NovelToon NovelToon
Kisah Cinta Pendekar Pedang

Kisah Cinta Pendekar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:228
Nilai: 5
Nama Author: Firdaus Rangkuti

Sebuah kerajaan terbesar punya misi menangkap semua petarung liar untuk kedamaian. Namun semua perguruan seni bertarung pedang menolaknya. Karena mereka tahu kalau kerajaan ingin mengatur masyarakat dengan menguasai sumber daya.

Sepasang pendekar pedang ini menjadi penyelamat untuk melawan sebuah kerajaan besar. Mereka melakukan perjalanan bersama untuk mengumpulkan rahasia teknik pedang tersembunyi dan dua pedang Sakti.

Pedang Zen Xi di Desa Win, lalu pedang Zoi Chu di Desa Hon. Namun mereka harus melewati rintangan dan tempat untuk bisa sampai di tujuan. Lalu mereka kembali untuk mengalahkan Kerajaan Sinpor.

Setelah masalah Kerajaan Sinpor selesai, kisah cinta mereka berdua sempat mendapatkan penolakan dari orang tua perempuan, karena perbedaan kelas sosial. Namun mereka berdua punya cara agar mereka berdua bisa menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firdaus Rangkuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kisah Desa Zou

Rio dan Jinsin mendengar dengan serius.

"Lalu kenapa desa ini masih menjadi desa dan kenapa bukan menjadi kota?" tanya Jinsin.

"Karena kelompok Johin, aktivitas desa menjadi terganggu, kurang lebih bertahun-tahun. Penduduk yang datang dari luar desa berlari keluar karena takut di tangkap oleh kelompok Johin. Hal ini membuat Desa Zou menjadi sebuah desa bukan kota." ucap tetua duduk menatap mereka berdua.

"Begitu ya. Kalau begitu terima kasih atas penjelasannya, tetua." ucap Jinsin. Lalu Rio dan Jinsin menunduk kepala di hadapan tetua. Lalu mereka pamit untuk keluar.

"Rio, kau mau kemana?" tanya Jinsin melihatnya berjalan.

"Aku akan pergi." ucap Rio.

"Untuk mencari keberadaan anggota Johin?" tanya Jinsin.

"Benar." Rio menoleh ke belakang melihat Jinsin. Lalu Jinsin melihat Rio wajah sedih dengan rambut bertiup angin. Rio berdiri di hadapannya, melihat Jinsin begitu sedih, tapi Rio tersenyum.

"Kau tidak boleh pergi." Jinsin mendekati Rio, lalu memegang kedua tangan, menatap matanya.

"Jinsin, apa yang kau lakukan?" ucap Rio merasa aneh melihat tindakan Jinsin.

"Kau tidak perlu mencari keberadaan anggota Johin itu. Tugas kamu di sini belum selesai, b*d*h!" lalu Jinsin yang sedang mesra berwajah sedih, memegang kedua tangan Rio, berubah sikap dengan memukul kepalanya dengan keras berwajah marah.

"Adohh, kenapa kau memukul aku." ucap Rio jongkok memegang kepala dengan kedua tangan sedang kesakitan. Lalu Jinsin berdiri membelakanginya melipat kedua tangan berwajah kesal menutup mata.

"Ikut aku." ucap Jinsin menarik tangan kanan Rio sedang jongkok, berjalan menuju teras kayu untuk duduk.

"Jinsin, kenapa kamu melarang aku?" Rio menatap mata Jinsin.

"Mencari anggota Johin yang berada di desa lain bukan tugas kamu." ucap Jinsin tidak menatap Rio.

"Apa alasan kamu?" Rio melihat dengan jawaban penuh penasaran.

"Kau itu petarung biasa. Jadi jangan bahayakan dirimu ke dalam petarungan yang luar biasa." Jinsin menjawab menatap mata penuh marah. Rio memegang tangan Jinsin, lalu melihatnya dengan wajah sedih.

"Jika kau ingin ikut dengan ku untuk mencari sisa anggota Johin yang berada di desa lain di dalam hutan ini. Ayo kita pergi." Rio memegang erat telapak tangan Jinsin, berwajah percaya diri.

"Sudah ku bilang, selesaikan dulu masalah di desa ini, b*doh." Jinsin memukul kepala Rio kedua kalinya berwajah marah dengan tangan kanan di genggam selesai memukul kepala Rio.

"Memang masalah disini, kan sudah di selesaikan." ucap Rio.

"Yah ampun. Ini orang melibatkan masalah desa. Tapi tidak tahu masih ada yang belum di selesaikan." Jinsin memegang kening, menutup mata dan menggeleng kepala. Lalu Jinsin membawa Rio ke dalam ruangan yang dapat menampung para petarung yang terluka. Mereka melihat beberapa para petarung mengalami luka berat akibat serangan Rio sebelumya.

"Hei, ini orang kenapa?" Rio bertanya dengan kaget melihat petarung yang di rawat.

"Dia di rawat karena kau menyerangnya." ucap Jinsin.

"Apa?" Rio kaget.

"Semua petarung Johin yang terluka di desa sebelumnya sudah ku suruh ke desa ini. Supaya mereka di rawat dengan baik." ucap Jinsin.

"Begitu ya. Pantesan aku kenal wajah orang ini semua." ucap Rio.

"Seharusnya kau ambil tindakan terhadap yang masih disini Rio, kok jadi aku yang mengatur disini." Jinsin menggelengkan kepala, melipat kedua tangan melihat Rio.

"Tapi saya lupa dengan korban yang ini. Memang saya menyerang mereka seperti itu ya?" ucap Rio bertanya dengan wajah bingung. Jinsin diam melihat pertanyaan Rio. Lalu dia berpikir bahwa selama itu dia tidak melihat Rio terhadap apa yang di lakukan. Karena Jinsin mendengar dari para petarung yang tidak terluka bahwa dia bertarung dengan penuh ke anehan. Jinsin memeriksa kepala Rio, lalu kembali melipat kedua tangan dengan wajah heran.

"Kenapa kau memegang kepala aku, Jinsin?" tanya Rio. Lalu Jinsin diam melihat Rio dan menoleh dari pandangan, memegang tangan kanan berjalan keluar dari ruang rawat. Mereka berdua berdiri di depan pintu masuk saling melihat, tangan masih di pegang oleh Jinsin.

"Rio, mungkin sebaiknya kau tetap berada di desa ini saja. Biar aku yang mengurus ini. Kau harus tetap berada di dekatku." ucap Jinsin.

"Kenapa aku harus berada di dekat mu, memang aku ini orang sakit." ucap Rio.

"Plaaaak....."

"Sebaiknya kamu ikuti saran ku saja dan jangan membantah!" Jinsin memukul kepala Rio dengan wajah kesal sekali.

"Aduh. Kebiasaan kamu, suka memukul kepala ku." Rio memegang kepalanya berdiri dengan kedua tangan. Lalu Rio mengikuti Jinsin pergi untuk memeriksa para pasien yang berada di dalam ruangan.

Dia bertanya tentang kondisi lukanya dengan wajah ramah di depan para warga desa sedang lalu lalang merawatnya. Rio hanya berdiri melihat dan mendengar. Jinsin juga berjalan bersama Rio melihat para warga desa sedang melakukan perbaikan rumah, membersihkan desa dengan cara menyapa mereka, bertanya tentang kesulitan yang di hadapi dengan wajah ramah. Rio tetap berdiri diam melihat dan mendengar pembicaraan Jinsin.

Jinsin menyuruh para warga desa untuk melatih tentang kemampuan dasar bertarung. Lalu menyuruh mereka berpatroli keliling desa dan berjaga di depan pintu masuk Desa Zou. Dia juga memberikan laporan harian terhadap keamanan desa.

"Hari ini menjadi hari yang lelah sekali."

Jinsin menendang bantal di kasur lalu berbaring terlungkup kepala berbaring di bantal, di matras tidur berwajah cemberut. Lalu Rio duduk di luar melihat suasana desa yang begitu sunyi di bulan yang terang. Matahari telah terbit, saat Rio dan Jinsin bersiap untuk mengatur desa. Tetua desa berjalan menghampiri mereka berdua di halaman rumah istirahat mereka.

"Ooh, tetua desa." Jinsin ingin menunduk kepala di hadapan mereka.

"Sudah-sudah saya ingin bicara dengan kalian." ucap tetua desa memegang tongkat hendak duduk di teras rumah kayu. Mereka berdua langsung duduk di hadapan mereka dengan sopan.

"Tetua, apa yang bisa kami bantu?" tanya Jinsin hendak menunduk kepala.

"Saya dengar kalian telah membantu Desa Zou dengan melakukan tindakan untuk kepentingan desa ini ya?" tanya tetua.

"Betul sekali, tetua. Saya mengambil tindakan ini karena anda pernah berkata kalau desa ini hampir menjadi kota. Jadi saya memperbaiki kondisi desa ini menjadi lebih lancar."

"Saya senang mendengar informasi ini. Kalau begitu saya permisi dulu ya." ucap tetua desa bangkit meninggalkan mereka.

Rio hanya diam mendengar pembicaraan tetua dan Jinsin. Mereka melanjutkan aktivitas kembali di desa dengan membantu warganya dalam memberikan arahan dan aktivitas baru agar menjadi lebih maju. Setelah itu, Rio dan Jinsin menormalkan kondisi menjadi sebuah desa yang sibuk seperti sebelum di ambil alih oleh kelompok Johin.

Butuh waktu beberapa minggu agar Desa Zou menjadi ramai para penduduk, supaya banyak yang berdatangan dari berbagai daerah. Mereka melakukan itu dengan cara bergotong royong. Semua para petarung sudah sembuh, di beri arahan oleh Rio dan Jinsin untuk melarang bertarung dan menjadi warga biasa.

1
Firdaus Rangkuti
Selamat datang di karya saya berjudul Kisah cinta pendekar pedang. mohon di baca setiap bab atau episode ya. terima kasih.
fnrm
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!