NovelToon NovelToon
Rahasia Rumah Warisan Kakek

Rahasia Rumah Warisan Kakek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24.Mengakhiri latihan di luar.

Setelah percakapan ringan antara mereka mereda, suasana kembali tenang namun hati Raisa masih dipenuhi rasa ingin tahu yang tak kunjung padam. Ia menatap Arya lekat-lekat sejenak, mempertimbangkan apakah sebaiknya bertanya atau membiarkannya berlalu begitu saja. Namun rasa penasaran itu begitu kuat menggelayut di benaknya, hingga akhirnya ia memberanikan diri bertanya dengan nada yang sedikit ragu namun tulus.

"Arya... boleh aku bertanya sesuatu?" ucapnya pelan sambil meremas ujung bajunya yang sedikit basah terkena embun pagi.

"Tanyakan saja," jawab Arya singkat sambil duduk bersandar pada batang pohon besar, matanya menatap ke arah aliran air terjun yang mengalir tenang membelah bebatuan.

"Selama beberapa hari ini... apakah kau yang diam-diam melempar buah mangga itu saat aku kehausan? Atau yang mengatur agar angin sejuk datang tepat saat aku merasa kepanasan dan tak sanggup lagi bermeditasi? Dan tadi juga... apakah kau yang menggeser ranting kayu tajam itu menjauh sebelum aku tak sengaja menginjaknya?" tanyanya bertubi-tubi, matanya berharap menemukan jawaban yang ia cari dari tatapan pria itu.

Arya menoleh perlahan, menatap wajah gadis itu yang penuh harap, lalu menggeleng pelan namun tegas. "Bukan aku. Sepanjang waktu aku berada di sini, mataku hanya tertuju padamu dan pada arah tempat yang dicurigai. Aku tak pernah meninggalkan tempat ini sedetik pun untuk mengambil buah, apalagi mengatur angin sedemikian rupa tanpa kau sadari."

Raisa terdiam sejenak, sedikit kecewa namun masih tak mau menyerah begitu saja. "Kalau bukan kau... lalu siapa yang melakukannya? Mungkin Jatmika? Dia kan sering berkeliling mengawasi sekitar sini."

"Kau bisa bertanya langsung padanya saat dia kembali," jawab Arya tenang.

Tak lama kemudian, Jatmika kembali muncul dari balik semak belukar setelah selesai memeriksa batas area latihan. Wujud manusianya kembali utuh dengan wajah yang tenang namun tetap waspada. Melihat Raisa melambai memanggilnya, ia segera melangkah mendekat dengan langkah yang senyap.

"Ada apa, Nona Raisa? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan sambil menundukkan kepala sedikit.

"Jatmika... boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Raisa sambil menatap pria itu dengan pandangan penuh tanya. "Beberapa hari ini ada hal-hal aneh namun baik yang terjadi padaku. Saat aku sangat haus tiba-tiba ada buah matang jatuh tepat di dekat kakiku, saat udara terasa sangat panas dan menyengat angin sejuk datang sendiri menyapa wajahku, dan tadi ranting kayu tajam yang ada di jalurku seolah bergeser sendiri menjauh. Apakah kau yang melakukannya sembunyi-sembunyi tanpa memberitahuku?"

Jatmika mengerutkan dahi bingung mendengar pertanyaan itu, lalu menggeleng mantap tanpa ragu sedikit pun. "Bukan saya, Non. Tugas saya hanya mengawasi batas luar hutan dan melapor jika ada bahaya yang mencoba mendekat. Saya tidak pernah masuk ke area latihan ini tanpa perintah langsung dari Tuan Arya, apalagi melakukan hal-hal tersebut tanpa sepengetahuan kalian berdua."

Raisa menghela napas panjang, lalu teringat pada Sekar yang baru saja berjalan pulang membawa keranjang bekal yang sudah kosong. "Kalau begitu... mungkin Sekar? Dia kan yang paling sering datang membawa makanan dan minuman untuk kita."

"Kau lihat sendiri tadi Sekar sudah berangkat cukup lama sebelum hal-hal itu terjadi," sahut Arya pelan namun pasti. "Dia bahkan tidak sempat berjalan sejauh itu untuk kembali lagi dan melakukan hal-hal yang kau ceritakan tanpa kau sadari.Apa kamu lupa Sekar seperti dirimu, bukan seperti kami. Bukannya kamu berpendapat kalau yang melakukannya adalah hutan penunggu,dan mungkin saja itu benar. "

Raisa terdiam lama, menatap ke arah tanah yang berlumut basah. "Jadi... Jika benar itu hantu penunggu hutan ini. Apa...dia menakutkan atau wajahnya seperti reptil.jika itu benar aku benci itu, bagaimana kalau tidak ada latihan disini lagi."

"Tenang saja penunggu hutan ini tidak berwujud hewan yang kamu benci," ucap Arya mencoba menenangkan. "Sepertinya mulai besok kita berlatih dirumah saja."

Raisa tersenyum tipis dia merasa senang. "Kalau dirumah tidak masalah. "

Raisa terdiam menyembunyikan kebahagiaan nya dipikirannya, akhirnya latihan berat ini selesai juga.

Namun di balik senyum itu, rasa penasaran masih menggelayut kuat di benaknya. Tapi siapapun itu,Raisa berterimakasih akhirnya mempunyai alasan untuk tidak melakukan latihan di luar rumah.

Dan tak jauh dari sana, di balik rimbunnya dedaunan yang tak terlihat mata, Alif mendengar setiap percakapan itu dengan hati yang berdebar kencang. Ia ingin sekali melangkah keluar dari persembunyiannya, menyapa, dan mengakui semua yang telah ia lakukan. Namun ia sadar betul bahwa itu belum boleh terjadi, setidaknya untuk saat ini.

Saat latihan hari itu akhirnya selesai dan Raisa berjalan perlahan menjauh menuju rumah bersama Sekar, raut wajah Arya perlahan berubah menjadi serius dan penuh kewaspadaan. Matanya menatap tajam ke segala arah hutan yang mulai meredup cahayanya, merasakan sesuatu yang selama ini samar kini mulai terasa lebih nyata dan jelas.

"Jatmika," panggilnya rendah namun tegas, suaranya seolah terbawa angin.

"Siap, Tuan," jawab Jatmika segera berdiri tegak di hadapannya.

"Aku merasakannya sekarang dengan jelas," ucap Arya sambil merapatkan tangannya di belakang punggung, matanya tak lepas dari pepohonan rimbun di sekeliling. "Ada jejak energi manusia yang sering melintas di sekitar sini. Bukan energi jahat yang mengancam, tapi... energi yang selalu berusaha bersembunyi secepat mungkin setiap kali kita mulai menyadarinya. Sejak beberapa hari terakhir ia selalu ada di sini, mengawasi setiap gerak-gerik kita saat berlatih."

"Apakah mungkin penyusup yang selama ini kita khawatirkan, Tuan?" tanya Jatmika dengan nada waspada yang meningkat.

"Itulah yang ingin aku ketahui segera," jawab Arya mantap. "Kau harus berpatroli kembali mengelilingi seluruh area ini, tapi kali ini jangan gunakan wujud manusiamu. Ubah wujudmu menjadi ular. Bergeraklah senyap di sela-sela tanah, bebatuan, dan dedaunan. Cari jejak siapa sosok yang selalu mengawasi kita dari bayang-bayang itu. Dan ingat... jangan sampai dia menyadari keberadaanmu sedikit pun."

"Siap, Tuan. Saya akan segera melaksanakan perintah itu," jawab Jatmika dengan sigap. Seketika tubuhnya memanjat, kulitnya berubah bersisik halus berwarna hijau kecokelatan yang menyatu dengan lingkungan, dan dalam sekejap ia merayap menghilang ke dalam semak belukar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Sementara itu, di tempat persembunyiannya yang tersembunyi di balik dahan besar yang menjuntai ke bawah, Alif tiba-tiba merasakan perubahan suasana seketika. Naluri pengawasnya yang tajam langsung menangkap adanya pergerakan baru yang tak terlihat namun terasa perlahan mendekat. Tanpa membuang waktu sedetik pun, ia perlahan mundur dengan gerakan yang sangat pelan, menyatu dengan bayangan batang pohon besar di belakangnya, lalu bergerak menjauh dengan luwes dan senyap seolah ia adalah bagian dari hutan itu sendiri.

Tak lama setelah Alif benar-benar menjauh dan menemukan tempat persembunyian baru yang lebih aman, seekor ular besar meluncur pelan melintasi tempat persembunyian yang tadi ia tinggalkan. Lidahnya menjilat-jilat udara berulang kali mencoba menangkap jejak bau atau sisa energi yang tertinggal, namun yang tersisa hanyalah aroma tanah basah, lumut, dan dedaunan hijau yang segar. Jejak keberadaan Alif sudah lenyap seketika tanpa sisa sedikit pun.

Di kejauhan, Arya masih berdiri diam menatap lekat-lekat ke arah hutan yang perlahan mulai gelap ditelan senja. Ia tidak melihat siapa pun, tidak mendengar suara apa pun, namun keyakinannya semakin kuat dan tak tergoyahkan. Ada seseorang yang diam-diam menjaga Raisa dari kejauhan. Entah apa tujuan nya melakukan itu, tapi Arya terus waspada di sekelilingnya.

"Siapakah kau sebenarnya..." bisik Arya pelan pada angin yang mulai mendingin dan berhembus pelan menyapu wajahnya. "Dan apa tujuanmu sebenarnya... apakah kau benar-benar teman, atau justru musuh kami?"

1
sakura
...
Fatim Zahra
semangat kak, ditunggu ya update nya
vania larasati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!