Dika Nugraha seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Saat ini dia sudah berusia 30 tahun namun dia belum juga mau untuk menikah. Karena sebuah kecelakaan dia mengalami kelumpuhan dan harus duduk di kursi roda.
Pak Nugraha sebagai papah Dika merasa kasihan pada putra nya itu. Akhir nya dia membeli gadis bernama Nisa Putri Surya yang masih berusia 19 tahun untuk Dika nikahi.
Dika di beri minuman oleh sang papah agar dia berhubungan badan dengan Nisa.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Tetap setia di sini😊😊😊
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diyah nur arroyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Nisa menyalami tangan Dika. Dika mencium sekilas kening Nisa lembut. "Aku berangkat ya mas" Pamit Nisa dan di angguki Dika.
Nisa dan Tiara pergi dari rumah untuk ke rumah sakit. Dika melihat Nisa dari jendela kamar nya. Dia malu untuk keluar rumah entah apa yang ada di fikiran nya hingga membuat nya harus mengurung diri di dalam rumah terus menerus.
Di sisi lain. Aditya sedang mengadakan pesta besar besaran di gedung aula kantor. Dia menyiapkan gadi gadis panggilan ke pesta nya. Banyak minuman keras yang tertata rapi di meja.
"Ayo Huda kita bersenang senang. Ini pesta kemenangan kita" Ucap Aditya puas.
Namun berbeda dengan Huda. Dia hanya tersenyum kecut melihat Aditya yang sekarang ini.
"Sungguh menjijikkan" Guman Huda dalam hati.
Huda memilih keluar dari aula tersebut. Dia berjalan ke arah ruangan lama Aditya karena Aditya menolak pindah ruangan padahal kini dia telah menjadi CEO di perusahaan tersebut.
Huda mulai menggeledah seluruh isi ruangan Aditya. Entah apa yang di cari nya. Cukup lama dia mencari dan dia tersenyum ketika menemukan apa yang dia inginkan.
Dia keluar dari ruangan Aditya lalu pulang ke apartemen nya. Hanya Dika yang tau apartemen milik Huda berada.
Termasuk Tiara yang sebagai kasih nya saja tidak tau akan tempat apartemen milik Huda itu.
Dia masuk ke dalam apartement milik nya lalu menaruh barang yang ia temukan tadi di ruangan Aditya ke dalam brangkas.
"Aku akan segera menyelesaikan nya" Ucap Huda puas.
Di rumah sakit. Nisa dan Tiara sudah sampai di rumah sakit. Mereka juga sudah bertemu Dokter serta membayar biaya rumah sakit dari hasil penjualan perhiasan Nisa.
Kini pak Nugraha sudah boleh pulang. Karena Nisa meminta untuk rawat jalan saja. Dengan catatan Setiap 2 minggu sekali pak Nugraha harus periksa ke rumah sakit secara rutin.
"Pah kita pulang ya" Ucap Nisa pada pak Nugraha.
"I.....iya" Jawab pak Nugraha. Pak Nugraha mengalami stroke, jadi pak Nugraha kesusahan untuk bicara dan hanya bisa duduk di kursi roda.
Nisa berjalan di samping Tiara yang mendorong kursi roda pak Nugraha. Saat akan masuk ke dalam mobil Nisa meminta bantuan satpam rumah sakit untuk membantu pak Nugraha masuk ke dalam mobil.
"Makasih ya pak. Ini ada sedikit untuk beli kopi" Ucap Nisa memberikan beberapa lembar uang pada satpam yang membantu nya.
"Tidak usah bu" Tolak satpam.
Nisa tersenyum lalu menyelipkan uang nya pada tangan satpam tersebut. "Terima kasih bu" Ucap satpam.
"Sama sama pak. Saya permisi dulu" Pamit Nisa.
Nisa masuk ke dalam mobil. Dia duduk di sebelah pak Nugraha untuk menjaga pak Nugraha.
"Kita langsung pulang sekarang?" Tanya Tiara.
"Iya kak. Kasihan mas Dika sama Putra nanti kalau kita pergi kelamaan" Jawab Nisa.
Nisa melihat ke arah pak Nugraha. Dia tersenyum lalu mengambil tisu yang ada di sebelah Tiara.
"Maaf ya pah. Nisa bersihkan dulu" Ucap Nisa membersihkan air liur pak Nugraha yang keluar dari mulut nya.
"Sungguh baik hati kamu Nisa. Dika sungguh beruntung memiliki kamu yang perhatian seperti ini. Padahal aku bukan orang tua kandung kamu. Tapi kamu tidak jijik dengan ku" Guman pak Nugraha dalam hati.
Nisa terus tersenyum pada pak Nugraha. Dia tidak ingin pak Nugraha tau kalau saat ini hati nya sedang sedih melihat keadaan pak Nugraha yang sekarang ini.
Cukup lama mereka di perjalanan lebih dari 2 jam mereka akhir nya sampai di rumah.
Nisa mengeluarkan kursi roda pak Nugraha. Nisa dan Tiara membantu pak Nugraha turun dari mobil namun mereka berdua kesulitan.
"Sini biar ku bantu" Ucap seorang pria muda.
"Luki" Ucap Nisa tersenyum.
Mendengar nama Luki pak Nugraha terlihat sangat marah. Luki membantu pak Nugraha duduk di kursi roda nya. Setelah menduduk kan pak Nugraha, Luki terkejut melihat om nya yang kini lumpuh dan berama Nisa.
"Om Nugraha" Ucap Luki.
Mata pak Nugraha membelalak marah. "Em em em" Guman pak Nugraha marah.
"Pah tenang pah. Papah kenapa? Papah kenal sama Luki?" Tanya Nisa lembut.
"Lebih baik kamu pergi sekarang" Ucap Tiara tegas pada Luki.
Luki mengangguk lalu pergi dari rumah Nisa. Sempat Luki mihat ke arah Nisa lagi karena banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Nisa sekarang. Namun keadaan nya tidak memungkinkan.
"Pah tenang ya. Dia sudah pergi papah yang tenang ya pah" Ucap Nisa lembut.
Nisa membersihkan kembali air liur pak Nugraha dengan tisu. Setelah itu Nisa dan Tiara membawa pak Nugraha masuk ke dalam rumah.
Nisa tersenyum ketika mihat Dika yang tidur di sofa dengan memeluk Putra di samping nya.
"Lihat lah pah. Mas Dika tidur sama Putra." Ucap Nisa lirih.
Pak Nugraha bingung, siapa Purta yang di maksud Nisa. "Si......a....pa?" Tanya pak Nugraha.
"Oh iya Putra anak Nisa dan mas Dika pah. Dia cucu papah" Ucap Nisa lembut.
Pak Nugraha perlahan melihat ke arah perut Nisa. Dia baru sadar kalau perut Nisa sudah kembali kecil.
Nisa tersenyum melihat pak Nugraha yang melirik ke perut nya. Dia berjalan perlahan ke arah Dika untuk mengambil Putra.
"Ini cucu papah" Ucap Nisa memperlihatkan Putra pada pak Nugraha.
Pak Nugraha terlihat sangat bahagia melihat cucu nya yang tampan. Dia tersenyum melihat ke arah Nisa.
"Papah mulai sekarang tinggal di sini sama kita. Papah tidak usah memikirkan apapun lagi. Yang terpenting kita selalu berama" Ucap Nisa.
Pak Nugraha mengangguk pelan. Dia sungguh bersyukur memiliki menantu yang sangat baik seperti Nisa.
"Biar aku bawa pak Nugraha ke kamar nya dulu. Kasihan pak Nugraha pasti lelah. Kamu juga istrahat gih" Ucap Tiara.
"Iya kak. Makasih ya kak" Jawab Nisa.
Tiara mendorong kursi roda pak Nugraha ke arah kamar. Simbok juga ikut masuk untuk membantu Tiara.
Sedangkan Nisa menaruh lagi Putra di samping Dika. "Mas bangun yuk. Kita pindah ke kamar saja" Ucap Nisa lembut.
Dika mulai terbangun. Dia duduk terlebih dulu. "Halo sayang nya bunda. Senang ya bubuk sama ayah" Ucap Nisa menggendong kembali Putra.
"Papah gimana?" Tanya Dika.
"Papah lagi istirahat di kamar. Kata Dokter papah sudah boleh pulang tapi setiap 2 minggu sekali harus periksa lagi ke rumah sakit" Jelas Nisa.
"Ke kamar yuk" Ajak Nisa. Dika mengangguk lalu berjalan mengikuti Nisa masuk ke dalam kamar nya.
"Bunda mandi dulu ya sayang. Kamu sama ayah dulu ya nak" Ucap Nisa.
"Sini biar aku gendong" Ucap Dika.
"Mas bisa?" Tanya Nisa.
"Bisa tadi di ajarin sama bibik" Jawab Dika.
Nisa tersenyum lalu memberikan Putra pada Dika. Dika menggendong Putra dnegan baik dia tidak ingin melukai anak nya itu.
"Aku mandi dulu ya sayang " Ucap Nisa mencium bibir Dika sekilas lalu berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Bunda kamu itu menggemaskan sekali, persis seperti kamu" Ucap Dika.
# selamat membaca ya kak
# terima kasih banyak
😊😊😊🙏🙏🙏