NovelToon NovelToon
Déjà Visible

Déjà Visible

Status: tamat
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Horor / Tamat
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Maraknya berita rampok akhir-akhir ini mengakibatkan semua orang waswas. Sekarang ayah Alice menyimpan pistol yang telah diisi peluru di dalam kamarnya, dan... itu malah membuat keadaan semakin mengerikan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Spencer melangkah perlahan ke arah Alice dan biasa saja. "Teruskan," katanya tenang. Pada wajahnya terpampang senyuman aneh.

"Apa?"

"Teruskan. Pakai pistol itu. Tembak aku."

Alice tetap membidikkan pistol itu ke arah Spencer. "Kaupikir aku tak berani?"

Spencer maju selangkah ke arahnya, lalu selangkah lagi. "Ayo teruskan. Tembak aku."

"Spencer... Jangan."

Spencer semakin dekat dan kian dekat. Ia mentertawakan Alice sekarang, menantang. Menantang kalau-kalau Alice berani menembaknya. "Ayo, Manis. Tembak aku. Pakai pistol itu. Ayo kita lihat kau memakainya."

"Berhenti di situ. Aku serius, Spencer."

Tapi Spencer tetap mendekat, selangkah demi selangkah.

Tangan Alice mendadak tegang. Senjata itu terbidik ke dada Spencer, hanya beberapa senti dari cowok itu. Dan Alice tinggal menarik pelatuknya.

Tapi ia tahu ia tak bisa melakukannya.

"Tidak. Tidak. Tidak."

Tidak mungkin. Ia tak bisa menarik pelatuk itu. Ia takkan sanggup melakukannya. Lalu perlahan ia mulai menurunkan pistol itu. "Tidak," katanya. "Aku tak bisa memakainya."

Spencer melayangkan tangannya secepat kilat.

Alice terhuyung-huyung.

Spencer meraih pistol itu.

Alice mencoba menarik tangannya menjauh, tapi terlalu lambat.

Tangan Spencer pun tidak berhasil meraih senjata itu karena tangannya bertabrakan dengan tangan Alice.

Pistol itu jatuh ke karpet.

Sekejap mereka berdua terbelalak melihatnya.

Lalu keduanya membungkuk ke lantai, dengan panik berusaha mencapainya lebih dulu.

Siku Alice membentur lantai ketika ia membungkuk. Rasa nyeri menjalar ke lengannya saat ia meraih pistol itu.

Aku dapat! pikirnya.

Namun dengan menggeram marah, Spencer mendorongnya. Pistol itu terlempar dari tangan Alice dan Spencer memungutnya.

Dengan napas memburu, wajah merah padam, Spencer berdiri di atas Alice seraya melambai-lambaikan pistol itu di depannya. "Dasar cewek kaya sombong! Mati kau sekarang!" Ia menendang Alice.

Tetapi Alice berguling menjauh dan bangkit berdiri dengan cepat.

Mereka bertatapan. Napas keduanya terengah-engah.

"Apa gunanya semua uangmu sekarang?" Spencer menggeram.

Alice mundur selangkah, melirik pintu. "Letakkan pistol itu, Spencer. Berhentilah bersikap dramatis. Kau juga takkan memakainya."

Mata cowok itu berkilat-kilat. "Mau taruhan?"

Ia bisa melakukannya, pikir Alice. Ia bisa menembakku.

Pintu kamar itu terlihat sangat jauh. Dan Spencer berdiri di antara Alice dan pintu itu.

Alice mengangkat tangannya seolah mengatakan, Oke, aku menyerah.

Jari Spencer melekat erat pada pelatuk pistol.

Ya, batin Alice. Ia akan menembakku. Aku akan mati sekarang.

Alice memejamkan mata.

Ketika ia membuka matanya kembali, si hantu sedang berdiri di samping Spencer.

Alice mengerjap-ngerjapkan matanya. Mula-mula ia mengira penglihatannya kabur, sampai ia melihat Spencer menjadi rangkap.

Sambil berkedip-kedip antara tampak dan lenyap dari pandangan, hantu itu menatap Alice, kemudian Spencer. "Jangan! Aku tak bisa membiarkan ini terjadi!" seru si hantu.

Spencer tidak bereaksi.

Alice menyadari bahwa Spencer tak bisa melihat si hantu.

Spencer tetap membidikkan pistol itu ke dada Alice.

"Aku tak bisa membiarkan dia melakukan ini padamu!" si hantu berteriak.

Alice mencoba menjerit, tapi tak ada suara yang keluar.

Hantu itu menyergap ke depan dan meraih pistol di tangan Spencer.

Alice menduga tangan hantu itu akan menembus pistol, tapi ternyata tidak.

Spencer yang hidup berteriak terkejut ketika senjata itu melayang dari tangannya.

Dengan sekali sentak, hantu itu berhasil menarik pistol itu dan melemparkannya ke arah Alice.

"Hei, apa yang..." Spencer menjerit.

Senjata itu melayang menyeberangi kamar.

Alice sampai harus meloncat untuk bisa menangkapnya. Dan ketika ia meraupnya, pistol itu meletus di tangannya.

"TIDAAAAAAAAAAK!"

Jeritan gadis itu melengking sekeras bunyi letusan di antara kedua tangannya.

Spencer mengerang keras dan memegangi dadanya. Suatu lingkaran merah gelap memburai di depan kemejanya yang berwarna putih transparan. Lalu jatuh berlutut. Darahnya menetes ke karpet putih. Kemudian wajahnya tersungkur di permukaan karpet itu, dengan tangan masih memegangi dadanya. Lalu tak bergerak lagi.

"Spencer..." Alice membiarkan senjata itu jatuh ke lantai.

Genangan merah menyebar dari bagian bawah tubuh Spencer.

"Spencer!" Alice berlari mendekat dan berlutut di atas Spencer, kemudian membalikkan tubuhnya.

Ia sudah tewas!

Alice melangkah menjauhi tubuh Spencer. Ia melongok ke bawah dan melihat kakinya yang telanjang terkena bercak-bercak darah.

"Oh, tidak. Tidak…"

Hantu itu berdiri tepat di sampingnya, memandangi tubuh Spencer.

"Jadi begitu kejadiannya," gumam si hantu, suaranya lembut, hampir berbisik.

"Tapi kenapa? Kenapa kau melakukannya? Kenapa kau mengorbankan dirimu sendiri?" Alice tak habis pikir.

Spencer tidak menjawab.

"Kenapa kau merebut pistol itu, Spencer? Kenapa kau membiarkan aku membunuhmu?"

Spencer berdiri begitu dekat dengan Alice, namun udara tidak terasa dingin.

"Aku… aku tak tahan melihatmu terbunuh," kata Spencer akhirnya.

"Apa? Tapi kau tahu aku akan membunuh Spencer jika kau merampas pistol itu darinya."

"Ya, aku tahu apa yang akan terjadi," jawab Spencer seraya berbalik untuk menatap mata Alice. "Tapi aku tak dapat membiarkan dia membunuhmu. Aku… aku terlalu sayang padamu."

"Aku juga sayang padamu," seru Alice.

Hantu itu menarik Alice mendekat dan melingkarkan lengannya ke sekeliling tubuh Alice. Ia mendekatkan wajah gadis itu ke wajahnya dan mencium pipinya.

"Aku bisa merasakanmu, Spencer!" teriak Alice takjub. "Aku sungguh-sungguh bisa merasakanmu sekarang."

Alice meraih Spencer, namun Spencer melayang menjauh darinya seraya tersenyum sedih. Ia mulai berbicara, tetapi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. "Aku… aku akan pergi, Alice. Kukira aku bisa beristirahat sekarang. Aku sangat sedih selama ini. Terjepit di antara dua dunia. Tak tahu kenapa aku sampai terbunuh. Tak tahu apa yang terjadi padaku. Syukurlah semuanya sudah berakhir."

"Tapi, Spen---"

"Aku takkan melupakanmu. Aku takkan pernah melupakanmu. Jangan merasa bersalah karena membunuhku. Jangan pernah merasa bersalah. Kau satu-satunya orang yang sayang padaku. Satu-satunya yang…" Kata-katanya menghilang bersama dirinya.

Spencer sekarang hanya berupa bayangan, lalu siluet. Dan akhirnya pergi.

Alice memandangi kekosongan bekas tempat Spencer berdiri. Ia masih bisa merasakan lengan pria itu yang memeluknya, masih merasakan pipi Spencer yang hangat di pipinya.

Tapi ia tahu sekarang Spencer telah pergi untuk selamanya.

Lama kemudian barulah Alice menyadari seseorang mengetuk-ngetuk pintu depan.

Siapa itu malam-malam begini?

Alice memutar melewati tubuh Spencer dan berlari ke jendela. Ia menarik jendela itu hingga membuka, menjulurkan kepalanya ke luar, dan melihat ke bawah, ke teras depan.

"Aaron!"

Aaron melangkah ke tepi teras dan mendongak menatap Alice, disinari oleh lampu teras yang berwarna kuning.

"Aaron, apa yang kaulakukan di sini malam-malam begini? Bagaimana kau…"

"Alice, kau baik-baik saja?" teriak Aaron. "Aku pergi ke rumah Shannon, tapi ternyata kau tak ada di sana. Aku cemas, jadi aku datang kemari. Waktu aku keluar dari mobilku, aku mendengar bunyi ribut-ribut---seperti tembakan. Aku sangat kuatir…"

"Aku… aku baik-baik saja," sergah Alice memotong perkataan Aaron. "Aku senang sekali kau di sini."

Alice bergegas turun dan membuka pintu depan. "Aku gembira sekali kau di sini," ulangnya nyaris menangis. "Aku butuh bantuan."

Aaron menautkan alisnya.

Alice mengajak Aaron naik ke kamar orang tuanya.

Aaron terenyak mendapati tubuh yang tergeletak di karpet. Ia memegangi Alice, tampak kebingungan. "Alice, inikah hantumu?"

"Bukan," sahut Alice. "Bukan dia. Hantu itu sudah pergi, Aaron. Pergi untuk selamanya. Ini hanya perampok."

"Aku sangat senang kau tidak apa-apa," Aaron berkata seraya merangkulkan lengannya ke tubuh Alice. "Syukurlah semuanya sudah berakhir."

Itulah yang baru saja dikatakan Spencer, kata Alice dalam hati. Lalu bersandar pada Aaron ketika mereka turun untuk menelpon polisi.

.

.

.

..._TAMAT_...

1
Handoko
biar bagaimanapun, kita tidak akan bisa mencurangi kematian.
Handoko
karya yang singkat tapi menegangkan.

terima kasih banyak, author.
Handoko
ternyata rampok goshtroses adalah spencer. mungkin dia terbunuuh oleh alice saat sedang merampok rumah mr. morgan.
Handoko
spencer jatuh cinta pada alice morgan. mungkin disinilah awal bencananya.
Handoko
shannon ? 🤔
Handoko
sorotan lampu disko atau lampu merah ?
Handoko
hantu spencer
Handoko
mungkin alice mengalami depresi. atau cowok itu adalah hantu korban dari ketidakadilan mr. morgan dalam penegakan hukum.
Handoko
wah apakah pacarnya marie tidak marah kalau billy bercanda keterlaluan begitu ?
Handoko
kangen versi cowok itu berbeda, alice ... 😅😅
Handoko
sebaiknya cabang pohon itu dipangkas saja.
Handoko
faktanya memang begitu. lelah fisik dan pikiran.
Sty9
Seru!
Esther Nelwan
aduuuh k tamat😥
Esther Nelwan
ooooh aku br ngerti...
Esther Nelwan
,nah alice kgk inget ngebunuh...
Esther Nelwan
masih misteri tp aku kasih vote bwt author biar sll semangat...
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: terima kasih
total 1 replies
Esther Nelwan
aku msih nyimak ni...apakah mbilnya ada hantunya y
Esther Nelwan
aduuuh...
Esther Nelwan
aku suka klw genrenya d luar negri ni semangat thor
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Terima kasih atas apresiasinya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!