NovelToon NovelToon
Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Gairah Membara Seorang Wanita Simpanan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Percintaan Konglomerat / Kaya Raya / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Luka yang Menganga

Isak tangis Viona yang halus namun sarat akan kepedihan menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan mencekam di lantai eksekutif itu. Bahunya yang rapuh berguncang hebat di balik meja marmer putih yang kini menjadi saksi bisu kehancurannya. Baskara yang berdiri tidak jauh dari sana segera memunguti serpihan amplop cokelat dan dokumen yang robek di atas lantai marmer dengan gerakan cepat, lalu membungkuk hormat kepada Arkan sebelum bergegas undur diri ke arah lift, meninggalkan pasangan itu dalam ruang privat mereka sendiri.

Arkan Mahendra berdiri bergeming. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah figur wanita yang sedang menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan. Dada bidang Arkan naik turun dengan cepat, sisa amarah dari konfrontasinya dengan sang ibu masih menyisakan ketegangan yang pekat di rahangnya yang mengeras.

Namun, melihat bagaimana rapuhnya Viona saat ini, kemarahan Arkan perlahan bertransformasi menjadi sebuah denyut nyeri yang aneh di ulu hatinya. Pria posesif itu melangkah mendekat, memutari meja kerja marmer, lalu berlutut dengan satu kaki di hadapan kursi Viona. Sebuah posisi yang tidak akan pernah dilakukan oleh seorang penguasa Mahendra Group di depan siapa pun, kecuali di hadapan wanita yang telah mengusik seluruh kewarasannya.

"Angkat wajahmu, Viona," perintah Arkan, suaranya bariton rendah, kehilangan nada tiraninya dan berganti menjadi sebuah bisikan yang serak.

Viona menggeleng kuat di balik telapak tangannya. "Pergilah, Tuan... Saya mohon, biarkan saya sendiri."

Arkan tidak memedulikan penolakan itu. Tangan kekarnya bergerak maju, menggenggam kedua pergelangan tangan Viona lalu menariknya perlahan dari wajah gadis itu. Begitu tangan Viona terlepas, Arkan disuguhi pemandangan yang meremukkan egonya: mata Viona merah dan sembap, pipinya basah kuyup oleh air mata, dan bibirnya bergetar hebat menahan isakan.

"Kenapa Anda tidak membiarkan Ibu Anda membawa saya pergi?" tanya Viona dengan suara yang serak dan tersendat, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arkan dengan kilat penderitaan yang mendalam. "Dia menawarkan kebebasan untukku! Dia menawarkan uang untuk menyembuhkan ibuku tanpa harus menjual harga diriku pada Anda! Kenapa Anda begitu kejam menahan saya di dalam neraka ini, Tuan Arkan?!"

Mendengar kata 'neraka' dan kenyataan bahwa Viona begitu mendambakan kebebasan yang ditawarkan ibunya, cengkeraman Arkan pada pergelangan tangan Viona seketika mengencang. Kilat posesif yang ekstrem kembali menyala di matanya, membakar habis rasa bersalah yang sempat muncul sekelebat.

"Karena tempatmu di sini, Viona! Bersamaku!" desis Arkan tajam, wajah tampannya mendekat hingga napasnya yang memburu menerpa wajah Viona. "Sudah kubilang, uang ibuku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang bisa kuberikan padamu. Jangan pernah berpikir untuk menggunakan jalur belakang demi melarikan diri dariku. Kontrak kita mengikatmu secara mutlak, dan aku tidak akan pernah melepaskan hak kepemilikanku!"

"Anda egois! Anda tiran yang sakit!" jerit Viona frustrasi, mencoba menyentak tangannya agar lepas dari cengkeraman Arkan. "Anda tidak melihatku sebagai manusia, Tuan! Aku hanya mainan malam Anda, seperti yang Ibu Anda katakan! Aku hanya sampah yang mengotori lantai megah Anda!"

"Cukup, Viona!" bentak Arkan rendah, tidak tahan mendengar penghinaan yang Viona jatuhkan pada dirinya sendiri. Pria itu berdiri, lalu dengan satu gerakan cepat, dia mengangkat tubuh ramping Viona ke dalam gendongannya, mengabaikan rontaan kecil dari gadis itu.

"Lepaskan aku! Tuan Arkan, apa yang Anda lakukan?!" seru Viona panik saat Arkan membawanya melangkah lebar masuk kembali ke dalam ruang kerja pribadinya yang luas.

Arkan tidak menjawab. Dia menendang pintu ganda jati tebal itu hingga tertutup rapat dan menguncinya secara otomatis dari dalam. Pria itu membawa Viona menuju sebuah pintu tersembunyi di sudut ruang kerjanya—sebuah ruangan istirahat privat berkasur king size yang biasa dia gunakan saat harus lembur di kantor.

Arkan merebahkan tubuh Viona di atas ranjang empuk tersebut, lalu segera mengungkungnya dari atas, mengunci kedua tangan Viona di sisi kepalanya dengan tangan kekarnya. Napas mereka berdua menderu saling bersahutan di dalam ruangan yang remang-remang itu.

"Lepaskan..." rintih Viona, air matanya kembali mengalir melewati pelipisnya. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan kekuatan fisik Arkan yang begitu dominan.

Arkan menatap wajah di bawahnya dengan tatapan yang menggelap oleh gairah yang bercampur aduk dengan rasa frustrasi. Melihat air mata Viona, sesuatu di dalam dirinya berontak. Dia tidak ingin wanita ini mematuhinya hanya karena paksaan kontrak, dia ingin Viona mengakuinya. Dia ingin menghapus seluruh rasa sakit yang ditinggalkan oleh ibunya dan Clarissa dari pikiran gadis ini.

"Aku akan membuatmu melupakan kata-kata ibuku, Viona," bisik Arkan serak, wajahnya menunduk, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang intens dan penuh tuntutan gairah yang membara.

Berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya, kali ini ada keputusasaan yang nyata dari gerakan Arkan. Pria itu memagut bibir Viona dengan dalam, merengguk setiap jengkal kemanisan yang ditawarkan oleh gadis itu seolah-olah Viona adalah satu-satunya penawar racun bagi jiwanya yang gersang. Tangan Arkan yang bebas bergerak turun, merengkuh pinggang ramping Viona, menarik tubuh mereka agar melekat tanpa celah di atas ranjang.

Viona memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya kembali tenggelam dalam pusaran dominasi sang CEO. Logikanya berteriak untuk menolak, namun tubuhnya sekali lagi mengkhianati hatinya sendiri, menerima setiap sentuhan panas yang Arkan berikan dengan pasrah. Di dalam keheningan ruangan privat itu, gairah terlarang mereka kembali tersulut, membakar habis sisa-sisa pertahanan batin yang kian hari kian mengikis kewarasan Viona.

Satu jam berlalu. Udara di dalam ruangan istirahat privat itu terasa hangat dan pekat oleh sisa gairah yang baru saja mereda. Viona berbaring miring membelakangi Arkan, menarik selimut tebal hingga menutupi bahunya yang polos. Matanya menatap kosong ke arah dinding kayu, membiarkan sisa-sisa air mata yang mengering meninggalkan jalur kaku di pipinya.

Di sampingnya, Arkan duduk di tepi ranjang dengan kemeja putihnya yang sudah terpasang kembali namun belum dikancingkan sepenuhnya. Pria itu menyalakan sebatang rokok, mengembuskan asap tipisnya ke udara dengan pandangan yang kian menerawang jauh.

"Besok, aku akan membawamu keluar dari Jakarta untuk beberapa hari," ucap Arkan tiba-tiba, suara baritonnya terdengar datar di keheningan kamar.

Viona tidak bergerak, tidak pula menjawab.

"Ada perjalanan bisnis penting ke Singapura," lanjut Arkan, melirik sekilas ke arah punggung ramping Viona yang tertutup selimut. "Dan kau akan ikut bersamaku sebagai asisten pribadiku. Ini adalah cara terbaik untuk menjauhkanmu sementara waktu dari jangkauan ibuku di sini."

Mendengar kata 'Singapura', Viona perlahan membalikkan tubuhnya, menatap Arkan dengan tatapan mata yang dipenuhi keraguan. "Apakah pergi ke luar negeri akan benar-benar membuatku aman, Tuan? Ataukah itu hanya cara lain bagi Anda untuk mengurungku di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun?"

Arkan mematikan rokoknya di asbak kristal di atas meja nakas, lalu memutar tubuhnya menghadap Viona. Dia mengulurkan tangan, mengusap helai rambut yang menutupi wajah pucat gadis itu dengan gerakan yang lembut.

"Keduanya, Viona," jawab Arkan dengan jujur yang dingin, sebuah pengakuan yang memancarkan tingkat posesifitasnya yang kian ekstrem. "Di Singapura, kau hanya akan melihatku, mendengarku, dan melayaniku tanpa ada gangguan dari orang-orang yang mencoba mengusik posisimu. Persiapkan dirimu, besok pagi jet pribadi Mahendra Group akan membawa kita pergi."

Viona kembali memejamkan matanya, menelan bongkahan pahit yang kian menyumbat tenggorokannya. Dia tahu, ke mana pun Arkan membawanya pergi, sangkar emas itu akan tetap ada, mengurungnya dalam sebuah ikatan kontrak penuh gairah dan air mata yang tak akan pernah berujung. Badai baru telah menantinya di seberang lautan, dan dia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk menghindarinya.

1
Aysah Meta
Ya tuhan Buu..bisanya kau nolak anak mu,Viona!!Banyak hal sdh dia lalui..Krn km,dia melakukan ini semua.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.
Aysah Meta
Akhirnyaa up juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!