Millie Peterson.
Seorang pelukis muda berbakat, baru saja membuka galeri di pusat kota New York. Kehidupannya selalu teratur dan berjalan sewajarnya. Namun, semuanya berubah setelah malam peresmian pembukaan galerinya.
Orion Alano.
Seorang pria kaku dan kejam, ditakuti oleh siapa saja yang mengenalnya. Tidak pernah mengenal yang namanya cinta, sampai suatu malam dia bertemu dengan seorang wanita yang membuatnya merasa tertantang. Pada akhirnya, rasa penasaran semakin mendekatkan wanita itu padanya.
Siapakah Millie? Dan, takdir macam apa yang mengaitkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dignity, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Begitu tiba di rumah aku menggendong Millie yang terlelap di mobil ke dalam kamar, lalu bergegas menghadiri pertunjukan. Malam ini akan terlewati dengan mudah, namun aku harus tetap waspada. Kami sudah sering melakukan transaksi semacam ini dan kebanyakan dengan risiko yang lebih tinggi dan pemain yang lebih besar daripada Federico. Tetapi, aku tidak akan menyepelekannya. Prosesnya harus rapi dan bersih, makanya aku datang dan mengawasinya sendiri. Tidak seperti Alonzo, aku rela mengotori tanganku jika terkait bisnis dan tidak mau ketinggalan informasi.
Javer dan aku melaju ke gudang, sementara Damien dan Tom mengikuti dengan mobil lain. Di belakang mereka, ada tiga mobil lagi yang akan menunggu di sekitar lokasi untuk berjaga-jaga seandainya tiba-tiba ada masalah. Kau harus selalu waspada saat melakukan transaksi dengan rekan baru, dan aku mempercayai Federico sejauh aku bisa melemparnya.
Akan tetapi, bukan hanya dia yang membuatku was-was. Dalam beberapa minggu terakhir polisi telah memantau gudang dan markas kami, dan aku mencurigai seorang pria jelek, dungu, dan menjijikkan yang pernah berkencan dengan Millie adalah dalang dibalik kerepotan ini. Jack Steward, si bajingan busuk pencemburu itu tidak mungkin berani mendatangiku seorang diri, makanya dia mencoba mengacaukan bisnisku. Dia sudah mengincar kami selama berbulan-bulan, namun mendapati mantan kekasihnya menjalin asmara dengan lawannya pasti menambah bumbu-bumbu kebenciannya padaku.
Seandainya mereka disini malam ini, kami telah menyusun rencana untuk mengalihkan perhatian mereka sementara waktu agar tidak mengganggu proses transaksi dengan Federico. Jika semuanya berjalan dengan lancar, pertukaran malam ini hanya akan memakan waktu tiga sampai lima menit, dan kami bisa menutup gudang seakan tidak terjadi peristiwa apa-apa di sana. Javer dan aku menuju gudang di sebelah Utara berharap menarik perhatian Detektif Ronan yang merupakan pesuruh Steward. Dua mobil di belakang kami akan berbelok ke gudang lain sementara Damien dan Tom melesak ke lokasi yang sebenarnya.
Aku selalu mengagumi kecerdikan polisi dalam mengetahui rencana kami. Penyusuran transaksi semacam ini kerap dilakukan secara tertutup, terutama saat kami membuat kesepakatan dengan klien baru. Aku selalu waspada dan tidak mengizinkan seorang pun masuk tanpa pemeriksaan ketat. Sebagian besar produk kami dikirim melalui fasilitas penyimpanan dan pengepakan daging. Aroma busuk yang menyengat akan menghalangi anjing pelacak mendeteksi senjata dan kami bisa berkeliaran dengan bebas. Paket Federico akan masuk dari gudang penyimpanan daging di dekat perlintasan kereta api, berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari gudang kami yang lain.
Aku meninggalkan Millie di kamarku, kunjungan siang tadi membuatnya kelelahan. Aku sendiri merasakan hal yang sama dan sangat ingin berbaring di sebelahnya. Aku tahu dia tidak puas dengan jawabanku malam ini dan pikirannya masih dipenuhi pertanyaan. Dia ingin tahu dan memahami segalanya, tetapi sampai kapanpun tidak akan bisa.
Aku tidak mengira akan menemukan keajaiban semacam tempat aman atau ketenangan seperti Millie. Dia mengubah pandanganku tentang hidup secara menyeluruh. Kekuatan dan keberaniannya membuatku ingin melindungi jiwanya yang lembut dan rapuh. Menjaga kemurnian hatinya dan menjauhkannya dari kegelapan yang menyelubungiku. Dia mengekangku meski tanpa sadar telah melakukannya, dan aku baru tahu jika itulah yang kubutuhkan selama ini. Semakin banyak yang diketahuinya, maka dia akan semakin biasa dengan gaya hidupku, lalu perlahan-lahan dia akan menerimanya, dan Demi Tuhan, bukan itu yang kuinginkan.
"Bagaimana respon Eloisa?" Javer bertanya sementara meliuk-liukkan mobil menghindari kendaraan lain.
"Mulus. Semulus perkiraanku." balasku datar, sedang tidak ingin membahas pertemuan tadi.
"Dia tidak melarangmu berhubungan dengan Millie?" sambung Javer. Entah dia tidak mendengar isyaratku, atau sengaja mengabaikannya.
"Dia berpikir aku egois." gerutuku, dengan kasar menyurukkan jemari ke rambut. "Bisakah kita membahasnya lain kali? Aku tidak mau fokusku terganggu malam ini."
"Ok." katanya, melewati sebuah mobil hitam berjenis Van. Beberapa menit lagi kami akan tiba di gudang.
Aku mencoba memusatkan perhatian tetapi pikiranku terus mengulang percakapan tadi dengan Millie dan salah satu pertanyaannya. Apakah aku akan tetap memilih jalan hidup ini? Kedutan di lututku pasti semacam isyarat mengiyakan, tapi setelah berjam-jam memikirkannya, aku tak lagi yakin. Aku tidak pernah benar-benar meluangkan waktu untuk memikirkannya. Dari awal itu bukan pilihan, jadi aku menolak percaya bahwa ada kehidupan selain mafia. Millie satu-satu orang yang membuatku mempertanyakan ulang posisiku disini, dan itu sangat berbahaya. Untuknya dan untukku.
"Jadi, Federico membawa dua truk. Dua orang di setiap truk, tiga lainnya mengikuti dari belakang dengan mobilnya."
Aku mengangguk. Aku sudah menghapal seluruh detail rencana malam ini.
"Mereka akan menunggu di lapangan parkir sampai aku memberitahu gudang sudah aman. Lalu kita akan menyerahkan paketnya satu persatu untuk mengantisipasi seandainya kita melewatkan sesuatu."
"Sebaiknya tidak ada yang terlewat." Aku menggeram, memandang kegelapan dari jendela. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku kepada Millie, jadi aku meluapkannya pada hal-hal yang bisa kukendalikan.
"Tidak. Namun dengan seringnya penggerebekan yang terjadi belakangan ini, kita harus hati-hati." kata Javer. Kami sudah melakukan upaya penjagaan ekstra malam ini dan aku berharap semua markas kami tidak tersentuh. Supirku yang membawa truk bermuatan paket untuk Federico memiliki senjata lengkap, dan dia juga membawa pasukan pengamanannya sendiri. Jika polisi mencoba menghentikan mereka, maka peperangan tidak akan dapat dihindari.
Kami baru akan memasuki lokasi pertama dan aku merasakan adrenalin memompa di setiap sel-sel darahku. Suasana seperti inilah yang membuatku menggebu-gebu. Beberapa minggu ini aku terlalu terlena dan melupakan kehidupanku yang sesungguhnya dan sudah waktunya kembali pada rutinitas. Semua keraguanku akan pilihan hidup telah lenyap dan aku berada di tempat yang seharusnya.
"Sial!" Javer mendesis, membelokkan mobil ke pintu masuk belakang lapangan parkir. Di depan kami tampak dua mobil polisi yang menyamar. "Kita kedatangan tamu."
"Dekati mereka." perintahku, merasa lebih tenang dan terkendali.
Javer menurut dan aku menurunkan kaca sementara kami berhenti di samping mobil pertama. Persis seperti dugaanku, Detektif Ronan duduk di bangku depan.
"Selamat malam, bung." Aku menyeringai, melambaikan tangan padanya. Javer mengirim pesan pada Damien dan Tom untuk memberitahu situasi kami.
"Orion," dia mengangguk. "Pemilihan waktu yang kurang tepat untuk mengunjungi gudangmu, ha?"
"Aku ingin mengatakan hal yang sama padamu, Detektif." gumamku, menekan kata terakhir. Pria ini menyedihkan sehingga aku hampir merasa kasihan padanya. Dia tidak tahu apa yang sedang dihadapinya ketika berurusan dengan keluarga Gasparo. Anak buahku akan menelannya hidup-hidup. "Javer dan aku mendengar soal adanya penyusup yang mengganggu bangunanku dan kami memutuskan untuk memeriksanya. Kurasa kami bisa menyelesaikannya sendiri, namun terima kasih sudah mau jauh-jauh datang kesini."
"Penyusup, ya?" Dia membuka sabuk pengaman. "Kalau begitu, sebaiknya kita periksa sama-sama."
Aku mengeraskan rahang, bukan itu yang kuinginkan. Semakin lama kami membuang waktu dengan si bodoh ini, kami akan kehilangan kesempatan menyaksikan transaksi yang sebenarnya.
"Kupikir kami bisa menyelesaikan masalah kami sendiri, Ronan." kata Javer ketus.
"Oh, kami tahu caramu menyelesaikan masalah, Javer. Makanya kami ikut serta untuk memastikan semuanya berjalan dengan cepat. Dan sesuai aturan." Ronan menutup pintu mobil dan seorang temannya ikut keluar.
"Aku menghargai kepedulianmu, Ronan. Kami akan parkir di depan." Aku menganggukkan kepala dan Javer memajukan mobil.
Dia mendesis. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Santai." kataku. "Jika kita bisa mengalihkan mereka lebih lama, maka mereka tidak akan menyadari rencana malam ini. Ayo, hibur mereka sedikit sebelum menemui Damien dan Tom. Seharusnya mereka sudah selesai begitu kita tiba di sana."
Javer mengerang dan menggoyangkan kepalanya. "Sebaiknya instingmu tepat."
Dia melepaskan sabuk pengaman dan kami keluar dari dalam mobil.
"Jadi, dari mana kau tahu ada penyusup di gudangmu?" tanya Ronan sementara kami berjalan melewati jalan setapak menuju gudang.
"Dari sistem keamanan." jawab Javer tanpa basa-basi.
"Dan dimana para penyusup itu?" tanya rekan Ronan. Oh, Tuhan, anak ini hampir terlihat belum cukup umur untuk menyetir. Dimana mereka merekrutnya? SMA? Dia bahkan lebih muda dari Ronan.
"Pagar belakang, di sebelah sini." Aku menunjuk ke arah titik dimana aku mengingat pagar yang sudah dipotong beberapa minggu lalu.
Ronan merunduk, memeriksa bekas potongan pagar. "Sepertinya dipotong menggunakan gergaji besi, apa kalian berpapasan dengan mobil lain saat berkendara kesini?"
"Tidak. Mereka pasti sudah melihat kalian dan langsung kabur. Siapa yang tahu kalau kinerjamu sebagus itu, hm?" Javer menyeringai sambil terkekeh.
"Oh, Javer... teman-teman polisi kita datang untuk melakukan tugas mereka." Aku tersenyum. "Terima kasih sudah membantu, kawan-kawan. Sekarang kami bisa pulang dengan tenang."
"Tidak secepat itu. Kita baru memeriksa sedikit sekali. Sebaiknya kita melakukan pemeriksaan menyeluruh demi memastikan tidak masalah." Ronan tersenyum sinis, mengetahui kami tidak ingin berlama-lama di sini.
Javer memutar mata dengan dramatis dan mengeluarkan ponselnya, buru-buru memberitahu Damien dan Tom bahwa kami tertahan.
"Bagaimana kabar kekasihmu, Orion? Dia tahu apa yang kau lakukan disini? Apakah dia tidak keberatan ditinggalkan sendirian tengah malam begini?" Ronan berjalan dengan amat sangat pelan, mengitari pagar sambil bicara.
"Aku tidak yakin apa maksudmu menyinggung tujuan kami kemari, tapi Millie tidak keberatan, terima kasih. Dia tahu aku sibuk." jawabku datar. Aku ingin menjaga Millie sejauh-jauhnya dari pekerjaan. Seolah menyebutkan namanya di dunia kriminal akan menodai kepolosannya.
Ronan mendengkur sementara kami terus berjalan sampai pada akhirnya kembali ke mobil.
"Well, tidak ada penyusup." katanya, asalkan kami tidak menemaninya berkeliling.
"Terima kasih sudah membantu malam ini. Kami akan menghubungi kalian jika ada masalah." desakku tak sabar.
"Sama-sama. Kami akan ikut mengawasinya, Alano..." nadanya mengisyaratkan peringatan.
Javer dan aku segera masuk ke dalam mobil. "Kau tahu, kita bisa saja menembak dan menguburnya sekarang. Pasti masalah akan berkurang."
"Aku menyukai gagasanmu. Tapi kita tidak punya waktu untuk menguburnya malam ini." balasku setelah bergurau. Makhluk itu kerap menggangguku dan ide menyingkirkannya terdengar semakin menarik. "Masuk ke jalan tol, seandainya mereka membuntuti kita, mereka mengira kita benar-benar pulang."
"Siap."
Setelah yakin mereka tak lagi terlihat, kami berbelok ke lapangan parkir gudang pengepakan daging. Suasananya sangat sepi. Apakah Federico tidak datang? Atau dia sudah menerima barangnya dan pergi? Aku bisa merasakan ada yang tidak beres.
Sepertinya Javer juga merasakan hal yang sama karena dia langsung menghentikan mobil, kami bergegas turun dan berlari ke gudang.
"Apa yang harus kita katakan pada Orion?" kata Damien, melangkah bolak-balik didepan anggota yang lain. Tom berdiri di dekatnya dengan kedua tangan terlipat di dada, rautnya menunjukkan kegelisahan. Wah, wah, wah...
"Ada apa?" Aku menggeram, menghampiri mereka. Tak seorangpun berani menatapku. Kesabaranku sudah menipis dan tidak ada yang menjawab pertanyaanku.
"Kusarankan kalian segera berbicara." Javer memperingatkan.
"Damien dan aku masih di perjalanan menuju kesini saat Federico dan orang-orangnya ketakutan dan tiba-tiba membatalkan transaksi." gumam Tom pelan.
"Oh, apa kau bercanda?" bentak Javer.
Aku menggaruk dagu, mencoba mencerna ucapannya. Kesepakatan ini bernilai jutaan dolar dan mereka membatalkannya? Aku menggerakkan tangan dan memukul dinding, seketika merasakan buku-buku jariku remuk dan darah mengalir dari beberapa luka robekan kecil. Mereka masih bungkam sambil memandangiku.
"Sialan!" dengusku geram.
"Orion, Jack benar-benar menjadi masalah serius. Kau tahu, si bodoh Ronan dan temannya itu bisa saja memberhentikan Damien dan Tom." Javer membulatkan mata. "Aku tidak peduli jika ini ada hubungannya dengan Millie, tapi Jack sudah mengacaukan pekerjaan kita dan kita tidak bisa membiarkannya."
"Aku paham, Javer. Terima kasih." Aku memutar mata.
"Kembalikan paketnya ke gudang, dan kita akan mengurusnya besok pagi." Aku tidak suka menyimpan sendiri persediaan dalam jumlah sebesar ini, namun pilihan apa yang kami punya?
Aku membubarkan mereka dan kembali ke rumah untuk mengurus masalah lain yang kami tinggalkan.