Tiga orang wanita harus hidup dalam perjuangan setelah orang-orang terkasih mereka semuanya tewas dibunuh oleh pasukan pemerintah Negara Zonic. Dendam yang dipendam memaksa mereka menempa diri menjadi wanita-wanita kuat.
Ketiga wanita itu adalah Bella Sanggar, Kayla Srikandar dan Akira Srikandar. Bella Sanggar menjelma menjadi pemimpin kelompok pemberontak yang bernama Perampok Hati Es. Kayla yang merupakan janda dari perampok ternaama bernama Srikandar, secara bertahap membentuk kekuatan pemberontak.
Sementara Akira yang terpisah dari ibunya, menggembleng diri di sebuah sekolah ternama milik pemerintah. Kecerdikan yang dimilikinya membuatnya mempelajari banyak ilmu di perpustakaan yang membuatnya menjadi gadis remaja yang tangguh.
Namun, status Buronan Wajib Mati membuat ketiganya harus berhati-hati karena pasukan pemerintah bisa saja mengetahui penyamaran mereka.
Sanggupkah ketiga wanita itu membalaskan dendam orang-orang terdekat mereka? Ikuti keseruan cerita kolosal ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PBP 1: Pulangnya Nona yang Hilang
*Perempuan Bertopeng Perak (PBP)*
Seekor kuda berkulit dan berbulu hitam berjalan pelan. Orang yang menungganginya adalah seorang yang mengenakan jubah cokelat besar. Kepalanya ditutup oleh balutan selendang berwarna hitam. Wajahnya tidak terlihat karena tubuhnya tengkurap di atas punggung kuda. Namun, kedua kakinya masih berada pada pijakan di samping perut kuda dan satu tangannya masih memegang tali kekang kuda. Tangan kirinya terkulai lemah menggantung.
Jika dilihat sekilas, tidak jelas apakah penunggang itu seorang lelaki atau wanita. Namun, dari kulit jemarinya yang sebagian besar mengalami luka bakar, bisa di terka bahwa itu tangan wanita.
Orang itu sejenak mengangkat sedikit kepalanya guna mencuri pandang ke depan. Sekilas ia melihat sebuah rumah besar dan bagus. Rumah itu dikelilingi oleh pagar tembok. Kebagusannya dapat terlihat dari model atap rumah yang berbahan genteng bagus.
Apa yang dilihat oleh wanita itu adalah sisi belakang rumah. Ada sebuah pintu kayu di tembok pagar belakangnya.
Kepala wanita itu kembali jatuh ke leher kuda. Sementara tangannya bergerak pelan pada tali kekang kuda, memberi hentakan kecil pada tunggangannya. Kuda itu sedikit mempercepat jalannya, menuju ke rumah besar.
Tidak berapa lama, kuda itu tiba di depan pintu belakang rumah tersebut. Kuda hanya berhenti berdiri di tempat sepi itu. Si penunggang pun diam tidak bergerak lagi, menelungkup di punggung kudanya.
Hingga sekitar setengah jam lamanya, pintu belakang pagar rumah dibuka dari dalam. Seorang wanita berusia tua berpakaian biru gelap keluar dengan membawa sebuah karung berwarna cokelat. Namun, wanita berwajah keriput dan berambut putih itu berhenti dengan sorot mata tajam memandang kepada kuda yang berdiri diam, tepatnya memandang kepada sosok di punggung kuda.
“Siapa itu?” tanyanya lirih kepada dirinya sendiri.
Dengan perasaan agak takut, ia letakkan karung bawaannya dan segera berjalan ke dalam. Ia berjalan menuju bagian belakang rumah yang adalah dapur dan sumur. Di sumur ada seorang lelaki yang juga berpakaian biru gelap, sedang menimba air. Lelaki itu berambut pendek dan berkumis. Terlihat tangan kekarnya berotot keras saat menarik tali timba.
“Mongkoi! Mongkoi!” panggil si wanita yang usianya sudah di atas enam puluh tahun.
Lelaki yang dipanggil dengan nama Mongkoi, segera menengok sambil menahan tarikannya. Mongkoi kerutkan kening melihat si wanita barjalan tergesa-gesa.
“Ada apa, Mama Teyep?” tanya Mongkoi.
“Di pintu belakang ada kuda bawa orang mati,” kata wanita yang disebut bernama Mama Teyep.
“Hah! Kok orang matinya di bawa ke sini?” tanya Mongkoi heran.
“Mana Mama tahu,” kata Mama Teyep dengan wajah mengerenyit tidak sakit.
Buru-buru Mongkoi menarik habis tambangnya dan mengangkat timba sumur bersama airnya. Timba ia letakkan begitu saja tanpa menuang terlebih dulu airnya ke gentong.
Mongkoi segera pergi meninggalkan sumur. Mama Teyep mengikuti.
Setibanya di pintu pagar, Mongkoi berhenti sejenak. Ia memerhatikan lebih dulu kuda dan penunggangnya.
“Hei, Orang Asing!” panggil Mongkoi.
Namun, tidak ada reaksi dari penunggang kuda itu. Tidak ada jawaban atau gerakan kepala. Satu tangannya yang terkulai, menunjukkan bahwa penunggang itu sudah mati atau pingsan, atau juga tidur.
Pria berusia empat puluh tujuh tahun itu mendekati kuda.
“Hei, Orang Asing!” panggil Mongkoi pelan sambil menepuk dua kali bahu wanita di atas kuda.
Tidak ada reaksi.
“Tapi masih bernapas,” ucap Mongkoi pelan saat melihat ada pergerakan halus pada punggung wanita itu yang menunjukkan ada aktivitas pernapasan pada dirinya.
“Hei, Orang Asing, bangun!” tepuk dan panggil Mongkoi lebih keras.
Namun, tetap saja tidak ada reaksi.
Mongkoi lalu berinisiatif untuk memeriksa wajah penunggang kuda yang ia duga adalah perempuan. Ia singkap penutup kepala si penunggang kuda.
“Dewa Api!” pekik Mongkoi terkejut saat melihat sebagian wajah rusak wanita penunggang itu.
Mongkoi melihat adanya luka bakar yang parah dan masih basah pada sebagian wajah wanita berkulit putih itu.
Mama Teyep segera mendekat karena penasaran terhadap keterkejutan Mongkoi.
“Wajahnya terluka bakar,” kata Mongkoi agak berbisik kepada Mama Teyep.
Mak Teyep memandang serius kepada wajah wanita yang terkulai. Tidak berapa lama, sepasang mata tua Mama Teyep melebar terkejut. Ia mengenali wajah itu.
“Kayla? Ini Nona Kayla! Dewa Api!” pekik Mama Teyep.
“Hah, Nona Kayla?!” kejut Mongkoi lagi.
“Cepat bawa ke dalam, Mongkoi!” kata Mama Teyep cepat, mendadak panik.
Buru-buru Mongkoi meraih tubuh wanita itu dan menempatkannya pada gendongan kedua tangan kekarnya.
“Dewa Api, kenapa Nona Kayla nasibnya seperti ini,” ucap Mama Teyep menangis.
Menemukan nona muda yang lama hilang, bukannya rasa gembira yang dirasakan, tetapi justru kedukaan yang datang. Sejak proses lahir ke dunia hingga tumbuh dewasanya seorang Kayla, Mama Teyep adalah orang yang paling dekat dalam membesarkannya, lebih dekat dari ayah dan ibunya. Bahkan Kayla lebih suka bermanja ria kepada Mama Teyep daripada kepada ibunya.
Hingga satu peristiwa buruk terjadi. Kayla jatuh hati kepada seorang pemimpin perampok terkenal yang menjadi dasar bagi ayahnya untuk mengusirnya. Selama tiga belas tahun setelahnya, Kayla hilang tanpa kabar sedikit pun.
Dan hari ini, ia pulang dalam kondisi buruk dan menyedihkan.
Mama Teyep menangis kencang sambil berlari kecil mengikuti Mongkoi yang buru-buru membawa masuk tubuh Kayla.
Suara tangis Mama Teyep yang terdengar tidak wajar, seolah ada kerabat yang meninggal, menarik perhatian orang-orang di dalam rumah besar itu. Seketika para penghuni rumah yang mendengarnya menjadi heboh. Para pelayan yang bekerja di rumah itu segera berlarian ke sisi dalam untuk mengetahui apa yang terjadi.
“Minggir! Minggir! Beri jalan!” seru Mongkoi kepada sejumlah pelayan yang menumpuk menghalangi jalan.
“Mama, taruh di mana?” tanya Mongkoi bingung.
“Di kamar Mama dulu,” jawab Mama Teyep sesegukan. “Ya Dewa Api! Tolong selamatkan Nona Kayla!”
“Nona Kayla?” ucap para pelayan senior terkejut.
Para pelayan yang sudah bekerja di rumah itu lebih 13 tahun, segera bergerak mengikuti ke kamar Mama Teyep. Beberapa orang pelayan perempuan spontan ikut menangis, terbawa oleh tangis Mama Teyep yang berkepanjangan. Mereka juga pernah akrab dengan Kayla yang adalah sosok nona yang menyenangkan di rumah itu.
Dulu, Nona Kayla ibarat mutiara di dalam rumah Keluarga Zormik.
Di ruangan depan, seorang wanita berusia 45 tahun yang sedang menekuni sulaman pada sehelai kain, jadi mengerutkan kening. Ia samar-samar mendengar kehirukpikukan di bagian dalam rumah. Wanita itu mengenakan pakaian bagus berwarna putih-putih. Pada sisi kanan pakaiannya ada sulaman bermotif bunga-bunga kecil berwarna kuning dan merah, memberi keindahan pada pakaiannya. Wanita berkulit putih yang masih terlihat cantik tersebut adalah nyonya di rumah itu. Narakissa namanya, alias Nyonya Zormik.
“Kurina!” panggil wanita bersanggul itu.
“Saya, Nyonya,” sahut gadis pelayan berpakaian putih yang duduk tidak jauh dari majikannya.
“Coba kau lihat, kenapa di belakang ada yang menangis!” perintah Narakissa.
“Iya, Nyonya,” ucap pelayan bernama Kurina. Ia segera bangkit dan pergi ke dalam.
Narakissa melanjutkan sulamannya. Ia adalah seorang wanita pecinta sulaman. Kegiatannya sehari-sehari adalah menyulam. Bahkan keindahan hasil sulamannya sudah terkenal dan harganya sangat mahal jika ia mau menjualnya kepada seseorang. Beberapa pejabat pernah membeli hasil sulamannya untuk pakaian kebesaran.
Tidak berapa lama, Kurina kembali muncul dari dalam.
“Nyonya, katanya Nona Kayla pulang dalam keadaan buruk,” lapor Kurina.
Mendengar laporan itu, seketika Narakissa terdiam terkejut. Sepasang matanya melebar, berubah memerah dan berair.
“Kayla,” ucapnya lirih. Bibirnya bergetar seiring airmatanya meluncur jatuh merusak lapisan bedaknya. Ia buang begitu saja alat sulamnya lalu bangkit berlari dan menjerit, “Kayla!”
Mendengar jeritan majikannya dan suara langkah larinya, para pelayan yang berkerumun segera menyingkir memberi jalan.
Narakissa tiba di pintu kamar Mama Teyep. Di lihatnya pelayan tertua itu menangisi sosok wanita berjubah yang dibaringkan di atas ranjang sederhana. Ia menatap sejenak wajah wanita di ranjang.
Rasa sakit yang tidak tertahankan seketika menyerang perasaan Narakissa saat melihat kondisi wajah Kayla yang rusak separuh.
“Kayla!” jerit Narakissa histeris lalu jatuh terkulai tidak sadarkan diri.
“Nyonya!” sebut para pelayan serentak.
Dua orang pelayan perempuan segera menahan jatuh tubuh Narakissa. (RH)
kopi meluncur tuk akira
gk mungkin tabib nya Kayla kan omm?
next ommm