Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bentrok dengan Vinsmoke Judge
Kabut putih di perairan North Blue tersapu oleh sisa-sisa gelombang udara yang bergejolak.
Lantai geladak kapal utama Germa 66 dipenuhi oleh tumpukan prajurit klon yang tidak sadarkan diri. Genangan air kabut bercampur dengan percikan oli mesin yang bocor. Di tengah pemandangan kehancuran itu, Uchiha Madara berdiri dengan sangat tenang.
Kedua tangannya disilangkan di depan dada. Pelindung dada merahnya memantulkan kilau redup dari lampu-lampu sorot kastil logam.
Matanya yang memiliki tiga tanda Tomoe Sharingan melirik pelan ke arah balkon lantai dua kastil.
Dia bisa merasakan kedatangan seseorang yang memiliki fluktuasi energi jauh lebih besar daripada para prajurit klon murahan tadi. Seseorang yang memancarkan aura arogansi seorang pemimpin yang dikelilingi oleh teknologi dan kekuasaan mutlak.
Dinding balkon logam itu berderit pelan.
Sebuah bayangan melesat keluar dari balik pintu kastil. Bayangan itu didorong oleh dua unit pendorong mekanis kecil yang terpasang di bagian tumit sepatu bot, mengeluarkan suara dengungan mesin yang bernada tinggi.
Sosok itu melayang turun dengan anggun, membelah udara berkabut, lalu mendarat dengan hantaman keras di atas lantai geladak, tepat beberapa meter di depan Madara.
Brak.
Pelat baja di bawah kaki sosok itu penyok ke dalam.
Pria itu berdiri tegak. Dia mengenakan perlengkapan tempur yang sangat mewah dan canggih. Sebuah jubah panjang berwarna kuning cerah berkibar di punggungnya, dihiasi dengan pola angka enam di kedua sisinya. Armor emas menutupi bagian dada dan pundaknya, sementara helm besi berbentuk mahkota garuda dengan pelindung wajah menyembunyikan sebagian besar ekspresi wajahnya.
Dia adalah Vinsmoke Judge. Raja Kerajaan Germa. Penguasa yang ditakuti di seluruh wilayah North Blue.
Judge menegakkan tubuhnya. Jubahnya berkibar tertiup angin laut. Di tangan kanannya, dia menggenggam sebuah tombak logam panjang berwarna perak yang pada bagian ujungnya memancarkan percikan listrik statis bertegangan tinggi.
Raja Germa itu mengalihkan pandangannya. Matanya membelalak di balik helm mahkotanya saat melihat ratusan prajurit klon kebanggaannya terkapar di sekitar geladak dalam kondisi tidak bernyawa secara fungsional.
Kemarahan yang luar biasa langsung meledak di dalam dada Judge.
Selama bertahun-tahun, dia mendedikasikan hidupnya untuk membangun kembali kejayaan Germa 66. Dia menghabiskan jutaan Berries untuk ilmu pengetahuan, rekayasa klon, dan pengembangan eksoskeleton. Pasukan ini adalah mahakarya hidupnya.
Dan sekarang, dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh pasukan di geladak ini telah dilumpuhkan oleh seorang remaja tak dikenal yang bahkan tidak membawa senjata tajam yang layak.
Wajah Judge memerah karena amarah. Urat-urat di lehernya menonjol keluar di balik kerah armor emasnya.
Dia mengangkat tombak panjangnya, mengarahkan ujung senjata itu tepat ke arah wajah Madara. Percikan listrik biru menyambar-nyambar di udara, menciptakan suara letupan kecil yang memekakkan telinga.
“Berani-beraninya kau!” teriak Judge. Suaranya menggema keras di seluruh geladak kapal, dipenuhi oleh kebencian yang mendalam.
“Berani-beraninya kau mengotori lantai suciku, Tikus Tanah!”
Madara tidak bergeming. Dia menurunkan sedikit dagunya, menatap pria berhelm mahkota garuda itu dengan sebelah alis yang terangkat. Tatapannya tidak menunjukkan rasa terkejut, tidak juga rasa gentar. Tatapan itu adalah cerminan dari seorang raja sejati yang sedang melihat seekor serangga yang berisik.
“Tikus tanah?” Madara mengulangi sebutan itu dengan nada datar yang mengejek. “Sepertinya pemimpin dari kumpulan siput ini memiliki selera humor yang sangat buruk.”
Kalimat santai itu semakin memicu kemarahan Judge.
Pria paruh baya itu kehilangan sisa-sisa kesabarannya. Sebagai seorang raja yang terbiasa dihormati dan ditakuti, mendapati dirinya diejek oleh seorang remaja ingusan adalah sebuah penghinaan mutlak yang tidak bisa dimaafkan.
“Kematianmu akan menjadi pelajaran bagi dunia!” murka Judge.
Tumit sepatu botnya mengeluarkan suara dengungan mesin yang sangat nyaring. Pendorong mekanis di sepatunya menyemburkan tenaga dorong yang luar biasa besar, meluncurkan tubuh Judge ke depan dalam sekejap.
Gerakannya sangat cepat. Jauh melampaui kecepatan prajurit klon biasa.
Dalam hitungan milidetik, Judge sudah berada tepat di hadapan Madara. Tombak listrik di tangannya terayun lurus dalam sebuah teknik serangan andalannya.
“Denji Crack!” bentak Judge.
Ujung tombak yang dipenuhi oleh energi listrik tegangan tinggi itu melesat membelah udara, mengarah langsung ke dada Madara. Kecepatan tusukan itu dirancang untuk menembus pelat baja setebal sepuluh sentimeter tanpa hambatan.
Namun, sebelum ujung tombak itu sempat menyentuh pelindung dada merah Madara, sesuatu yang aneh terjadi di dalam pikiran sang Uchiha.
Kenbunshoku Haki tingkat dasar yang mengalir di sistem saraf Madara telah memperingatkannya sepersekian detik lebih awal.
Sensasi itu merambat di kulitnya. Haki Pengamatannya membaca lintasan tusukan Judge, merasakan pergerakan otot lengan musuh, dan memprediksi titik hantaman tombak tersebut sebelum senjata itu mencapai tujuannya.
Di dalam benaknya, Madara menilai serangan itu dengan sangat objektif.
'Baju besi yang bisa terbang dan menghasilkan listrik?' batin Madara, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis. 'Sedikit lebih canggih daripada boneka ciptaan Sunagakure, tetapi penggunanya... lambat.'
Bagi mata seorang veteran perang yang terbiasa melompati medan pertempuran melawan petarung tingkat dewa, kecepatan gerakan Judge terasa seperti berada dalam gerakan lambat.
Madara tidak perlu menghindar secara fisik. Dia tidak perlu melompat atau menggunakan Shunshin.
Saat ujung tombak berlistrik itu berjarak kurang dari sepuluh sentimeter dari dadanya, mata hitam Madara berubah warna secara instan.
Warna hitam pekat itu luntur, berganti dengan warna merah darah yang menyala terang. Di sekeliling pupil matanya, tiga tanda koma hitam berputar dengan sangat cepat.
Sharingan tiga Tomoe.
Madara menatap tepat ke dalam mata Judge yang berada di balik pelindung helm mahkotanya.
Pada detik ketika tatapan mata mereka bertemu, Madara mengalirkan sedikit chakra visualnya, melepaskan sebuah Genjutsu tingkat ringan yang dirancang khusus untuk mengganggu persepsi ruang dan waktu musuh.
Di dunia nyata, Madara tetap berdiri tegak di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun.
Namun di dalam pandangan Vinsmoke Judge, dunia mendadak bergeser.
Mata Judge melebar sesaat. Di matanya, pemuda berarmor merah di depannya tiba-tiba melangkah ke samping dengan gerakan yang sangat pelan, lalu menghilang begitu saja ditelan udara kosong.
“Apa?!” teriak Judge kaget di dalam hatinya.
Tusukan tombaknya menerpa angin kosong. Tidak ada hambatan. Tidak ada benturan logam. Tombak berlistrik itu hanya menusuk bayangan ilusi yang perlahan memudar menjadi serpihan kelopak merah.
Insting bertarung Judge langsung berteriak. Pengalaman militernya menyelamatkannya dari kepanikan total. Dia segera memutar tubuhnya, menarik tombaknya kembali untuk melindungi titik butanya di sebelah kanan.
Tetapi insting militer saja tidak cukup untuk mengimbangi kecepatan seorang Uchiha.
Madara tidak menghilang ke mana-mana. Dia tidak pernah bergerak jauh.
Menggunakan manipulasi Genjutsu visual untuk menggeser fokus penglihatan musuh selama sepersekian detik, Madara asli sudah melangkah ke sisi kanan bawah Judge. Posisi itu adalah titik buta sempurna yang tidak bisa dijangkau oleh sudut pandang helm mahkota garuda tersebut.
Madara berdiri kokoh di atas lantai baja.
Dia memusatkan seluruh kapasitas chakra Jonin Elit miliknya ke dalam genggaman tangan kanannya. Chakra biru yang sangat pekat berputar padat di sekitar buku-buku jarinya, mengeluarkan suara dengungan energi yang tajam.
Dia menarik kepalan tangannya ke belakang, lalu meluruskannya ke atas dalam sebuah gerakan pukulan dari bawah ke atas.
Uppercut.
Pukulan itu meluncur membelah udara dengan kecepatan yang menghasilkan suara ledakan sonik kecil.
Brak.
Tinju Madara menghantam bagian bawah pelindung dagu helm mahkota garuda Vinsmoke Judge secara telak dan sempurna.
Dampak hantaman itu sangat luar biasa besar.
Suara retakan logam yang sangat keras bergema ke seluruh penjuru kapal. Helm besi berlapis emas yang menjadi simbol kebanggaan Raja Germa itu hancur berkeping-keping. Puing-puing logam dan baut berserakan ke udara bersamaan dengan percikan api dari korsleting sistem komunikasi di dalam helm tersebut.
Kepala Judge tersentak ke atas secara paksa akibat kekuatan pukulan tersebut.
Tenaga dari hantaman Madara mengangkat seluruh tubuh Judge dari lantai baja. Raja Germa itu melayang ke udara, terlempar ke belakang bagaikan boneka kain yang ditabrak oleh kereta ekspres.
Sebuah cipratan darah segar menyembur keluar dari mulut Judge, membasahi udara berkabut di sekitar mereka.
Judge terbang melintasi geladak, menabrak beberapa tumpukan kotak logistik baja hingga hancur berkeping-keping, sebelum akhirnya tubuhnya menghantam keras tiang menara komunikasi utama di tengah kapal.
Bum.
Menara komunikasi itu berguncang hebat. Kabel-kabel listrik putus, memercikkan api biru ke segala arah.
Judge melorot jatuh dari dinding menara, mendarat dengan tidak berdaya di atas tumpukan kabel yang berserakan. Tombak listrik di tangan kanannya terlepas, berdenting nyaring saat membentur lantai baja, lalu menggelinding beberapa meter menjauhinya.
Suara bising di geladak itu mendadak mati.
Para kru bajak laut di kapal kecil yang menonton dari kejauhan membuka mulut mereka lebar-lebar. Mereka tidak mampu mengeluarkan suara. Raja dari kerajaan militer terkuat di North Blue dijatuhkan hanya dengan satu kali pukulan telanjang.
Di atas balkon lantai dua kastil, Vinsmoke Reiju berdiri mematung.
Kedua tangannya yang mencengkeram pagar logam perlahan mengendur. Matanya yang biru menatap pemuda berarmor merah di bawah sana dengan rasa takjub yang mencapai puncaknya.
Ayahnya. Pria yang paling dia takuti di dunia ini. Pria yang mengandalkan ilmu pengetahuan dan eksoskeleton terkuat untuk mendominasi lautan, baru saja dihantam jatuh ke tanah bagaikan mainan usang oleh kekuatan murni seorang manusia.
Di tengah geladak, Madara menurunkan kepalan tangan kanannya.
Dia membuka jari-jarinya perlahan, meregangkan otot-otot di telapak tangannya. Sisa-sisa chakra biru berpijar tipis di kulitnya sebelum akhirnya terserap kembali ke dalam tubuh.
Madara menghela napas pendek.
“Kekuatan fisiknya lumayan keras,” gumam Madara pada dirinya sendiri, menilai ketahanan tubuh musuhnya. “Tetapi refleksnya lambat, dan teknik bertarungnya terlalu kaku karena terlalu bergantung pada mesin.”
Dia memalingkan wajahnya, menatap ke arah sudut menara komunikasi di mana Raja Germa terkapar tidak berdaya.
Di sana, Vinsmoke Judge berusaha mengangkat tubuhnya dengan susah payah.
Helm mahkotanya telah hancur total, memperlihatkan wajah paruh baya yang penuh dengan luka memar dan darah segar yang mengalir dari hidung serta sudut bibirnya. Napas Judge terdengar sangat berat dan terengah-engah. Eksoskeleton di tubuhnya berderit pelan, mencoba memperbaiki kerusakan parah pada tulang rusuknya.
Judge mengangkat kepalanya. Matanya yang penuh dengan kebencian dan rasa tidak percaya menatap sosok pemuda berarmor merah yang berjalan mendekatinya secara perlahan.
Langkah kaki Madara terdengar sangat tenang di atas lantai baja.
Tuk. Tuk. Tuk.
Setiap ketukan sandal kayunya adalah lonceng kematian bagi harga diri sang Raja Germa.
Judge mencoba merangkak untuk meraih tombak listriknya yang tergeletak tidak jauh dari jangkauannya. Namun sebelum jari-jarinya sempat menyentuh gagang senjata tersebut, sebuah bayangan hitam melintas di depannya.
Tap.
Sandal kayu Madara menginjak tepat di atas pergelangan tangan kanan Judge, menahannya dengan tekanan yang sangat kuat ke lantai baja.
Judge mengerang kesakitan. Tulang pergelangan tangannya terasa hampir remuk di bawah injakan tersebut. Dia mendongakkan wajahnya, memaksa matanya menatap langsung ke dalam mata merah Sharingan Madara yang menyala di atasnya.
“S-Siapa... sebenarnya kau?” rintih Judge dengan suara serak, darah mengalir dari sudut bibirnya. “Kau bukan bagian dari Angkatan Laut... kau juga bukan bagian dari bajak laut biasa di lautan ini. Dari mana monster sepertimu berasal?”
Madara menunduk, menatap penguasa North Blue itu dengan pandangan yang sedingin es.
Tidak ada rasa ampun di mata tersebut. Tidak ada rasa hormat kepada seorang raja. Yang ada hanyalah kekecewaan yang sangat mendalam atas lemahnya perlawanan yang baru saja dia terima.
“Asalku tidak penting untukmu,” jawab Madara dengan suara datar yang menusuk langsung ke jiwa Judge.
“Kau mengandalkan logam, klon buatan, dan baju besi untuk merasa kuat di dunia ini,” lanjut Madara. Dia sedikit memberikan tekanan lebih pada injakan di tangan Judge, membuat sang Raja kembali mengerang kesakitan.
“Tetapi di hadapan kekuatan sejati, seluruh mainanmu itu tidak lebih dari sekadar tumpukan sampah yang berkarat.”
Judge mengepalkan tangan kirinya yang bebas, memukul lantai baja dengan rasa frustrasi yang luar biasa. Sepanjang hidupnya, dia percaya bahwa sains adalah puncak dari evolusi manusia. Dia percaya bahwa teknologi Germa 66 tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh kekuatan individu.
Tetapi hari ini, keyakinan mutlak itu dihancurkan berkeping-keping oleh seorang remaja dengan mata merah aneh.
“Bunuh aku,” ucap Judge dengan gigi gemeretak. Harga dirinya sebagai seorang raja melarangnya untuk memohon belas kasihan. “Jika kau memang monster, bunuh aku sekarang dan hancurkan kerajaan ini!”
Mendengar tantangan itu, sudut bibir Madara terangkat membentuk sebuah senyuman sinis.
Dia perlahan mengangkat kakinya dari pergelangan tangan Judge.
Judge terdiam sesaat. Dia menatap Madara dengan kening berkerut, kebingungan mengapa pemuda itu tidak langsung menebas lehernya atau menghancurkan kepalanya.
Madara berbalik setengah badan. Dia membuang mukanya, menatap ke arah laut berkabut di kejauhan.
“Membunuhmu?” desis Madara ringan, suaranya sarat akan penghinaan mutlak.
“Untuk apa aku mengotori tanganku dengan darah dari seseorang yang bahkan tidak bisa bertahan lebih dari satu menit di hadapanku?”
Madara melangkah mundur beberapa langkah, menjauh dari tubuh Judge yang terkapar tidak berdaya.
“Kembalilah ke laboratoriummu, Raja bodoh. Perbaiki mainanmu, pelajari kembali arti dari kekuatan yang sebenarnya, dan berdoalah agar kita tidak pernah dipertemukan lagi di lautan ini.”
Kata-kata itu adalah bentuk penghinaan tertinggi yang bisa diterima oleh seorang penguasa. Madara tidak mengampuni nyawa Judge karena kasihan. Dia mengampuni nyawa pria itu karena Judge dan kerajaannya benar-benar tidak menarik minatnya lagi. Mereka terlalu lemah untuk dijadikan lawan tanding.
Judge merasakan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Bukan karena rasa sakit di fisiknya, melainkan karena luka di harga dirinya yang jauh lebih parah daripada kematian itu sendiri.
Di atas balkon lantai dua, Vinsmoke Reiju menghembuskan napas yang sedari tadi dia tahan.
Matanya berbinar terang. Dia melihat bagaimana ayahnya dihancurkan, dan dia melihat bagaimana pemuda itu berjalan pergi dengan keangkuhan seorang dewa yang mengampuni semut di tanah.
Di kepala Reiju, keputusan itu sudah bulat.
Madara berbalik, melangkah kembali menuju tepi geladak kapal utama Germa 66. Dia tidak memedulikan sisa-sisa pasukan klon atau Raja Germa yang masih terkapar menahan malu.
Tujuannya di sini sudah selesai. Dia telah meregangkan otot-ototnya, menguji Haki Pengamatannya dalam pertempuran nyata, dan membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa kapasitas chakra Jonin Elit-nya berfungsi dengan sempurna.
Dia bersiap untuk melompat kembali ke kapal bajak lautnya dan melanjutkan perjalanan menuju Grand Line.
Tetapi takdir, seperti biasa, selalu memiliki cara yang tidak terduga untuk mempertemukan orang-orang yang ditakdirkan untuk bersama di atas lautan luas ini.