Elara Sterling, seorang agen lapangan CIA yang tangguh dan perfeksionis, mengemban misi paling berbahaya dalam kariernya: mendekati dan menghancurkan Dante Moretti, pewaris tunggal kekaisaran mafia Moretti yang kejam dan sulit diprediksi.
Rencana Elara sederhana menyusup, mengumpulkan bukti silsilah keluarga yang ilegal, lalu menghancurkan organisasi Dante dari dalam. Namun, saat Elara terjerat dalam situasi hidup dan mati di tengah udara, di mana pengkhianatan muncul dari rekan terdekat Dante sendiri, garis batas antara musuh dan sekutu mulai kabur.
Dante Moretti bukanlah monster tanpa hati seperti yang digambarkan oleh laporan agensinya. Ia adalah seorang pria yang jiwanya telah dipaksa mati oleh kekejaman ayahnya sendiri, Franco Moretti. Di balik ancaman senjata dan rahasia kelam masa lalu yang menghantui mereka, Elara menemukan bahwa dirinya bukan hanya sekadar mengamati target, melainkan terjebak dalam obsesi yang membakar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hais Tauahh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 | THAT WILL YOU DOR ME ?
Pukul 09.00 malam Atmosfer bar The Velvet Room terasa menyesakkan, diselimuti asap rokok yang menari-nari di bawah lampu neon biru. Elara duduk sendirian di bar, di depannya berjejer gelas-gelas kosong yang berembun. Ia tidak lagi menghitung sudah gelas keberapa yang ia tegak dalam satu tarikan napas yang ia tahu, ia hanya ingin membakar rasa perih di dadanya dengan alkohol yang lebih keras.
"Satu lagi," suaranya parau, hampir tenggelam dalam dentuman bass yang ritmis.
Kepalanya mulai terasa berputar hebat, seolah ruangan itu kehilangan porosnya. Rasa benci kepada Dante Moretti kepada pengkhianatan, kepada rahasia kematian Grandma Beatrice, kepada dirinya sendiri yang terjebak dalam jaring laba-laba pria itu semuanya memuncak.
" Bajingan " bisik Elara dengan mata yang berkabut. Ia mencoba berdiri dari kursi tinggi itu, namun kakinya seketika kehilangan fungsi. Dunianya berputar 180 derajat sebelum ia limbung dan menghantam lantai marmer dengan dentuman keras.
"Nona? Anda baik-baik saja?" Seorang pelayan bar bergegas menghampiri, wajahnya cemas.
Elara mencoba menggapai udara, namun kesadarannya terasa seperti pasir yang terlepas dari jemarinya. Di tengah kekacauan itu, ia tidak menyadari bahwa di sudut ruangan yang gelap, sepasang mata kelam milik Dante Moretti telah mengawasinya sejak menit pertama ia menenggak gelas keduanya.
Bukannya memanggil taksi, pelayan itu terhenti saat tangan seseorang mencengkeram bahunya dengan otoritas yang tak terbantahkan. Dante muncul dari balik bayang-bayang, jasnya terlipat rapi di lengannya.
"Biar aku yang mengurusnya," suara Dante dingin dan mutlak.
" Tapi Tuan, wanita ini—"
"Aku bilang, aku yang mengurusnya."
Dante tidak menunggu jawaban. Ia membungkuk, menyapukan lengannya di bawah lutut dan punggung Elara, mengangkat tubuh gadis itu seolah Elara tidak memiliki bobot sama sekali. Elara, dalam keadaan mabuk berat, sempat meracau tidak jelas, kepalanya terkulai di dada Dante.
" Kau pikir kau bisa lari dari masalahmu dengan mabuk di tempat rendahan seperti ini, Letnan?" bisik Dante tepat di dekat telinga Elara, napasnya terasa panas di kulit gadis itu.
Elara hanya bergumam pelan, jemarinya mencengkeram kerah kemeja Dante dengan tidak sadar, mencari pegangan di tengah dunia yang berguncang hebat.
Dante membawanya keluar menuju mobil sedan hitam yang sudah menunggu dengan pintu terbuka lebar. Malam itu, Elara tidak pulang ke apartemennya. Ia dibawa ke sebuah tempat di mana ia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari konsekuensi yang ia buat sendiri.
Dante masuk ke dalam mobil, membiarkan tubuh Elara bersandar di bahunya selama perjalanan menuju penthouse miliknya, menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan antara rasa ingin memiliki yang posesif dan rasa ingin menghancurkan yang sangat dalam.
Pintu Penthouse tertutup rapat, mengunci Elara dari dunia luar, sementara Dante tahu bahwa saat Elara terbangun nanti, segalanya tidak akan pernah sama lagi.
Elara tertegun, napasnya tersendat di kerongkongan. Ia segera menunduk, memeriksa tubuhnya di balik selimut sutra yang berat. Ia menghela napas lega saat mendapati dirinya masih mengenakan pakaian dalam lengkap dengan kaus hitam, namun sensasi kain yang asing di kulitnya segera memicu alarm di kepalanya. Kaus ini bukan miliknya.
Ia menatap Dante dengan tatapan yang bisa membunuh, wajahnya memerah padam antara amarah dan rasa malu yang luar biasa.
"Siapa yang mengganti pakaianku?" tuntut Elara, suaranya bergetar karena emosi.
Dante yang masih berbaring santai, menyangga kepalanya dengan satu tangan, menatap Elara dengan seringai yang sangat menjengkelkan. "Apakah di ruangan ini kau melihat pelayan wanita? Atau mungkin hantu yang punya hobi memandikan wanita mabuk?"
Tanpa menunggu jawaban, Elara melompat dari tempat tidur. Ia tidak memedulikan pening yang masih menyerang otaknya. Dengan gerakan refleks yang mematikan, ia menerjang Dante. Pria itu sedikit terkejut, namun dengan sigap berguling ke samping, membuat Elara hanya menghantam bantal.
Elara tidak memberi jeda. Ia melompat lagi, kali ini sikutnya menghujam tepat ke ulu hati Dante. Pria itu mendesis, wajahnya sedikit pucat menahan nyeri, namun bukannya marah, matanya justru berkilat penuh gairah yang gelap.
"Berani-beraninya kau!" teriak Elara, bersiap melayangkan pukulan berikutnya.
Namun, sebelum kepalan tangannya mendarat, Dante bergerak lebih cepat dari kilat. Ia menyapu kaki Elara hingga gadis itu kehilangan keseimbangan, lalu membalikkan posisi mereka dalam sekejap. Kini, Elara terhimpit di bawah tubuh Dante yang kekar, tangan pria itu mengunci pergelangan tangan Elara di atas kepala, sementara kakinya mengunci gerakan kaki Elara dengan sempurna.
Dante menunduk, wajah mereka hanya berjarak beberapa milimeter. Napas panas pria itu menerpa kulit wajah Elara.
"Kau punya nyali, Elara Vanderbilt," bisik Dante, suaranya sarat dengan otoritas yang menindas.
"Tapi teknikmu berantakan. Kau memukul dengan emosi, bukan dengan presisi."
Elara meronta, namun cengkeraman Dante tak tergoyahkan. "Lepaskan aku, Dante! Jangan pikir kau bisa memegangku seperti ini!"
Dante tidak bergeming. Ia justru menatap mata Elara lekat-lekat, membedah setiap ekspresi yang muncul di sana. "Reaksimu ini bukan reaksi wanita yang terbiasa disentuh pria manapun. Kau terlihat begitu asing dengan situasi ini."
Dante menyipitkan mata, sebuah kebingungan melintas di wajahnya sebelum berubah menjadi seringai penuh kemenangan saat ia menyadari sesuatu. "Jangan katakan padaku, Elara bahwa di balik topeng agen tangguhmu ini, kau bahkan belum pernah merasakan sentuhan pria?"
Ia menekan tubuhnya lebih dalam, membuat Elara tak memiliki ruang gerak sedikitpun. " Ternyata, si letnan yang sombong ini masih seorang gadis murni. Pantas saja detak jantungmu terdengar seperti genderang perang sekarang."
Dante tertawa rendah sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. Ia membelai rahang Elara dengan ibu jarinya, tatapannya kini berubah menjadi sangat posesif.
"Sepertinya insting bela dirimu tumpul karena terlalu banyak menghabiskan waktu di balik meja laporan," ujar Dante dengan nada merendahkan yang Provokatif. " Apa perlu kuajarkan bela diri lagi? Atau mungkin aku harus mengajarkanmu tentang bagaimana seorang wanita seharusnya diperlakukan di bawah kendali pria yang sebenarnya
●●●●