Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Bukan Sistem Hiburan
Malam itu menjadi malam paling aneh sejak Faris menginjakkan kaki di lembaga pemasyarakatan.
Seharusnya dia merasa lelah. Seharian penuh bekerja di workshop, membantu proyek perbaikan kantor sipir, menyelamatkan seorang pekerja, lalu akhirnya mendapatkan kepercayaan dari Pak Bandi. Namun entah kenapa, tubuhnya memang lelah, tetapi pikirannya justru semakin segar.
Faris membalikkan badan untuk kesekian kalinya di atas ranjang besi tipis.
"Kok susah tidur begini..."
Beberapa narapidana lain di dalam sel sudah terlelap. Dengkuran mereka bersahut-sahutan memenuhi ruangan. Hanya Faris yang masih membuka mata menatap langit-langit.
Di dalam kepalanya terus terbayang ucapan Pak Bandi.
"Saya akan mencari kebenarannya."
Lalu disusul ucapan Pak Adi.
"Kalau memang kamu difitnah, kami akan membantumu."
Kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. Faris menutup wajah dengan kedua tangan.
"Aduh... malah makin nggak bisa tidur."
Layar biru langsung muncul.
[Ding!]
[Sistem mendeteksi pengguna mengalami insomnia ringan.]
"Iya."
[Penyebab: terlalu bahagia.]
"Kamu memang harus mengatakannya sejujur itu?"
[Benar.]
Faris mendesah panjang. "Sistem."
[Ya.]
"Apa kamu bisa menghibur orang?"
Beberapa detik berlalu.
[Definisi menghibur ditemukan.]
"Nah, bagus."
"Aku lagi susah tidur. Bisa nggak aku nonton film lewat kamu?"
Layar berkedip.
[Permintaan ditolak.]
"Hah?"
[Fitur bioskop belum tersedia.]
"Kok ada jawaban 'belum tersedia'? Berarti nanti bisa?"
[Kemungkinan.]
Faris langsung berbinar.
"Serius?"
[Jika pengguna mencapai sinkronisasi 89%.]
Senyum Faris langsung menghilang.
"Sekarang baru delapan persen...."
[Benar.]
"Itu artinya masih lama sekali."
[Sangat lama.]
"Aku salah bertanya."
Faris kembali membalikkan badan. "Kalau film nggak bisa... video pendek?"
[Tidak.]
"Drama?"
[Tidak.]
"Anime?"
[Tidak.]
"Pertandingan sepak bola?"
[Tidak.]
"Berita?"
[Tidak.]
Faris memejamkan mata. "Kamu ini sebenarnya sistem apa...."
[Sistem Profesi Terhebat.]
"Bukan sistem hiburan."
[Benar.]
Faris berpikir sejenak. "Lalu... musik?"
Layar berhenti berkedip. Beberapa saat kemudian muncul tulisan baru.
[Fitur pemutar musik tersedia.]
Mata Faris langsung membesar. "HAH? Kamu bisa mutar lagu?"
[Benar.]
"Wah!" Faris langsung duduk tegak. "Nah itu baru berguna! Cepat putar!"
[Memilih lagu yang sesuai dengan kondisi psikologis pengguna....]
Faris mengangguk puas. "Kamu ternyata baik juga."
[Analisis selesai.]
[Memutar lagu.]
Beberapa detik kemudian, suara musik lembut mulai terdengar langsung di dalam kepala Faris.
"Sepertinya... Kau memang dari planet yang lain.."
Faris membeku. Lagu terus berjalan.
"Dikirim ke bumi untuk orang-orang sepertiku..."
Mata Faris perlahan menyipit. "Tunggu. Bukankah ini..."
Dia mendengarkan beberapa bait lagi. Lalu spontan memukul kasurnya pelan.
"INI LAGU SAL PRIADI 'DARI PLANET LAIN'!"
[Benar.]
"Kamu sengaja ya?!"
[Lagu sangat sesuai dengan kondisi pengguna.]
"Apanya yang sesuai?"
[Pengguna sering merasa berbeda dengan orang lain.]
[Pengguna sulit dipahami.]
[Pengguna memiliki sistem yang tidak dimiliki manusia lain.]
[Kesimpulan: berasal dari planet lain.]
Faris melotot. "Itu cuma judul lagu!"
[Sangat relevan.]
"Kamu sedang mengejekku?"
[Tidak.]
[Sistem sedang memberikan hiburan.]
Faris menutup wajah. "Ya Tuhan...."
Lagu masih terus berjalan. Faris langsung mengangkat tangan.
"Cukup!"
[Musik dihentikan.]
Ruangan kembali sunyi. Faris menarik napas panjang. "Putar lagu lain."
[Tidak bisa.]
"Hah?"
[Koleksi lagu saat ini: satu.]
"Satu?"
[Benar.]
"Dari jutaan lagu di dunia kamu cuma punya SATU?"
[Benar.]
"Kenapa?"
[Memori musik sistem belum diperbarui.]
"Itu alasan macam apa?"
[Alasan yang benar.]
Faris menggigit bibir. "Kalau begitu... beli lagu baru."
[Tidak tersedia di Toko Sistem.]
"Tambah database."
[Belum didukung.]
"Akses internet."
[Tidak ada sinyal.]
"Kamu bohong."
[Sistem berada di dalam kepala pengguna.]
[Memang tidak ada sinyal.]
Faris terdiam beberapa detik. "Lagu lain benar-benar nggak ada?"
[Tidak.]
"Instrumental?"
[Tidak.]
"Lagu daerah?"
[Tidak.]
"Lagu anak-anak?"
[Tidak.]
"Lagu kebangsaan?"
[Tidak.]
"Suara hujan?"
[Tidak.]
"White noise?"
[Tidak.]
"Suara kipas angin?"
[Tidak.]
Faris memukul dahinya pelan. "Kamu ini sistem paling miskin yang pernah kutemui."
[Pengguna juga miskin.]
"Kenapa setiap kalimatmu selalu balik menyerang?"
[Efisiensi komunikasi.]
Faris menggeleng-gelengkan kepala. "Baik. Putar lagi."
[Baik.]
Lagu yang sama kembali terdengar.
"Sepertinya... Kau memang dari planet yang lain."
Faris langsung memotong.
"Berhenti."
[Dihentikan.]
"Kenapa berhenti?"
[Pengguna menyuruh berhenti.]
"Ya sudah putar lagi."
[Memutar.]
"Sepertinya... Kau memang dari planet yang lain."
"Stop!"
[Berhenti.]
"Putar!"
[Memutar.]
"Stop!"
[Berhenti.]
Setelah beberapa kali seperti itu, sistem tiba-tiba mengeluarkan notifikasi.
[Peringatan.]
"Apa lagi?"
[Pengguna terindikasi tidak tahu apa yang diinginkan.]
Faris sampai tertawa pelan. "Kamu bisa-bisanya...."
Beberapa narapidana di dekatnya mulai bergerak karena mendengar Faris tertawa sendiri.
Seorang pria tua membuka sebelah mata. "Hei!"
Faris langsung menoleh. "Iya?"
"Kamu kenapa ketawa-ketawa sendiri tengah malam?"
Faris langsung panik. "Eh... Saya lagi ingat lelucon."
"Lelucon apa?"
Faris terdiam. Sistem tiba-tiba menjawab.
[Putarkan lagu.]
Faris buru-buru menggeleng. "Jangan!"
"Apa?"
"Bukan apa-apa, Pak."
Pria tua itu menghela napas. "Kasihan... Baru beberapa hari masuk penjara sudah mulai stres."
Faris hanya tersenyum kecut. Setelah pria itu kembali tidur, Faris langsung berbisik. "Lihat kan? Gara-gara kamu aku dikira gila."
[Probabilitas pengguna terlihat aneh memang meningkat.]
"Itu juga gara-gara kamu!"
[Keberatan dicatat.]
Faris akhirnya memilih bersandar di dinding. Meski sistem sangat menyebalkan, harus diakui percakapan konyol itu sedikit mengurangi kegelisahannya.
Namun suasana tenang itu tidak berlangsung lama. Dari ujung blok tahanan tiba-tiba terdengar suara bentakan.
"OI!"
Suara itu sangat keras. Disusul suara benda logam dipukul berkali-kali.
KLANG!
KLANG!
KLANG!
Seluruh penghuni blok langsung terbangun.
"Ada apa?"
"Berisik amat."
"Siapa itu?"
Faris ikut berdiri. Beberapa sipir di luar koridor langsung berlari menuju sumber suara.
"Heh! Diam kalian!"
Namun bentakan yang terdengar justru semakin keras.
"DIAM SEMUA!"
Suara pria itu menggema ke seluruh blok. Dalam hitungan detik, hampir semua narapidana sudah berdiri di balik jeruji masing-masing.
Faris ikut mendekat. Dari balik lorong, dia melihat seorang pria bertubuh sangat besar berdiri sambil memegang jeruji besi. Tubuhnya penuh tato. Lengannya sebesar paha orang dewasa. Wajahnya dipenuhi bekas luka lama. Tatapannya tajam seperti binatang buas.
Beberapa narapidana langsung berbisik.
"Itu Doni...."
"Doni Bangka."
"Yang katanya pernah kabur dari tahanan daerah."
"Serius?"
Faris mengamati pria itu.
Doni mencengkeram jeruji dengan satu tangan. "Oi! Kalian semua dengar baik-baik!"
Suasana langsung hening. Tak seorang pun berani menyela. Doni menyeringai lebar.