Melati...
Cantik, kan? Tentu saja. Nama itu sesuai dengan parasku.
Cantik, anggun dan berkelas.
Semua ku dapat dalam genggamanku. Semuanya. Tapi tidak dengan kebahagiaan.
Akankah kutemukan kebahagiaan itu? Apakah masih ada jatah bahagia untuk seorang ja lang sepertiku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jenk kelin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Lia Pelakor
Saat aku masih saja menatap Rama dalam diam, Brian menyentuh lenganku perlahan.
Aku tidak menatapnya, malas melihat ekspresinya, aku hanya menunduk sambil terpejam.
Saat dia meraih jemariku dan membawanya melangkah perlahan pun, aku pasrah.
Kini kami sudah duduk di kantin rumah sakit. Nyawaku seperti kembali saat mencium aroma telur dadar yang khas, seperti kompak dengan otakku, perutku ikut berbunyi.
Brian sampai menahan tawanya, saat melihatku nyengir sambil memegangi perut.
Aku melirik ponsel, pantas saja lapar, ini sudah jam makan siang.
"Mau makan apa?" Tanya Brian sambil menyodorkan buku menu.
Aku mengedarkan pandanganku, menelisik suasana kantin. Setengah heran karena ada buku menu segala sekelas kantin rumah sakit.
Wow! Aku baru sadar, ada koki juga di sana sedang lincah mengolah makanan. Ini sih sekelas restoran hotel berbintang.
Gila, jariku otomatis langsung mengetikkan kata kunci 'Marina Medika'.
"Jangan sembarangan cari info tentang Marina group." Tegur Brian, jariku langsung menegang.
Aku memang awam soal dunia bisnis, ini siapa, punya siapa, andilnya apa, aku tak tahu.
"Rumah sakit ini milik Atmanegara."
Tapi jika menyebut -nama yang tak boleh disebut- itu, otomatis nyaliku menciut. Dulu beberapa kali, sempat ku dengar Papa menyebut nama itu. Orang searogan bapakku pun, sepertinya enggan mengusik orang ini.
( Pak Atmanegara ada di novel Sexy, Naughty, Bitchy Me yaaa... Cekidot )
"Yan..." Bisikku sambil meletakkan ponselku di meja. "kok aku jadi penasaran sih, soal Atmanegara itu? Apa bisa..."
"Nggak!" Potong Brian, seperti paham maksudku membicarakan sang legend.
"Nggak usah kegatelan! Pak Atma nggak mungkin mau sama kamu." Ucap Brian ketus.
Aku cemberut, "kan belum dicoba."
"Sebelum nyoba, kamu sudah di tendang duluan."
"Sadis amat."
"Jadinya makan apa ini?" Brian mengalihkan obrolan kami.
"Nih." Aku menunjuk gambar menu paket Bebek Peking yang tampak menggiurkan. Sekilas kulitnya mirip-mirip crispy pork belly. Nggak tau enak mana, aku belum pernah makan babi soalnya.
Kalu soal bebek Peking sih, sudah pasti enak. Garing di luar dan lembut di dalam. Tak sadar aku menelan ludah, membayangkan rasa khas bebek Peking.
Brian memanggil waiters, lalu memesannya.
"Jadi, gimana ceritanya Rama bisa begitu?" Brian mulai mengintrogasi saat waiters berlalu meninggalkan kami.
Aku menghela nafas.
"Bisa nggak ceritanya habis makan?" Tawarku, sebenarnya agak malas menjelaskan ini ke Brian dalam keadaan lapar, soalnya nanti ujung-ujungnya pasti adu mulut.
Jangankan adu mulut, bercinta aja butuh tenaga. Iya nggak sih?
Bisa jadi, nanti setelah mulutku berbusa, dia akan mengerti dan simpati. Kemungkinan buruknya, dia malah nggak peduli. Kentara sekali kan, dia nggak suka sama Rama?
Dia merilekskan bahunya di sandaran kursi sambil menatapku.
"Jadi, kapan kamu siap aku nikahi?" Gumamnya, perlahan namun tajam.
Mulai deeehhh...
Aku menipiskan bibirku, "dalam keadaan gini, kamu masih aja bahas nikah, nikah, nikaaaahhh aja terus!" Aku mulai kesal.
Brian tersenyum sinis, "kamu boleh lari kemana aja, tapi menikah denganku adalah mutlak." Pupusnya, tepat saat Bebek Pekingku datang.
Aku Makan dengan lahap sambil menatap Brian, berharap si Bebek yang ku koyak pakai gigi adalah muka songong si Yayan.
Kalau sudah begini, aku mati kutu.
***
Zain menatap Dewan dengan pandangan yang sulit diartikan. Entah apa isi kepalanya saat ini. Ia memang tak suka dengan Melia sejak tahu jika wanita itu adalah...
Yah, seperti yang reader ketahui, lah.
Apalagi kakaknya ngebet banget pingin kawin sama tuh cewek. Dan ternyata efeknya jadi ke chemistry antara dia dan Dewan.
Sedikit banyak, Zain menatap Dewan dengan pandangan berbeda. Sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan tapi otaknya otomatis langsung men judge Dewan yang tidak-tidak.
"Oi! Lo demen ama si Dewan? Gitu amat melototinnya?!" Jeffry mengibaskan tangannya didepan wajah Zain.
Jeffry berasa ada ditengah-tengah dua asmara yang sedang membara, saling lihat-lihatan. Hanya mata yang bicara, tanpa kata.
Dari tadi loh, ini.
Zain melengos sambil menyugar rambutnya. Ia bersiul kecil saat segerombolan cewek sexy lewat disamping mereka.
Beberapa cewek membalas siulan nakal Zain dengan kiss jauh.
"Lo, ada yang mau di tanyakan ke gue?" Dewan yang merasa risih dari tadi di pelototin Zainal, akhirnya nggak kuat juga. Terlalu mesra gaesss...
"Gue tahu, selama ini tak pernah ada dusta diantara kita." Zain menjeda ucapannya, wajahnya serius, membuat Dewan dan Jeffry ikutan serius.
"Lo pasti tahu kan, kalau Kak Brian mau nikah sama Kakak lo? Gue cuma pingin lo jujur, ada konspirasi apa ini sebenarnya? Lo tahu kan, Kak Brian sudah berkeluarga?"
"Tunggu!" Jeffry mengangkat tangannya, menginterupsi. "Ada apa ini sebenarnya? Apa cuma gue yang nggak tahu apa-apa disini?" Tanyanya penuh sakit hati.
Dewan menatap tajam ke arah Zain, ia tak memperdulikan protes Jeffry.
"Jadi karena ini, sikap lo aneh hari ini?" Jawab Dewan, ganti bertanya.
Zain mengangkat bahunya, "nggak heran, kan? Gue shock saat tahu Kak Lia..."
"Kenapa Kakak gue?" Dewan mulai sinis.
"Cantik sih, tapi... Pelakor." Gumam Zain, dia tidak bermaksud menyinggung Dewan sebenarnya. Ia hanya membeberkan sesuatu yang mengganjal dihatinya sejak kemarin.
Dewan mendengus, ia tidak marah. Zain sudah tahu, ini malah membuatnya malu. Salah satu konsekuensi jika orang-orang tahu siapa Kak Lia sebenarnya.
Tapi Dewan sangat menyukai Brian. Ia berharap Brian tetap menjadi Kakak iparnya, apapun yang terjadi.
"Seharusnya, lo bisa mencegah ini terjadi. Bukan hanya diam, seolah buta dan tuli." Sinis Zain.
"Kenapa lo nggak nanya langsung ke kakak lo? Dia sudah beristri, tapi masih mau nikahi kakak gue? Kira-kira apa yang salah di rumah tangga kakak lo?"
"Kalau Kak Lia nggak ada, mungkin ini nggak akan terjadi." Sesal Zain.
"Ini urusan mereka, kenapa lo yang ikutan ribet?"
"Gue cuma nggak tega lihat Dara disakiti."
Dewan menyeringai.
"Atau jangan-jangan, ini karena lo suka ke Dara?"
Zain melirik Dewan, "dia kakak ipar gue, gila lo?"
"Nggak ada yang nggak mungkin, masalah hati siapa yang tahu? Harusnya lo kasihan ke Kakak lo kalau sampai nikah sama pelakor macam kak Lia, bukannya kasihan ke Dara. Sadar lo!"
Zain mendengus kesal. Ia melirik Jeffry yang melipat tangannya sambil memandang keduanya dengan sorot mata membunuh.
"Gue cabut." Pamit Dewan sambil beranjak dari duduknya.
Zain ikut berdiri.
"Kemana lo?" Sentak Jeffry galak.
"Cabut gue." Sahut Zain.
"Duduk dan jelasin." Perintah Jeffry.
"Elah, Jeff... Panjang ceritanya. Gue ada kelas habis ini."
"Lo kan yang bilang, nggak ada dusta di antara kita? Gue jadi kambing congek tau nggak? Sekarang duduk!"
Zain mendengus lalu melempar tasnya lagi.
***
bang Brian memberi restu kalian ko
brian cuma lg nguji kamu doang biar makin kuat
kamu juga harus ikut memperjuangkan ketulusan. cinta dewan
buat Zain kamu hebat bisa menyadarkan marni
tokoh tokohnya keren
dialognya kekinian membuat para pembaca terkoneksi ke situasinya.
tulisannya menjadi candu yg nikmat terasa saat dibaca.
great job
you're the best Jeng Kelin ❤️🌹
adegan situasinya..
dialognya..
complicated nya..
haa haa haa 🤣
you did it JENG KELIN ❤️🌹