Pesona Majikan'ku adalah Sequel dari Novel sebelumnya ya itu "Pesona Pengasuh'ku"
Cerita ini mengisahkan tentang bagaimana Rehaan menjalani hidupnya setelah kematian pengasuhnya,
pengasuh sekaligus istri yang begitu ia cintai harus meninggal dengan tragis akibat dendam masa lalu.
"Bagaimana Rehaan bangkit dari keterpurukannya?"
ikuti terus "Pesona Majikan'Ku" untuk mengikuti kisah selengkapnya 🤗
📝 Author : Noor Hidayati 🕊️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor Hidayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemandangan Yang Tak Biasa
Di kantor Ravi dan Rehaan baru saja menyelesaikan meeting dengan klien. Setelah selesai membicarakan hasil meeting, Mereka terdiam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing.
Setelah cukup lama, Secara bersamaan mereka saling melihat dari sama lain.
"Apa yang Kau fikirkan Rehaan?" tanya Ravi membuka pembicaraan.
"Aku..." Rehaan merasa ragu untuk mengatakan.
"Rehaan, kenapa merasa ragu? Ceritakan padaku,"
"Ee... Begini, Aku... Ee.. Mm-Maksudku beberapa hari ini Aku merasa aneh dengan perasaanku, Sejak Aku menemani Mayura selama pemakaman Ibunya, Pandanganku kepadanya jadi berubah, Aku tidak lagi merasa kesal jika bertemu dengannya, Malah terkadang Aku merasa canggung dengannya," jelas Rehaan.
"Benarkah?" tanya Ravi yang seakan tak percaya.
"Ya, Abang taukan jika sebelumnya Aku begitu marah pada Pari saat Pari memintaku tidur bertiga dengan Mayura? Tapi tadi malam Aku memenuhi keinginannya tanpa merasa marah padanya, Bahkan Ada perasaan aneh saat tangan kami bersentuhan," ucap Rehaan mengingat malam itu.
"Kau jatuh cinta?" tanya Ravi.
"Apa! Jatuh cinta?" Rehaan balik bertanya.
Ravi menganggukkan kepalanya.
"Ee.... Tidak, Itu tidak mungkin, Mungkin saja Karena keadaan Pari yang baru keluar dari rumah sakit dan keadaan Mayura yang baru kehilangan Ibunya yang membuatku jadi tidak marah-marah padanya," elak Rehaan.
"Ya itu masuk akal," ucap Ravi.
"Meskipun mulutku mengatakan itu, tapi ntah kenapa hatiku berbicara lain," batin Rehaan.
Kini Ravi kembali diam mengingat kekesalannya pada Isyana.
"Lalu Abang sendiri kenapa? Apa Abang bertengkar lagi?"
"Ya seperti itulah," ucap Ravi kesal.
"Bang... Bang... Kalian ini baru menikah, kenapa selalu saja bertengkar?" tanya Rehaan tertawa menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya bercanda, Tapi Dia menanggapinya dengan serius, Bahkan Dia membawa-bawa nama Nay..." Ravi menghentikan ucapannya mengingat Rehaan pernah menghajarnya karena rasa cintanya pada Nayla.
"Nay! Nay siapa?" slidik Rehaan.
"Ee... Nay... Nay-Nay Sila, Ee-ya, Naysila" elak Ravi mengalihkan pandangannya.
"Siapa Naysila? Kau tidak pernah menceritakan gadis itu sebelumnya?" tanya Rehaan yang merasa itu bukan jawaban sebenarnya.
"Dia... Dia teman kerjaku di Swiss, Isyana memang selalu merasa cemburu dengannya,"
"Itu tandanya Kakak Ipar sangat mencintaimu, Kenapa Abang memarahinya?"
"Rehaan semua itu sudah berlalu, Aku tidak ingin Dia mengungkitnya Apa lagi Nay... Ee Naysila sudah tiada," ucap Ravi yang hampir menyebutkan nama Nayla.
"Kenapa Aku merasa yang Bang Ravi sedang membicarakan Nayla, Bukan Naysila," batin Rehaan.
"Ee sudahlah Rehaan, Kita pulang sekarang, pasti Pari sudah menunggumu," ucap Ravi yang langsung bangun dari duduknya.
Rehaan pun mengangguk dan bangun dan mengikuti Ravi.
•••
Ravi dan Rehaan sampai dirumahnya.
Terlihat Isyana yang sudah menunggunya di pintu.
Ravi dan Rehaan menghentikan langkahnya di depan Isyana.
Rehaan menganggukan kepalanya pada Isyana dan masuk lebih dulu meninggalkan Mereka.
"Ravi, Aku ingin minta maaf atas kebodohanmu," sesal Isyana.
"Baiklah, lupakan itu, Aku juga minta maaf" ucap Ravi.
Isyana tersenyum lega dan bergelayut manja menggandeng tangan Ravi ke kamarnya.
Sebelum pergi ke kamarnya Rehaan terlebih dahulu melihat Pari di kamarnya. Ia membuka pintu kamar Pari dan langsung di hentikan oleh Mayura yang sedang menidurkan Pari.
"Sssssstttt," Mayura menempelkan telunjuknya ke bibirnya sembari melirik Pari.
"O..." Rehaan mengangguk dan melangkah tanpa suara.
"Dia Baru saja tidur," lirih Mayura yang hampir tidak terdengar suaranya.
"Baiklah kalau Pari sudah pulas antarkan makanan ke kamarku, Aku sedang tidak ingin makan di bawah," ucap Rehaan.
Mayura menganggukkan kepalanya.
Kemudian Rehaan meninggalkan kamar Pari.
•••
Setelah tiga ouluh menit berlalu, Mayura mengantarkan makanan ke kamar Rehaan.
Tok Tok Tok..."
"Masuk."
Mayura pun masuk secara pelan-pelan, Terlihat Rehaan yang baru selesai mandi dan sedang mencari pakaian di lemari.
Mayura membelalakan matanya melihat Rehaan yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggangnya.
Rambutnya yang masih basah dengan punggung super mulus tanpa cacat serta lengan yang berotot membuat Majikannya terlihat sangat menggoda matanya. Sebuah pemandangan yang belum pernah Ia lihat pada Pria mana pun membuat pikiran Mayura lupa jika Ia harus meninggalkan kamar Rehaan.
Rehaan membalikkan badannya hingga membuat Mayura gugup dan langsung berputar membelakangi Rehaan sampai Ia menabrak Air minum yang baru saja ia letakkan di meja.
"Praaaannnkkkk..." gelas terjatuh kelantai dengan nyaringnya.
"Kau belum keluar?" tanya Rehaan mendekati Mayura.
"Emm... Maafkan Aku Tuan," ucap Mayura mencoba melihat Rehaan, namun Rehaan yang belum mengenakan pakaiannya membuat Mayura kembali membelakanginya.
Rehaan melihat pecahan gelas di depannya dan membuat dirinya naik pitam. Namun Rehaan kembali mengingat kesedihan Mayura kehilangan Ibunya. Rehaan pun menarik nafas dalam-dalam untuk meredam amarahnya.
Mayura mengumpulkan pecahan gelas satu persatu dengan perasaan gugup, malu dan perasaan aneh yang tidak bisa Ia artikan.
"Awwwhhh," Mayura memegangi jarinya yang terkena pecahan gelas.
Rehaan yang mendengar ringisan Mayura segera berlari ke arahnya.
"Sssttt... Aww.." Mayura menahan rasa perih menahan pecahan gelas yang menancap di jarinya.
Rehaan yang melihatnya meraih tangan Mayura.
Dengan sangat hati-hati Rehaan mencabut pecahan gelas tersebut dan langsung menghi*sapnya.
Mayura terdiam menatap Majikannya yang tanpa ragu menghi*sap jarinya, Sebuah pemandangan yang tidak pernah Ia bayangkan sebelumnya mengingat Rehaan yang begitu membencinya sejak pertemuan pertama Mereka.
Bersambung...
YUK AH KAWAL TERUS MAS REHAAN SAMPAI BISA LARI MENGEJAR MAS FARAZ 🤣