Di usia yang tak dikatakan muda, Amaira Husna selalu didesak untuk segera menikah. Alih-alih berkeluh-kesah kepada sahabatnya, Reynand. Menceritakan kegalauannya tentang bagaimana cara mengambil sikap sebab orangtuanya telah mencarikan jodoh untuknya, justru dia mendapati hal yang tak pernah dia sangka.
Salahnya yang bercerita atau inilah solusi satu-satunya untuk menolak jodoh dari orangtua. Sebab Reynand datang di hari yang sama bertepatan disaat tamu orangtuanya tiba. Reynand datang mengutarakan niat untuk melamarnya.
Akankah Amaira menerima tindakan konyol Reynand, yang notabenenya berstatus sahabat dengan hubungan yang jelas tanpa dilingkupi adanya cinta.
Atau terpaksa menerima dan menganggapnya sebatas solusi yang malah berbuntut frustasi akibat keputusannya?
Tpe-
20-09-2019
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Usai pesawat mendarat, Reynand memutuskan untuk memesan Grab. Mobil yang kami tumpangi menuju ke sebuah rumah yang asing menurutku, karena ini baru pertama kali Reynand mengajakku kesini.
Rumah dengan tipe minimalis dua lantai, dan lantai satu dibuat tanpa dinding sekat. Penataan layout ruang tepat baik interior ataupun eksteriornya jadi terkesan terlihat lebih luas.
Lantai satu terdapat ruang tamu yang bisa dialih fungsikan sebagai ruang santai maupun nonton TV. Sisi belakang terdapat minibar, meja makan ukuran minimalis dan juga dapur. Ruang kerja Reynand juga terletak di lantai satu dan ada satu lagi kamar tamu.
Untuk kamar utama terletak di lantai dua. Terdapat dua kamar tidur disana, yang ukuran kamarnya lumayan luas.
"Rey, aku apa boleh pakai kamar ini?" tunjukku pada sebuah kamar yang ukurannya lebih kecil dari yang sebelah. "Gak mungkinkan kita tidur sekamar?" sambungku cepat.
Reynand menanggapi pertanyaanku dengan anggukan.
"Ok, aku masuk." Akupun melangkah masuk usai mendapat persetujuan darinya. Setelahnya aku menyibukkan diri menata beberapa pakaian maupun perabot milikku.
Setibanya aku dirumah ini, ternyata barang-barang pribadiku yang tadinya berada dirumah orangtuaku, sebagian sudah di antarkan kesini, jadi sekarang aku makin sibuk dengan kegiatanku menata dan merapikan semua barang milikku.
Pukul setengah empat sore aku keluar kamar, kulihat Reynand sedang sibuk menata beberapa buku di rak yang berada diluar kamar. Selain ada dua kamar tidur di lantai dua ini, disini terdapat ruangan tanpa sekat dan hanya berisi rak-rak buku dan sofa yang menghadap ke arah luar jendela kaca.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanyaku mendekat ke arah Reynand.
"Ini sudah selesai," jawab Reynand seraya menyelipkan satu buah buku diantara susunan lainnya.
"Mungkin kamu bisa membantuku berbelanja," ucap Reynand yang kini berbalik ke arahku.
"Belanja?"
"Belanja kebutuhan dapur," sambungnya melanjutkan kalimatku.
"Ok." Sahutku singkat.
Kamipun berjalan menuruni anak tangga, bersiap melanjutkan kegiatan berbelanja. Diperjalanan aku meminta Reynand agar mampir ke rumah orangtuaku mengambil mobil dan beberapa barang yang masih aku perlukan.
~
Malamnya kami memasak bersama. Berbagi tugas, Reynand memasak nasi sedangkan aku membuat lauknya. Cukup sederhana masakan yang kubuat sebab kami hanya tinggal berdua.
"Rey, tolong ambilkan piringnya," ucapku dengan meninggikan suara.
Diapun menyahuti ucapanku dan datang dengan membawa satu buah piring, dengan gerak pelan aku menuang masakanku di atas piring yang masih di pegang olehnya.
Sedikit panas bergegas aku memindahkan panci kotor pada wastafel sementara Reynand sudah beralih meletakkan piring berisi lauk ke atas meja.
"Biar aku saja," ucapnya menggeser tubuhku menjauh dari wastafel, dia kemudian mengambil alih mencuci peralatan masak kotor.
Aku pun hanya menatapnya dengan rasa keterkejutan. Bagaimana tidak terkejut, dia mendadak muncul mendekat menyikut lenganku hingga membuatku bergeser berpindah tempat. Apa-apaan dia barusan, gumamku dalam hati.
"Sudah selesai, lepaskan celemekmu. Ayo makan," ucapnya seraya memercikkan bekas air dari tangannya yang basah.
Akupun berdecak kesal, namun dirinya justru melenggang lebih dulu dan duduk di kursi meja makan.
Akupun menyusulnya, mengambil tempat duduk di hadapannya. Sesaat setelah Reynand menyuap makanan ke dalam mulutnya aku berujar, "Bagaimana rasanya?"
Dia mengunyah dan tampak berfikir lalu mulai memberi komentar, "Gak terlalu buruk."
Akupun berdecak dan memutar bola mataku. "Bilang saja gak enak," kataku ketus.
Tapi Reynand justru terkekeh. "Gak terlalu buruk kalau tiap hari kamu memasaknya untukku," ucapnya kemudian.
Bibirku mencibir. "Kesenengen kamu dong!"
Reynand justru membalasku dengan tersenyum simpul.
"Aku gak bisa memasak tiap hari, apa kita harus cari asisten rumah tangga?" ucapku memberi usul.
"Kurasa itu tidak mungkin," sahutnya cepat.
"Kenapa? Kamu keberatan untuk membayar gajinya, kalau itu yang kamu permasalahkan, aku bisa!"
"Bukan begitu Ra. Kamu tidak merasa, nanti bila ada orang baru disini, akan ada kecurigaan kalau melihat kita tidur dikamar yang berbeda," jelasnya.
Aku mengangguk. "Benar juga, kenapa aku tidak berfikir sejauh itu?" kataku membenarkan.
"Lalu?" tanyaku kemudian.
Reynand tampak berfikir. "Kita berdua sepertinya bisa bagi tugas," usulnya.
Aku menatap wajahnya, aku juga menyadari bahwa aku cuma numpang ditempatnya. Berbagi tugas rumah sepertinya tak ada salahnya. Akupun mengangguk menanggapi. "Baiklah bila aku tak sibuk atau lembur, aku yang ambil alih mengerjakannya. Begitu pula sebaliknya. Untuk lauk dan sayur kita berganti memasak atau mungkin yang lebih praktisnya kita membeli," ucapku padanya.
Reynand mengangguk menyetujui. "Baiklah, aku menyepakati usulmu," ucapnya dan diapun meneruskan makannya yang sempat tertunda.
***
Paginya kami sudah berpenampilan sama-sama rapi. Sebelum memulai aktivitas pergi ke kantor masing-masing, kami menyempatkan diri untuk sarapan bersama.
"Jam berapa kamu pulang?" tanya Reynand sesaat setelah menyeruput kopinya.
"Seperti biasa, kalau tidak lembur. Memangnya kenapa?" sahutku yang masih mengunyah omelet.
"Hubungi aku jika kamu pulang terlambat."
"Untuk?"
Reynand mengangkat wajahnya menatapku. "Apa kamu tidak melapor kepada orang tuamu kalau kamu pulang terlambat?"
Aku mengangguk. "Iya tentu, aku selalu ijin kepada orangtuaku," sahutku yang balik menatapnya.
"Aku suamimu. Aku perlu tahu kenapa dan dimana, kalau kamu pulang terlambat."
"Haruskah?"
Dia tampak berfikir. "Permintaanku tak banyak."
"Itu berlebihan," sahutku cepat.
Sorot matanya tampak berbeda. Dia tampak mengeram. Apa aku salah bicara, pikirku.
"Rey," ucapku mencoba membenarkan. Lalu aku mencoba untuk berbicara dengan hati-hati, "Benar, status kita suami istri, tapi itu hanya status. Jadi jangan berlebihan, apa lagi mengaturku."
Usai mendengar ucapanku Reynand mendegus, kemudian mengalihkan pandangannya. Kulihat tangannya terkepal, buku-buku jarinya memutih, kami pun juga sama-sana terdiam.
Dia menarik nafasnya dalam kemudian berujar sebelum meninggalkan meja makan. "Baiklah kalau itu maumu."
Aku hanya terdiam mengamati gerak tubuhnya dan perubahan ekspresinya. Bahkan dia meninggalkan sarapannya yang masih bersisa.
"Aku pergi Ra," ucapnya pamit menuju ke arah pintu.
Segera akupun beranjak dari dudukku berusaha untuk menghampirinya tentu saja memperbaiki situasi ini, melangkah menyusul Reynand, tapi justru langkah kakinya malah semakin cepat sudah sampai garasi mobil.
Begitu sudah dekat aku berteriak, "Rey tunggu!" Namun sayang suaraku justru tertelan sebab bantingan pintu mobilnya yang tertutup.
Akupun hanya bisa mengamati ke pergian dirinya. "Hanya karena masalah aku menolak wajib lapor dia sampai ngambek seperti itu, sungguh kekanak-kanakan," ucapku disertai mengumpat kesal padanya.
To be Continue