NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 #Bibit Cemburu

​Lantai teratas gedung Fernandez Corp terasa begitu sunyi dan dingin. Di dalam ruang kerjanya yang luas, Calvin Fernandez duduk tegap di balik meja kerja mahoni. Setumpuk berkas laporan audit kuartal kedua dan analisis ekspansi rute maskapai baru memenuhi mejanya. Sepasang mata Calvin menatap deretan angka di layar monitor, namun fokusnya telah menguap sejak satu jam yang lalu. Pikirannya masih tertinggal di kedai Jasmine Food & Bakery, pada senyum teduh Melati dan aroma manis saus karamel yang seolah masih melekat di ujung indra penciumannya.

​Greek...

​Pintu ruang kerja Calvin terbuka tanpa perlu menunggu izin darinya. Sosok Tomi Fernandez melangkah masuk dengan wibawa yang kental, mengenakan setelan jas hitam formal berkancing ganda.

​Calvin otomatis menegakkan punggungnya, mengalihkan pandangan dari monitor. "Papa? Ada yang bisa saya bantu?"

​Tomi berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di depan meja kerja putranya. Dia melirik arloji Rolex di pergelangan tangannya sekilas sebelum menatap Calvin dengan intens. "Calvin, tinggalkan dulu pekerjaanmu. Sekarang sudah jam dua siang. Pergilah ke Universitas Nusantara, jemput Zevanya di kampusnya."

​Calvin tertegun. Gerakan tangannya yang hendak menutup map dokumen mendadak membeku. "Menjemput Anya, Pa? Tapi... pekerjaanku untuk rapat direksi nanti sore belum selesai. Laporan analisis investasi dari paman Bara juga harus segera aku periksa ulang."

​Tomi mengibaskan tangannya pelan, menolak alasan yang diajukan putranya. "Urusan laporan bisnis bisa papa urus. Menjemput calon tunanganmu jauh lebih penting sekarang."

​"Tapi, Pa, Anya pasti membawa kendaraan sendiri ke kampus. Lagi pula, kami tidak membuat janji sebelumnya. Takutnya aku justru mengganggu jadwal kuliahnya," Calvin mencoba memberikan pembelaan terakhirnya dengan nada sehalus mungkin, berharap papanya akan luluh.

​Namun, wajah Tomi justru mengeras. Sorot matanya menatap Calvin dengan tegas, memancarkan aura dominasi yang tidak menerima bantahan.

​"Calvin, kamu harus mulai terbiasa memprioritaskan Zevanya. Jangan pernah mengecewakan harapan Papa dan Mamamu," ujar Tomi, suaranya berat dan penuh penekanan. "Putri Sanjaya adalah pilihan terbaik, paling sempurna untuk masa depan keluarga kita dan Fernandez Corp. Secara personal, dia juga sangat cantik, elegan, dan modis. Sangat cocok bersanding denganmu. Pergi sekarang."

​Calvin mengepalkan tangannya tersembunyi di bawah meja. Rasa sesak kembali menghimpit dadanya, namun ketidakberaniannya untuk membantah sang papa selalu menjadi tembok besar yang mengurungnya.

​Calvin akhirnya menarik napas pasrah, lalu mengangguk pelan. "Baik, Pa. Aku pergi sekarang."

..

​Suasana di area pelataran Universitas Nusantara masih tetap ramai dan bising oleh hilir mudik mahasiswa. Jam kelas terakhir Anya baru saja usai lima menit yang lalu. Karena hawa udara Jakarta siang ini terasa sangat gerah dan menyengat, Anya sudah melepas oversized blazer yang dia kenakan sejak di dalam kelas, menyisakan kemeja putih pas badan yang melekat sempurna, memeluk lekuk tubuh indahnya dengan pas.

​Anya berjalan menyusuri koridor luar menuju area parkir sembari terus menatap layar ponselnya. Jempolnya menggulir daftar panggilan dan pesan masuk secara berkala. Kosong. Tidak ada pesan dari nomor asing, tidak ada teror rahasia, dan yang paling penting, tidak ada tanda-tanda dari Bara Fernandez.

​Anya mengembuskan napas panjang, sebuah senyuman lega terukir di bibir ranumnya. Syukurlah, batin Anya lega. Dia merasa selamat. Ternyata ketakutannya sejak pagi tadi tidak terbukti. Anya sangat berharap bahwa paman dari tunangannya itu akhirnya sadar akan posisi mereka masing-masing sebagai paman dan calon keponakan, lalu memilih untuk melupakan janji darurat yang sempat dia ucapkan di bawah tekanan semalam.

​Di samping kanan dan kiri Anya, Alena dan Bella berjalan beriringan sembari mengoceh heboh tentang produk kosmetik bermerek internasional yang baru saja merilis koleksi lipstik terbaru.

​"Eh, Nya, Bel, kalian tahu nggak? Seri lipstik yang baru rilis itu ada warna cherry red yang bagus banget! Mirip banget sama warna lipstik favoritmu Nya," celos Alena dengan mata berbinar antusias.

​"Ah, masa sih? Aku malah mau incar yang warna nude-pink," timpal Bella tak kalah bersemangat.

​Namun, ocehan dan tawa heboh kedua sahabat itu mendadak terhenti seketika saat sebuah mobil sedan hitam mewah berdesain elegan meluncur perlahan dan berhenti tepat di hadapan langkah kaki mereka, memotong jalan menuju area parkir.

​Pintu kemudi terbuka, dan turunlah sosok pria tinggi dengan perawakan bersih dan wajah tampan yang sangat familiar. Calvin Fernandez. Pria itu siang ini tampil sedikit lebih santai, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, tanpa dasi yang biasa melekat di lehernya. Penampilannya yang rapi namun kasual itu langsung menarik perhatian beberapa mahasiswi lain yang berjalan di sekitar mereka.

​Bella dan Alena spontan melotot. Mereka langsung merapat, menyenggol lengan Anya dari kanan dan kiri dengan heboh.

​"Nya, Nya! Ini siapa?! Kamu kenal? Ganteng banget, demi apa!" bisik Bella setengah histeris dengan suara tertahan.

​"Ini... Calvin. Tunanganku yang kuceritakan tadi," jawab Anya dengan nada suara yang terkesan datar dan lemas.

​Alena hampir saja memekik kalau tidak segera menutup mulutnya sendiri dengan tas kuliahnya. "Ganteng banget, Nya! Beruntung sih kamu, paket lengkap begini. Kalau kamu beneran nggak mau atau terpaksa karena perjodohan, buat aku aja deh, Nya! Ikhlas aku!" canda Alena menyenggol pinggang Anya, membuat Anya mendengus pelan.

​Anya melangkah maju mendekati mobil, menghentikan jarak sekitar satu meter di depan Calvin. "Calvin? Kenapa kamu kemari? Ada apa?"

​Calvin mengulas senyum tipis, senyuman kaku yang selalu dia tampilkan untuk menjaga formalitas. "Untuk menjemputmu, Anya. Kamu sudah selesai kelasnya?"

​"Sudah, barusan saja selesai," jawab Anya, matanya melirik ke arah mobil Calvin, lalu kembali menatap pria itu. "Tapi... aku bawa mobil sendiri hari ini ke kampus. Ada di parkiran dalam."

​Mendengar hal itu, Bella yang sejak tadi menguping langsung melihat kesempatan emas. Dia menyenggol bahu Anya dengan cepat. "Ah! Soal mobil mah gampang, Nya! Kamu ikut aja sama Calvin. Biar mobilmu aku yang bawa pulang ke rumahmu, aman kok! Kebetulan aku hari ini nggak bawa kendaraan. Tenang, dijamin mulus!" seru Bella bersemangat, sengaja memberikan jalan agar sahabatnya bisa berduaan dengan sang tunangan.

​Anya sebenarnya merasa malas dan agak enggan. Dari sorot mata Calvin, Anya yang peka bisa membaca bahwa pria ini tidak datang atas keinginannya sendiri. Calvin pasti dipaksa atau diperintah oleh orang tuanya untuk melakukan ini. Namun, di sisi lain, Anya berpikir bahwa ini adalah kesempatan emas baginya untuk bisa berbicara berdua saja dengan Calvin secara pribadi, membicarakan tentang bagaimana cara mereka berkompromi untuk membatalkan ikatan ini di masa depan secara damai tanpa menyakiti kedua belah pihak.

​"Ya sudah kalau begitu," kata Anya akhirnya, mengangguk setuju. Dia menoleh ke arah Bella dan menyerahkan kunci mobilnya. "Nih, bawa yang benar. Jangan sampai lecet."

​"Siap, Tuan Putri!" seru Bella gembira.

​Anya kemudian berbalik menatap Calvin. "Kalau begitu, ayo."

​Calvin mengangguk ramah, memberikan senyuman sopan kepada Bella dan Alena yang langsung meleleh di tempat melihat ketampanan pria Fernandez tersebut. Calvin melangkah maju, membukakan pintu kursi penumpang depan untuk Anya dengan gerakan yang sangat sopan dan gentleman. Setelah Anya masuk dan duduk dengan nyaman, Calvin menutup pintu, memutari kap mobil, lalu masuk ke kursi kemudi.

​Dari luar jendela mobil yang perlahan berjalan menjauh, Alena langsung mengguncang bahu Bella dengan heboh. "Bell! Aku juga mau dong dijodohin kalau prianya modelan kayak begitu! Gantengnya sopan banget di mata!"

​"Aku juga mau, Al! Paket mewah begitu siapa yang mau menolak!" timpal Bella tertawa geli sembari menimang kunci mobil Anya.

...

​Sementara itu, di belahan kota yang lain, atmosfer di ruang rapat utama Fernandez Corp terasa sangat kontras. Ruangan besar ber-AC dingin itu dipenuhi oleh ketegangan profesional. Jajaran direksi dan beberapa investor duduk mengitari meja konferensi panjang.

​Bara Fernandez duduk di salah satu kursi utama, tepat di sebelah posisi kakaknya, Tomi Fernandez. Bara tampil sangat berwibawa dengan jas abu-abu gelapnya. Di hadapannya, beberapa dokumen proyek besar terhampar, namun fokus matanya sesekali melirik ke arah kursi kosong yang berada di ujung meja, kursi yang seharusnya ditempati oleh Calvin sebagai manajer operasional.

​Rapat kuartal itu akhirnya selesai setelah dua jam berjalan penuh perdebatan sengit. Satu per satu jajaran direksi meninggalkan ruangan setelah menjabat tangan Tomi dan Bara.

​Begitu ruangan hanya menyisakan mereka berdua, Bara menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi kulit, melipat tangannya di depan dada dengan gerakan yang sangat tenang. Matanya menatap tajam ke arah kursi kosong milik Calvin.

​"Kak," panggil Bara, suaranya yang bariton terdengar berat dan bergema di dalam ruang rapat yang kini sepi. "Di mana Calvin? Mengapa di rapat sepenting ini dia tidak terlihat di kursinya? Bukankah laporan rute maskapai baru ini adalah tanggung jawab divisinya?"

​Tomi Fernandez yang sedang merapikan berkas-berkasnya mendongak, lalu mengulas sebuah senyuman lebar yang dipenuhi rasa puas.

​"Oh, Calvin sedang pergi, Bara," jawab Tomi santai, nada suaranya terdengar sangat senang. "Aku yang menyuruhnya pergi tadi siang."

​Bara menaikkan satu alisnya tebalnya, tatapan matanya berkilat dingin yang tak terbaca oleh sang kakak. "Pergi? Ke mana?"

​"Dia pergi ke Universitas Nusantara untuk menjemput Anya, calon tunangannya," jelas Tomi sembari terkekeh pelan, membayangkan kedekatan putranya. "Aku sengaja menyuruhnya menjemput gadis itu agar mereka bisa menghabiskan waktu berdua hari ini. Bagaimanapun juga, mereka harus mulai membangun kemesraan sejak sekarang sebelum hari pernikahan tiba."

​Mendengar nama 'Anya' dan kata 'menjemput' keluar dari mulut kakaknya, gerakan tangan Bara yang sedang memegang pena mewah mendadak berhenti. Sepasang mata elangnya menyipit tajam, memancarkan kilat dingin yang sangat pekat. Di balik ketenangan wajah tampannya yang tanpa ekspresi, ada sesuatu yang bergejolak panas di dalam dada Bara saat mengetahui bahwa gadis cerinya saat ini sedang berada di dalam mobil yang sama, berduaan dengan keponakannya sendiri.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!