NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa Dia Sudah Disini ?

Tak lama setelah meninggalkan butik, Kanaya dan Dinda berjalan menyusuri koridor mall menuju area parkir. Keramaian pengunjung yang lalu lalang perlahan tertinggal di belakang mereka, berganti dengan suasana basement yang jauh lebih lengang.

Langkah keduanya menggema pelan diantara deretan mobil yang terparkir rapi hingga akhirnya Kanaya menghentikan langkahnya didepan sebuah mobil berwarna putih.

Dinda langsung membuka pintu penumpang, sementara Kanaya masuk kebalik kemudi. Setelah meletakkan paperbag belanjaan di kursi belakang, ia menyalakan mesin mobil dan perlahan keluar dari area parkir.

Beberapa menit kemudian, mobil itu sudah melaju meninggalkan pusat perbelanjaan. Sore mulai beranjak menuju petang. Jalanan masih di padati kendaraan lewat yang silih berganti, sementara cahaya matahari perlahan berubah menjadi jingga, menyinari kabin mobil dengan hangat.

Selama beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Dinda diam-diam melirik ke arah sahabatnya yang sejak tadi fokus mengemudi. Wajah Kanaya terlihat setenang biasanya, seolah pertemuan dengan Dirga beberapa menit yang lalu tidak meninggalkan kesan apa pun.

"Nay..."

"Hmm?"

"Are you okay?"

Kanaya yang sejak tadi fokus mengemudikan mobil hanya melirik sekilas ke arah sahabatnya sebelum kembali memusatkan perhatian ke jalan raya yang mulai di padati kendaraan menjelang sore. Sudut bibirnya terangkat tipis, seolah pertanyaan itu terlalu mudah untuk dijawab.

"Hmm... oke kok. Kenapa?"

Dinda menghembuskan napas pelan sambil memutar tubuhnya menghadap Kanaya. Sedari keluar dari mall tadi ia terus memperhatikan ekspresi sahabatnya, berusaha mencari tanda-tanda bahwa perempuan itu sebenarnya sedang menyembunyikan sesuatu.

"Kok kenapa sih? Ya masa kamu liat calon suami kamu sama perempuan lain biasa aja?"

Kanaya terkekeh pelan. Jemarinya masih santai menggenggam setir, sementara pandangannya tetap lurus ke depan.

"Ya aku harus bersikap gimana, Din? Kita kan orang asing yang di jodohin. Jadi emangnya aku harus gimana?"

"Iya, tapi-..."

"Udahlah." Kanaya menggeleng pelan. "Kamu tenang aja. Semuanya aman, kok."

Dinda hanya mendecak pelan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi lalu menyilangkan kedua tangan didepan dada dengan wajah yang masih menyimpan rasa kesal.

"Soal tadi juga. Tiba-tiba dia mau bayarin, tapi cara ngomongnya nggak enak banget."

"Kayaknya emang orangnya begitu kali."

"Udah tau orangnya begitu, kenapa masih mau di jodohin, sih?"

Pertanyaan itu membuat Kanaya tersenyum tipis. Setelah beberapa saat terdiam, ia baru kembali membuka suara dengan nada yang jauh lebih lembut.

"Ya kan kita nggak tau, Din... Tuhan itu Maha membolak-balikkan hati manusia."

Kalimat itu membuat Dinda spontan menoleh. Tatapannya menyipit, lalu ia memperhatikan wajah Kanaya beberapa detik seolah sedang mencoba membaca isi kepalanya.

"Kamu..."

"Hmm?"

"Kamu tertarik ya, sama tuh orang?"

Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Kanaya tidak langsung menjawab. Ia terdiam cukup lama hingga hanya suara mesin mobil yang terdengar memenuhi kabin. Sesaat kemudian, senyum kecil kembali muncul di wajahnya.

"Sedikit..."

Dinda langsung membelalakkan mata. "Waduh...pantesan."

"Pantesan apaan?"

"Pantesan kamu kekeh banget nerima perjodohan ini." Dinda menggeleng pelan sambil menunjuk wajah sahabatnya. "Kayaknya kamu ada niatan buat luluhin hati dia, ya?"

Kanaya tertawa kecil. Bahunya terangkat samar sebelum akhirnya ia mengangguk pelan.

"Nggak menutup kemungkinan juga, sih. Soalnya kalau di pikir makin jauh... kayaknya dia itu sebenarnya baik."

"Dih..." Dinda langsung memasang wajah sebal. "Orang mukanya aja ngeselin."

Ucapan itu membuat Kanaya spontan melirik ke samping. Begitu melihat ekspresi sahabatnya yang benar-benar terlihat kesal, ia tidak lagi mampu menahan tawanya.

Tawa pelan itu memenuhi kabin mobil selama beberapa saat, hingga tanpa sadar Dinda yang semula masih cemberut akhirnya ikut tersenyum.

"Dasar," gumamnya sambil menggeleng pelan. "Heran deh sama kamu, Nay."

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil yang di kendarai Kanaya akhirnya berbelok memasuki kawasan perumahan tempat tinggal Dinda. Kecepatan mobil itu perlahan berkurang hingga akhirnya berhenti tepat didepan halaman rumah dua lantai bercat putih dengan taman kecil yang tertata rapi dibagian depan.

Mesin mobil masih menyala ketika Dinda lebih dulu melepaskan sabuk pengamannya. Ia memutar tubuhnya kebelakang untuk mengambil paperbag belanjaannya yang sedari tadi tergeletak di kursi belakang, lalu memangkunya sebelum kembali menoleh ke arah Kanaya.

"Thanks ya, Nay."

"Sama-sama, Din. Salam buat Om sama Tante, ya."

"Iya, nanti di salamin." Dinda tersenyum kecil, tetapi sebelum turun ia kembali menatap sahabatnya dengan tatapan penuh arti. "Kamu hati-hati, jangan ngelamun mikirin Dirga Atmajaya."

Ucapan itu sontak membuat Kanaya terkekeh.

"Hahaha... oke."

Dinda ikut tertawa pelan sebelum membuka pintu mobil. "Bye, Kanaya. Hati-hati, jangan ngebut."

"Iya, bawel."

"Biarin, hahahaha."

Dinda turun dari mobil sambil masih tersenyum, lalu menutup pintunya perlahan. Ia berdiri di halaman rumah dan melambaikan tangan hingga mobil Kanaya kembali bergerak meninggalkan pelataran rumahnya.

Kanaya sempat membunyikan klakson singkat sebagai balasan sebelum melajukan mobilnya keluar dari kawasan perumahan.

Sore perlahan berganti menjadi lebih gelap. Langit yang sejak tadi berwarna jingga mulai berubah keunguan, sementara lampu-lampu jalan satu persatu menyala menemani kendaraan yang lalu lalang memenuhi jalan raya.

Sepanjang perjalanan pulang, speaker mobil memutar lagu-lagu yang terdengar pelan memenuhi kabin. Kanaya mengemudi dengan santai, sesekali berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah. Ucapan Dinda beberapa menit yang lalu tanpa sadar kembali terngiang di kepalanya.

"Jangan ngelamun mikirin Dirga Atmajaya."

Kanaya hanya menggeleng kecil sambil tersenyum geli. "Dasar Dinda..."

...****************...

Hingga beberapa waktu kemudian, mobilnya berbelok memasuki kompleks tempat tinggalnya. Setelah melewati pos keamanan, ia terus melaju hingga akhirnya berhenti tepat dihalaman rumah.

Kanaya mematikan mesin mobil, lalu meraih paperbag belanjaannya yang terletak di kursi belakang sebelum turun dan mengunci pintu mobil menggunakan remote. Baru beberapa langkah berjalan menuju teras, langkahnya mendadak terhenti.

Keningnya berkerut pelan saat menyadari ada tiga mobil lain yang terparkir rapi di halaman rumahnya.

"Mobil siapa ini?"

Pandangan Kanaya menyapu satu persatu kendaraan yang sama sekali tidak di kenalnya. Dari dalam rumah terdengar suara beberapa orang yang sedang mengobrol, sesekali di selingi tawa yang terdengar cukup ramai.

"Apa ada tamu Ayah?" Gumamnya pelan sambil kembali melangkah. Rasa penasarannya semakin besar seiring langkahnya yang mendekati pintu utama. Dengan masih membawa paperbag di tangannya, Kanaya meraih gagang pintu dan perlahan membukanya.

Begitu pintu utama terbuka, langkah Kanaya kembali terhenti. Pandangannya langsung mengarah ke ruang tamu yang hari itu tampak jauh lebih ramai dari biasanya.

Wina duduk berdampingan dengan Laras disofa utama, sementara di hadapan mereka tampak beberapa orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Di atas meja tersusun beberapa lembar katalog, gulungan kain, serta beberapa kotak berisi contoh bahan yang sengaja di buka untuk di perlihatkan.

Kanaya mematung beberapa detik di dekat ambang pintu. Ia mengedarkan pandangannya perlahan, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.

Namun, pandangannya akhirnya berhenti pada sosok yang duduk di sofa paling ujung.

Seorang pria dengan kemeja hitam berlengan panjang yang di gulung hingga siku, duduk tenang dengan posisi bersandar. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Saat menyadari kehadiran Kanaya, pria itu perlahan mengangkat kepalanya dan menoleh ke arahnya.

Dirga Atmajaya.

Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun Kanaya hanya bisa menghembuskan napas pelan tanpa sadar.

Kenapa dia sudah ada di sini...? batinnya.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!