NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embrio yang gugur

"Kalau saya lihat dari hasil AMH (anti-mullerian hormone) cadangan sel telur anda masih memungkinkan untuk menjalani program IVF lagi. Hanya saja..." dokter paruh baya itu membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot, seolah menimbang kata-kata yang akan ia sampaikan berikutnya.

"Kondisi rahim anda saat ini sudah sangat mengkhawatirkan," lanjutnya hati-hati.

Zulfa mengernyit, sedikit terkejut. 

"Mengkhawatirkan bagaimana, dok?" Zulfa mulai terlihat cemas, apalagi tamu bulanannya selalu membuat perutnya sakit hingga keluar darah dengan jumlah yang tak semestinya.

Endometriosis kronis yang dialami Zulfa membuatnya sulit hamil alami, jalan satu-satunya bayi tabung. Meski demikian Zulfa tak pernah menyerah untuk bisa hamil dengan cara itu, walau rasa sakit di perutnya seringkali menyiksanya.

"Sebaiknya anda fokus ke pengobatan dulu. Saya masih perlu melakukan terapi hormon agar rahim anda benar-benar siap untuk mejalani progam hamil lagi."

"Kenapa penyakit ini harus tumbuh lagi, dok? tolong kasih saya solusi lain agar saya bisa segera melanjutkan progam hamil lagi. Dan apa ada kemungkinan saya bisa hamil dengan kondisi seperti ini?" tanya Zulfa parau dengan kecemasan yang melingkupi dada.

"Sejak awal saya sudah menjelaskan, bahwa pengangkatan Endometriosis tidak menjamin dia tidak akan tumbuh kembali. Pada pasien dengan riwayat tersebut kemungkinan tumbuh kembali tetap ada, bahkan dalam waktu yang relatif singkat. Biasanya pertumbuhan ini akan berhenti saat memasuki masa menopause. Meski demikian, kami masih bisa menekan pertumbuhannya dengan terapi hormon. Dalam beberapa kasus pasien penderita endometriosis tetap bisa hamil, tapi tetap perlu penanganan khusus agar pasien tersebut bisa melahirkan dengan sehat dan selamat."

Zulfa menarik napas panjang. "Lalu... bagaimana solusinya, dok? kalau memang harus operasi lagi, saya siap. Yang penting saya bisa punya anak." Dalam diri Zulfa, ia sama sekali tidak takut akan dinginnya ruang operasi dengan berbagai macam alat medis yang siap mengobrak-abrik rahimnya lagi. Baginya di sindir atau di cela karna tak hamil-hamil jauh lebih menyakitkan daripada terkena sayatan pisau operasi.

Dokter Syarif menatapnya dengan raut serius. "Mohon maaf, Nyonya Zulfa. Saya tidak menyarankan operasi ulang. Risiko terhadap cadangan sel telur anda cukup besar. Dari hasil USG terlihat adanya perlengketan pada ovarium Anda, dan itu sangat berisiko. Dalam kondisi normal, di usia anda yang sekarang, cadangan sel telur seharusnya masih cukup baik. Namun, keberadaan endometriosis ini membuat jumlah dan kwalitasnya terus menurun."

Dokter Syarif menjeda ucapannya sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Namun perlu anda ketahui, seperti yang saya jelaskan tadi, tidak semua endometriosis menghambat kehamilan. Dalam banyak kasus banyak juga yang terjadi kehamilan. Ini hanya soal kehendak Yang Maha Kuasa saja."

Zulfa hanya tertunduk. Penjelasan itu logis dan tak ada yang keliru. Namun tetap saja, dadanya terasa sesak, seolah ada beban besar yang menindihnya. Seberapa keras pun ia berusaha, jika Tuhan belum berkehendak, Dia bisa apa? selain hanya berusaha dan berserah, meski rasa sedih itu tetap tak mudah ditahan.

"Lalu bagaimana dok? apa itu artinya saya masih belum bisa melanjutkan progam ini lagi?" suaranya nyaris berbisik, sarat keputusasaan.

"Sebagai solusi terbaiknya, terapi hormon tetap harus dilanjutkan terlebih dahulu untuk menekan pertumbuhan endometriosis agar tidak mengganggu proses progam hamil nanti." jawab dokter Syarif tegas namun tetap hangat. 

"Baik kalau begitu, dok. Saya siap menjalani terapi apapun." Ucap Zulfa mantap. Kali ini ia begitu menunjukkan semangatnya untuk siap berjuang lagi.

"Jarang saya menemui pasien segigih anda nyonya, yang tidak mengenal kata menyerah." Puji dokter tersebut. "Semoga kali ini usaha anda berhasil." Lanjutnya memberi semangat.

"Terimakasih dok untuk pujiannya. Semoga dokter juga tidak bosan untuk terus mendampingi saya selama menjalani progam hamil ini." Kata Zulfa.

"Sebagai seorang dokter saya hanya bisa berusaha semaksimal mungkin untuk memberi yang terbaik untuk setiap pasien."

"Baik dok, kalau begitu saya pamit dulu, saya akan coba berbicara dengan suami saya sebelum melanjutkan progam hamil lagi."  Zulfa berdiri, menjabat tangan sang dokter, lalu membawa beberapa lembar rekam medisnya—termasuk hasil USG terbaru yang masih terasa berat untuk ia lihat, apalagi di ceritakan.

Sebenarnya, Zulfa belum benar-benar siap untuk kembali menjalani program kehamilan. Lima kali kegagalan bayi tabung meninggalkan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun, setiap sindiran dari keluarga dan orang sekitar perlahan menumbuhkan tekad dalam dirinya—tekad yang bercampur antara harapan dan tekanan.

Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Arslan belum juga datang.

Padahal mereka sudah berjanji bertemu di rumah sakit. Arslan memintanya datang lebih dulu, lalu menyusul setelah urusannya selesai. Namun hingga kini, sosok itu belum juga terlihat.

Saat pandangannya sibuk menyapu area sekitar, ponselnya berdering.

Nama Arslan tertera di layar. Zulfa segera mengangkatnya.

Dari seberang sana, Arslan meminta maaf. Urusan dengan kliennya belum selesai, dan ia tak bisa menemani Zulfa kontrol hari ini. Zulfa menghela napas pelan, namun tetap berusaha memahami. Ia sudah terbiasa menghadapi semuanya sendiri—ruang tunggu, ruang periksa, hingga mendengar vonis dokter.

Arslan menanyakan hasil pemeriksaan, tetapi Zulfa memilih untuk menceritakannya nanti di rumah. Baginya, ini terlalu pribadi untuk dibicarakan di tempat umum.

Sesampainya di rumah, Zulfa duduk termenung di taman belakang. Di hadapannya, kolam renang membentang tenang, memantulkan cahaya sore yang redup.

Di tangannya, lembar demi lembar rekam medis kembali ia buka.

Hingga akhirnya, pandangannya berhenti pada satu gambar.

Berwarna hitam putih, kecil, rapuh. Namun pernah hidup. Dia adalah embrio miliknya yang telah lama gugur dalam rahimnya. Air mata Zulfa jatuh tanpa permisi. Kejadian beberapa bulan silam kembali berputar di otaknya.

"Kenapa dulu kamu nggak bertahan di rahim mama, nak?" bisiknya lirih.

 "Apa rahim mama nggak cukup nyaman buat kamu hidup? atau memang kamu belum mau hadir di perut mama?" tangisnya pun pecah.

"Maaf ya... kalau tubuh mama ini penuh kekurangan ... "

Kesedihan lama kembali menyeruak, menghantamnya tanpa ampun. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepalanya—tentang kesiapan, tentang harapan, tentang tekanan dari semua orang.

Tentang Arslan.

Tentang keluarganya.

Tentang dirinya sendiri.

Ia merasa lelah. 

Sangat lelah.

Zulfa sudah mengorbankan banyak hal, bahkan meninggalkan kariernya demi satu harapan—memiliki anak. Namun hingga kini, harapan itu masih terasa jauh. Pernah ada yang mengatakan semua ini  akibat dosa-dosanya terlalu banyak. Dosa apa? selama ini Zulfa selalu menjadi anak yang baik, anak yang berbakti dan taat pada orang tua, dan menjadi istri yang selalu di sayang suami.

Zulfa menutup mata rapat. Tidak.

Ia menolak mempercayai itu. Ujian bukan tentang hukuman, tapi tentang seberapa kuat seseorang bertahan dan seberapa ikhlas mereka menjalani takdirnya.

Itulah yang selalu Arslan katakan untuk menenangkannya. Dan untuk itu, Zulfa selalu bersyukur memiliki suami seperti Arslan—yang selalu berdiri di sisinya, melindunginya dari luka, dan merangkulnya saat ia hampir runtuh.

***

Suara mobil Arslan terdengar, dari caranya memarkirkan mobil, Arslan terlihat terburu-buru. Ia memanggil salah satu pelayan di rumahnya dan menanyakan keberadaan istrinya. Lalu langkah Arslan bergerak menuju taman belakang tempat sang istri berada.

Langkahnya terhenti saat menatap wanitanya yang sedang menangis sambil memegang kertas kecil yang ia kenal. Dia sedang meratapi embrio-nya yang telah lama gugur. Arslan tak akan pernah bisa melupakan reaksi istrinya saat progam IVF-nya selalu gagal. Dan itu turut membuat hatinya juga terluka.

"Maaf ya, Sayang ... aku terlambat." Suara Arslan membuyarkan lamunannya.

Zulfa buru-buru menghapus air matanya dan merapikan berkas di pangkuannya.

Arslan mendekat, lalu berjongkok di hadapannya, menatap wajah istrinya dengan penuh perhatian.

"Pasti hasilnya nggak sesuai harapan, ya?" ucapnya lembut.

 "Sampai kamu kelihatan sesedih ini..."

Seberapa pun Zulfa berusaha menyembunyikan luka di hatinya, Arslan selalu bisa melihatnya.

"Dokter menyarankan agar aku lebih fokus melakukan pengobatan terlebih dahulu. Baru bisa memulai progam lagi." Arslan menyapu air mata yang tiba-tiba menetes di pipi sang istri.

"Kalau memang itu yang harus dilakukan ya lakukan saja. Aku juga nggak tega liat kamu sering kesakitan tiap kali datang bulan, lebih baik kita fokus dengan sesuatu yang lebih penting, yaitu kesehatan kamu."

Suara Arslan terdengar parau. Ia menjadi merasa bersalah karna ucapannya kemarin membuat istrinya jadi bersedih. Ini semua karna sang ibu. Arslan sudah berikrar dalam hatinya bahwa ia tidak akan pernah menuruti permintaan ibunya itu. Arslan akan terus berjuang memiliki anak bersama istrinya, tetapi tidak dengan mengorbankan kesehatan istrinya.

"Bagaimana kalau kita pindah dokter saja?" 

Ditengah kegalauan Arslan, tiba-tiba Zulfa mencetuskan ide tak terduga.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!