Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Bai Qing'er
Malam harinya di atas Kota Yunfeng. Cahaya matahari yang sebelumnya menerangi kota kini berganti dengan sinar bulan yang memantul di atas atap-atap bangunan kuno. Lampu-lampu kristal spiritual yang berjajar di sepanjang jalan utama menyala satu per satu, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh kota terlihat jauh lebih megah dibanding saat siang hari.
Setelah meninggalkan Aula Informasi Langit, Nova dan rombongan Lin Xue tidak langsung kembali bersiap meninggalkan kota. Mereka justru kembali menuju Penginapan Awan Abadi untuk beristirahat dan menyusun rencana perjalanan keesokan harinya.
Namun, baru beberapa langkah mereka memasuki halaman penginapan, seorang pelayan muda berpakaian rapi segera menghampiri Nova. Sikapnya sangat sopan, bahkan sedikit membungkukkan badan sebelum berbicara.
"Tuan Muda Nova."
Nova menghentikan langkahnya. "Ada apa?"
Pelayan itu mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan sebuah kartu undangan berwarna putih keperakan dengan ukiran bunga teratai di bagian tengahnya.
"Putri kami telah lama menunggu kedatangan Tuan."
"Beliau berharap Tuan bersedia memenuhi undangan makan malam yang telah disampaikan sebelumnya."
Begitu melihat lambang bunga teratai tersebut, Yan Mei langsung membulatkan matanya.
"Itu..."
"Undangan dari Kediaman Keluarga Bai!"
Lin Xue pun sedikit terkejut.
"Ternyata mereka benar-benar mengirim undangan resmi."
Nova sendiri baru teringat.
Sebelumnya, gadis bangsawan yang tidak sengaja ia lihat saat sedang berganti pakaian memang pernah mengirimkan undangan melalui pelayannya. Namun karena berbagai insiden yang terjadi berturut-turut... serangan monster roh, kemunculan Lembah Iblis Hitam, hingga kunjungan ke Aula Informasi Langit... ia hampir melupakan sepenuhnya undangan tersebut.
Nova menerima kartu itu dengan tenang.
"Baik."
"Sampaikan kepada putri kalian bahwa aku akan datang."
Pelayan tersebut langsung memperlihatkan senyum lega.
"Terima kasih, Tuan Muda Nova."
"Kami akan menunggu."
Setelah pelayan itu pergi, Yan Mei langsung mendekati Nova dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Hebat sekali."
"Baru beberapa hari berada di Kota Yunfeng, kau sudah mendapat undangan pribadi dari putri keluarga bangsawan."
Gu Shen tertawa kecil. "Kalau kabar ini tersebar, entah berapa banyak pemuda kota yang akan iri kepadamu."
Nova hanya tersenyum canggung. "Kurasa kalian terlalu melebih-lebihkan."
Lin Xue menggeleng pelan. "Tidak."
"Keluarga Bai bukan keluarga biasa."
"Mereka termasuk salah satu keluarga bangsawan tertua di Kota Yunfeng."
"Putri mereka sangat jarang mengundang orang asing ke kediamannya."
Tatapan Lin Xue kemudian sedikit berubah.
"Mungkin... dia memang ingin mengenalmu lebih jauh."
Nova hanya menghela napas pelan.
"Aku akan datang sebentar."
"Setelah itu kita tetap berangkat sesuai rencana."
Lin Xue menganggukkan kepala.
"Kami akan menunggumu."
Tidak lama kemudian, Nova mengikuti pelayan tersebut menuju kawasan timur Kota Yunfeng.
Semakin jauh mereka berjalan, bangunan-bangunan di sekitar mulai berubah. Jalanan menjadi lebih luas dan bersih, taman-taman spiritual memenuhi sisi jalan, sementara setiap kediaman yang berdiri di kawasan itu dijaga oleh formasi pertahanan yang jauh lebih kuat dibanding kawasan lainnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah gerbang megah akhirnya terlihat. Di atas gerbang itu terukir dua huruf besar.
Keluarga Bai.
Gerbang raksasa tersebut perlahan terbuka.
Di baliknya terbentang sebuah kediaman yang begitu luas hingga lebih menyerupai sebuah istana kecil. Paviliun-paviliun megah berdiri di antara taman bunga spiritual yang bermekaran, kolam teratai memantulkan cahaya bulan, sementara jembatan batu giok menghubungkan setiap bangunan dengan sangat indah.
Nova memperhatikan semuanya dengan tenang. Bahkan di Bumi, ia belum pernah melihat kediaman semewah ini.
Pelayan itu terus memimpin Nova hingga tiba di sebuah paviliun terbuka yang menghadap langsung ke danau kecil.
Di sana...
Seorang gadis berjubah putih telah duduk dengan anggun sambil menikmati secangkir teh spiritual.
Rambut hitamnya tergerai lembut hingga pinggang, diterangi cahaya bulan yang membuat kulitnya tampak semakin putih bersih. Wajahnya tetap secantik saat Nova tidak sengaja melihatnya dari jendela penginapan, namun kini auranya jauh lebih anggun dan berwibawa, benar-benar menunjukkan martabat seorang putri keluarga bangsawan.
Mendengar langkah kaki Nova, gadis itu perlahan mengangkat kepalanya.
Senyum tipis menghiasi bibirnya. "Tuan Nova..."
"Akhirnya kau memenuhi undanganku."
Nova mengepalkan kedua tangannya sebagai bentuk penghormatan.
"Maaf telah membuat Nona menunggu."
"Beberapa hari terakhir terjadi banyak hal."
Gadis itu hanya tersenyum lembut.
"Aku tahu."
"Bahkan seluruh Kota Yunfeng sedang membicarakan namamu."
Ia kemudian mengangkat tangannya, mempersilakan Nova duduk di hadapannya.
"Silakan."
"Malam ini..."
"...aku hanya ingin berbincang dengan orang yang berhasil membuat seluruh Kota Yunfeng menjadi begitu ramai."
Nova tidak langsung duduk. Ia terlebih dahulu mengepalkan kedua tangannya sekali lagi sebagai bentuk penghormatan sebelum akhirnya mengambil tempat di seberang gadis berjubah putih itu.
Begitu ia duduk, seorang pelayan wanita segera menuangkan teh spiritual berwarna hijau zamrud ke dalam cangkir giok di hadapannya. Aroma teh itu begitu lembut, membawa wangi bunga dan embun pagi yang langsung membuat aliran energi spiritual di dalam tubuh terasa sedikit lebih tenang.
Nova mengangkat cangkir tersebut perlahan.
"Teh yang sangat harum."
Gadis itu tersenyum tipis.
"Namanya Teh Embun Seribu Kelopak."
"Daunnya hanya dipanen sekali dalam sepuluh tahun dari Gunung Teratai Giok."
"Konon, selain memiliki rasa yang lembut, teh ini juga mampu menenangkan lautan kesadaran seorang kultivator."
Nova mencicipinya sedikit.
Benar saja, rasa hangat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat pikirannya terasa jauh lebih jernih. Namun perubahan itu hanya berlangsung beberapa tarikan napas sebelum tubuhnya secara alami menyerap seluruh energi spiritual yang terkandung di dalam teh tersebut.
Melihat ekspresi Nova yang tetap tenang, mata gadis itu kembali memancarkan sedikit kekaguman.
Ia tahu kualitas Teh Embun Seribu Kelopak. Bahkan seorang kultivator Ranah Mortal Langit biasanya akan membutuhkan waktu cukup lama untuk menyerap khasiatnya. Namun pemuda di hadapannya seolah hanya meminum secangkir teh biasa.
"Aku belum memperkenalkan diri secara resmi," ucap gadis itu sambil meletakkan cangkirnya.
"Namaku Bai Qing'er."
"Putri kedua Keluarga Bai."
Nova menganggukkan kepala.
"Salam kenal, Nona Bai."
Bai Qing'er memperhatikan Nova beberapa saat, seolah sedang mencoba membaca isi hati pemuda itu. Namun semakin lama ia mengamati, semakin sulit baginya menebak apa yang sedang dipikirkan Nova.
Pemuda itu terlalu tenang. Tidak menunjukkan rasa gugup ketika berada di kediaman keluarga bangsawan.
Tidak pula memperlihatkan sikap berlebihan karena berhadapan dengan seorang wanita cantik.
Sikapnya tetap sama seperti saat mereka bertemu untuk pertama kalinya.
"Sebenarnya..." Bai Qing'er membuka percakapan kembali, "aku ingin meminta maaf."
Nova sedikit mengangkat alis.
"Meminta maaf?"
Gadis itu mengangguk pelan.
"Insiden di penginapan beberapa hari yang lalu."
"Aku tahu kau tidak sengaja melihatku."
"Namun para pengawalku sempat bersikap berlebihan."
Nova tersenyum kecil.
"Masalah itu sudah selesai."
"Aku sendiri tidak pernah memasukkannya ke dalam hati."
Mendengar jawaban tersebut, Bai Qing'er tanpa sadar menghela napas lega. Ia memang sengaja mengundang Nova malam ini, bukan hanya karena rasa penasaran terhadap sosok yang menjadi pembicaraan seluruh Kota Yunfeng, tetapi juga untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang sempat terjadi di antara mereka.
Suasana kembali hening sejenak. Angin malam berhembus perlahan, menggoyangkan dedaunan di sekitar danau hingga menimbulkan riak-riak kecil di permukaan air.
Tak lama kemudian, Bai Qing'er kembali berbicara.
"Tuan Nova."
"Aku mendengar kau baru tiba di Planet Galastos."
Nova tidak terlihat terkejut.
Dengan jaringan informasi yang dimiliki Keluarga Bai, bukan hal sulit mengetahui sebagian perjalanannya di Kota Yunfeng.
"Benar."
"Kalau begitu..." Bai Qing'er melanjutkan sambil menatap lurus ke arah Nova, "apa tujuanmu datang ke dunia ini?"
Nova terdiam beberapa saat.
Tatapannya perlahan beralih ke permukaan danau yang memantulkan cahaya bulan.
"Aku sedang mencari seseorang."
"Seseorang yang sangat penting bagiku."
Jawabannya singkat, tetapi nada suaranya dipenuhi keteguhan yang membuat Bai Qing'er ikut terdiam.
Ia dapat merasakan bahwa pemuda di hadapannya tidak sedang bercanda. Orang yang sedang dicari Nova pasti memiliki tempat yang sangat penting di dalam hidupnya.
Bai Qing'er tersenyum lembut.
"Kalau begitu..."
"Aku berharap suatu hari nanti kau bisa menemukannya."
Namun, tepat ketika kata-kata itu selesai diucapkan, langkah kaki tergesa-gesa tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
Seorang pelayan berlari memasuki paviliun dengan wajah pucat.
"Nona!"
Bai Qing'er langsung menoleh.
"Ada apa?"
Pelayan itu menarik napas panjang sebelum berkata dengan suara bergetar,
"Patriark memanggil Nona ke aula utama."
"Beliau mengatakan..."
"...telah datang seorang tamu penting dari Sekte Pedang Langit."
Mendengar nama itu, senyum di wajah Bai Qing'er perlahan memudar.
Sorot matanya berubah serius, seolah ia baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak ingin ia dengar. Sementara Nova yang duduk di hadapannya hanya memperhatikan perubahan ekspresi gadis itu dalam diam, bertanya-tanya siapa sebenarnya tamu yang mampu membuat seorang putri keluarga bangsawan menunjukkan raut wajah seperti itu.