Aruna tak menyangka kematiannya justru membawanya bertransmigrasi ke dalam novel kerajaan Eropa sebagai Lady Evelyne Ashcroft, villain yang ditakdirkan berakhir tragis.
Berbekal ingatan akan alur cerita, ia bertekad mengubah nasibnya dan menghindari semua bendera kematian. Namun, rencananya langsung berantakan ketika seluruh keluarganya dan sang tunangan tiba-tiba dapat mendengar isi pikirannya.
Rahasia masa depan yang terus terungkap membuat jalan cerita berubah. Keluarga yang semula membencinya mulai melindunginya, sementara tunangan yang seharusnya meninggalkannya justru semakin tergila-gila padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keesokan paginya, Duke Arthur mengumpulkan seluruh anggota keluarga di ruang kerjanya.
Wajah Duke Arthur seketika menjadi serius dan kelabu. "Mulai saat ini, pengamanan di seluruh penjuru kediaman akan diperketat berkali-kali lipat dari sebelumnya."
Adrian pun ikut menambahkan. "Aku telah memeriksa daftar penjaga yang bertugas semalam. Tak ada yang mencurigakan maupun meninggalkan pos jaga tanpa izin."
"Justru itulah yang membuatku semakin curiga," sahut Cedric tiba-tiba.
Arthur menatapnya heran. "Apa maksud ucapanmu?"
"Jika seseorang dapat masuk dan keluar dari wilayah kediaman ini tanpa diketahui satu pun penjaga yang bertugas," Cedric menatap mereka satu per satu. "Berarti ia memiliki bantuan dari seseorang yang tinggal di dalam kediaman ini sendiri."
Ruangan itu seketika sunyi senyap. Aruna menatap wajah-wajah yang hadir di sana satu per satu. Ada pengkhianat yang bersembunyi di antara mereka?
Pikirannya sempat tertuju pada Kepala Pelayan yang berdiri tenang di sudut ruangan. Namun seketika itu pula ia menggeleng pelan. Bukan pria itu. Jika ingatannya tak keliru, justru Kepala Pelayanlah yang gugur saat berusaha melindungi keluarga Ashcroft dari serangan musuh.
"Ada apa, Evelyne?" tanya Arthur menyadari perubahan ekspresi putrinya.
Aruna segera menunduk menyembunyikan kekhawatirannya. "Tak ada apa-apa, Ayah. Hanya perasaanku saja yang sedang gelisah."
Ia tak boleh menuduh siapa pun tanpa bukti yang nyata.
***
Siang harinya, Aruna berjalan menuju taman bersama Adrian Ashcroft.
"Kak..." panggilnya pelan.
"Ya?" Adrian menoleh sambil tetap melangkah.
"Aku ingin bertanya sesuatu," ucap Aruna ragu-ragu. "Apakah ada orang di antara para pelayan maupun pengawal yang akhir-akhir ini menunjukkan tingkah laku yang mencurigakan atau berubah secara mendadak?"
Adrian berpikir sejenak lalu menggeleng. "Sampai saat ini belum ada. Seluruh penghuni kediaman diawasi dengan ketat sejak masalah segel palsu itu terungkap."
Aruna menghela napas berat. Belum sempat ia melanjutkan pembicaraannya, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang pelayan wanita berjalan mendekat sambil membawa nampan berisi teh dan camilan.
"Selamat siang, Nona Evelyne, Tuan Muda Adrian," sapa wanita itu sopan sembari meletakkan nampan di atas meja batu.
Aruna memperhatikannya dengan saksama. Wajah wanita itu asing baginya. Pelayan itu pun segera menundukkan kepala setelah menyelesaikan tugasnya. "Jika tidak ada perintah lain, izinkan saya pergi."
"Tunggu," panggil Aruna tiba-tiba.
Pelayan itu berhenti melangkah dan menoleh dengan tenang. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Siapa namamu?" tanya Aruna menatapnya lekat.
"Nama saya Maria, Nona."
Aruna menatapnya cukup lama namun tak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Hingga saat pelayan itu berbalik badan hendak pergi, seketika itu pula pandangan Aruna terpaku pada pergelangan tangan wanita itu. Terpasang sebilah gelang perak yang begitu halus, dengan liontin kecil yang berbentuk... bulan sabit.
Darah seketika terasa membeku di tubuh Aruna.
"Evelyne?" Adrian menyadari perubahan wajah adiknya yang seketika menjadi pucat. "Ada apa?"
Aruna tak menjawab. Ia masih terpaku melihat punggung wanita bernama Maria yang perlahan menjauh.
"Haruskah aku menyuruh orang mengejarnya dan memeriksanya?" tanya Adrian siap melangkah.
"Jangan!" cegah Aruna seketika.
Adrian berhenti dan menatapnya bingung. "Mengapa?"
"Jika memang ia orang yang kita cari," ujar Aruna menahan napas. "Mungkin saja ia sengaja membiarkanku melihatnya agar aku tergesa-gesa melakukan kesalahan."
Aruna mengepalkan tangannya erat. [Aku tak boleh bertindak gegabah. Mungkin saja itu sekadar perhiasan biasa yang kebetulan serupa. Namun bentuk simbol itu... tak mungkin merupakan kebetulan belaka.]
Sementara itu, di lorong belakang yang sepi...
Maria berhenti melangkah. Ia mengangkat tangan kanannya dan menyentuh lembut gelang bulan sabit yang melingkar di pergelangannya. Dari balik bayang-bayang tiang penyangga, sesosok pria berjubah gelap muncul perlahan.
"Apakah ia melihatnya?" tanya pria itu dengan suara rendah.
Maria mengangguk pelan. "Nona Evelyne melihat gelang itu dengan jelas."
Pria itu tersenyum tipis. "Bagus sekali."
"Apakah saya harus pergi menjauh dari kediaman ini sekarang?" tanya Maria ragu.
"Belum," jawab pria itu mendekat. "Biarkan ia menemukan petunjuk-petunjuk berikutnya. Semakin banyak yang ia ketahui, semakin mudah baginya untuk kita arahkan menuju tempat yang telah kita persiapkan sejak lama."