Mereka pernah bersama pada masanya. Namun, kesalahpahaman membawa mereka untuk mengakhiri hubungan itu begitu saja.
Sampai beberapa tahun kemudian Gavin masih memiliki rasa yang sama pada Karina. Akan tetapi, seorang anak kecil membuat Gavin berpikir jika orang yang selalu ia harapkan jadi miliknya itu sudah menikah. Pada akhirnya Gavin harus menerima kenyataan yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Akankan Gavin memperjuangkan cintanya pada Karina? Bagaimanakah takdir mempersatukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xavieraa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandika's Family
Hari ini akan ada acara keluarga di Sandika's Family. Semuanya akan berkumpul untuk acara dinner dan barbeque mumpung Anna, Andrew terlebih pengantin baru Gavin dan Karina berada di rumah utama Sandika.
Usai pulang kerja Gavin segera meninggalkan gedung kantor untuk pulang.
"Pak, rancangan bahasan proposal udah saya kerjakan."
"Masih direvisi Wisam," Toni yang berada di ruangan Gavin pun ikut berjalan keluar mengikuti Gavin.
"Baik, Ton."
Mereka berdua pun turun lift dan segera menuju parkiran. Toni dengan motor bututnya dan si bos dengan mobil mewahnya.
"Wisam dimana?" Gavin yang belum mengetahui kemunculan Wisam pun bertanya.
"Masih di ruangan, katanya dia mau ketemuan gitu sama seseorang," Toni menjelaskan pada Gavin.
"Ketemuan? Sama siapa?" Toni pun mengangkat bahunya arti tak tahu akan jawaban dari pertanyaan Gavin.
"Lo sendiri nggak ikut?" Gavin melemparkan pertanyaan seolah-olah mengejek Toni.
"Ya kali mau nemenin orang kencan, yang ada jadi obat nyamuk," kesal Toni.
"Yaudah, terima aja nasib jomblo kamu."
"Gue pulang duluan, ya. Udah ditungguin istri," pamernya pada Toni. Gavin masuk ke dalam mobil.
"Cielah mentang-mentang udah nikah pamer mulu, dulu aja pas belum sama Bu Karin galau terus kerjaannya," gumam Toni lirih saat pria itu sudah masuk dalam mobilnya.
Mobil Gavin sudah keluar parkiran Sandika Corp. Toni pun melajukan motor bebek kesayangannya itu untuk pulang juga.
Gavin pun sudah sampai di halaman luas rumahnya. Segera ia memarkirkan mobil ke garasi dan masuk ke dalam rumah.
Ia pun melihat di dalam rumah hanya ada Papa dan Mama nya sedang menonton televisi di ruang keluarga.
"Pada kemana, Ma?" Gavin menghampiri Mama nya yang duduk di sofa.
"Anna sama Andrew keluar belanja buat nanti malam. Istri kamu di kamar kayaknya," jawab Mama Gavin.
Gavin pun berjalan ke lantai atas dimana kamarnya berada. Ia pun membuka handle pintu itu dengan pelan, takut jika istrinya sedang tidur.
Dirinya masuk dan mendapati Karina duduk dan bersandar di headboard ranjang.
"Sayang-" ucapan Gavin terpotong kala Karina memberi kode telunjuk di depan mulutnya.
Gavin pun mendekat ke Karina, ternyata Ashley sedang tidur di kamarnya. "Kok Ashley ada disini?" Tanya Gavin dan ia pun ikut duduk disebelah Karina.
"Kak Anna nitipin Ashley ke aku, dia keluar belanja."
"Shaka kemana?"
"Ikut belanja sama Arion juga."
"Tadi kamu yang nidurin Ashley?" Gavin melihat bayi kecil yang tertidur pulas di ranjang besarnya itu.
"Iya, tadi dia nangis terus nyari mama nya kayaknya. Aku gendong bentar terus aku kasih sufor nggak lama tidur sendiri," jelas Karina.
"Mau cewek atau cowok?" Gavin pun melempar pertanyaan spontan ke Karina yang ada disampingnya itu.
"Sedikasihnya apa," jawab Karina jelas.
"Yaudah ayo," Gavin pun menarik tangan Karina mengajaknya untuk berdiri.
"Ayo kemana?" Karina bingung menatap Gavin yang sudah menggandeng dirinya untuk berdiri.
Ia pun sudah paham apa yang dimaksud suaminya itu setelah percakapan baru saja yang mereka ucapkan.
"Kemana?" Tegas Karina lagi.
"Udah ayo," Gavin pun menarik tangan Karina untuk berdiri dari duduknya. Wanita itu pun menurut dengan apa yang suaminya katakan.
"Mau kemana?"
"Nanti kalau Ashley bangun gimana?"
"Mau nggak?" Gavin malah melempar balik pertanyaan dan tak menjawab pertanyaan dari istrinya.
"Mau apa sih?" Tanya Karina geram kala Gavin membuatnya bingung.
"Tadaaa... Jajan buat kamu hehe," Gavin pun memberikan sekantong berisikan macam-macam chiki, es krim, dan camilan lainnya.
Karina mencubit pinggang Gavin gemas. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak tentang itu. Apalagi di kamarnya ada anak kecil tertidur. Apa mungkin mereka melakukan itu saat ini juga.
"Kamu bikin aku panik aja," Karina menerima pemberian dari Gavin itu.
"Pasti kamu mikir itu kan? Iya kan?" Goda Gavin melihat istrinya sudah berlalu dan duduk memakan chiki itu.
"Nggak ya," kesalnya.
"Yaudah nanti malam aja, siap-siap kamu," Gavin tak henti-hentinya membuat Karina salah tingkah. Ingin rasanya Karina mencubit-cubit pria itu.
Gavin pun masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sedangkan Karina masih duduk di sofa membuka jajanan dari suaminya itu sembari menemani Ashley tidur.
Tak butuh waktu lama pria itu keluar dari kamar mandi mengenakan celana pendek selutut. "Mandi dulu, nanti kamu bantuin Kak Anna siap-siap," Gavin duduk di sebelah Karina yang asik makan jajan seperti anak kecil.
"Jagain Ashley, nanti kalau nangis kamu gendong kasih susu di nakas itu," tunjuknya pada sebotol susu di meja nakas.
"Iya, gampang itu mah." Gavin pun merebahkan diri di dekat bayi kecil yang masih tertidur pulas sejak satu jam lalu.
"Lucu banget sih, pipi kamu gembul banget," Gavin mengelus pelan pipi bulat Ashley.
Ritual mandi Karina pun selesai. Ia tersenyum melihat pria yang sedang menunggu bayi kecil itu tidur. Ia pun berjalan mendekat.
"Astaga Gavin malah ikut tidur," ternyata pria itu sudah terlelap.
Karina pun turun ke bawah karena ia mendengar suara Anna dan Andrew, sepertinya mereka sudah pulang belanja.
Dirinya pun meninggalkan Gavin yang tidur sembari menunggu Ashley. Ia membantu menyiapkan untuk acara dinner nanti malam.
"Ashley mana, Rin?" Anna melihat Karina yang turun dari kamarnya.
"Masih tidur, Kak. Di kamar ada Gavin tidur sama Ashley," terangnya.
"Bantuin aku yuk, aku udah beli macam-macam," Anna mengajak Karina untuk ke dapur.
Dua wanita itu berkutat di dapur dibantu oleh ART disana menyiapkan untuk acara dinner keluarga nanti malam.
Selesai menyiapkan itu Karina kembali ke kamarnya. Sebab dari tadi Gavin belum terlihat turun dari kamar.
"Vin," Karina masuk dan di ranjang itu sudah tak ada suaminya dan Ashley.
"Iya, aku di balkon," sahut seseorang dari kejauhan.
Gavin ternyata bermain bersama Ashley di balkon. "Ayo turun, Ashley biar asi dulu sama Kak Anna."
"Kamu ganti baju," Karina menggendong Ashley dan membawanya masuk. Karina pun turun dan memberikan Ashley ke Anna.
Ia pun kembali ke kamarnya dan segera mengajak Gavin turun ke bawah.
Oma pun sudah hadir disana. "Kenapa kamu senyum-senyum, Vin?" Ledek Oma nya saat cucunya itu bersalaman dengannya.
"Nggak kok, Oma," Gavin pun memeluk Oma kesayangannya itu. Sejak kecil Gavin sudah dekat dengan Oma nya.
Mereka kini sudah berkumpul di ruang makan keluarga itu. Makanan sudah tersaji rapi dan berbagai macam.
"Kamu tadi yang masak?" Gavin melirik wanita yang duduk disampingnya.
"Kak Anna, Bi Mina sama Bi Asih juga."
"Ayo kita makan, ambil sepuasnya dan habiskan," Oma pun memecah keheningan di meja makan itu.
Dinner pun berlangsung lama antara anak, cucu, cicit dan menantu Keluarga Sandika. Kebersamaan yang terbilang jarang dilakukan karena Anna sudah pindah ke Australia setelah menikah. Mereka memanfaatkan waktu kebersamaan ini dengan baik sebagai pengobat rindu.
Setelah dinner mereka foto bersama untuk mengabadikan moment kebersamaan ini.
"Kamu main aja sama Ashley, biar kita yang bakar," kini mereka berjalan ke area outdoor di belakang rumah dekat kolam untuk barbeque.
Sedari tadi Karina menggendong Ashley. Arion dan Shaka pun semakin akrab dan selalu bermain bersama mereka lengket seperti lem.
"Kamu suka banget ya sama Ashley?" Gavin menghampiri Karina yang sedang duduk.
"Iyaa, lucuu bangett tauu. Pipinya ini gembul," Karina menoel pipi Ashley.
"Rin, kamu istirahat aja. Biar Ashley aku tidurin dulu nanti kita lanjut barbeque-an," Anna meraih Ashley dan mulai menggendongnya.
Tak butuh waktu lama Ashley pun tertidur setelah menghabiskan satu dot susu formula. Anna membawa Ashley ke kamar.
"Ini daging nya," Gavin menyuapkan daging yang sudah matang ke Karina.
"Udah kenyang, aku diet, Vin," tolaknya dan mengarahkan suapan itu ke mulut Gavin sendiri.
"Diet buat apa, aku nggak mau kalau kamu kurus ntar dikira aku nggak kasih kamu makan," elak Gavin saat istrinya mengatakan demikian.
"Maksud aku nggak gitu, ini udah malam jadi stop makanan berat."
"Ehm...ehm..." Anna pun datang setelah menidurkan Ashley.
Taken by Anna. Ini ceritanya candid pict guys hehe.
"Kenapa sih ribut mulu kalian ini," Anna pun datang dan bergabung bersama mereka.
"Nggak kok, Kak. Ini Gavin bandel," Karina mendahului Gavin yang hendak berbicara menjawab pertanyaan kakaknya.
"Marahin aja kalau dia bandel, emang dari dulu keras kepala tu anak," Anna seolah mendukung Karina.
"Sayang, kok kamu gitu sih sama aku," Gavin merasa tak terima.
Karina geli saat Gavin memanggil dirinya dengan sebutan sayang di depan kakaknya. "Jangan gitu," bisiknya pelan dan menatap pria itu tajam.
"Kenapa? Suka-suka aku dong," sahutnya tak kalah cepat.
Gavin pun berdiri dan ikut Andrew dengan Papa nya yang sedang berbincang santai di dekat kolam. Karina dan Anna juga saling mengobrol dengan Oma dan Mama.
"Mommy, aku mau tidur sama Kakak Arion ya?" Shaka datang meminta izin pada Karina.
"Iya, tapi Shaka nggak boleh nakal ya sama Kakak Arion," peringatnya.
"Baik, Mommy." Shaka pun berlari menyusul Arion yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Sementara para orang dewasa terlarut dalam obrolan asik masing-masing.
"Rin, kok kamu mau kembali lagi sama Gavin? Secara kalian udah pisah bertahun-tahun pasti rasanya akan hambar," Anna yang penasaran dengan kisah cinta adik iparnya dengan Gavin itu pun bertanya.
"Entahlah, Kak. Aku juga tak mau egois, Shaka pasti butuh sosok Gavin di hidupnya."
"Aku bisa hidup sendiri dengan apapun yang bisa aku dapatkan dengan hasil kerja kerasku, sedangkan putraku lebih membutuhkan kebahagiaan yang mungkin nggak akan dia dapatkan dimanapun itu," mengingat lika-liku perjalanan cintanya dengan Gavin yang penuh rintangan dan tantangan ia pun menahan air mata yang hampir lolos dalam pelupuk matanya.
Anna mencerna ucapan Karina, apa yang dikatakan wanita itu benar. Kebahagiaan dengan keluarga tak ternilai harganya dan tak akan bisa dibeli dengan apapun.
"Apa kamu mencintai Gavin?" Pertanyaan dari Anna membuat jantung Karina berdegup kencang.
Karina masih diam, merangkai kata untuk mengeluarkan jawaban dari mulutnya. Ia pun menatap Anna yang duduk disampingnya.
Karina pun menggeleng. "Kamu belum bisa nerima dia sepenuhnya?" Dan Karina pun mengangguk.
Anna seolah tahu isi hati Karina. Sebenarnya hatinya mengatakan jika ia juga menginginkan Gavin, tapi pikirannya seolah masih meragukan pria itu.
"Kenapa kamu menerima ajakan Gavin untuk menikah?"
"Sama dia sakit, kalau nggak sama dia aku jauh lebih sakit, Kak."
"Bahkan setelah kita berpisah dulu aku juga menginginkan dia kembali, tapi wanita yang menggangguku dulu seolah memberitahuku jika aku tidak layak bersanding dengan Gavin."
"Livy?" Anna pun langsung paham apa yang dikatakan Karina. Karina pun mengangguk mengiyakan.
"Aku tahu aku bukan dari keluarga kaya, aku juga anak kampung yang merantau, Kak. Aku di kota mencari hidup untuk diriku sendiri dan keluargaku."
"Maka dari itu aku mengambil pelajaran dari perpisahan itu jika aku memang tak pantas dengan Gavin. Dan aku tak berharap lagi tentang Gavin."
" Sejak saat itu aku takut jika Gavin mengambil Shaka dari aku," ujarnya kembali. Air mata itu luruh begitu saja dari pelupuk mata wanita cantik itu.
"You deserve better, Rin."
"Sekarang kamu tahu, kan? Gavin masih milih kamu?"
"Gavin nggak akan ngambil Shaka dari kamu, Kakak tahu Gavin gimana. Gavin selalu bilang ke Kakak kalau dia masih mencintai kamu, dia ingin kamu yang jadi pendamping hidup dia selamanya. Itu yang selalu dia katakan sejak 5 tahun lalu," Anna memeluk erat Karina yang sudah menangis.
"Percaya sama Kakak, Gavin nggak akan ngecewain kamu."
"Kamu nantinya pasti akan bisa nerima dia kembali, semua butuh waktu, Rin." Anna mengeratkan pelukannya ke adik iparnya itu.
"Iya, Kak. Aku akan mencintai Gavin seperti dia mencintaiku. Aku akan berusaha."
"Katakan pada Kakak apapun itu yang menyakitimu," sambung Anna lagi.
"Iya, Kak."
"Loh, Gavin kok nggak ada?" Karina melihat hanya ada Andrew dan Papa sedang duduk di gazebo.
"Coba kamu lihat kesana," Anna menunjuk dimana dua pria itu duduk. Karina bangkit dan mencari keberadaan Gavin.
"Pa, Gavin mana?" Tanyanya pada mertuanya.
"Gavin ke dalam, udah ke kamar mungkin," jawabnya.
"Oh, yaudah makasih, Pa."
Karina pun masuk ke dalam dan segera masuk ke kamar mencari keberadaan Gavin. Benar saja, ternyata pria itu sudah berada di kamarnya. Namun, pria itu sudah lebih dulu tidur dan mematikan lampu kamar.
Karina masuk dan mendengar dengkuran halus dari suaminya. Ia pun membersihkan tubuh dan ikut berbaring disamping suaminya yang sudah lebih dulu tidur.
Tak ada pikiran macam-macam, Karina hanya mengira jika Gavin kelelahan setelah sehari penuh bekerja di kantor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
To be continue... Next? Jangan lupa dukungannya ya untuk like, komen, dan subscribe nya. Supaya kalian bisa langsung baca pas cerita ini up. Thank u all!❤️❤️