NovelToon NovelToon
Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Suamiku yang "Gila" Ternyata CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Identitas Tersembunyi / Psikopat itu cintaku / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Masakan Pertama

Dalam dua puluh menit, meja makan Pavilion berubah wajah.

Ada nasi hangat, telur dadar, ayam suwir bumbu kecap, tumis buncis, potongan pepaya, dan teh panas. Semua itu masih sederhana dibanding meja makan utama Kediaman Liem, tetapi untuk Pavilion, rasanya seperti perayaan kecil.

Reynard menatap makanan di depan mereka. "Banyak."

"Tidak banyak. Ini normal."

"Bubur tadi?"

"Itu penghinaan."

Reynard memegang sendok, menunduk agar wajahnya tidak terlihat jelas. "Kei marah karena Rey?"

"Aku marah karena mereka keterlaluan."

"Sama saja."

Keira terdiam, lalu mendorong piring telur lebih dekat kepadanya. "Makan."

Ia makan perlahan. Setiap suap seolah ia ukur dulu, bukan karena tidak suka, tetapi karena tidak terbiasa. Keira mengawasinya beberapa detik, lalu bangkit menuju dapur. Bahan makanan baru saja dikirim dalam beberapa kantong besar. Beras, telur, sayur, ayam, ikan, buah, bumbu dasar, bahkan susu dan madu.

Untuk pertama kalinya, kompor Pavilion menyala.

Aroma bawang putih dan minyak wijen memenuhi dapur kecil. Keira menggulung lengan bajunya dan memasak mi kuah sederhana untuk makan siang. Ia tidak sadar kamera kecil di sudut ruang tengah bergerak pelan mengikuti aktivitasnya.

Di ruang kerja, Reynard menatap layar tablet.

Wajah polosnya hilang.

Ia melihat Keira meniup uap dari panci, mencicipi kuah, lalu menambahkan garam sedikit. Gerakannya cekatan, seperti perempuan yang tidak asing dengan dapur, tetapi tetap punya sikap seseorang yang biasa memimpin. Kontras itu membuat Reynard sulit mengalihkan mata.

Ponselnya bergetar. Evan mengirim pesan.

Bro, dapur utama panas. Katanya istrimu memecat orang pagi-pagi.

Reynard mengetik satu tangan.

Bagus.

Evan membalas cepat.

Kau menikmati ini?

Reynard melihat Keira memasukkan telur ke dalam air mendidih.

Sangat.

Siang itu, Keira membawa dua mangkuk mi ke ruang kerja. Ia menemukan Reynard sudah kembali memegang Rubik, wajahnya polos seperti tidak ada tablet menyala di bawah meja.

"Makan di meja?"

Reynard menggeleng. "Di karpet."

"Kenapa?"

"Lebih enak."

Keira menatap karpet yang sudah ia bersihkan pagi tadi. "Baik. Tapi jangan tumpah."

Mereka duduk di karpet, mangkuk diletakkan di meja rendah. Reynard meniup mi terlalu lama sampai Keira mengambil sendok dan mencicipi kuahnya sendiri.

"Tidak panas."

"Kei suapi?"

Keira menatapnya datar.

Reynard menatap balik dengan mata bulat yang terlalu tenang.

"Tanganmu sehat."

"Tapi Kei masak."

"Rey."

"Satu saja."

Keira kalah lagi. Ia menyuapkan satu sendok kuah dan mi. Reynard memakannya, lalu matanya sedikit melebar. Ekspresi itu tidak besar, tetapi cukup membuat Keira merasa seperti baru memenangkan penghargaan.

"Enak?"

Reynard mengangguk.

"Bagus. Makan sendiri."

Ia mulai makan. Di dasar mangkuknya, sendok menyentuh sesuatu yang berbeda. Reynard mengangkatnya perlahan. Sebutir telur rebus setengah matang tersembunyi di bawah mi, kuningnya masih lembut.

"Telur?"

"Bonus untuk suami yang tadi pagi tidak jadi makan bubur sisa."

Untuk beberapa detik, wajah Reynard kehilangan semua aktingnya.

Ia tersenyum.

Bukan senyum polos yang dipasang untuk menipu keluarga Liem. Bukan senyum miring saat ia menertawakan orang bodoh. Senyum itu kecil, hangat, dan terlalu cepat hilang, tetapi Keira melihatnya.

Jantungnya seperti tersandung.

"Tunggu." Ia refleks mengambil ponsel. "Senyum lagi."

Reynard langsung menoleh ke samping. "Tidak."

"Sekali saja."

"Tidak mau."

"Rey, itu tadi bagus."

"Jelek."

"Kamu bilang semua hal jelek kalau tidak mau difoto."

Reynard memeluk mangkuknya sedikit. "Punyaku."

Keira tertawa. "Baik. Senyummu milikmu."

Mereka masih makan ketika pintu Pavilion diketuk cepat. Naomi masuk dengan wajah bersemangat bahkan sebelum Keira selesai menjawab.

"Kak Keira!" Ia berhenti di ambang ruang kerja, melihat mereka duduk di karpet dengan mangkuk mi. "Astaga. Ini suasana apa? Pengantin baru hemat budget?"

Keira mengangkat alis. "Masuklah, Nao."

Naomi duduk tanpa diminta. Matanya berbinar. "Kak, dapur utama heboh. Satu pelayan dipecat, Pak Hendra pucat, Tante Tina katanya sudah dapat laporan. Kakak latihan apa sih? Bos wanita dan suami manjanya!"

Reynard menatap Naomi. "Rey tidak manja."

Naomi hampir tersedak tawa. "Koh Rey duduk di karpet minta disuapi. Itu definisi manja."

Keira menyembunyikan senyum di balik mangkuk.

Naomi kemudian mencondongkan badan. "Tapi serius, Kak. Terima kasih sudah membela Koh Rey. Selama ini aku sering kesal, tapi di rumah ini aku tidak punya kuasa."

Keira melirik Reynard. Pria itu kembali menunduk ke Rubik, seolah tidak mendengar. Namun jari-jarinya berhenti.

"Mulai sekarang Pavilion punya kuasa sendiri," kata Keira. "Setidaknya untuk urusan makan."

"Aku dukung." Naomi mengangkat tangan. "Dan soal kerjaan, aku juga dukung. Naskah yang Kakak bahas kemarin, aku bisa bantu revisi. Aku punya cerita lama, judulnya Diary Sang Nona. Mungkin bisa jadi dasar."

Mata Keira langsung menyala. "Kirim padaku."

"Siap, Kak."

Naomi tidak hanya bicara. Ia membuka ponsel saat itu juga, mengirim file, lalu ikut menggeser mangkuk kosong ke nampan. Gerakannya kikuk karena jelas jarang mengangkat piring sendiri, tetapi ia melakukannya dengan wajah serius.

"Kamu tidak perlu membereskan," kata Keira.

"Perlu. Kalau aku cuma datang membawa kabar lalu makan mi, aku sama saja seperti tamu tidak tahu malu."

"Kamu tidak makan."

"Tapi aku mencium aromanya. Itu sudah termasuk menikmati fasilitas."

Keira tertawa. Suara itu membuat Reynard menoleh sebentar dari Rubik. Ia jarang mendengar tawa seperti itu di Pavilion. Biasanya bangunan ini hanya berisi suara roda kursi, langkah pelayan yang buru-buru, dan pintu yang ditutup pelan supaya tidak mengundang perhatian.

Naomi menurunkan suara. "Kak, nanti kalau Celine tahu proyek itu ditarik, dia pasti mengamuk. Brandon juga."

"Bagus. Orang yang terlalu lama memakai barang orang lain memang perlu kaget saat barangnya diambil kembali."

"Kakak benar-benar tidak mau memberi Celine kesempatan?"

Keira memandang mi yang tersisa di mangkuknya. "Kesempatan untuk apa? Menangis di depan kamera? Membuatku terlihat sebagai kakak yang iri? Aku sudah cukup lama menjadi panggung untuk mereka."

Reynard memutar Rubik satu klik.

Naomi meliriknya, lalu tersenyum kecil. "Kalau begitu aku berdiri di sisi Kakak."

"Jangan berdiri hanya karena kasihan padaku."

"Bukan karena kasihan. Karena aku juga muak melihat orang di rumah ini pura-pura tidak melihat siapa yang melukai siapa."

Kalimat itu menetap di udara, jujur dan terang.

Percakapan mereka mengalir lebih ringan setelah itu. Untuk pertama kalinya, Pavilion tidak terasa seperti tempat penyimpanan. Ada suara sendok, aroma mi, Naomi yang ribut, Keira yang sesekali tertawa, dan Reynard yang diam tetapi tidak menjauh.

Menjelang pulang, Naomi tiba-tiba teringat sesuatu.

"Oh iya." Wajahnya berubah agak hati-hati. "Kak Keira, soal kejadian pagi ini sudah sampai ke Oma."

Keira berhenti merapikan mangkuk. "Oma Liem?"

Naomi mengangguk. "Oma bilang ingin bertemu cucu menantu barunya."

1
aku
bro rey apa yg di belakang layar nnti jd pendampingmu key 😁😃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!