Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Wajah Lain Celine
Sekar tidak langsung menjawab pesan itu.
Kamu percaya ada orang yang pantas mati?
Kalimat itu tinggal di kepalanya sepanjang pagi, bahkan ketika ia duduk di meja makan Kediaman Liem dengan punggung tegak dan wajah Felicia Tan yang patuh. Kevin di sebelahnya sibuk dengan ponsel. Celine duduk dua kursi jauhnya, tersenyum manis kepada Nyonya Lima, tetapi matanya bergerak terlalu sering ke arah Paviliun Mei.
Sekar tahu tatapan itu.
Itu bukan tatapan perempuan yang cemburu pada tunangan kekasihnya. Celine sudah melewati tahap itu. Ia menatap seperti orang yang menghitung harga benda di ruangan.
"Ci Feli," Celine berkata tiba-tiba, suaranya ringan. "Lukisan dari Engkong itu masih kamu simpan di Paviliun Mei, ya?"
Sendok Sekar berhenti sekejap.
Kevin mengangkat kepala. "Lukisan apa?"
Celine tertawa kecil. "Aduh, Kev, kamu ini tunangan macam apa? Masa hadiah Engkong untuk calon istrimu saja lupa."
Wajah Kevin mengeras karena tersindir di depan meja. "Aku tahu. Aku cuma tidak peduli."
"Sayang sekali," kata Celine, masih dengan senyum yang sama. "Katanya lukisan itu bukan barang biasa."
Engkong tidak ada di meja pagi itu. Darren juga tidak hadir. Justru karena orang-orang paling berbahaya absen, Celine berani memancing lebih jauh.
Sekar mengambil kembali sendoknya. "Hadiah dari Engkong tentu harus dijaga baik-baik."
"Tentu." Celine menyandarkan punggung. "Aku cuma dengar dari teman, lukisan tua seperti itu kadang nilainya lebih besar dari rumah. Tapi orang yang tidak paham seni biasanya tidak sadar."
Kevin mendengus. "Kalau nilainya besar, buat apa disimpan di kamar Felicia? Harusnya masuk brankas keluarga."
Sekar menoleh pelan. "Itu hadiah pernikahan."
"Pernikahan yang belum terjadi," Kevin membalas.
Suasana meja menjadi dingin.
Nyonya Lima berdeham pelan. "Kevin."
Kevin melempar serbet ke meja. "Aku kenyang."
Ia pergi lebih dulu. Celine menunduk, seolah malu, tetapi ketika ia berdiri beberapa detik kemudian untuk menyusul, Sekar melihat kilat puas di matanya.
Hari itu, Sekar sengaja tidak kembali ke Paviliun Mei terlalu cepat.
Ia berjalan di koridor samping, berpura-pura hendak mengambil udara. Dari arah ruang duduk kecil dekat taman, ia mendengar suara Celine dan Kevin. Pintu tidak tertutup rapat.
"Kamu selalu terpancing," suara Celine terdengar rendah, tidak semanis di meja makan. "Makanya kamu tidak pernah menang dari siapa pun di rumah ini."
"Jangan mulai lagi."
"Aku mulai karena kamu tidak bergerak." Ada bunyi gelas diletakkan terlalu keras. "Engkong kasih lukisan itu ke Felicia bukan tanpa alasan. Kalau nilainya benar seperti yang aku dengar, itu bisa jadi uang kita."
"Uang kita?"
"Kamu mau terus minta jatah dari rumah kelima? Dari Mama? Dari Engkong?" Celine tertawa pendek. "Kev, kamu selalu bilang ingin berdiri sendiri. Tapi begitu ada kesempatan, kamu cuma marah dan pergi."
Kevin diam.
Sekar merapat ke dinding. Jantungnya berdebar, tetapi pikirannya justru dingin.
"Berapa nilainya?" tanya Kevin akhirnya.
"Aku belum yakin. Tapi sumberku bilang kolektor di Singapura pernah menawar karya serupa dengan angka yang membuat orang waras sulit tidur."
"Lukisan itu punya Felicia."
"Felicia punya apa di rumah ini?" Celine bertanya lembut. "Dia bahkan tidak punya suaminya sendiri."
Kalimat itu menusuk dengan cara yang aneh. Sekar seharusnya marah. Sebaliknya, ia hampir ingin tertawa. Celine tidak tahu betapa salahnya arah tusukan itu.
"Kalau kamu bisa pinjam sebentar," Celine melanjutkan, "aku bisa minta orang menilai. Hanya menilai. Setelah itu baru kita putuskan."
"Kalau ketahuan Engkong?"
"Maka jangan sampai ketahuan."
Sekar mundur sebelum langkahnya terdengar.
Di Paviliun Mei, Lukisan Mei Dingin masih tergantung pada tempatnya. Setelah Renard dan Harun menyusun rencana, Sekar tidak pernah lagi melihatnya sebagai benda indah semata. Ia melihatnya sebagai pintu. Sebagai umpan. Sebagai pisau yang dibungkus sutra.
Ia mengambil ponsel rahasia.
Celine sudah mulai mencari harga Lukisan Mei Dingin.
Balasan Renard datang lima menit kemudian.
Seberapa dekat?
Sekar mengetik sambil berdiri di depan lukisan.
Dia menekan Kevin untuk meminjamnya. Belum bergerak hari ini.
Kali ini balasan lebih lama.
Bagus.
Hanya satu kata, tetapi Sekar bisa membayangkan Renard membacanya di suatu tempat yang gelap, sudut mulutnya hampir bergerak.
Sebelum ia menyimpan ponsel, satu pesan lagi masuk.
Jangan terlihat terlalu rela saat mereka meminta.
Sekar menatap layar. Lalu, untuk alasan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti, ia mengetik:
Pertanyaanmu kemarin belum kujawab.
Tidak ada balasan selama hampir sepuluh menit.
Ketika ponsel bergetar lagi, Sekar menahan napas.
Tidak perlu dijawab kalau kamu belum punya jawabannya.
Sekar duduk di tepi ranjang.
Di luar, sore turun. Di dalam kamar, lukisan tua itu tampak lebih dingin dari biasanya. Gunung, salju, cabang plum yang keras kepala bertahan dalam musim beku.
Apakah ada orang yang pantas mati?
Ia teringat Lilian yang memegang foto Mama Hwee. Wira yang menyeringai. Orang-orang yang membuat Ardy mati dengan nama tercemar. Orang-orang yang menghancurkan keluarga Renard dan meninggalkan seorang anak laki-laki untuk tumbuh di antara pisau.
Sekar mematikan layar.
Belum.
Ia belum punya jawaban.
Malam itu, ia dipanggil ke Rumah Tua.
Renard tidak berada di ruang kerja, melainkan di ruang samping yang lebih kecil. Di atas meja panjang, sebuah gulungan kain dibuka. Harun berdiri di dekatnya, menyilangkan tangan dengan wajah puas seorang pedagang yang baru menyelesaikan pekerjaan rapi.
"Nona Felicia," sapa Harun. "Coba lihat. Kalau matamu tidak tajam, kamu tidak akan tahu mana yang palsu."
Sekar mendekat.
Lukisan di meja itu mirip Lukisan Mei Dingin sampai membuat tengkuknya meremang. Warna tinta, usia kertas, bekas lipatan, bahkan noda samar di sudut kiri, semuanya hampir sempurna.
Renard berdiri di sisi lain meja. "Ada cacat yang hanya bisa ditemukan orang yang benar-benar paham."
"Cacat untuk menjebak pembeli?" tanya Sekar.
"Untuk menjebak orang yang merasa terlalu pintar."
Harun terkekeh. "Yang asli sudah aman. Yang ini cukup mahal untuk membuat orang serakah, cukup palsu untuk menghancurkan orang yang mencoba menjualnya."
Sekar menyentuh ujung meja, bukan lukisan. "Celine akan percaya?"
"Celine akan percaya pada hal yang ingin ia percaya," kata Renard.
Kalimat itu sederhana, tetapi tepat.
Sekar teringat senyum Celine di meja makan. Mata yang menghitung. Suara manis yang membujuk Kevin dengan mimpi tentang uang sendiri.
"Kalau Kevin ikut?"
"Dia akan ikut karena diseret. Itu memang gunanya."
Sekar mengangkat pandangan. "Kamu ingin menghukum Celine atau Kevin?"
Renard balas menatapnya. "Menurutmu?"
Sekar tidak menjawab.
Untuk sesaat, pertanyaan semalam kembali berdiri di antara mereka.
Kamu percaya ada orang yang pantas mati?
Renard seolah tahu apa yang ia pikirkan, tetapi tidak membahasnya. Ia menggulung kembali lukisan palsu itu dengan gerakan hati-hati.
"Sekarang," katanya, suaranya tenang, "kita tunggu dia datang mengambilnya."