NovelToon NovelToon
Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Aku Dan Anakku Bisa Hidup Tanpamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Penyesalan Suami
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Ketika suaminya berselingkuh hingga menghamili wanita lain, tak ada lagi kata maaf yang tersisa di hati Nadia.

Dengan tekad yang bulat, ia mengajukan gugatan cerai. Tanpa menoleh ke belakang, Nadia memilih meninggalkan rumah megah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya, beserta segala kemewahan yang pernah ia nikmati.

Baginya, harga diri dan ketenangan batin jauh lebih berharga daripada hidup bergelimang harta bersama seorang suami yang telah mengkhianati kepercayaan dan cinta yang selama ini ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Belum sempat ia mencerna kenyataan itu, sebuah pesan masuk dari pemasok bahan baku utama. "Mohon maaf, untuk sementara kerja sama kita kami tunda sampai situasi kondusif."

Disusul pesan dari vendor lain. "Kami berharap masalah ini segera selesai."

Satu per satu, orang-orang yang dulu berebut ingin bekerja sama dengannya mulai menjaga jarak. Reno menundukkan kepala. Napasnya terasa semakin berat.

Saat itulah Karin datang tergesa-gesa. "Semua gara-gara mantan istrimu!" bentaknya. "Kalau dia nggak bermain sebagai korban, bisnis kita nggak akan hancur begini!"

Reno mengangkat wajahnya perlahan. "Tutup mulutmu, Karin."

"Apa?"

"Jangan salahkan Nadia." Karin terpaku. "Semua ini bukan karena Nadia. Dia bahkan tidak pernah bicara apa-apa. Selama ini dia cuma diam..." Reno menggenggam rambutnya frustrasi. "Ini akibat perbuatanku sendiri." Kalimat itu meluncur begitu saja, tetapi untuk pertama kalinya Reno mengakuinya dengan jujur.

Di luar kafe, beberapa pelanggan yang hendak masuk memilih berbalik arah setelah membaca komentar-komentar terbaru di media sosial. Cafe Setia yang biasanya ramai kini tampak lengang. Reno hanya bisa memandangi kursi-kursi kosong itu. Baru sekarang ia menyadari, kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun bisa runtuh hanya dalam hitungan hari. Dan yang paling menyakitkan, semua itu bermula dari kesalahan yang selama ini ia anggap tidak akan pernah mengejarnya.

Hari pertama, Reno masih berharap badai itu akan segera berlalu. Namun harapan itu pupus. Memasuki hari kedua, keadaan justru semakin memburuk. Bukan hanya Cafe Setia pusat yang kehilangan pelanggan, tetapi seluruh cabangnya mengalami nasib yang sama. Meja-meja yang biasanya penuh sejak pagi kini kosong melompong. Kursi-kursi tertata rapi tanpa seorang pun yang datang untuk duduk.

Para barista hanya saling berpandangan. Berkali-kali mereka membersihkan meja yang sebenarnya sudah bersih, sekadar untuk mengisi waktu. "Seharian cuma laku tiga gelas kopi," gumam salah seorang karyawan dengan nada prihatin.

Cabang lain bahkan lebih parah. Sejak pintu dibuka hingga malam menjelang, tak satu pun pelanggan masuk. Lampu-lampu tetap menyala, musik tetap diputar, aroma kopi tetap memenuhi ruangan, tetapi suasananya terasa begitu sunyi. Fenomena itu berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Omzet Cafe Setia anjlok drastis. Biaya operasional terus berjalan. Gaji karyawan harus dibayar, tagihan listrik dan sewa tetap jatuh tempo, sementara pemasukan nyaris tidak ada.

Setiap sore, Reno hanya bisa menatap laporan penjualan yang semakin memprihatinkan. Angka-angka merah memenuhi layar komputernya. Kerugian yang dideritanya terus membengkak hingga mencapai jumlah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Reno memejamkan mata sambil memegangi kepalanya. "Bagaimana mungkin semuanya berubah secepat ini..."

Baru beberapa hari lalu ia masih merasa menjadi pengusaha sukses dengan jaringan kafe yang terus berkembang. Kini, seluruh cabang Cafe Setia seolah kehilangan nyawanya. Tak ada tawa pelanggan. Tak ada antrean di kasir. Tak ada suara mesin kopi yang bekerja tanpa henti. Yang tersisa hanyalah kesunyian dan penyesalan yang mulai menggerogoti hati Reno.

***

Pagi itu, seperti biasa Nadia mengantar Kian ke sekolah. Begitu memasuki gerbang, beberapa ibu wali murid yang biasanya hanya menyapanya sekilas, kini justru bergegas menghampiri. "Bu Nadia..."

Nadia menoleh, sedikit bingung.

Seorang ibu langsung menggenggam tangannya erat. "Bu Nad, yang sabar, ya."

"Iya, Bu. Kami benar-benar ikut sedih."

Nadia mengernyit. "Sedih? Memangnya ada apa?"

Para ibu saling berpandangan. "Bu Nadia... jangan bilang Ibu belum tahu?"

"Tahu apa?"

Seorang ibu lainnya berkata lirih, "Harusnya Bu Nad cerita sama kami. Kami benar-benar nggak tahu kalau selama ini Ibu jadi korban pelakor."

Nadia membeku. "Apa?"

"Iya, Bu. Kami juga baru tahu kalau mantan suami Ibu nggak menafkahi anaknya. Kami marah sekali setelah membaca kisahnya."

Wajah Nadia perlahan memucat. "Kisah... apa?"

"Ibu belum baca media sosial?" Nadia menggeleng pelan. Beberapa ibu tampak terkejut. "Astaga... berarti Ibu benar-benar belum tahu." Salah seorang dari mereka kemudian menunjukkan layar ponselnya. "Nih, Bu... unggahan ini lagi viral."

Nadia membaca beberapa baris pertama. Semakin lama matanya menelusuri tulisan itu, jantungnya berdetak semakin cepat. Nama dirinya. Nama Reno. Nama Karin. Bahkan nama Cafe Setia. Usaha milik Reno. Semua tertulis jelas. "Ini... siapa yang mengunggahnya?" bisiknya dengan suara bergetar.

Seorang ibu menunjuk nama akun di bagian atas layar. "Dila."

Tubuh Nadia langsung lemas. "Dila?." Ia tak menyangka sahabatnya melakukan semua itu tanpa sepengetahuannya.

Di sisi lain, para ibu wali murid kembali menggenggam tangannya. "Bu Nadia, Ibu hebat."

"Iya. Selama ini Ibu tetap tersenyum, padahal memikul beban sebesar itu."

"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan cerita sama kami. Kita sama-sama ibu. Kita saling bantu."

Mata Nadia mulai berkaca-kaca. Ia terharu atas perhatian mereka, tetapi di saat yang sama juga diliputi kegelisahan. Kini, rahasia yang selama ini mati-matian ia simpan telah diketahui semua orang. Saat Nadia masih berusaha menenangkan diri, sebuah mobil berhenti di depan gerbang sekolah.

Pak Fahri turun sambil menggandeng tangan Rey. "Nak, cepat. Nanti bel masuk," ujar Fahri.

Rey mengangguk, lalu melambaikan tangan kepada Kian. "Hai, Kian!"

"Hai, Rey!"

Fahri baru menyadari Nadia berdiri tak jauh darinya, dikelilingi beberapa ibu wali murid. "Selamat pagi, Bu Nadia."

"Selamat pagi, Pak Fahri."

Tatapan Fahri penuh simpati. "Saya... sudah membaca kisah yang sedang ramai di media sosial."

Nadia langsung menundukkan kepala, merasa sangat malu. "Itu... saya sendiri juga baru tahu, Pak."

Fahri mengangguk pelan. "Saya percaya Ibu tidak pernah berniat mengumbar masalah pribadi." Nadia hanya terdiam. "Bu Nadia," lanjut Fahri dengan nada tulus, "kalau Ibu membutuhkan bantuan apa pun, jangan sungkan menghubungi saya."

Nadia buru-buru menggeleng. "Jangan, Pak. Selama ini Bapak sudah banyak membantu. Saya benar-benar tidak enak hati."

"Jangan berpikir seperti itu. Saya membantu bukan karena kasihan, tetapi karena saya tahu Ibu sedang berjuang keras demi Kian. Yang terpenting sekarang, jangan hadapi semuanya sendirian. Kadang, menerima uluran tangan bukan berarti lemah."

Bel sekolah berbunyi. "Kami masuk dulu ya, Tante!" seru Rey sambil menggandeng Kian menuju kelas.

Nadia memperhatikan kedua anak itu berjalan berdampingan. Di tengah kekacauan yang sedang menimpa hidupnya, masih ada orang-orang baik yang hadir tanpa menghakimi. Namun, di dalam hatinya, ia tetap merasa sungkan. Ia tidak ingin terus-menerus merepotkan Pak Fahri yang bahkan tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap dirinya maupun Kian.

***

Begitu sampai di rumah, Nadia langsung meletakkan tasnya di sofa. Dengan tangan masih gemetar, ia segera mencari nama Dila di daftar kontak. "Dila! Kamu sekarang di mana? Datang ke kontrakanku. Sekarang."

Suara Nadia terdengar tegas. Tanpa menunggu jawaban, telepon langsung ditutup.

Tak sampai satu jam kemudian, Dila sudah berdiri di depan pintu kontrakan Nadia. Baru saja pintu dibuka, Dila langsung nyengir kaku. "Hehehe... assalamu'alaikum." Dila menelan ludah. Ia masuk pelan-pelan, lalu duduk di ujung sofa seperti murid yang sedang menunggu dihukum.

1
falea sezi
knp jd bertele tele thor😒 kayak ikan terbang🤣
falea sezi
kenapa Fachri jd goblokk🤣🤣 niat bantuin. g sih
Iffanaya 😽
kk aku ikutan mewek...pls Thor bikin kian balik ke ibunya trs bongkar kebusukan karin Thor gk tega liat kian tertekan 😭😭
Muji Lestari
lanjutt thorrr
falea sezi
lanjut
falea sezi
makanya jd istri jangan bego wkt jd istri nabung yg banyak kuras harta sembunyikan klo suami selingkuh qm cerai g susah 😒
Iffanaya 😽
ditunggu lanjutannya kk 🫶
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!