Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kabar dari Desa Kaki Gunung
Dua hari telah berlalu sejak badai dahsyat di puncak gunung kedua. Kini, langit di atas mereka cerah dan biru, dan suhu udara mulai menghangat. Mereka akhirnya turun dari ketinggian pegunungan dan mulai memasuki wilayah perbukitan yang lebih rendah. Pepohonan di sekitar mereka berubah dari pinus lebat menjadi pohon-pohon rindang, dan sesekali mereka bisa melihat hamparan sawah kecil di lembah-lembah di bawah.
"Kita sudah melewati dua gunung," kata Derek sambil menunjuk ke depan. "Gunung ketiga akan kita lewati besok. Tapi sebelum itu, kita harus berhenti di sebuah desa kecil di kaki gunung ini. Namanya Desa Hujan Emas."
Viona mengangkat alisnya. "Hujan Emas? Nama yang aneh."
"Konon, dahulu kala, ada seorang pedagang yang kehilangan sekantong emas di sungai dekat desa itu. Saat hujan turun, butiran emas itu berkilauan di dasar sungai hingga penduduk setempat melihatnya. Mereka menggelar pesta besar dan menamai desa itu sesuai peristiwa itu."
Viona tersenyum mendengar cerita itu. "Kau tahu banyak cerita rakyat, Derek."
"Aku banyak membaca," jawab Derek datar, tetapi matanya sedikit berbinar. "Dan aku juga sering berinteraksi dengan para pedagang yang lewat. Mereka suka bercerita."
Mereka melanjutkan perjalanan, dan menjelang sore, mereka akhirnya tiba di pinggiran Desa Hujan Emas. Desa itu tidak terlalu besar—hanya sekitar tiga puluh rumah yang terbuat dari kayu dan batu, dengan sebuah pasar kecil di pusat desa. Asap mengepul dari cerobong asap, menandakan bahwa penduduk desa sedang memasak makan malam.
Namun, saat mereka mendekati gerbang desa, Derek tiba-tiba menghentikan kudanya. Matanya menyipit, menatap ke arah pos penjagaan di depan.
"Ada yang tidak beres," gumam Derek.
Viona mengikuti arah pandangannya. Di pos penjagaan itu, ada dua orang pria berseragam yang tidak mengenakan pakaian desa biasa. Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang singa emas di dada.
"Apa itu?" tanya Viona, suaranya berbisik.
"Itu seragam pasukan khusus Kerajaan Timur," jawab Derek dengan nada yang sangat pelan. "Mereka bukan tentara biasa. Mereka adalah pasukan bayaran yang sering digunakan oleh Dewan Raja untuk misi-misi rahasia."
Jantung Viona berdegup kencang. "Mereka mencariku?"
"Mungkin. Atau mungkin mereka sedang mencari barang selundupan. Tapi kita tidak bisa mengambil risiko."
Derek segera menarik kudanya ke belakang, bersembunyi di balik rumpun pohon besar di pinggir jalan. Viona mengikutinya dengan cepat.
"Kita harus mengubah rencana," kata Derek. "Kau tidak bisa masuk ke desa dengan wajah seperti ini. Kau terlalu mencolok."
"Maksudmu... aku harus menyamar lagi?"
"Bukan hanya pakaian. Kita harus mengubah penampilanmu." Derek mengeluarkan sebilah pisau kecil dari sakunya. "Kau harus memotong rambutmu."
Viona membelalak. "Memotong rambutku? Ini rambut yang sudah dirawat selama bertahun-tahun!"
"Atau kau mau ditangkap oleh pasukan Dewan Raja dan dibawa kembali ke Kerajaan Timur sebagai tahanan?" Derek menatapnya tajam. "Pilihan ada di tanganmu, Putri."
Viona menghela napas panjang. Ia tahu Derek benar. Rambut panjangnya yang berwarna cokelat keemasan adalah ciri khas yang sangat mudah dikenali. Ia mengangguk dengan berat hati.
"Baik. Potong."
Derek tidak membuang waktu. Ia dengan cekatan memotong rambut Viona hingga sebatas bahu, merapikannya agar terlihat seperti potongan rambut biasa gadis desa. Ia juga mengoleskan sedikit lumpur kering di wajah Viona agar kulitnya yang putih bersih tidak terlihat terlalu mencolok.
"Kau terlihat seperti anak desa yang baru pulang dari ladang," kata Derek, sedikit tersenyum. "Cukup meyakinkan."
Viona menggerutu, tetapi ia tahu ini demi keselamatannya. "Baik. Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan tetap terlihat seperti pemburu biasa. Tidak ada yang mencurigakan." Derek memasukkan pisau dan menyembunyikan sisa rambut Viona di dalam tas. "Kita akan masuk ke desa secara terpisah. Kau akan berjalan kaki dan bertemu denganku di penginapan kecil di sebelah timur pasar. Jangan berbicara dengan siapa pun. Jangan menatap mata tentara itu. Dan yang paling penting—jangan pernah memanggil namaku."
Viona mengangguk. "Mengerti."
Mereka berpisah di pinggir hutan. Derek mengambil jalur yang lebih jauh, memutar melalui area persawahan, sedangkan Viona berjalan langsung menuju gerbang desa dengan langkah pelan dan kepala tertunduk.
Saat ia melewati pos penjagaan, salah satu tentara berseragam hitam menatapnya. Viona merasakan jantungnya hampir berhenti. Namun, ia terus berjalan tanpa mengubah ekspresi wajahnya, berusaha terlihat seperti gadis desa yang sedang lelah. Tentara itu akhirnya mengalihkan pandangannya, dan Viona berhasil melewati gerbang dengan selamat.
Ia berjalan cepat menuju penginapan yang disebutkan Derek. Bangunannya kecil, terbuat dari kayu tua, dengan tanda kayu yang bertuliskan "Penginapan Bintang Fajar". Viona masuk ke dalam, menemukan sebuah meja kosong di sudut, dan duduk di sana dengan napas lega.
Tak lama kemudian, Derek masuk dengan langkah santai. Ia duduk di seberang Viona, memesan dua cangkir teh hangat dan sepotong roti.
"Kau berhasil," kata Derek pelan, dengan senyuman kecil. "Bagus."
"Jantungku hampir copot," bisik Viona.
"Kau akan terbiasa. Di luar istana, kamu harus selalu waspada."
Mereka minum teh dalam keheningan selama beberapa menit. Namun, saat Derek sedang mengambil roti, seorang pria tua dengan pakaian lusuh duduk di meja sebelah. Pria itu berbicara dengan suara yang cukup keras hingga Viona bisa mendengarnya.
"Kau dengar berita dari Kerajaan Timur?" tanya pria tua itu pada temannya.
"Berita apa?"
"Tentang Pangeran Neil. Konon, ia menolak menikahi Putri dari Kerajaan Barat. Ia bilang ia mencintai orang lain, dan tidak mau menikah dengan wanita yang belum pernah ia temui."
Viona terdiam. Sendok teh di tangannya berhenti bergerak.
"Benarkah?" teman pria tua itu bertanya heran. "Tapi perjodohan itu sudah diumumkan secara resmi. Bagaimana Dewan Raja bisa menerima?"
"Dewan Raja marah besar. Tapi Neil tetap bersikeras. Katanya, ia lebih memilih diasingkan daripada menikah dengan paksa. Bahkan ada rumor bahwa ia sudah melarikan diri dari istana."
Viona memucat. Pria tua itu melanjutkan ceritanya, tetapi telinga Viona sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Dunia di sekelilingnya terasa berputar.
Neil... Neil menolak menikahiku? Ia tidak mau?
Ia menatap Derek, dan Derek juga menatapnya. Tatapan Derek sulit diartikan—ada sedikit kejutan, tetapi juga ada sesuatu yang lebih dalam, seperti Derek tahu lebih banyak dari apa yang ia katakan.
"Aku tidak tahu ini," bisik Viona. "Aku tidak pernah tahu kalau dia tidak mau."
Derek menghela napas panjang. "Mungkin... nasib memang punya rencana lain untukmu, Viona."
Viona menunduk, menggenggam cangkir tehnya dengan erat. Ada banyak perasaan bercampur aduk di dalam hatinya—kekecewaan, kebingungan, tetapi juga... sedikit kelegaan? Apakah ia benar-benar kecewa? Atau justru ia merasa beban di pundaknya mulai terangkat?
"Aku... aku butuh waktu untuk berpikir," gumam Viona.
Derek mengangguk. "Tentu. Malam ini kita akan beristirahat di penginapan ini. Esok, kita bisa memutuskan apa yang harus dilakukan selanjutnya."
Mereka memesan dua kamar di penginapan itu. Viona masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Ia duduk di tepi ranjang kayu, memandang lilin yang berkedip-kedip di atas meja. Di luar, malam mulai gelap. Angin bertiup pelan, membawa aroma dedaunan basah dan tanah.
Namun, saat Viona duduk sendiri, ada satu hal yang mengganjal di pikirannya. Saat pria tua itu bercerita tentang Neil yang melarikan diri, ia melihat ekspresi Derek. Derek tidak terkejut. Tidak kaget. Justru, matanya terlihat seperti sudah mengetahuinya sejak lama.
Apakah Derek menyimpan rahasia tentang Neil? Apakah Derek tahu lebih banyak tentang Kerajaan Timur daripada yang ia akui?
Viona menggelengkan kepalanya. Sudahlah. Mungkin aku hanya terlalu curiga.
Tapi di dalam lubuk hatinya, ia mulai bertanya: Siapa sebenarnya Derek Henrick?
Sementara di kamar sebelah, Derek duduk di dekat jendela. Ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Dalam genggamannya, ada sebuah medali tua berlambang singa emas—lambang yang sama dengan yang dikenakan pasukan di pos penjagaan. Medali itu miliknya. Milik Putra Mahkota Kerajaan Timur yang seharusnya sudah mati.
"Aku tidak bisa memberitahunya," bisik Derek pelan pada dirinya sendiri. "Belum sekarang. Kalau dia tahu siapa aku, segalanya akan hancur."
Api lilin berkedip, dan rahasia itu tetap terkubur di dalam malam.