Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.
Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.
Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~ Bisikan Malam Dan Janji Di Atas Mimbar
Keheningan malam perlahan mengikis hiruk-pikuk badai media sosial yang masih membakar luar sana. Di rumah megah keluarga Adhyastha di kawasan Menteng, atmosfer terasa jauh lebih hangat dan menenangkan.
Usai makan malam yang berlangsung tenang, Nenek Ratna menahan Reno dan Aura saat mereka hendak pamit pulang ke apartemen.
"Malam ini kalian menginap di sini," tegas Nenek Ratna dengan nada yang tak menerima bantahan, namun diiringi binar kasih sayang di matanya. "Di Luar sana sedang kacau oleh para wartawan. Di sini aman. Lagi pula, Nenek masih ingin melihat cucu-cucu Nenek berada di sini."
Aura dan Reno hanya bisa saling pandang sebelum akhirnya mengangguk patuh. Kamar lama Reno di lantai dua yang sangat luas dan beraroma maskulin khas kayu cendana pun disiapkan untuk mereka.
Malam makin melarut. Usai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan gamis tidur berbahan sutra pink lembut yang disediakan pelayan rumah Menteng, Aura berdiri di dekat jendela balkon, menatap halaman belakang yang diterangi lampu taman.
Reno keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai—kaos hitam polos dan celana kain gelap. Rambutnya yang sedikit basah membuat penampilannya terlihat jauh lebih santai dan makin mempesona dibanding gaya formal CEO yang biasa ia tunjukkan.
Reno melangkah mendekati Aura, berdiri tepat di samping wanita itu.
"Kamu... masih terasa tegang?" tanya Reno pelan, memecah hening.
Aura menoleh pelan, menggeleng manis dengan senyum tipis di bibirnya. "Sudah jauh lebih baik, Reno. Terima kasih..."
Melihat raut tenang Aura, Reno menghela napas lega. Namun, tatapan matanya tetap menyiratkan rasa bersalah yang dalam atas cemoohan publik yang menghantam istrinya hari ini.
"Besok," ujar Reno dengan suara baritonnya yang mantap, "semuanya akan selesai."
Aura menatap manik mata kelam Reno, merasakan dorongan rasa aman yang begitu kuat. Sebelum percakapan berlanjut lebih jauh, suara petir pelan menyambar di kejauhan, disusul rintik hujan malam yang mulai membasahi kaca jendela.
"Sudah malam. Sebaiknya kamu istirahat," tutur Reno seraya berjalan menuju sisi tempat tidur berukuran *king size* tersebut.
Aura mengangguk. Dengan sedikit canggung, ia membaringkan tubuhnya di sisi kiri tempat tidur, sementara Reno berbaring di sisi kanan. Meski ada jarak di antara mereka, keberadaan satu sama lain di bawah satu selimut tebal yang sama membuat jantung Aura berdebar tak karuan.
Lampu utama dimatikan, menyisakan sinar temaram dari lampu tidur di sudut ruangan.
Malam kian larut, dan hembusan AC yang dingin berpadu dengan suara hujan membuat udara kamar makin membeku. Tanpa disadari, dalam lelap tidurnya, Aura yang mencari kehangatan bergerak perlahan mendekati sumber panas terdekat.
Secara refleks, tubuh mungil Aura bergeser mendekat hingga menyandar rapat di dada bidang Reno. Tak berhenti di situ, jemari lentur Aura bahkan secara otomatis melingkar manis di pinggang tegap sang suami.
Reno yang terbangun samar merasakan kehangatan tiba-tiba yang merapat ke tubuhnya. Saat membuka mata, ia mendapati wajah mulus Aura tertidur pulas hanya beberapa sentimeter di depan dadanya. Hembusan napas halus Aura menerpa leher Reno.
Jantung Reno berdesir hebat. Senyum tipis tak tertahankan terukir di bibirnya. Tanpa sadar, tangan tegap Reno terangkat, membalas dekapan itu dengan merengkuh pinggang Aura secara lembut, menarik wanita itu makin rapat dalam pelukannya hingga mereka terlelap bersama dalam kehangatan malam.
Brak!
Suara hempasan angin kencang yang membenturkan daun pintu balkon yang ternyata belum terkunci rapat Sontak membuat Aura terbangun kaget di pagi hari.
Dada Aura berdegup kencang sewaktu menyadari dirinya terbangun dalam posisi berpelukan erat dengan Reno. Wajahnya seketika merona merah padam! Dengan panik dan terburu-buru, Aura berusaha beranjak bangun dari tempat tidur untuk menutup pintu balkon sebelum angin mengacak-acak isi kamar.
Namun, kain gamis panjang sutranya yang licin mendadak tersangkut di ujung kaki ranjang!
"Aah!" jerit Aura kaget saat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang.
Reno yang baru saja membuka mata karena jeritan itu, secara refleks merentangkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Aura yang melayang jatuh tepat ke arahnya.
*BRUK!*
Tubuh mungil Aura menimpa dada tegap Reno yang masih berbaring di atas kasur!
Namun, gerakan panik yang terlalu cepat itu membawa dampak yang tak terduga. Niat awal tangan kanan Reno yang terangkat untuk menahan punggung atau paha Aura agar tidak terhempas keras, justru meleset tanpa sengaja... dan mendarat pas mencengkeram bukit kembar Aura dibalik kain gamis sutranya!
Bersamaan dengan itu, wajah Aura yang merosot jatuh membuat bibir lembutnya menempel sempurna tepat di atas bibir tegap milik Reno!
*Cup!*
Seketika itu juga, dunia seolah berhenti berputar.
Kamar itu mendadak hening total. Hanya ada suara detak jantung yang bergemuruh hebat dari dada mereka berdua.
Aura mematung dengan mata membelalak lebar. Bibir lembutnya masih menyentuh bibir Reno, sementara ia bisa merasakan dengan sangat jelas jemari hangat tegap milik Reno yang tak sengaja meremas area sensitif di dadanya. Reno pun ikut membeku total, manik matanya menatap Aura dari jarak yang begitu dekat dengan napas yang tertahan.
Suasana hening yang teramat sangat melingkupi mereka selama beberapa detik yang terasa bagai keabadian.
Begitu kesadarannya kembali penuh, wajah Aura meledak merah padam hingga ke ujung telinga! Dengan gerakan panik dan serba salah, Aura langsung mendorong dada Reno dan berdiri tegak dengan napas memburu.
"R-Reno! Apa-apaan sih?!" protes Aura histeris dengan suara bergetar dan wajah yang memerah hebat, tangannya refleks menyilangkan lengan di depan dadanya.
Reno yang ikut terduduk di tepi ranjang dengan canggung, buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara. "Aura... demi Tuhan, saya tidak sengaja! Tadi kamu mau jatuh, saya cuma refleks mau menahan badan kamu!"
"Tapi... tapi kamu..." Aura mengusap bibirnya dengan punggung tangan, matanya mulai berkaca-kaca campuran antara malu, panik, dan kesal yang luar biasa. "...kamu mengambil ciuman pertama saya!"
Reno tersentak pelan melihat raut panik dan polos di wajah istrinya. "Aura, itu murni kecelakaan"
"Tetap saja itu ciuman pertama saya!" potong Aura dengan nada protes yang makin bergetar. "Harusnya... harusnya ciuman pertama itu milik suami saya seutuhnya kelak! Bukan... bukan suami kontrak yang ada di perjanjian kita!"
Kata-kata *"bukan suami kontrak"* dari bibir Aura seketika menghantam dada Reno dengan rasa nyeri yang aneh. Namun, melihat betapa polos dan paniknya Aura yang menutupi dadanya sambil merona merah, rasa gemas yang amat sangat justru menyeruak di hati sang CEO dingin.
Reno berdiri perlahan, melangkah mendekati Aura dengan tatapan mata yang mendadak berubah dalam dan penuh pendar dominasi yang protektif.
"Aura," panggil Reno dengan suara baritonnya yang berat dan serak paska bangun tidur.
Aura mundur satu langkah, menatap Reno dengan panik. "M-mau apa?"
Reno menghentikan langkahnya tepat di hadapan Aura, menatap lurus ke dalam manik mata jernih yang bergetar itu.
"Saya memang suami kamu," ujar Reno pelan namun begitu sarat akan penekanan yang dalam. "Dan terlepas dari apa pun isi kertas perjanjian itu... kamu adalah istri sah saya. Jadi jangan pernah berpikiran bahwa ciuman tadi milik pria lain di masa depan."
Aura membeku, jantungnya seperti hendak melompat keluar dari rongga dadanya mendengar ketegasan dari suara Reno.
Reno mengusap pelan pucuk kepala Aura yang terbalut hijab acak-acakan dengan kehangatan yang bikin meleleh. "Mandi dan bersiaplah. Pagi ini, saya akan menyelesaikan semua kotoran gosip yang sudah melukai kamu."
Tepat pukul sepuluh pagi, Ballroom megah Adhyastha Tower sudah dipenuhi oleh ratusan jurnalis dari berbagai media massa nasional, kamera siaran langsung infotainment, hingga stasiun TV berita utama. Suasana riuh rendah oleh bisikan para wartawan yang menantikan klarifikasi atas skandal panas yang melibatkan nama CEO muda terkaya dan presenter cantik berhijab.
Pintu ganda Ballroom terbuka lebar.
Reno Adhyastha melangkah masuk dengan setelan jas hitam elegan yang sangat rapi. Langkah kakinya penuh wibawa berkelas, memancarkan aura dominasi mutlak seorang penguasa korporasi. Di belakangnya, Pak Aslan berjalan sigap membawa sebuah map dokumen tebal.
Seluruh kilatan lampu flash kamera seketika menyambar bertubi-tubi saat Reno melangkah naik ke atas mimbar utama.
Reno berdiri tegap di balik podium, menyesuaikan mik, lalu memandang seluruh jurnalis dengan tatapan matanya yang sangat dingin dan membekukan.
"Selamat pagi," suara bariton Reno menggelegar tenang melalui pengeras suara, seketika membungkam seluruh keriuhan di ruangan itu.
"Saya berdiri di sini bukan untuk melakukan kompromi, melainkan untuk meluruskan fitnah keji yang sudah merusak nama baik seorang wanita terhormat," ujar Reno tanpa basa-basi, tatapannya menyapu seluruh kamera siaran langsung.
Para wartawan mulai kasak-kusuk tegang.
"Foto-foto yang beredar dan dinarasikan secara liar oleh media serta akun-akun gosip tidak bertanggung jawab sejak kemarin..." pangkas Reno dengan nada dingin yang sarat akan ancaman, "...adalah narasi fitnah yang sepenuhnya salah!"
Reno memberikan sinyal pada Pak Aslan. Dengan cepat, layar proyektor raksasa di belakang Reno menyala, menampilkan salinan dokumen resmi berstempel negara.
"Wanita yang ada di dalam foto tersebut Aura Zhafira bukanlah seorang perusak hubungan orang, dan sama sekali bukan wanita seperti yang dituduhkan oleh fitnah murahan luar sana!" tegas Reno dengan suara lantang yang menggetarkan ruangan.
Reno menatap lurus ke arah kamera siaran langsung nasional dengan mata berkilat tajam.
"Aura adalah wanita terhormat. Dan dia... adalah ISTRI SAH dari Reno Adhyastha!"