Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03. SBR
...~•Happy Reading•~...
Sopir terkejut mendengar keterangan suster. 'Jadi Mba'nya bukan sakit, tapi hamil. Tapi kenapa bawa koper yang berat?' Sopir bertanya dalam hati.
"Tolong nama bapak." Sopir terdiam. Dia ragu untuk memberikan nama, tapi kondisi Janet mengaktifkan rasa empati di hatinya.
"Andri, suster." Dia memutuskan berkata jujur. Dia tidak bisa menutup atau mengelak, karena dia sudah terkait dengan kejadian yang menimpa penumpangnya.
'Kenapa aku ragu atau takut? Aku cuma mengantar.' Andri menguatkan hati atas tindakannya.
"Siapa nama ibu, Pak?" Ucap suster yang telah siap mencatat data pasien.
Andri tersentak dan bingung. 'Apa aku harus berkata jujur juga?' Andri berpikir dalam kebingungan. 'Polisi bisa terlibat dan aku ikut terseret.' Andri membatin sambil berpikir. "Sebentar, suster." Dia ingat mobil dan segera membuka aplikasi pesanan. "Namanya Janet, suster." Andri menyebut sesuai nama yang tercantum.
"Apa saya bisa lihat pasien, suster?" Andri coba menunda memberi keterangan data pasien lebih lanjut, karena hanya itu yang dimiliki. Dia berharap Janet bisa lekas sadar, agar bisa memberikan data yang benar.
Suster jadi melihat Andri, lalu meletakan catatan di tangan. Dia mengira Andri sedang khawatir tentang kondisi istrinya, sehingga menunda ambil data.
"Mari ikut saya, Pak." Suster berjalan di depan. Andri mengikuti sambil berdoa dalam hati, semoga dia terhindar dari kesulitan, karena mau membantu.
"Ini Pak. Sementara ibu diinfus, menunggu siuman..." Suster memberi penjelasan, tapi Andri tidak menyimak. Dia melihat Janet yang terbaring lemah.
"Terima kasih suster. Saya mau berdiri di sana sebentar." Andri menunjuk bagian kepala ranjang Janet. Suster mengangguk dan mempersilahkan dengan gerakan tangan.
Setelah ditinggal sendiri, Andri memperhatikan wajah Janet yang pucat. 'Dia masih sangat muda dan polos.' Andri berpikir, Janet masih berusia belasan tahun.
Andri menunduk dan menyentuh bahu Janet. "Dek, segeralah sadar. Saya tidak bisa di sini terlalu lama untuk menolongmu." Bisik Andri, berharap didengar dan berdampak.
Perlahan, mata Janet terbuka dan mengangkat tangan untuk memegang kepalanya. "Oh, syukur. Mba sudah sadar." Andri kembali bersikap formal dengan hati bersyukur.
"Anda berada di rumah sakit. Saya yang mengantar anda." Andri menjelaskan saat melihat mata Janet melihat sekitar. Janet mengangguk, mengerti.
"Bayi anda tidak apa-apa." Andri menjelaskan lagi, karena mengira Janet sedang mengkhawatirkan kondisi kandungannya.
Namun Andri terkejut melihat mata bening Janet berkabut. Janet memegang dadanya yang terasa sesak, mengetahui dia benar hamil. "Apa nama anda Janet?" Andri mengalihkan ke hal yang sedang ditunggu. Janet mengangguk satu kali.
"Tolong kasih nomor telpon suami atau keluarga anda, supaya mereka bisa ke sini temani anda." Permintaan Andri terdengar biasa dan umum, namun membuat air mata Janet jatuh disertai gelengan beberapa kali.
Hal itu membuat Andri berpikir negatif. 'Apa dia sedang lari dari rumah, atau diusir keluarganya karna kecelakaan?' Andri berpikir demikian, karena melihat usia Janet yang masih sangat muda.
"Pak, saya bisa keluar dari sini?" Janet meminta dengan wajah memelas, sebab awalnya dia mau ke rumah sakit hanya untuk memastikan hamil atau tidak, bukan untuk dirawat.
Andri terdiam sambil melihat wajah Janet yang masih pucat. "Tujuan saya tadi ke sini untuk periksa hamil. Tidak tahu mengapa, tiba-tiba terasa pusing dan gelap." Janet menjelaskan dan berusaha terlihat kuat.
"Kalau begitu, tunggu, Mba. Saya panggil suster. Anda bicara sendiri dengan mereka." Andri tidak bisa menolak. Ketika hendak pergi, dia berbalik. "Oh, iya, Mba. Mereka mengira saya keluarga anda." Andri mengingatkan, agar Janet tidak salah memberi keterangan dan membuat dia kesulitan.
"Terima kasih, Pak." Janet berkata sambil berusaha duduk. Dia mengerti maksud Andri dan sangat berterima kasih atas bantuannya.
~▪︎▪︎
Beberapa waktu kemudian, Janet dan Andri berjalan ke tempat parkir. Setelah masuk ke mobil, Janet lega melihat tas tangannya ada di lantai mobil. "Pak, ini saya gantikan uang tadi." Janet memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Andri yang telah membayar biaya rumah sakit.
"Terima kasih, Mba." Andri mengambil uang dari tangan Janet dan memberikan tanda terima juga resep yang diberikan suster.
"Pak, bisa tolong saya lagi?" Tanpa berpikir atau menimbang, Janet tahu hanya satu-satunya orang yang bisa menolongnya adalah Andri.
"Mau tolong apa, Mba?"
"Tolong matikan aplikasi dan antar saya ke tempat penginapan atau kos'kosan wanita, Pak." Janet tidak mau tinggal di hotel untuk menghabiskan uang.
"Saya sudah matikan sejak tadi." Andri menunjuk ke arah aplikasi yang sudah mati. "Mba mau tinggal di pusat kota, atau pinggiran kota?"
"Kalau bisa ke pinggiran kota saja, Pak." Janet memutuskan untuk menghindari Devan, orang tuanya dan kondisi uang.
"Baik. Bisa sekalian saya pulang." Andri merasa lega, sebab dia tinggal di pinggiran kota.
Tadi dia mengantar penumpang ke apartemen dan berencana untuk langsung pulang. Namun sebelum aplikasi dimatikan, ada permintaan masuk dari Janet. Dia terima dengan pemikiran setelah antar Janet lalu pulang ke rumah.
"Terima kasih, Pak." Janet bersandar untuk menenangkan hati dan berpikir.
Andri tidak bertanya penyebab Janet mencari tempat kost, bukan pulang ke rumah. Dia hanya bertanya tentang tempat tinggal yang diinginkan Janet.
Setelan berbicara panjang dalam perjalanan, mobil Andri tiba di sebuah rumah sederhana dan rapi di pinggiran kota. "Silahkan Mba Janet turun untuk istirahat malam ini. Besok baru cari tempat kost." Andri menunjuk rumah di depannya saat melihat Janet agak ragu.
"Terima kasih, Pak." Janet turun perlahan sambil melihat ke arah pintu dan rumah yang sepi. Walau sikap Andri sopan dan baik, dia tetap takut dan waspada.
Andri membuka pintu rumah. "Andri sudah pulang?" Terdengar suara wanita dari kamar.
"Iya, Ma. Mama bisa keluar sebentar?" Tanya Andri di depan pintu kamar.
Pintu kamar dibuka. "Andri belum ma kan...?" Mamanya tidak melanjutkan saat melihat Andri membawa seorang wanita muda.
"Ma, ini Janet. Malam ini dia menginap di sini." Andri tidak bisa mengatakan lain. "Biar tidur di kamarku." Ucap Andri lagi, karna mengerti yang dipikirkan Mamanya.
"Baik. Silahkan." Mama Andri mempersilahkan Janet. Mata tuanya bisa tahu ada hal buruk yang terjadi dengan Janet.
"Silahkan istirahat dulu. Maaf, kalau berantakan, karna tadi pagi saya kesiangan. Saya akan minta yang baru dari Mama." Ucap Andri dan hendak menarik selimut dan seprei.
"Biarkan saja, Pak. Tidak usah diganti. Saya membawa selimut." Janet mencegah.
"Baik. Coba untuk tidur." Ucap Andri sebelum keluar. Janet mengangguk dengan mata berlinang.
Ketika merasa tenggorokan kering, dia menuju pintu untuk meminta air sebelum Andri tidur. Namun dia berdiri diam di pintu saat mendengar percakapan Andri dan Mamanya.
"Ma, biarkan Dek Janet tinggal di sini dulu. Dia sedang hamil dan diusir keluarganya dari rumah. Mama tolong bicara dengannya, agar tidak lakukan tindakan buruk." Ucapan Andri kepada Mamanya membuat Janet terduduk dan menangis.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...