Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 34.
Malam semakin larut, hujan di luar mansion Romanov belum juga reda. Rintik air menghantam kaca-kaca besar ruang rapat, sementara suasana di dalam ruangan justru semakin menegang.
Leon Romanov menyandarkan tubuhnya perlahan di kursi, pengalamannya puluhan tahun memimpin organisasi membuatnya mengerti satu hal. Jika seseorang seperti Ramon sampai tidak pernah melihat wajah pemimpin organisasinya sendiri, berarti Black Throne jauh lebih terstruktur daripada organisasi mafia biasa.
Velicia masih berdiri di sisi meja rapat. Jemarinya perlahan menutup map yang dibawa Ramon.
"Aku ingin mendengar semuanya, jangan ada satu pun yang kau sembunyikan."
Ramon mengangguk pelan. "Aku memang tidak pernah bertemu The King secara langsung. Bahkan Joseph Bonanno pun hanya menerima perintah melalui jaringan komunikasi yang terenkripsi. Tidak ada panggilan video, tidak ada pertemuan, tidak ada jejak. Setiap perintah selalu datang dari orang yang berbeda."
Antonio mengernyit. "Organisasi tanpa pemimpin yang terlihat tidak mungkin bisa bertahan selama ini."
"Itulah yang membuat Black Throne berbeda." Ramon menggeser beberapa lembar peta ke tengah meja. "Selama bertahun-tahun mereka tidak pernah berusaha menjadi organisasi terbesar. Mereka membiarkan organisasi lain saling berperang. Ketika salah satu melemah, mereka masuk mengambil wilayah, merekrut orang-orang yang tersisa lalu menghilang lagi."
Lorenzo memperhatikan titik-titik merah yang tersebar di peta. "Itu sebabnya dalam lima tahun terakhir banyak organisasi kecil lenyap tanpa diketahui pelakunya."
Ramon mengangguk.
"Semuanya ulah Black Throne."
Velicia membuka salah satu foto, sebuah gudang besar di kawasan pelabuhan.
"Ini?"
"Gudang senjata."
"Masih aktif?"
"Masih."
"Berapa penjaganya?"
"Empat puluh sampai lima puluh orang."
Antonio tersenyum tipis. "Sedikit."
"Jangan meremehkan mereka." Ramon menggeleng. "Mereka bukan penjaga biasa, mreka mantan tentara bayaran. Masing-masing pernah bertempur di wilayah perang."
"Berapa banyak markas seperti itu?"
"Sedikitnya ada tujuh."
"Tujuh?"
"Yang kutahu."
Leon menatap Ramon cukup lama. "Kau benar-benar memberikan semua informasi ini kepada kami."
"Aku tidak lagi memiliki alasan untuk melindungi mereka."
Velicia masih belum mengalihkan pandangannya dari peta. "Apa tujuan mereka menyerang Romanov?"
"Karena kalian satu-satunya organisasi yang tidak bisa mereka beli." Ramon menjawab tanpa ragu.
Ruangan kembali sunyi, semua orang terlihat sangat serius.
"Mereka pernah mencoba mendekati keluarga Romanov melalui beberapa organisasi perantara, dan kalian selalu menolak. Mereka juga mencoba menguasai Sullivan."
Tatapan Ramon berpindah kepada Lorenzo. "Tetapi gagal."
Lorenzo hanya mengangguk kecil. "Itu sebabnya mereka mengubah strategi, mereka memilih menghancurkan kita satu per satu."
"Licik." Antonio mengepalkan tangannya.
"Mereka sudah merencanakan perang ini jauh sebelum kita menyadarinya."
Velicia mengembuskan napas pelan. "Kalau begitu, kita juga harus mengubah cara bermain."
Semua mata tertuju kepadanya.
"Kita berhenti bertahan, kita yang mulai berburu."
Antonio langsung tersenyum. "Itu baru adikku."
"Terlalu cepat." Namun Lorenzo justru menggeleng pelan.
Antonio menoleh pada pria itu. "Kenapa?"
"Karena mereka menginginkan itu." Lorenzo berdiri, lalu berjalan mendekati peta besar yang tergantung di dinding. "Joseph Bonanno tahu kita sedang marah. Kalau kita langsung menyerang gudang senjata, mereka hanya perlu menunggu. Mereka pasti sudah menyiapkan jebakan."
"Itu benar." Ramon mengangguk setuju.
Antonio menghela napas kesal. "Lalu kita diam saja?"
"Tidak." Lorenzo mengambil sebuah spidol lalu memberi tanda pada beberapa titik. "Kita potong jalur uang mereka."
Velicia memperhatikan dengan saksama.
"Gudang bisa dibangun lagi, senjata bisa dibeli lagi. Tetapi... uang adalah darah sebuah organisasi."
Leon tersenyum puas. "Itulah alasan aku menyukai caramu berpikir."
Lorenzo melanjutkan. "Ramon, ada berapa rekening utama yang digunakan Joseph?"
"Ada lima."
"Besok pagi semuanya harus kosong."
Antonio mengangkat alis. "Kau ingin merampok mereka?"
Lorenzo tersenyum tipis. "Aku ingin membuat mereka saling mencurigai."
Velicia langsung memahami maksudnya.
"Kalau uang itu hilang, Joseph akan mulai mencurigai anak buahnya sendiri."
"Tepat."
Ramon ikut tersenyum. "Kalau begitu, aku tahu siapa orang yang bisa membantu."
"Siapa?"
"Mantan kepala keuangan Black Throne."
Antonio langsung menyipitkan mata. "Masih hidup?"
"Masih."
"Kenapa belum dibunuh?"
"Karena sampai sekarang mereka mengira pria itu masih setia."
"Bisakah dia dipercaya?" Velicia bertanya tenang.
Ramon terdiam beberapa detik. "Lima puluh persen.“
"Itu bukan jawaban." Antonio mendengus.
"Tidak ada orang yang bisa dipercaya seratus persen di dunia ini."
Kalimat Ramon membuat seluruh ruangan kembali hening, karena semua orang tahu ucapan itu benar. Di dunia mafia, kepercayaan adalah barang paling mahal.
Sebelum rapat ditutup, Leon akhirnya berdiri. "Mulai malam ini, Romanov dan Sullivan akan bergerak bersama. Tidak boleh ada operasi yang berjalan sendiri-sendiri. Lorenzo, aku ingin seluruh intelijenmu bekerja sama dengan Antonio."
"Baik." Lorenzo mengangguk.
"Velicia."
Wanita itu menoleh.
"Kau tetap memimpin divisi strategi, jangan turun langsung ke garis depan."
Antonio langsung menambahkan, "Kalau perlu biarkan aku yang memimpin penyerbuan."
"Aku tidak pernah pandai berdiam diri." Namun Velicia hanya tersenyum tipis.
Mendengar jawaban kekasihnya, Lorenzo hanya bisa mengembuskan napas pelan. Ia tahu, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan Velicia ketika wanita itu sudah mengambil keputusan. Namun, justru sifat itulah yang membuatnya semakin mengagumi wanita tersebut.
Di sisi lain kota...
Di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya monitor, Joseph Bonanno berdiri menghadap jendela.
Seorang pria bertopeng memasuki ruangan.
"Tuan."
Joseph tidak menoleh. "Bagaimana?"
"Ramon sudah masuk ke wilayah Romanov."
Joseph tersenyum tipis.
"Bagus."
Pria bertopeng itu tampak bingung.
"Anda tidak marah?"
Joseph tertawa pelan. "Kenapa harus marah?"
"Dia membelot."
Joseph akhirnya menoleh, tatapannya dipenuhi keyakinan. "Semakin banyak orang berkumpul, semakin mudah bagi kita menghancurkan mereka sekaligus."
Ia lalu mengambil sebuah telepon satelit berwarna hitam, hanya ada satu nomor yang tersimpan di dalamnya. Joseph menekan tombol panggil. Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.
"Tuan... semuanya berjalan sesuai rencana."
"Kalau begitu... saatnya membuka papan permainan yang sebenarnya." Suara berat dari seberang hanya mengucapkan satu kalimat.
Joseph tersenyum.
"Perintah diterima... The King."
*
*
*
Fyi... cerita ini akan tamat ya, jadi yang mau skip-skip chapter, silahkan. Takutnya bosan dengan banyaknya chapter yang saya UP sampai tamat.
Terimakasih, semuanya ♥️ Jika ada typo atau alur sedikit gak nyambung , abaikan 🫶🏻