NovelToon NovelToon
Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Berondong BEM Dan Mbak Reporter

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri
Popularitas:886
Nilai: 5
Nama Author: ohlyn

Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
​Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Tumpangan Hujan

Malam itu, apartemen Naura terasa jauh lebih kecil dari biasanya. Hujan turun dengan intensitas yang menggila di luar, menciptakan suara gemuruh yang konsisten di balik kaca jendela. Di dalam, suasana hening, hanya ada bunyi detak jam dinding dan napas mereka berdua yang perlahan mulai teratur.

Kaelith masih duduk di sofa, punggungnya sedikit menegang. Dia tampak seperti pria yang sedang memikirkan beban dunia. Sementara Naura, yang tadi duduk di lantai, kini berpindah ke kursi kecil di depan meja makan, tangannya masih menggenggam gelas air yang sudah kosong.

"Mau kopi?" tanya Naura tiba-tiba, memecah keheningan. "Lo kayaknya butuh kafein buat mikir jernih."

Kaelith menoleh, lalu tersenyum tipis—senyum lelah yang jarang sekali diperlihatkannya. "Boleh. Kayaknya malam ini gue nggak bakal bisa tidur nyenyak kalau cuma minum air putih."

Naura beranjak ke dapur kecilnya. Ia menyalakan teko listrik, suara air yang mendidih menjadi musik latar yang menenangkan. Saat ia menyiapkan cangkir, ia bisa merasakan tatapan Kaelith yang mengikuti setiap gerakannya. Itu bukan tatapan investigasi yang tajam, melainkan tatapan yang lebih... tenang.

"Nau," panggil Kaelith pelan.

"Hm?" Naura tidak menoleh, ia sibuk mengaduk kopi.

"Makasih ya. Buat malam ini. Gue tahu, narik gue ke sini cuma bikin lo ikut dalam bahaya."

Naura membawa dua cangkir kopi ke meja makan dan duduk di hadapan Kaelith. "Lo sendiri yang bilang, kita mitra. Mitra nggak ninggalin mitranya pas lagi dikejar orang, kan?"

Kaelith mengambil cangkirnya, meniup uap panas yang mengepul sebelum menyesapnya sedikit. "Lo aneh. Reporter lain mungkin sudah lari ke redaksi dan minta perlindungan hukum kalau ada yang ngikutin mereka kayak tadi."

"Mungkin karena reporter lain punya atasan yang suportif," jawab Naura dengan nada sedikit sinis, teringat debat panasnya dengan Dimas dan Pak Surya sore tadi.

"Dimas?" Kaelith menyebut nama itu dengan nada yang sedikit tajam. "Dia nggak akan bisa ngerti apa yang lo perjuangin, Naura. Dia jurnalis yang mementingkan keamanan, bukan kebenaran."

Naura menatap Kaelith. "Gue nggak tahu harus percaya sama siapa lagi, Kael. Di kantor, mereka bilang gue terlalu nekat. Di kampus, lo jadi target orang-orang yang nggak suka sama lo. Rasanya kayak gue lagi jalan di atas tali tipis yang bisa putus kapan saja."

Kaelith meletakkan cangkirnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan, mengikis jarak di antara mereka. "Lo nggak jalan sendirian. Gue di sini."

Ucapan itu sederhana, namun memiliki beban yang sangat dalam. Naura bisa melihat kesungguhan di mata Kaelith. Selama ini, ia terbiasa menjadi sosok yang mandiri, reporter yang harus kuat di lapangan, dan kakak yang harus jadi panutan bagi Rania. Ia jarang sekali memiliki seseorang yang mengatakan, 'Gue di sini.'

"Kael," bisik Naura, "kalau besok rencana lo gagal... apa yang bakal terjadi?"

Kaelith terdiam sejenak. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar formalitas. Itu adalah pertanyaan tentang ketakutan. "Kalau gagal, gue bakal tanggung semua kesalahannya. Gue bakal bilang ke bokap gue kalau gue yang curi datanya, bukan lo. Jadi lo tetap aman."

"Gue nggak mau lo jadi tameng buat gue!" seru Naura, meski suaranya pelan agar tidak mengganggu tetangga.

"Itu konsekuensinya," Kaelith mengangkat bahu. "Gue ketua BEM, gue punya tanggung jawab. Dan dari awal, gue yang narik lo ke sini."

Naura menatap Kaelith dengan perasaan yang membuncah. Rasa kesal, rasa khawatir, dan rasa kagum kini beradu menjadi satu. Ia sadar, ia tidak bisa membiarkan Kaelith menanggung semuanya sendiri.

"Besok," kata Naura dengan suara mantap, "gue bakal bawa fotografer dari redaksi. Kita buat ini jadi liputan nasional. Kalau mereka berani nyentuh lo atau gue, mereka harus berhadapan sama publik."

Kaelith tertawa, kali ini tawa yang benar-benar lepas. "Lo emang keras kepala ya. Gue suka itu."

Mereka berdua terdiam lagi. Kali ini, suasananya tidak lagi menegangkan, melainkan ada semacam keintiman yang tumbuh. Naura merasa Kaelith bukan lagi seorang "berondong" yang hanya bisa menggoda atau bersikap angkuh. Di depannya sekarang adalah seorang pria yang siap mempertaruhkan segalanya demi prinsip yang benar.

"Kael," panggil Naura lagi.

"Ya?"

"Lo tahu nggak? Tadi pas gue lari-lari sama lo di parkiran, gue sempet mikir, kenapa gue harus repot-repot gini? Tapi sekarang, gue tahu jawabannya."

"Apa jawabannya?"

"Karena lo bikin gue ngerasa hidup," jawab Naura. Ia segera membuang muka, merasa wajahnya merona merah karena malu telah mengucapkan kalimat itu.

Kaelith terdiam. Ia tampak kaget dengan jawaban Naura. Detik berikutnya, ia bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju tempat Naura duduk. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya berdiri di samping Naura. Tangannya perlahan meraih bahu gadis itu, memberikan tekanan lembut yang menyalurkan rasa aman.

"Lo juga bikin gue ngerasa ada yang harus gue jaga," bisik Kaelith di dekat telinga Naura.

Naura memejamkan mata. Hujan di luar semakin lebat, namun di dalam apartemen kecil itu, dunia terasa berhenti sejenak. Mereka berdua terjebak dalam momen yang begitu sederhana, namun terasa sangat megah bagi dua orang yang sedang berada dalam pelarian.

"Tidurlah," ucap Kaelith setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya. "Gue bakal jaga di sini sampai pagi. Gue nggak akan biarin siapa pun masuk."

"Lo sendiri gimana?"

"Gue bisa tidur di sofa. Jangan khawatir," Kaelith tersenyum, senyum yang biasanya membuat Naura ingin memutar bola mata, tapi malam ini senyum itu adalah segalanya.

Naura beranjak ke kamarnya, namun ia berhenti di ambang pintu. "Kael?"

"Ya?"

"Makasih sudah jadi berondong paling nyebelin tapi paling bisa diandalkan buat gue."

Kaelith tertawa. "Sama-sama, Mbak Reporter paling galak tapi paling gue sayang."

Kata-kata terakhir itu membuat jantung Naura seolah berhenti berdetak. Ia tidak menunggu balasan Kaelith, melainkan segera masuk ke kamar dan menutup pintu. Ia bersandar di balik pintu, tangannya memegang dada yang berdegup kencang. "Apa dia baru saja bilang sayang?" pikirnya.

Di ruang tamu, Kaelith masih duduk di sofa, menatap pintu kamar Naura dengan senyum yang tidak kunjung pudar. Ia tahu ini gila. Ia tahu ini berbahaya. Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa ia sedang melakukan hal yang benar.

Hujan terus turun sepanjang malam, membungkus apartemen itu dalam kesunyian. Di dalam kamar, Naura akhirnya bisa memejamkan mata dengan perasaan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia tahu besok akan menjadi hari yang sangat menentukan. Hari di mana semua kebenaran akan terungkap, atau hari di mana semuanya akan berakhir. Namun, setidaknya untuk malam ini, ia tidak lagi merasa sendirian menghadapi dunia.

Kaelith, di luar sana, menyalakan ponselnya dan melihat daftar pesan yang belum terkirim. Ia menghapus semua kekhawatiran tentang ayahnya, tentang posisi di BEM, tentang masa depannya yang tidak pasti. Fokusnya sekarang hanya satu: memastikan Naura bisa meliput berita itu besok dengan selamat.

Itu adalah janji yang ia buat untuk dirinya sendiri. Janji yang akan ia pertahankan, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti saat matahari terbit. Malam itu berlalu, menyisakan harapan bahwa esok hari, kebenaran akan menang, dan mungkin, mereka akan memiliki kesempatan untuk memulai sesuatu yang lebih nyata daripada sekadar "mitra kerja".

1
Bu Dewi
ditunggu kelanjutannya kak😍😍😍👍🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!