya menggeleng, dia masih berhati-hati, khawatir salah tafsir. Argan lantas mengatakan hanya itu pesanan mereka lalu mengajak Anin ke meja di sudut ruangan.
Keduanya makan tanpa percakapan, hingga setelah suapan akhir Argan membuka suara. Dia bercerita bahwa sedang mengajukan proses cerai dengan Lingawarni.
Argan juga menceritakan tentang alergi yang Adyapi derita. Hanya kacang tanah, tapi bila memakan jenis kacang lainnya masih bisa Ad konsumsi dan tidak menimbulkan reaksi.
"Kalau Ad balik dari sini, pulang ke rumah papa, ya, Nin. Temani papa," pintanya menatap lembut sang menantu.
Anin menelan ludah susah payah. Dia tidak berwenang tentang hal ini. "Gimana abang aja kalau untuk urusan ini," jawabnya singkat.
Argan mengangguk. "Papa juga mau jenguk Agung habis ini. Minta maaf juga, Anin mau ikut?" tawarnya lagi.
"Enggak. Nanti abang sama siapa," cicit Anin, malu-malu, sambil menurunkan pandangan.
Argan merasa Anin masih menahan diri dengannya. Dia hanya menimpali dan sesekali bertemu pandang. "Maafin papa," ulangnya lagi. "Kalau Ad sibuk pas jadwal Anin konseling, nanti papa yang anter dan tungguin Anin sampai selesai. Pulang dari sana, kita jajan, mau?" tawarnya lagi, kini dia melipat kedua lengan dan bertumpu di atas meja.
"Huh?" Anin melihat manik mata mertuanya, tak percaya, lalu menunduk lagi.
"Papa juga mau belajar jadi ayah mertua yang baik buat Anin. Putraku menyayangimu dan Anin dah bikin semangat Ad bangkit lagi," kata Argan, sorot matanya melembut memandangi wajah ayu Anindya. "Beri papa kesempatan kedua," tutur Argan, mulai parau.
Penyesalan akibat mengabaikan Adyapi merembet ke segala hal. Dia sadar, jika yang paling benar adalah mencurahkan kasih sayang bagi putra semata wayangnya, persis apa yang dilakukan oleh Lingawarni.
Argan mengambil pelajaran dari sang mantan istrinya itu. Sedangkan dari wanita yang pernah menjadi ratunya dulu, dia membuka hati untuk menerima kekurangan Anindya, seperti Amanda.
Anin hanya diam, matanya sudah berkaca-kaca. Dia bahkan tak berani mengangkat wajahnya lagi, malu jika menangis di depan Argan.
"Makasih ya, Sayang. Anin bukan mantu papa lagi, tapi putrinya Argan Bumi," sambung Argan lagi. Sebutir air matanya lolos, teringat dosa dan kata-kata pedas untuk gadis ayu di hadapan.
Anindya kian tertunduk, terlebih ketika Argan mengusap kepalanya ketika dia bangun dari sana. Lelaki itu pamit karena akan mengunjungi Agung setelah meletakkan satu gelas jus sehat untuk Anindya.
Usapan lembut di bahu Anin, pesan Argan padanya membuat nyonya Ad bagai dihujani sayang. Hatinya mendadak sesak karena bahagia.
Nyonya Ad menyeka wajah setelah Argan pergi, dia lalu melangkah kembali ke ruang ICU dan duduk di bangku tunggu guna menyesap minuman yang Argan belikan, sebelum menemui Adyapi.
Sementara di kediaman Argan.
Asnawi mengawasi secara ketat ketika pasangan ibu dan anak itu berkemas. Dia bahkan memerintahkan banyak maid untuk membantu mereka agar lekas selesai sebelum Argan pulang.
Tepat azan magrib, keduanya hengkang dari rumah dengan membawa mobil masing-masing entah kemana tujuan mereka. Asnawi hanya mengantar hingga teras.
Saat dirinya akan ke dalam, tiba-tiba sebuah mobil memasuki pelataran kediaman Argan. Asnawi pun menunggu sosok asing itu keluar dari sana. Menyambut si tamu sebab sang majikan belum kembali pulang.
Asisten rumah tangga senior itu dibuat tercengang, kala melihat seseorang yang baru saja turun dari mobil dan kini memandang rindu padanya.
"Hai, Bapak."
Asnawi tak mampu berucap, hanya sorot mata haru yang terpancar dari kedua bola matanya.
.
.
...___________________________...
Selamat Anin bakal jadi ibu, sehat sehat bumil sayang
Ayo para Duda semangaaatttt lupakan masa lalu..Move On 🤣🤣🤣🤣
alhamdulillah bangg ad udah bisa berdiri wlaupun pake tongkat mak lampir😅😅
kebahagiaan menghampiri kalian yang sabar akan semua cobaan...
selamat berbahagia untuk kalian bangg ad dan anin😍😍😘😘😘
ehh mom itu kisah mma manda gimana 🤔🤔
ada mas Arno 🤦