NovelToon NovelToon
Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Obsesi CEO Dan Garis Reinkarnasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Sharinn

Tidak semua pertemuan adalah kebetulan. Sebagian adalah janji yang menolak dilupakan waktu. Aruna menjalani hidup biasa hingga sebuah kecelakaan membuatnya mulai mengalami mimpi aneh yang terasa terlalu nyata. Dalam mimpinya, ia selalu menjadi perempuan yang berbeda… di kehidupan yang berbeda… tetapi dengan satu kesamaan: selalu ada seorang pria yang mencarinya. Pria itu adalah Adrian Mahesa, CEO muda, dingin, perfeksionis, dan dikenal publik sebagai sosok yang tak punya ruang untuk cinta. Saat Aruna tanpa sengaja bertemu Adrian di dunia nyata, sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tatapan pertama mereka bukan terasa seperti perkenalan… melainkan pertemuan kembali. Sejak hari itu, Adrian mulai muncul di setiap sudut hidup Aruna. Membantunya, mengawasinya, bahkan seolah mengetahui ketakutan dan kebiasaannya sebelum Aruna sendiri menyadarinya. Namun yang paling mengganggu adalah kalimat yang terus diucapkan Adrian “Kali ini aku tidak akan kehilanganmu lagi.” Aruna mengira itu hanya obsesi seorang CEO yang terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan. Sampai perlahan ia menemukan rahasia yang mengubah segalanya: Dalam setiap kehidupan sebelumnya… mereka selalu saling mencintai. Dan di setiap akhir cerita… Aruna selalu mati. Kini garis reinkarnasi kembali berputar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Adrian mencintainya. Tetapi.. apakah cinta yang bertahan melintasi banyak kehidupan akan menjadi penyelamat… atau justru obsesi yang menghancurkan mereka sekali lagi? ✨ Satu cinta. Banyak kehidupan. Dan dia… selalu menjadi obsesiku. Karya: Sarin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sharinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Yang Terlalu Nyata

Aruna tidak pernah percaya mimpi membawa arti.

Baginya, mimpi hanyalah sisa pikiran yang belum selesai diproses otak. Terlalu banyak kopi, terlalu lelah bekerja, terlalu banyak hal yang dipikirkan.

Tapi malam itu berbeda.

Ia terbangun dengan napas tersengal.

Dadanya terasa sesak seolah baru saja berlari jauh.

Kamar kosnya gelap. Hanya cahaya lampu jalan yang masuk lewat sela tirai.

Aruna duduk perlahan di atas ranjang.

Jantungnya masih berdetak terlalu cepat.

Mimpi itu…

Terlalu nyata.

Ia memejamkan mata sebentar.

Masih bisa melihatnya.

Langit berwarna jingga tua.

Angin dingin.

Suara lonceng yang jauh.

Dan seorang pria.

Berdiri membelakanginya.

Mengenakan jas hitam panjang.

Bahunya lebar.

Diam.

Seolah menunggu.

Aruna tidak bisa melihat wajahnya.

Tapi ia tahu.

Aneh sekali—

ia tahu siapa pria itu.

“Adrian…”

Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Aruna membuka mata.

Tubuhnya langsung menegang.

Kenapa dia menyebut nama itu?

Kenapa nama CEO itu muncul di mimpinya?

Padahal mereka baru bertemu.

Baru dua kali.

Bahkan tidak dekat.

Ia mengusap wajah.

Mencoba tertawa.

Kebetulan.

Pasti hanya karena terlalu memikirkan kejadian kemarin.

Tapi sebelum sempat berdiri—

ada satu bagian mimpi yang tiba-tiba kembali.

Suara.

Suara seorang pria.

Pelan.

Parau.

Penuh rasa kehilangan.

“Kali ini… jangan pergi lebih dulu.”

Aruna membeku.

Tangannya dingin.

Kalimat itu.

Entah kenapa terasa sangat menyakitkan.

Seolah ia pernah mendengarnya.

Seolah seseorang pernah mengatakan itu sambil menangis.

Dan yang lebih aneh—

di mimpi itu…

ia menjawab.

“Maaf…”

Aruna langsung berdiri.

“Cukup.”

Ia mengambil ponsel.

Jam menunjukkan pukul 03.17.

Ia membuka aplikasi musik. Memutar lagu apa saja untuk mengusir sisa mimpi.

Namun saat layar menyala—

ada notifikasi email.

Dari kantor.

Pengirim: Asisten CEO.

Subjek:

Permintaan Pertemuan — Pukul 09.00

Aruna menatap lama.

Isi pesannya singkat.

Bapak Adrian meminta Anda hadir langsung ke ruang kerja beliau besok pagi.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada alasan.

Aruna mengernyit.

Kenapa lagi?

Kemarin saja cukup aneh.

Ia menghela napas lalu meletakkan ponsel.

Tidak.

Dia tidak akan memikirkan hal aneh.

Besok datang.

Selesaikan urusan.

Pulang.

Sesederhana itu.

Pukul 08.57.

Aruna berdiri di depan pintu ruang CEO.

Tangannya mengetuk.

“Masuk.”

Suara itu.

Tenang.

Dingin.

Dan entah kenapa—

terdengar sama seperti suara dalam mimpinya.

Aruna langsung menegakkan tubuh.

Tidak mungkin.

Ia masuk.

Adrian sedang berdiri di dekat jendela.

Seperti saat pertama mereka bertemu.

Ia berbalik perlahan.

Tatapannya langsung jatuh pada Aruna.

Lalu diam.

Beberapa detik.

Terlalu lama.

Seolah sedang memastikan sesuatu.

“Duduk.”

Aruna duduk.

Adrian ikut duduk di hadapannya.

Tetap diam.

Lalu tiba-tiba bertanya—

“Semalam… kau tidur nyenyak?”

Aruna mengangkat kepala.

Pertanyaan macam apa itu?

“Maaf?”

Adrian menatap lurus.

“Tidak mimpi aneh?”

Ruangan mendadak terasa lebih dingin.

Aruna menelan ludah.

Tangannya perlahan mengepal.

Kenapa…

dia bertanya itu?

Adrian melihat perubahan ekspresinya.

Dan untuk pertama kalinya—

ada sesuatu di wajah pria itu.

Harapan.

Tipis sekali.

Seperti seseorang yang sudah menunggu terlalu lama.

“Kau mulai mengingat?”

Aruna menatapnya.

Bingung.

Tak nyaman.

Dan untuk pertama kalinya—

takut.

Takut karena sebagian dari dirinya…

ingin menjawab:

iya. tapi perasaan yang ada di dalam dirinya seperti itu

tidak bisa diungkapkan dan dijelaskan dengan kata

Aruna hanya sesekali melihatnya dan kembali ke sana dan berbaringlahh

dengan kata

Bersambung

1
Allfa Rizky
apakah ada tragedi yang terus berulang ?
Sarin: Sesuai judul kak reinkarnasi tetapi ttep aku modif biar ga bosen bacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!