NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketukan dari Masa Lalu

Keheningan sore yang ditemani rintik gerimis perlahan berganti malam.

Hujan di luar semakin lebat, menciptakan ketukan-ketukan ritmis di atas atap seng yang menambah dingin udara kota.

Di dalam rumah, Rayhan baru saja menyelesaikan salat Isya berjamaah dengan Fatimah di ruang tengah.

Sesuai dengan kebiasaan baru mereka, Rayhan kini duduk di karpet bulu, menyandarkan punggungnya pada tepian sofa sementara Fatimah duduk di atas sofa.

Membiarkan suaminya mengusap lembut perutnya yang masih rata sembari membacakan surah Yusuf dengan suara baritonnya yang syahdu.

"Mas Ray..."

Panggil Fatimah lembut setelah Rayhan menyelesaikan ayat terakhir dan menutupnya dengan tasdik.

Rayhan mendongak, menatap mata jernih istrinya dengan binar hangat.

"Iya, Sayang?"

"Ada yang terasa tidak nyaman lagi di perutmu?"

Fatimah menggeleng, sebuah senyuman manis terukir di wajah polosnya.

"Ngak, Mas. Dedek bayi tenang sekali mendengarkan suara Ayahnya. Cuma... Ima tiba-tiba ingin minum susu cokelat hangat. Boleh?"

Rayhan langsung menegakkan tubuhnya, mengulas senyum gemas melihat tingkah manja istri kecilnya yang kian hari kian menggemaskan.

"Keinginanmu adalah perintahku, Ratu. Tunggu di sini, ya. Mas buatkan dulu ke dapur."

Namun, tepat saat Rayhan baru saja melangkah dua kali menuju arah dapur, ia mendapat pesan dari kantor.

Setelah membuat kan susu dan memastikan kondisi Fatimah cukup stabil dari mualnya, Rayhan terpaksa harus berangkat ke kantor untuk menyelesaikan rapat pleno yang tidak bisa diwakilkan.

Meskipun ragu meninggalkan istri kecilnya yang sedang hamil muda, Fatimah dengan kedewasaannya meyakinkan sang suami bahwa ia akan baik-baik saja di rumah.

Malam pun semakin larut. Hujan badai mengguyur kota dengan sangat deras ketika Rayhan sedang dalam perjalanan pulang.

Di dalam mobil sedan hitamnya yang membelah jalanan basah, fokus Rayhan mendadak terpecah saat ponselnya yang diletakkan di dasbor bergetar nyaring.

Layar gawai itu menampilkan deretan nomor asing tanpa nama.

Kening Rayhan berkerut dalam. Ia memakai *earphone* bluetooth-nya lalu menggeser tombol hijau.

"Halo, selamat malam. Dengan siapa ini?"

"Ray... Rayhan, tolong aku..."

Suara di seberang telepon terdengar sangat parau, gemetar, dan diiringi isak tangis yang histeris di sela deru suara hujan.

Rayhan tertegun, rahangnya seketika mengeras saat mengenali intonasi suara yang sangat familier itu.

"Vanya?"

Tanya Rayhan, nadanya seketika berubah menjadi sedingin es.

"Iya, Ray... ini aku, Vanya."

"Tolong aku, Ray, aku mohon..." ratap wanita itu di seberang sana.

Mendengar nama itu, kilasan masa lalu langsung berputar di benak Rayhan.

Vanya adalah mantan kekasihnya beberapa tahun lalu, wanita yang dengan tega meninggalkannya secara sepihak tepat di saat perusahaan Rayhan sedang berada di ambang kehancuran dan terancam bangkrut.

Vanya memilih pergi bersama pria lain yang dianggapnya lebih mapan saat itu.

Mengingat luka lama tersebut, Rayhan menghela napas berat, bersiap untuk memutuskan sambungan.

"Vanya, jangan telepon aku lagi. Aku tidak ada urusan lagi denganmu, dan aku sudah menikah."

"Hubungi keluargamu kalau kamu butuh bantuan,"

Ujar Rayhan tegas, suaranya sarat akan penegasan seorang pria yang telah menutup buku masa lalunya.

"Jangan ditutup, Ray! Aku mohon!"

Jerit Vanya semakin histeris, terdengar suara pecahan barang di latar belakang teleponnya.

"Keluargaku sudah hancur, Ray! Papaku bangkrut dan melarikan diri. Sekarang orang-orang jahat mencariku untuk menagih utang Papa."

"Aku bersembunyi di sebuah gudang tua..."

"Mereka ada di luar, Ray! Aku tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi selain kamu..."

Rayhan terdiam. Tangannya yang mencengkeram kemudi tampak memutih. Awalnya, akal sehatnya berteriak untuk mengabaikan wanita yang pernah membuangnya itu.

Namun, mendengar suara Vanya yang benar-benar ketakutan dan berada dalam kondisi bahaya yang mengancam nyawa, rasa iba sebagai sesama manusia perlahan menyusup ke dalam hati dewasanya.

Bagaimana pun, ia tidak bisa membiarkan seorang wanita dalam kondisi sekusut itu tanpa pertolongan.

"Di mana posisimu sekarang? Kirim alamatnya. "

Ucap Rayhan akhirnya, suaranya berat menahan gejolak dilema di dada.

"Aku kirim lewat pesan singkat sekarang, Ray. Tolong cepat..." bisik Vanya sebelum panggilan itu terputus sepihak.

Sebuah pesan masuk berisi koordinat lokasi sebuah kawasan industri tua di pinggiran kota.

Rayhan menatap layar ponselnya dengan batin yang berkecamuk.

Ia melirik jam digital di dasbor mobilnya, sudah menunjukkan pukul sembilan malam.

Ia tahu, di rumah, Fatimah pasti sedang menunggunya dengan cemas sembari membelai perutnya yang mengandung buah hati mereka.

Namun, rasa kemanusiaan dan tanggung jawab moral membuat Rayhan terpaksa memutar kemudinya ke arah yang berlawanan dari jalan menuju rumahnya.

Ia menginjak pedal gas lebih dalam, membelah hujan badai menuju alamat yang dituju.

Rayhan tidak pernah menduga bahwa keputusan yang diambil atas dasar rasa iba malam itu, justru akan menjadi celah pertama bagi badai masa lalu untuk mengetuk dan menguji keteguhan istana suci yang telah ia bangun bersama Fatimah.

*

*

*

*

Episode selanjutnya..........

"Mas Ray... aku pulang."

"Apa maksudmu?"

"Dan siapa anak itu?"

"Ini putra kita, Mas Ray."

Mendengar kalimat itu, napas Rayhan tertahan sejenak sebelum akhirnya sebuah tawa hambar yang sinis keluar dari bibirnya.

"Gila kamu, Vanya! Aku bahkan tidak pernah menyentuhmu sedikit pun dulu!"

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!