Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 8
"Minum dulu nak... Tenggorokanmu pasti kering." Halimah merenggangkan pelukannya, ia meraih cangkir teh yang uapnya sudah hampir menghilang kemudian memberikannya pada Amara.
Kali ini Amara benar-benar menerimanya, ia meminum teh yang dibuatkan mertuanya hingga tandas. "Terimakasih banyak ma..." Ucapnya pelan. Ada rasa malu yang tiba-tiba merayap saat tersadar ia baru saja menangis sesenggukan dalam pelukan mertuanya.
Seolah mengerti dengan kegelisahan Amara. Halimah segera berdiri, ia memanggil Abimanyu untuk mengalihkan perasaan Amara. "Bi..."
Abimanyu yang tengah membuat kopi di pantry segera menoleh. "Iya ma, ada apalagi?" Sahutnya malas.
"Bawa Amara ke kamar, biar ganti baju." Ucap Halimah kembali memberi titah namun suaranya tak sekeras tadi.
"Hah! Ke kamar?" Abimanyu sedikit terkejut, ia menatap Amara sekilas dan kembali beralih pada sang mama. "Kamar aku?" Tanya nya bingung.
"Astaghfirullah Abimanyu! Ya iya kamar kamu... Masa istri kamu disuruh masuk ke kamar orang!" Gerutu Halimah kesal. "Neng, ayo ke kamar ganti baju dulu bersih-bersih sekalian, biar badannya segar. Habis itu istirahat, besok sebelum mama pulang mama ajak belanja dulu ke supermarket buat kebutuhan kamu."
"Iya ma.." Tak menunggu perintah dua kali, Amara langsung berdiri mengikuti langkah Halimah memasuki kamar utama.
"Pakaiannya enggak usah diberesin sekarang capek sudah malam juga, besok saja beresinnya. Karena mama juga mau bersih-bersih dulu habis itu mau tidur, kamu istirahat ya."
"Iya ma, terimakasih banyak."
Halimah berdiri di pintu, menatap Amara. "Jangan berterima kasih terus, mama ini kayak orang lain saja."
"Iya ma, maaf."
--
Jarum jam tepat menunjuk ke angka dua belas saat Abimanyu memasuki kamarnya. Cahaya remang dari lampu tidur menjadi penerang samar tempat tidur yang terlihat kosong. Pria itu mengernyitkan dahinya saat menyadari tempat tidurnya kosong, ia melebarkan langkahnya hendak mencari tahu kemana Amara.
"Astaga!"
Abimanyu menghentikan langkahnya dengan mata yang membeliak saat melihat Amara yang meringkuk di lantai, di samping bawah tempat tidur.
Benar-benar tuh bocah... Batin Abimanyu sedikit kesal, namun tak urung tangannya menyentuh ujung selimut Amara. "Mara... Amara, bangun! Tidurnya pindah ke atas, jangan tidur di bawah. Kamu masuk angin nanti, aku juga yang repot." Ucapnya dengan tangan yang tak henti menarik-narik ujung selimut Amara. Dibalik sikap ketusnya, jauh di lubuk hati terdalam ada rasa iba yang selalu merayap setiap kali melihat Amara.
Amara yang sebenarnya belum tidur pura-pura menggeliat kemudian bersuara. "Aku mau tidur disini saja om, gerah." Ucapnya pelan dengan raut dibuat seperti orang yang tengah menahan kantuk, bersyukur tangisnya tadi membuat suaranya serak seperti orang yang beneran baru terjaga dari tidur.
"Gerah?" Ulang Abimanyu. "Ini kan AC nya nyala, gerah darimana coba? Pindah, naik! gak usah takut, aku tidur di sofa kok."
Amara menghela napas, ia bangun kemudian duduk bersila. "Biar aku yang di sofa om, om di tempat tidur. Dan om enggak usah berpikiran aku tengah mencari perhatian, aku enggak bermaksud seperti itu." Tutur Amara akhirnya berbicara panjang lebar. "Anggap saja ini sebagai bentuk terimakasih aku pada om karena sudah menikahi aku, karena tujuan utamaku bersedia menikah dengan om supaya bisa membuat mama nyaman di rumah tanpa melihat keberadaan aku." Lanjutnya, dan Abimanyu masih diam membiarkan gadis remaja itu mengeluarkan semua i-si hatinya.
"Sebelumnya, saat aku tahu mama tak ingin melihat aku dirumah, aku mau kabur ke Surabaya tapi enggak punya ongkos." Amara terkekeh, namun kedua matanya berembun. Dan Abimanyu bisa melihatnya dengan jelas.
"Aku akan mengerjakan apapun, nyuci baju om, nyetrika, dan masak. Jadi uang laundry om bisa buat ga-ji aku, enggak apa-apa enggak full seperti ga-ji pembantu lainnya yang penting aku punya pemasukan buat ongkos ke Surabaya nanti." Amara menarik napas panjang kemudian ia mengangkat wajahnya. "Dan kalau boleh... Aku mau minjam uang sama om, buat beli kebaya. Lusa kelulusanku..." Tutur Amara, suara seraknya yang tadi terdengar biasa kini berubah parau.
Ia baru ingat kalau saat kelulusan lusa, dirinya tidak memiliki orang yang bisa dimintai tolong untuk mendampingi nya. Sang mama yang larut dalam duka dan luka bahkan tidak ingin melihat keberadaannya, dan sudah dipastikan juga mamanya itu tidak mungkin sudi untuk mendampinginya setelah apa yang diperbuat oleh Reno sang papa.
Abimanyu menatap Amara, pria itu menghela napas. "Kamu butuh uang berapa?" tanya nya datar, berusaha untuk tidak menunjukkan iba nya pada Amara.
"Enggak tahu om." Amara menggelengkan kepala, dan itu membuat Abimanyu mendelik. "Kamu bilang butuh uang buat beli kebaya, tapi ditanya malah enggak tahu."
"A-aku... Enggak tahu harganya om. T-tapi kalau satu juta ada enggak? Aku mau sewa aja, mudah-mudahan dapat satu juta sama make up dan sepatu juga... Iya, satu juta aja om."
"Hm..." Sahut Abimanyu dengan deheman.
Tanpa mereka sadari, dibalik pintu Halimah berdiri mematung. Perempuan paruh baya itu menyeka sudut matanya, berulangkali ia mengusap dada mengusir sesak yang kian memenuhi dadanya saat mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Amara pada Abimanyu.
Anak yang terpaksa harus dewasa dalam waktu yang singkat, padahal sebelumnya ia tidak pernah kekurangan. Tapi saat ini menjelang momen berharga yaitu kelulusannya, disaat orang lain sibuk memilih baju dan MUA, memikirkan liburan sebelum memasuki bangku perkuliahan, Amara terjebak dalam pernikahan yang tak pernah terpikirkan siapapun. Bahkan remaja itu siap mengabdikan diri demi rupiah yang tak seberapa dibandingkan penghasilan Abimanyu.
Tanpa menimbulkan suara, perlahan Halimah meninggalkan pintu kamar Abimanyu. Ia kembali ke kamarnya dan menutup pintu dengan hati-hati.
"Mama darimana?" Pak Rusdan terjaga saat menyadari sisi ranjang di sebelahnya kosong.
"Habis matiin lampu." Dusta Halimah seraya mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang.
"Matiin lampu apa ngintip Abi?" Tanya pak Rusdan telak, membuat Halimah seketika berdehem.
"Papa juga ngintip ya?" Tanya nya curiga. Membuat pak Rusdan seketika terkekeh. "Papa enggak sekepo mama," jawabnya seraya menghela napas. "Ayo tidur lagi, sudah malam." Pak Rusdan menepuk bantal di sebelahnya, namun Halimah tak bergeming. Ia menatap suaminya lekat, seolah ada hal yang ingin ia sampaikan.
Pak Rusdan bangkit, menyandarkan punggungnya pada bantal yang ditumpuk. "Ada apa lagi hm?"
"Pa, kalau kita nginep dua hari lagi disini enggak apa-apa?" Tanya Halimah ragu-ragu.
"Mama mau ngapain? Ma... Berikan kepercayaan pada Abimanyu, dia sudah dewasa pasti tahu cara memperlakukan istrinya seperti apa meskipun pernikahan mereka bukan atas dasar cinta " Kata pak Rusdan berusaha meyakinkan istrinya.
Halimah menggeleng. "Bukan itu pa." Halimah menarik napas kemudian ia kembali bersuara. "Lusa Amara kelulusan sekolahnya, dan mama yakin dia enggak ada yang dampingi. Mama ingin kita mendampingi sebagai orang tuanya, bayangin pa kalau kita punya anak perempuan dan jadi Amara, gimana rasanya?"
Pak Rusdan mengerutkan keningnya. "Oh jadi Amara belum kelulusan?" Tanya nya sedikit kaget.
"Belum, makanya mama kasihan. Di momen penting seperti itu, dia harus sendiri bahkan enggak melakukan apapun seperti yang dilakukan teman-temannya menjelang kelulusan."
"Ya sudah kalau begitu, papa ikut saja. Kita dampingi dia, kalau Abi kan pasti sibuk kerja."
.
.
Amara membuka mata, merasakan pegal di seluruh tubuhnya dan mata yang sedikit perih. Belum ada dua jam ia baru bisa memejamkan mata, dan kini harus bangun sebab jam sudah menunjuk ke angka lima. Ia memaksakan tubuhnya untuk bangun, dan sesaat duduk di sofa, ia menoleh ke arah tempat tidur dimana Abimanyu terlihat pulas dengan suara dengkuran halusnya.
Amara menarik napas panjang, kemudian berdiri melipat selimut dan meletakkannya di atas bantal. Dengan lemas gadis itu melangkah pelan ke kamar mandi hendak mengambil wudhu.
Semangat Mara, kamu harus bangun pagi belajar masak dan beres-beres biar om Abi enggak rugi menampung dan meng-gaji kamu. Racau batin Amara terus menyemangati dirinya sendiri, dirinya yang tak bisa apa-apa selain merapikan tempat tidur kini harus mulai membiasakan diri mengerjakan semua hal yang biasa di kerjakan art di rumahnya.
Bersamaan dengan kakinya yang menginjak lantai dingin kamar mandi, Amara tersenyum getir pikirannya kembali melayang pada dua Minggu yang lalu sebelum papanya pergi menjalankan 'dinas' kerja ke Singapura. Ia begitu disayangi, tak pernah kekurangan kasih sayang dan materi, meskipun hidup bersama seorang ibu sambung.
Amara membuang napas dengan kasar, ia segera menunduk menyalakan kran air dingin dan segera berwudhu, membiarkan air matanya kembali luruh bersama air wudhunya.
Keluar dari kamar mandi, dengan tergesa Amara menggelar sajadahnya tanpa menoleh ke arah tempat tidur. Ia harus segera menyelesaikan sholat subuh kemudian menyiapkan sarapan sebelum Abimanyu bangun.
--
Pagi akhirnya datang, sinar matahari yang hangat menyelinap masuk melalui celah gorden. Menyapa hangat setiap sudut ruangan yang masih terasa dingin. Di dapur mungil, Amara seorang remaja yang kini telah menyandang gelar sebagai seorang istri berdiri mematung di depan kompor.
Tatapannya bergantian pada roti dan telur yang ia ambil dari dalam kulkas, jemarinya sesekali saling bertaut gelisah bahkan bibirnya terlihat komat-kamit mengabsen makanan yang terlintas di kepalanya untuk di jadikan menu sarapan. Namun tak satu pun yang bisa ia realisasikan, seumur hidupnya ia hanya bisa memasak mie instan dan menggoreng telur.
"Apa aku tanya om Abi saja ya, dia mau sarapan apa? Coba kalau ada nasi, aku bisa bikin nasi goreng." Gumam Amara, ia membuang napas kasar kemudian membalikkan badan dan melangkah cepat kembali masuk ke dalam kamarnya.
Langkahnya yang tergesa seketika melambat saat memasuki kamar, Abimanyu yang hendak turun dari tempat tidur seketika menghentikan gerakannya. Ia menatap Amara yang tengah berdiri menatapnya sekilas kemudian menunduk.
"Kamu kenapa?" Tanya Abimanyu datar, kemudian berdiri mengambil sesuatu dari laci nakas.
"Itu om... Mau sarapan apa?" Jawab Amara ragu-ragu menanyakan menu sarapan yang diinginkan Abimanyu.
"Apa saja." Ucap Abimanyu tanpa menoleh, tak lama kemudian pria itu melangkah memangkas jarak dengan Amara. "Ini, katanya kamu butuh uang buat beli kebaya." Ia menyodorkan uang pecahan seratus ribu pada Amara.
Melihat itu, raut muka Amara berubah. Mata sembabnya seketika berbinar, "Ya Allah.. Ini beneran om ngasih pinjeman ke aku? Makasih banyak om." Dengan cepat Amara menerima uang dari tangan Abimanyu kemudian memeluk pria itu selayaknya tengah berterima kasih pada seorang ayah.
Abimanyu mematung, ia menunduk menatap puncak kepala Amara di dadanya yang telan-jang. Wajah remaja itu menempel rapat, seolah tak menyadari kalau yang dipeluknya itu adalah Abimanyu.
Abimanyu memalingkan wajah kemudian membuang napas sesaat. Hidung mancung Amara dan kulit wajahnya yang halus menyentuh dadanya, menghadirkan desir yang aneh. Tak ingin terbawa suasana, Abimanyu segera bersuara. "Mara, katanya mau bikin sarapan!" tegurnya, seketika menyadarkan Amara yang juga terlihat kaget.
Gadis itu segera menjauhkan tubuhnya dari Abimanyu. "Maaf om." Ucapnya penuh rasa bersalah bersamaan dengan tangannya yang mengusap-usap dada bidang Abimanyu, seperti tengah membersihkan debu yang menempel.
Abimanyu hanya mendengus, baru semalam saja sudah bikin kacau...