NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang CEO

Istri Rahasia Sang CEO

Status: tamat
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tere Nusa

Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016: Darah

Keira tidak ingat kapan tangannya menyentuh gagang pintu.

Ia hanya tahu pada detik mata Darren berubah merah, sesuatu di dalam tubuhnya bergerak lebih cepat daripada rasa takut.

Pintu ruang bawah tanah terbuka.

"Mbak Keira!"

Suara Pak Ji pecah.

Keira sudah masuk.

Cahaya putih menusuk matanya. Bau antiseptik, logam, dan darah langsung menghantam hidungnya. Dari celah pintu, ruangan tadi tampak seperti mimpi buruk. Dari dalam, mimpi buruk itu punya suhu, suara, dan napas.

Darren duduk terikat di kursi logam.

Pergelangan tangannya ditahan sabuk kulit tebal. Satu sabuk di dada, satu lagi di paha. Kemeja putihnya basah oleh keringat, menempel pada kulit yang terlalu pucat. Di bawah kulit leher dan punggung tangannya, urat-urat gelap kemerahan muncul seperti garis api yang merambat.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Lalu dari hidungnya.

Keira merasa lututnya kehilangan tulang.

"Keluar!" Pak Ji melangkah ke arahnya, wajahnya untuk pertama kali tidak lagi tenang. "Mbak, keluar sekarang!"

Darren mendengar suara itu.

Kepalanya bergerak.

Tidak seperti Darren yang biasanya menoleh dengan malas dan mengendalikan seluruh ruangan lewat satu tatapan. Gerakan itu patah, kasar, seperti tubuhnya ditarik oleh sesuatu yang bukan dirinya.

Matanya menatap Keira.

Merah seluruhnya.

Tidak ada fokus.

Tidak ada pengenalan.

Namun di balik warna merah itu, Keira melihat sesuatu yang membuat dadanya sakit lebih parah daripada takut.

Penderitaan.

Bukan kemarahan. Bukan haus membunuh. Bukan kegilaan yang menikmati dirinya sendiri.

Penderitaan yang begitu besar sampai tubuh manusia tampak terlalu kecil untuk menampungnya.

"Pak Darren," bisik Keira.

Sabuk kulit di pergelangan tangan Darren berderit.

Dokter Xiao langsung meraih suntikan kedua. "Pak Ji, tahan dia!"

"Mbak Keira, mundur!"

Keira seharusnya mundur.

Setiap sel di tubuhnya berteriak untuk mundur. Ini bukan adegan drama yang bisa diselesaikan dengan pelukan. Ini ruang terkunci, kursi logam, darah, suntikan, dan pria dewasa yang sedang tidak mengenali siapa pun.

Tetapi kaki Keira hanya bergerak satu langkah.

Bukan ke belakang.

Ke depan.

"Pak Darren, ini aku."

Suara itu kecil sekali.

Mungkin Darren tidak mendengarnya.

Mungkin ia mendengarnya, tetapi sesuatu di dalam darahnya menjawab lebih dulu.

Tangan kanan Darren tiba-tiba menghentak.

Sabuk kulit yang menahan pergelangan tangannya putus.

Bunyi retaknya membuat Keira tersentak. Pak Ji langsung menerjang, tetapi Darren sudah bergerak. Kursi logam berguncang keras, salah satu baut di lantai mengeluarkan suara tajam. Sabuk di dadanya menahan tubuhnya sepersekian detik, cukup bagi Dokter Xiao untuk berteriak.

"Jangan dekat!"

Terlambat.

Darren melepaskan tubuhnya dari kursi seperti badai yang pecah dari kandang.

Keira hanya sempat melihat bayangan putih kemejanya.

Lalu punggungnya membentur dinding.

Rasa sakit menjalar dari bahu sampai tulang belakang, tetapi sebelum ia bisa menghirup udara, Darren sudah berada di depannya. Tangannya mencengkeram dinding di sisi kepala Keira. Wajahnya begitu dekat sampai Keira bisa melihat darah di bibirnya dan keringat di bulu matanya.

Matanya merah.

Napasnya panas.

"Pak Darren..."

Gigi Darren menancap di sisi lehernya.

Dunia Keira putih.

Rasa sakitnya tidak seperti luka di telapak tangan, tidak seperti memar di lutut, bahkan tidak seperti jatuh dari kuda. Ini tajam dan panas, seperti kulitnya disentuh besi yang baru diangkat dari bara. Tubuhnya menegang begitu keras sampai jarinya mencakar lengan baju Darren.

Ia tidak menjerit.

Suara itu tersangkut di tenggorokan bersama air mata yang datang terlalu cepat.

Darah hangat mengalir di lehernya.

Pak Ji meneriakkan namanya. Dokter Xiao bergerak di belakang Darren. Semua suara terdengar jauh, seperti datang dari dasar kolam.

Keira memaksa matanya tetap terbuka.

Ia menatap Darren.

Di jarak sedekat itu, ia akhirnya melihat bahwa merah di mata Darren bukan warna milik monster.

Itu warna seseorang yang sedang tenggelam.

Tubuhnya menyerang, tetapi matanya seperti meminta tolong dari tempat yang tidak bisa dicapai siapa pun.

Hati Keira retak dengan suara yang tidak bisa didengar.

Ia teringat gedung yang terbakar.

Asap hitam.

Lantai panas.

Seorang pria memeluk tubuhnya yang berdarah sambil duduk di tengah api, seolah dunia di luar mereka sudah tidak perlu diselamatkan lagi.

Apakah dulu ia juga seperti ini?

Sakit sendirian.

Hilang kendali sendirian.

Mati sendirian.

"Jangan..." Suara Keira keluar sebagai napas patah. Ia tidak tahu apakah ia berbicara pada Darren, pada Pak Ji, atau pada takdir yang pernah membuat pria ini berakhir di tengah api. "Jangan sendirian."

Jarum suntik masuk ke lengan Darren dari belakang.

Dokter Xiao mendorong cairan itu sampai habis.

Tubuh Darren menegang.

Giginya terlepas dari leher Keira.

Keira nyaris jatuh, tetapi tangan Darren yang tadi mencengkeram dinding tiba-tiba kehilangan kekuatan lebih dulu. Ia mundur setengah langkah, seperti orang yang baru tersadar dari pukulan dalam, lalu lututnya jatuh ke lantai.

Warna merah di matanya bergetar.

Memudar sedikit demi sedikit.

Untuk satu detik yang sangat pendek, Keira merasa tatapan Darren kembali menjadi cokelat gelap.

Tidak sepenuhnya sadar.

Tetapi cukup untuk tampak hancur.

Lalu matanya tertutup.

Tubuhnya roboh.

"Pak Darren!"

Pak Ji menangkap bahunya sebelum kepala Darren membentur lantai. Dokter Xiao segera berlutut, memeriksa denyut nadi, membuka kelopak mata, lalu menempelkan stetoskop ke dada Darren.

Keira berdiri kaku di dekat dinding.

Darah dari lehernya menetes ke kerah baju.

Satu tetes jatuh ke lantai putih.

Lalu satu lagi.

Suara tetesannya kecil, tetapi di ruangan itu terdengar seperti jam yang menghitung sisa hidup seseorang.

"Denyutnya ada." Dokter Xiao menghela napas kasar. "Lemah, tapi ada. Obat mulai bekerja. Dia sementara stabil."

Pak Ji menoleh pada Keira.

Wajah lelaki tua itu pucat. Lebih pucat dari rambut di pelipisnya.

"Mbak Keira, lehermu..."

Ia bergerak hendak mendekat.

Keira mengangkat tangan.

Tangannya gemetar, tetapi isyaratnya jelas.

Jangan dulu.

Pak Ji berhenti seolah ada garis tak terlihat di antara mereka.

Di wajahnya ada sesuatu yang Keira belum pernah lihat. Bukan hanya takut. Bukan hanya rasa bersalah. Itu ekspresi seorang penjaga yang sudah menjaga pintu selama puluhan tahun, lalu pada malam terburuk, pintu itu tetap terbuka di depan orang yang paling tidak boleh melihat isi di baliknya.

"Saya yang salah," bisik Pak Ji.

Dokter Xiao menutup kotak obat dengan tangan yang masih cepat, tetapi suaranya lebih berat. "Tidak ada waktu untuk menyalahkan siapa pun. Luka Nona Keira harus dibersihkan. Kalau dia syok, kita punya dua pasien."

Dua pasien.

Kata itu membuat Keira hampir tertawa.

Ia, pasien?

Sejak kapan luka kecil di tubuhnya cukup penting untuk dihitung bersama Darren?

Di Panti Harapan, demam berarti tetap mencuci piring asal masih bisa berdiri. Di rumah Salim, sakit berarti jangan sampai terlihat agar tidak dianggap merepotkan. Hidup Keira selalu punya satu aturan sederhana: kalau tidak mati, berarti masih bisa berjalan.

Tetapi di ruangan ini, dengan darah mengalir di leher dan Darren terbaring tidak sadar di lantai, aturan itu tiba-tiba terasa begitu miskin.

Ia bukan tidak sakit.

Ia hanya lebih takut Darren bangun sendirian.

Ia berjalan melewati Pak Ji. Setiap langkah terasa seperti menginjak kaca. Lututnya yang memar kembali menyala nyeri, bahunya berdenyut karena benturan, telapak tangannya yang baru dibalut kembali basah oleh keringat.

Tetapi ia tetap berjalan.

Sampai ia sampai di samping Darren.

Pria itu terbaring di lantai, wajahnya kosong oleh pingsan. Darah di sudut bibirnya sudah mulai mengering. Di bawah lampu putih, ia tampak bukan seperti penguasa Hendrawan yang membuat seisi Jakarta menahan napas, melainkan seseorang yang sudah terlalu lama disiksa oleh tubuhnya sendiri.

Keira berlutut.

Lututnya menyentuh darah di lantai.

Ia tidak tahu itu darah Darren atau darahnya.

Mungkin keduanya.

"Mbak, lukamu harus ditangani sekarang." Suara Pak Ji serak. "Tolong. Biarkan Dokter Xiao melihatnya."

Dokter Xiao menatap luka di leher Keira dengan ekspresi profesional yang sulit disembunyikan dari rasa bersalah. "Tidak mengenai pembuluh besar, tapi harus segera dibersihkan. Gigitan manusia mudah infeksi."

Keira mengangguk pelan.

Namun ia tidak berdiri.

"Saya tahu."

"Mbak Keira," kata Pak Ji, lebih lembut, hampir memohon. "Kamu tidak seharusnya melihat ini."

Keira menatap Darren.

Di dalam kepalanya, api dari mimpi lama masih menyala. Pria di tengah api itu tidak pernah meminta tolong. Mungkin karena tidak ada yang cukup dekat untuk mendengar. Mungkin karena semua orang lebih takut pada bentuk lukanya daripada luka itu sendiri.

Ia tidak mau menjadi salah satu dari orang yang pergi.

"Kalau saya pergi sekarang," katanya pelan, "dia akan bangun dan mengira semua orang memang akan pergi setelah melihatnya seperti ini."

Pak Ji terdiam.

Dokter Xiao juga terdiam.

Keira menunduk, menyentuh lantai di samping tangan Darren. Ia tidak berani menyentuhnya dulu, takut tubuhnya masih sakit, takut ia mengganggu pemeriksaan. Tetapi ia memastikan jaraknya dekat.

Cukup dekat untuk dilihat ketika ia membuka mata.

"Mbak harus dirawat."

"Rawat di sini."

"Mbak perlu istirahat."

"Nanti."

Pak Ji memejamkan mata sebentar.

Saat membukanya lagi, ia tampak sepuluh tahun lebih tua. "Pak Darren tidak ingin kamu melihatnya seperti ini."

"Saya tahu."

"Kalau dia sadar dan melihat lukamu, dia akan menyalahkan dirinya sendiri."

"Dia memang akan menyalahkan dirinya sendiri." Keira menelan sakit di tenggorokannya. Luka di leher tertarik oleh setiap kata. "Kalau saya pergi, dia akan menyalahkan dirinya sendiri sekaligus yakin bahwa dia memang pantas ditinggalkan."

Pak Ji tidak menjawab.

Keira menatap wajah Darren yang tidak bergerak. Orang-orang mengenalnya sebagai pria yang tidak bisa disentuh. Keluarga takut padanya. Lawan bisnis membencinya. Perempuan di ruang pesta menginginkan namanya, kekayaannya, perlindungannya. Bahkan Keira sendiri, pada awalnya, mendekatinya karena ingin bertahan hidup.

Tetapi siapa yang pernah duduk di sampingnya saat ia tidak punya apa-apa untuk diberikan?

Siapa yang pernah melihat darah di mulutnya dan tetap mengingat bahwa ia adalah manusia, bukan kutukan yang harus dikunci di bawah tanah?

Keira mengusap air mata yang baru sadar sudah jatuh.

Tangannya meninggalkan noda merah samar di pipinya.

"Mbak Keira..."

Keira akhirnya mengangkat wajah.

Lehernya berdarah. Matanya panas. Tubuhnya gemetar karena sakit, takut, dan sesuatu yang jauh lebih keras kepala dari keduanya.

"Aku tidak pergi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!