Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.
Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.
Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 – Rasa Cemburu
Kemenangan gemilang di malam *Annual Gala & Partnership Night* tidak serta-merta membuat jalan Maya di Aruna Kreasi bertabur bunga mawar. Sebaliknya, sorot lampu panggung yang malam itu memuja keanggunan dan kecerdasannya kini menyisakan bayangan panjang yang pekat di lantai bursa kerja. Di dunia profesional yang kompetitif, keberhasilan seorang pendatang baru sering kali menjadi pemantik api kecemburuan bagi mereka yang merasa kenyamanan posisinya mulai terusik.
Di sudut ruangan Divisi Audit Internal yang berjarak beberapa kubikel dari meja Maya, atmosfer dingin mulai memadat. Gista, auditor senior yang telah mengabdi selama empat tahun di Aruna Kreasi, menatap layar monitornya dengan rahang mengeras. Namun, fokus matanya sama sekali bukan pada barisan angka laporan keuangan, melainkan pada pantulan Maya yang sedang berjalan rapi membawa map dokumen menuju ruang fotokopi.
Bagi Gista, kehadiran Maya adalah ancaman nyata. Sebelum Maya bergabung, Gistalah yang selalu digadang-gadang sebagai kandidat terkuat untuk mengisi posisi Manajer Audit Internal yang sebentar lagi kosong karena pejabat lamanya akan pensiun. Gista telah mengorbankan waktu akhir pekannya, mengabaikan kehidupan sosialnya, dan selalu berusaha tampil sempurna di depan manajemen. Namun, dalam hitungan bulan, seorang janda muda dengan satu anak datang dan merebut panggung utama hanya dalam satu malam.
"Hebat ya, yang semalam jadi primadona," celetuk sebuah suara dari balik sekat kubikel Gista.
Rani, staf administrasi yang terkenal sebagai penyambung lidah gosip kantor, bersandar di meja Gista sambil memegang cangkir kopi. "Kamu lihat sendiri kan, Gist, di grup internal foto Maya berdiri di sebelah Pak Surya dan Pak Arga dipajang di halaman utama berita korporat? Padahal, yang mematangkan analisis awal proyek barat itu kan kamu. Kok malah dia yang memanen nama?"
Kalimat Rani ibarat bensin yang disiramkan ke atas bara api yang sudah menyala di dada Gista. Jari-jari Gista yang dihiasi *nail art* berwarna merah marun mengetuk meja dengan ritme yang cepat dan tidak sabar.
"Orang-orang hanya melihat hasil akhir, Ran. Mereka tidak tahu siapa yang sebenarnya berdarah-darah di balik layar," jawab Gista, suaranya ditekan serendah mungkin namun sarat akan racun sakit hati. "Tapi biarlah. Panggung yang didapat dengan instan biasanya juga akan runtuh dengan instan. Kita lihat saja sejauh mana dia bisa bertahan tanpa fondasi yang kuat."
### Rencana di Balik Meja Kerja
Rasa cemburu yang tidak dikelola dengan baik perlahan berubah menjadi obsesi untuk menjatuhkan. Sepanjang hari Selasa itu, Gista tidak lagi fokus pada pekerjaannya sendiri. Matanya bergerak liar setiap kali Maya berinteraksi dengan rekan kerja lain atau saat Pak Arga memanggil Maya ke ruangannya untuk membahas kelanjutan draf audit.
Setiap senyuman yang diberikan rekan kerja kepada Maya, setiap pujian kecil yang lewat di koridor, terasa seperti tamparan bagi ego Gista. *“Dia hanya beruntung karena wajahnya menjual dan status ibanya menarik simpati,”* batin Gista berulang kali, mencoba merasionalisasi rasa irinya agar terlihat seperti sebuah keadilan yang tertunda.
Kesempatan yang dicari Gista akhirnya datang pada pemujung jam kerja sore itu. Ketika seluruh ruangan mulai sepi karena para karyawan bergegas pulang tenggo, Maya tampak terburu-buru merapikan tasnya.
"Mbak Maya, buru-buru ya?" tanya Gista, mengubah nadanya menjadi seramah mungkin saat berpapasan di dekat dispenser.
"Iya, Gista. Dika sedang agak hangat badannya di tempat penitipan, jadi saya harus menjemputnya lebih awal hari ini," jawab Maya ramah, tanpa sedikit pun menaruh curiga pada perubahan sikap rekan kerjanya yang biasanya dingin itu.
"Oh, ya ampun, kasihan Dika. Ya sudah, cepat pulang, May. Biar berkas sisa rekonsiliasi data vendor untuk proyek tekstil yang di meja kamu, aku saja yang masukkan ke loker penyimpanan utama. Kebetulan aku masih harus lembur menyelesaikan laporan kuartalan," tawar Gista dengan senyum manis yang dipaksakan.
Maya ragu sejenak. Berkas rekonsiliasi data vendor tersebut adalah dokumen sensitif yang memuat rincian selisih harga yang sedang diinvestigasinya. Namun, mengingat pesan singkat dari Mbak Lastri yang mengatakan Dika terus memanggil namanya, Maya akhirnya luluh. "Aduh, Gista, terima kasih banyak ya. Berkasnya sudah aku kliping rapi di dalam map kuning di atas meja. Tolong dimasukkan ke loker nomor empat dan dikunci, ya. Kuncinya bisa dititipkan ke sekuriti depan."
"Aman, May. Serahkan saja padaku," ujar Gista mantap.
Begitu langkah kaki Maya menghilang di balik pintu lift, senyum ramah di wajah Gista lenyap seketika. Koridor Divisi Audit kini benar-benar sepi. Gista melangkah perlahan menuju kubikel Maya. Di atas meja yang bersih itu, sebuah map kuning tebal tergeletak pasrah.
Gista membuka map tersebut. Jari-jarinya membalik lembar demi lembar dokumen penting itu hingga ia menemukan apa yang dicarinya: lembar verifikasi akhir yang memuat tanda tangan fisik dan cap digital persetujuan dari Pak Arga terkait alokasi dana talangan vendor. Dokumen ini adalah dokumen tunggal; jika hilang atau rusak, proses audit harus diulang dari nol, dan penanggung jawabnya akan dianggap melakukan kelalaian fatal yang merugikan garis waktu proyek perusahaan.
Sebuah ide licik melintas di benak Gista. Ia tidak akan menghancurkan dokumen ini di kantor. Dengan gerakan cepat dan terlatih, Gista menyelipkan tiga lembar dokumen inti verifikasi tersebut ke dalam tas kerjanya sendiri, lalu menutup kembali map kuning itu dan menyimpannya ke dalam loker nomor empat sesuai amanat Maya.
*“Kita lihat besok pagi, Maya. Apakah status primadunamu bisa menyelamatkanmu dari tuduhan kelalaian kerja di depan Pak Arga,”* bisik Gista penuh kemenangan.
### Badai yang Datang Lebih Cepat
Hari Rabu pagi dimulai dengan ketegangan yang tidak biasa. Sejak pukul delapan, Pak Arga sudah berada di ruangannya dengan pintu kaca yang tertutup rapat, tanda bahwa sang CEO sedang tidak ingin diganggu atau sedang menghadapi masalah serius.
Maya tiba di kantor dengan perasaan yang sedikit lega karena demam Dika sudah turun setelah dikompres semalaman. Namun, begitu ia duduk di kursinya, sebuah panggilan telepon internal berdering nyaring dari meja sekretaris direksi.
"Ibu Maya, harap segera ke ruangan Pak Arga sekarang. Bawa serta dokumen rekonsiliasi data vendor proyek tekstil yang kemarin sore Anda selesaikan," ujar suara di seberang telepon dengan nada mendesak.
Maya segera membuka loker nomor empat menggunakan kunci yang ia ambil dari sekuriti. Ia mengambil map kuning tersebut, mendekapnya di dada, lalu berjalan cepat menuju ruang kerja Pak Arga. Di sepanjang jalan, ia sempat menangkap tatapan Gista yang sedang berpura-pura sibuk dengan ponselnya, namun menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan antisipasi.
Di dalam ruangan, Pak Arga tidak sendiri. Ada Kepala Divisi Hukum dan Bu Ratna yang duduk di sofa dengan wajah tegang.
"Maya, langsung saja," Arga membuka percakapan, suaranya terdengar dingin dan tanpa basa-basi seperti biasanya. "Tim hukum membutuhkan lembar verifikasi fisik proyek tekstil yang kemarin Anda periksa untuk diserahkan ke pihak kejaksaan terkait sengketa lahan vendor luar. Di mana dokumen aslinya?"
Maya dengan percaya diri membuka map kuning di atas meja kerja Arga. "Ada di dalam sini, Pak. Kemarin sore sudah saya rapikan dan..." kalimat Maya terputus.
Jari-jarinya membalik lembar demi lembar isi map dengan cepat. Jantungnya berdegup kencang. Lembar ketiga, keempat, dan kelima yang seharusnya berisi tanda tangan verifikasi dan data kliring vendor... kosong. Lembaran itu hilang. Map itu hanya menyisakan lampiran pendukung yang tidak memiliki nilai hukum kuat.
"Ada masalah, Maya?" tanya Bu Ratna, suaranya langsung meninggi, mengambil kesempatan. "Jangan bilang dokumen sepenting itu hilang di tanganmu? Kamu tahu kan itu dokumen negara yang sedang dalam pengawasan hukum?"
"Maaf, Pak Arga, Bu Ratna... kemarin sore dokumen ini lengkap. Saya sendiri yang merapikannya," kata Maya, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar, meskipun hawa dingin ketakutan mulai merayap di punggungnya. Pikiran Maya berputar cepat. *Kemarin sore... Gista.*
"Lengkap? Tapi faktanya sekarang tidak ada di sana, Maya!" sela Bu Ratna dengan nada menghakimi yang kencang. "Apakah ini bentuk profesionalisme yang kemarin malam dipuji-puji di panggung gala? Baru dipuji sedikit saja sudah lalai menjaga aset dokumen vital. Atau jangan-jangan, ada pihak luar yang sengaja kamu beri akses?"
Tuduhan Bu Ratna sangat berat dan menjurus pada fitnah pembocoran rahasia perusahaan. Maya mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan getaran emosi. Ia menatap Pak Arga lurus-lurus, mencari secercah kepercayaan di balik mata tajam pria itu.
Arga diam sejenak, matanya meneliti raut wajah Maya yang panik namun menyimpan ketegasan yang jujur. "Siapa saja yang menyentuh map ini setelah Anda selesai bekerja kemarin sore, Maya?" tanya Arga, nadanya datar namun menuntut jawaban yang presisi.
Maya berada di persimpangan jalan. Jika ia langsung menyebut nama Gista tanpa bukti fisik, ia akan dituduh mencoba melempar tanggung jawab dan menciptakan konflik internal. Dunia kerja telah mengajarkannya bahwa tanpa bukti, kebenaran hanyalah sebuah opini yang lemah.
"Kemarin sore saya meminta bantuan Gista untuk memasukkan map ini ke dalam loker karena saya harus segera pulang merawat anak saya yang sakit, Pak," jawab Maya jujur, memilih untuk memaparkan kronologi fakta daripada melontarkan tuduhan langsung. "Namun, tanggung jawab akhir atas dokumen ini tetap berada di tangan saya sebagai auditor yang ditunjuk. Tolong berikan saya waktu dua jam untuk memeriksa kembali area kerja dan memastikan keberadaan dokumen ini."
Bu Ratna mendengus remeh. "Dua jam? Untuk melarikan diri atau mencari alasan?"
"Cukup, Ratna," potong Arga tegas, membuat ruangan seketika hening. Arga berdiri, lalu menatap Maya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dua jam, Maya. Jika dalam dua jam dokumen itu tidak ada di meja saya, tim hukum akan mengeluarkan surat peringatan pertama dan menonaktifkan Anda dari proyek ini sementara waktu. Silakan keluar."
### Tegak di Tengah Kepungan
Maya melangkah keluar dari ruang direksi dengan beban yang terasa berkali-kali lipat lebih berat daripada saat ia menghadapi celetukan Bude Lastri di arisan keluarga. Di koridor, beberapa staf yang tampaknya sudah mendengar desas-desus tentang "dokumen hilang" mulai melemparkan pandangan berbisik.
Gista berdiri di dekat meja kerjanya, menatap Maya yang berjalan kembali ke kubikelnya dengan tatapan puas seorang pemenang.
Maya berhenti tepat di depan kubikel Gista. Ia tidak menangis, tidak pula melabrak dengan histeris. Kenangan akan janji Dika untuk menjaganya jika sudah besar nanti, serta bayangan Andra yang selalu mengajarkannya untuk berani karena benar, mendadak bangkit menjadi perisai batin yang luar biasa kuat.
"Gista," panggil Maya lembut namun sangat dingin, membuat Gista sedikit tersentak.
"Ya, May? Ada apa? Kok mukanya tegang banget?" tanya Gista, berpura-pura cemas.
"Dokumen verifikasi proyek tekstil di map kuning hilang sebagian," kata Maya, matanya menatap tajam langsung ke dalam manik mata Gista, mengunci setiap pergerakan mikro dari ekspresi wajah rekan kerjanya itu. "Aku tahu kamu yang terakhir memegang map itu kemarin sore sebelum masuk loker. Aku tidak akan menuduhmu di depan umum sekarang. Tapi ingat satu hal, Gis... Aruna Kreasi ini penuh dengan kamera pengawas, dan setiap dokumen digital memiliki *log* jejak yang tidak bisa dihapus. Jangan biarkan rasa bersaing membuatmu melakukan hal yang bisa menghancurkan kariermu sendiri."
Mendengar kalimat Maya yang begitu tenang namun terarah tajam, senyum di wajah Gista perlahan memudar. Ada kilatan kepanikan yang lewat di matanya sebelum ia buru-buru menguasai diri. "M-maksudmu apa, Maya? Aku kan cuma bantu masukkan ke loker! Jangan coba-coba fitnah aku ya karena kelalaianmu sendiri!"
Maya tidak membalas lagi. Ia berbalik dan kembali ke mejanya, menyalakan laptopnya dengan gerakan taktis. Dua jam adalah waktu yang singkat, namun bagi seorang auditor senior yang terbiasa melacak kecurangan data, waktu dua jam sudah lebih dari cukup untuk membalikkan keadaan. Badai kecemburan telah resmi dilepaskan padanya, dan Maya bersumpah tidak akan membiarkan dirinya layu sebelum bertarung dengan kecerdasan yang ia miliki.