Alana seorang gadis cantik penderita Tryphanophobia atau takut akan jarum suntik.
Menikah dikarenakan perjodohan
Dengan dokter muda yang bernama Dava Agatha mahesa
Dava tidak mungkin menolak keinginan ibu tersayang nya sehingga dia menerima perjodohan ini
Dia si gadis polos pecinta coklat dan warna pink.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Prang.
Rantang yang Alana pegang jatuh begitu saja ke lantai, Dava yang melihat itu segera lari untuk mengejar Alana.
"Alana." panggil Dava sambil berlari, menggejar Alana yang sesekali mengusap air matanya.
Langkah Alana terhenti saat Dava memegang tangannya.
"Alana itu tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap Dava berusaha menjelaskan.
Tapi pikiran negatif sudah bersarang di otak Alana, dugaannya benar. Sikap Dava mulai berubah dan sering bergumam saat ia pergi ke Lombok. Alana sudah terbakar api
cemburu.
"Jadi bener, foto yang aku lihat waktu itu di heandpone kamu itu dia? Selingkuhan kamu? Pantes aja kamu berangkat pagi banget ternyata mau ketemuan sama dia." ucap Alana sambil terisak tanpa menatap wajah Dava.
"Dia bukan selingkuhan aku Alana."
ucap Dava memegang kedua pipi Alana.
"Oh bukan selingkuhan? Atau jangan-jangan dia istri kedua kamu, atau bahkan aku yang kedua?" ucap Alana.
"Dava." panggil seorang gadis yang
Alana lihat didalam kantor Dava.
"Aku nyariin kamu, eh kamu disini sama cewek lain." ucap perempuan itu sambil bergelayut manja di lengan Dava.
Mata Aina semakin memerah menahan tangis, apa-apaan Maksudnya? Bahkan saat gadis itu memeluk lengan Dava tak ada penolakan sedikitpun dari Dava.
"Lepas Na." ucap Dava melepaskan tangan Gadis itu darinya, membuat ia cemberut.
"Kok kasar? Gak boleh kasar sama calon istri." ucap gadis itu manja.
"Ca.. Calon is.. lstri?" tanya Alana gagap.
"Iya, kenalin aku Diana. Calon istrinya Dava." gadis bernama Diana itu mengulurkan tangannya kepada Alana.
Alana tak membalas uluran tangannya. Alana menatap Dava kecewa, kenapa ia tak berbicara sedikit pun. Bahkan Dava tak berani mengakui dirinya sebagai istri.
"Lo siapa?" tanya Diana.
"Aku--""
"Dia istri saya." jawab Dava cepat.
Diana melotot tak percaya, wajahnya berubah menjadi merah.
"Gak mungkin. Kamu itu calon aku, dulu kamu pernah janji bakal nikahin aku." jawab Diana cepat.
"ltu hanya sebuah janji anak kecil Na." ucap Dava.
Alana menatap keduanya bingung, melihat drama di depannya. Mata Alana segera menunduk saat Liona menatapnya tajam.
"Lo perebut!" ucap Diana.
"Aku? Yang perebut tuh kamu." jawab Alana tak terima.
"Cukup." ucap Dava merelai keduanya.
"Diana, saya sudah beristri. Harusnya kamu jaga batasan." ucap Dava membuat Diana menangis.
"Aku gapapa kok jadi istri kedua kamu Dav." ucap Liona membuat
Alana melotot.
Bukan hanya Alana yang terkejut atas ucapan Diana, Dava pun tak percaya atas apa yang diucapkan Diana.
"Jangan gila!"
"Aku gak gila. Aku bakal lakuin apapun demi dapetin kamu." ucap Diana lalu pergi.
Sebelum pergi Diana sempat menabrak bahu Aina kencang membuat Alana merigis. Sedangkan Dava menatap kepergian Diana.
"Ayo masuk." ajak Dava menggenggam tangan Alana. Sedangkan Alana langsung menghentakan tangannya.
"Gak. Aku mau pulang."
"Aku antar." ucap Dava menahan tangan Alana.
"Gak usah. Antar aja Diana." ucap Alana sinis.
Alana langsung berlari ke arah taksi,Dava mengejar Alana namun sayang ia sudah terlebih dahulu pergi.
"Agrh!" teriak Dava mengacak rambutnya.
®®®®
Dava pov.
Seminggu, yha seminggu pikiran gua dipenuhi Diana. Setelah sebuah pesan chat masuk ke heandpone gua.
Bahkan saat sebelum ke Lombok Diana sudah bilang akan datang ke rumah. Niatnya mau batalin tapi, karena liat Alana antusias banget akhirnya gua lanjutin buat pergi.
Kalian pasti nanya siapa Diana?
Diana adalah sahabat kecil gua, sahabat yang gua punya satusatunya. Gua sayang dia sebagai adik, gak lebih. Gua sayang Alana karena ia istri gua, sedangkan Diana gue sayang dia sebagaimana gua sayang Tania.
Gua dan Diana hampir 10 tahun gak ketemu, kita lost kontakdan selama itu gua selalu cari keberadaan dia.
Usia gua dan dia hanya beda 2 tahun, Diana itu manja dan ceria, hal itu yang bikin gua kangen dia. Gua berangkat pagi ke rumah sakit bukan karena gua pengen ketemu Diana, bahkan gua sendiri kaget pas Diana datang.
Tok tok tok
“Masuk.” ucap gua tanpa mengalihkan tatapan gua dari leptop.
"Davdav!" pekik suara.
Gua kira itu hanya imajinasi, gak mungkin dia datang saat gua benar-benar kangen dia. Tapi pikiran itu hilang saat seseeorang gadis memeluk gua dengan erat.
"Di...Diana?"
" Yes, im here." jawabnya.
Gua masih gak percaya atas keberadaannya, gua menatap wajah cantik di depan gua.
"Aku datang! Aku nepatin janji aku buat nikah sama kamu di umur dua puluh tiga." ucap Diana senang.
"Tap-"
"Sttt, aku tau kamu senengkan aku dateng? Masih gak percaya?" ucap Diana
menggenggam tangan gua.
"Selama ini kamu kemana?" tanya gua.
"Udah aku duga kamu pasti nanya gitu." ucap Diana.
"Sekarang aku gak mau cerita, karena panjang. Sekarang aku mau makan sama kamu." ucap Diana sambil membuka rantang makanan miliknya.
"Aaaa.." ucap Diana sambil mengarahkan sendok ke mulut gua. Refleks, gua ngebuka mulut gua gitu aja.
"Sekarang akunya kamu suapin." ucap Diana sambil memberikan sendoknya.
Karena gua gak mau buat dia sedih, akhirnya gua suapin dia. Diana nerima satu suapan dengan senang.
Prang.
Gua kaget saat melihat sebuah rantang jatuh begitu saja ke lantai. Dan gua liat Alana nangis dan lari.
"Alana." teriak gua tapi Alana sama sekali gak berhenti.
Gua gak mau Alana salah sangka dan mikir yang enggak-enggak tentang gua akhirnya gua kejar dia. Langkah Alana tak selebar langkah gua, secepat apapun Alana lari bakalan gua kejar.
Berusaha gua buat jelasin tapi Alama sama sekali gak percaya. Dia gak mau denger ucapan gua, Alana udah bener-bener marah dan kecewa.
Saat gua mau jelasin tiba-tiba Dianna datang dan meluk tangan gua, hal ini bikin gua kaget dan mematung. Gua sadar ini salah akhirnya gua lepasin tangannya dari lengan gua.
Dia marah dan gak terima saat gua bilang Alana itu istri gua. Gua gak nyangka saat dia nunjuk wajah Alana dengan jari telunjuknya.
Kenapa Diana yang sekarang tidak seperti Diana 10 tahun lalu. Mengapa Diana sekarang kasar, dan Diana lebih emosi.
Dulu memang gua pernah berjanji sama dia, disaat umur gua 9 tahun dan dia berumur 7 tahun.
"Diana, Davdav janji bakal nikahin Diana pas aku umur dua puluh lima dan kamu berumur dua puluh tiga."
"Benel kan?"
"tapi aku gak bisa nen tuin, kalo kita gak jodoh dan aku gak nikah sama Diana, Davdav mau Diana datang di pernikahan aku ya."
"Iya oke deh.”
Alna benar-benar marah saat gua ajak dia buat masuk ke kantor Alana menolak dan memilih pulang dan gak mau di antar.
Gua gak mau terjadi apa-apa sama Alana akhirnya gua batalin semua jadwal oprasi hari ini dan pergi buat nyusul Alana.
Dava pov end