Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 8 Pengantin yang Tersiksa
“Akkhr!” erang Purwasaga sambil lari terbungkuk dan terhenti memeluk palang empuk setinggi perutnya, tempat yang pas untuk dia beristirahat.
Ia sangat terengah-engah, seperti ingin pingsan saja. Buliran peluh sebesar biji jagung menetes dari cuping hidung dan dahinya yang menunduk.
Saat itu Purwasaga mengenakan baju tanpa lengan seperti daster yang bawahnya sampai lutut. Baju berwarna biru muda itu transparan karena terbuat dari bahan yang sangat tipis. Seluruh otot dan lekuk tubuh Purwasaga yang banjir keringat dan tanpa lapisan lagi terbayang dengan jelas. Baju itu sampai kuyup oleh peluh pertarungan asmara.
Purwasaga berdiri mengangkang. Pada bagian bawah perut, baju itu ternoda warna merah. Tidak hanya itu, ada setetes dua tetes darah yang jatuh ke lantai dari bawah perut si pemuda.
Selain rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya, rasa perih dan sakit pada kejantanannya adalah faktor utama yang membuatnya mengerang.
Entah apa yang terjadi. Seharusnya, di kala pergumulan malam pertama pengantin baru, sang wanitalah yang berdarah, tetapi ini sebaliknya. Purwasaga yang justru berdarah.
“Ini di luar dari pengetahuanku. Justru aku yang berdarah dan aku yang tidak berdaya,” ucap Purwasaga di dalam hati, dengan punggung dan pundak yang naik turun karena napasnya kencang memburu.
Purwasaga benar-benar terkulai lemah dengan wajah mengerenyit dan sesekali mengerang lirih karena rasa sakit dan perih pada kejantanannya.
Purwasaga tidak bisa menolak keganasan Lintha dalam pertarungan pengantin baru di atas ranjang. Bertolak belakang dengan adegan cinta suami istri pada umumnya, Purwasaga sebagai suami justru seperti seorang istri, bahkan seperti korban pemerkosaan.
Meski Lintha yang mendominasi, tetapi dia memiliki cara sendiri untuk membuat Purwasaga menjadi kuda liar yang harus mengeluarkan tenaga super ekstra.
Memang, Purwasaga tetap mendapat nikmatnya dan puncaknya, bahkan dua kali. Namun, besamaan dengan nikmat dari pergumulan ekstrem tersebut, Purwasaga juga merasakan derita.
“Kenapa kejantananku bisa terluka di dalam?” tanya Purwasaga di dalam hati. Dia tidak mengerti.
Di saat dia sedang beristirahat dengan tanpa tenaga di palang yang biasa ditempati kain, istrinya sedang mandi di kamar mandi. Kamar yang sejatinya milik Lintha tersebut memiliki kamar mandi di dalamnya, mirip kamar bergaya masa depan.
Setelah cukup lama menelungkup memeluk palang empuk tersebut, akhirnya napas Purwasaga mulai terkendali dan stabil. Ia kemudian bergerak turun dan memilih tidur terlentang.
Posisi itu membuat Purwasaga terlihat seperti lelaki berdaster. Pada bagian bawah perutnya terlihat jelas noda darah dari sesuatu yang menonjol.
Tidak berapa lama, pintu kamar mandi dibuka dari dalam. Lalu keluarlah sosok wanita tinggi besar, tapi cantik jelita. Rambut birunya yang panjang terurai lembab. Tidak seperti sebelumnya di mana Lintha tampil terbuka di depan suaminya, kali ini dia keluar dari kamar mandi dalam kondisi sudah berbaju dan memakai rok panjang warna kuning-kuning dengan warna minoritas putih, tidak seperti telur di belah, tetapi seperti pisang di belah lalu diberi susu kental.
“Hihihik!”
Melihat suaminya tergeletak lemah di lantai kamar, Lintha tertawa cekikikan. Namun, dia tidak mendatangi suaminya, dia justru duduk di tepian kasur tebalnya.
Purwasaga hanya diam mendengar suara tawa istri besarnya.
“Tidak apa-apa, Suamiku. Itu nasib setiap lelaki yang menikah dengan wanita Bangsa Penjaga Biru. Wanita kami lebih kuat daripada lelaki untuk urusan adu bawah,” kata Lintha.
“Oh, seperti itu,” ucap Purwasaga lemah.
“Suamiku, kau mandi dulu. Di rak kuning itu ada botol putih. Itu Minyak Bayi Cantik. Nanti dioleskan saja. Tidak sampai setengah hari akan sembuh. Jadi nanti malam kita bisa adu bawah lagi,” kata Lintha.
Terbeliak sepasang mata Purwasaga mendengar niatan istri yang tidak diimpikannya itu.
“Kau hanya kaget dalam kesan pertama. Nanti kau akan terbiasa, Suamiku. Jika kau sudah tidak berdarah lagi, pasti justru kau yang akan meminta terus. Hihihik!” kata Lintha sambil menata rambut biru terangnya. “Oh ya, jika kau ingin keluar rumah, jangan lupa memakai Gelang Penanggung. Kini penanggungmu adalah ayahku, Rungga Waka Wakar. Gelang Penanggungmu kini berlaku seumur hidup.”
“Bagaimana aku bisa keluar jika aku selemah ini?” ucap Purwasaga seakan pasrah dengan keadaannya.
Lintha lalu beranjak menghampiri suaminya. Ia turun berjongkok. Satu tangan bercahaya ungunya lalu mengangkat kepala suaminya.
Cup!
Satu kecupan di ujung hidung diberikan oleh Lintha.
“Aku mau pergi dulu. Jika kau memerlukan sesuatu yang tidak ada, panggil saja pelayan rumah,” pesan Lintha.
“Iya,” ucap Purwasaga.
Lintha kembali meletakkan kepala suaminya dengan lembut di lantai. Setelah membelai rambut suaminya, Lintha beranjak berdiri dan pergi menuju pintu.
Ditinggal oleh istrinya, Purwasaga justru terlelap. Ia ketiduran di lantai.
Namun, ketika dia terbangun kembali, ia harus terkejut. Pasalnya, tidak jauh darinya sudah ada meja kecil yang di atasnya ada sajian makanan yang banyak dan tampak lezat dan gurih. Masakan hewan laut mendominasi hidangan tersebut.
Purwasaga terkejut bukan karena menu hidangannya yang ramai, tetapi karena sebelumnya makanan itu tidak ada dan kemudian menjadi ada. Jika sebelumnya tidak ada, berarti ada orang yang masuk membawanya. Jika ada orang yang masuk, sudah pasti orang itu akan melihat jelas kondisi pengantin lelaki yang mengenaskan.
“Kurang ajar sekali! Kenapa sampai ada yang berani masuk?” maki Purwasaga, tapi di dalam hati. Dia hanya meringis menunjukkan suasana hatinya yang ingin menangis.
Purwasaga lalu bergerak bangkit.
“Aaakk!” erang Purwasaga saat dia merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Tenaganya masih sangat lemah.
Mau tidak mau, Purwasaga berjalan tertatih dan membungkuk menuju ke kamar mandi.
Semasuknya di kamar mandi, barulah terlihat di dalam itu luas. Ada kolam atau sendang, ada pula rak berisi lipatan-lipatan kain, ada pula rak berbagai macam perlengkapan mandi dan wewangian, termasuk rak berisi berbagai macam perhiasan.
Purwasaga tidak terkejut lagi karena sebelumnya ia sudah pernah masuk. Namun, ia keluar lagi. Ada yang terlupakan, yaitu Minyak Bayi Cantik untuk ia oleskan di kejantanannya yang rasa sakit dan perihnya sudah samar-samar.
“Aaakk!” jerit Purwasaga tanpa malu-malu karena di kamar mandi itu hanya dia seorang.
Jeritannya muncul saat kejantanannya terkena air. Seketika rasa perihnya kembali menggigit.
“Aku pendekar. Aku tidak boleh cengeng. Ini sakit yang tidak ada apa-apanya bagiku,” kata Purwasaga kepada dirinya sendiri.
Selanjutnya ia pun mandi bugil di pinggiran sendang. Dan ternyata, perlengkapan mandi yang wangi-wangi, membuatnya betah bermain air. Ia pun berlama-lama mandi. Toh tidak ada kegiatan lain yang akan dia lakukan selain istirahat total. Ia berharap Lintha tidak pulang-pulang.
Setelah puas mandi, Purwasaga mengoleskan Minyak Bayi Cantik pada kejantanannya.
Purwasaga tiba-tiba terbeliak saat merasakan kejantanannya perlahan-lahan merasa pedas.
“Aaakk!” jerit Purwasaga saat rasa pedas itu kian memanas dan menggigit kejantanannya.
Purwasaga menjadi panik. Ia segera mencari benda tipis yang bisa digunakan untuk mengipasi raja kecilnya.
Karena rasa pedasnya semakin naik, akhirnya Purwasaga memilih mengerang samar-samar dengan berbaring terlentang di ranjang. Tidak henti-hentinya dia mengipasi jagoan kasurnya. (RH)
hahhhh