Menikah merupakan suatu hal yang berbahagia bagi siapapun, tapi tidak berlaku bagi Azura Kalingga. Karena pernah batal menikah membuat Azura berpikir jika pernikahan itu suatu malapetaka.
Sekali gagal, membuat Azura berprinsip tidak akan menikah seumur hidupnya. Sampai akhirnya dia terjebak bersama pria di masa kecilnya.
"Menikahlah denganku!! maka hanya kebahagiaan yang akan kau rasakan."
"Maaf aku tidak berminat!!" ucap Azura cuek.
Apakah Tristan Marvino mampu mengubah pandangan Azura tentang pernikahan?
Yuk ikuti kisah selengkapnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arthi Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling kenal
Hari terus berganti hari, jam yang berputar pun masih tetap pada porosnya, rembulan malam menerangi semesta yang gelap gulita memberikan setitik kehidupan bagi siapa saja. Hewan malam ikut menjadi saksi atas kegundahan yang di rasakan seorang gadis muda, yang tengah menatap jauh kedepan di atas balkon kamarnya.
Tidak ingin kembali merasakan luka, membuat Azura ragu untuk dekat dengan pria manapun. Bayangan masa lalu kembali menari-nari di pelupuk mata, menyisakan sesak yang begitu mendalam. Tapi untuk kali ini dia tidak bisa menolak keinginan kakek kesayangannya, dan terpaksa mengikuti kemauannya. Sebuah tepukan di bahu menyadarkan Azura dari lamunan panjangnya, dia menoleh dan di dapatinya mamah Theolla sudah berdiri di belakangnya.
"Kamu udah siap sayang?"
Azura mengangguk lemah, jika di tanya siap tidak siap, tentu saja jawabannya TIDAK sampai kapan pun.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?"
"Bisa gak sih mah, pertemuan ini di undur saja?"
Mamah Theolla mengelus lengan Azura dan tersenyum kearahnya "mau di undur sampai kapan pun kamu tetap harus menghadapi malam ini, tidak kah kamu lihat wajah kakek begitu bahagia? dia begitu berharap banyak sama kamu sayang."
Azura membenarkan perkataan mamah Theolla, berulang kali dia menolak tapi untuk kali ini Azura tidak punya pilihan lain, selain mengikuti keinginan kedua orangtuanya.
"Hanya berkenalan kan mah? aku gak janji bisa cocok dengannya?"
Mamah Theolla kembali tersenyum "iya sayang, berkenalan saja dulu, jika cocok kami semua berharap kamu mau menerima perjodohan ini dan bisa menikah dengannya."
Menikah? mendengar kata yang begitu kramat itu membuat Azura merasakan bulu kuduknya berdiri, tanpa sadar dia mengusap lengannya mengusir rasa tidak nyaman saat mendengar kata menikah. Bahkan memikirkannya saja dia enggan, apalagi menjalankan pernikahan itu sendiri.
"Aku belum ingin memikirkan kesitu mah, aku nyaman dengan kehidupanku yang sekarang. Bahkan aku berpikir tidak akan pernah menikah seumur hidupku." akhirnya kata itu kembali terlontar begitu saja dari mulut Azura, membuat mamah Theolla terperangah kaget.
"Azura sayang kamu tidak bisa terus-terusan sendiri, akan ada pria baik yang nantinya menjaga kamu hingga tua, seperti mamah dan papah yang saling mengasihi dan saling menjaga hingga tua, begitupun dengan kamu nak."
Hening. Azura tidak menanggapi ucapan mamah Theolla, hanya semilir angin yang begitu terasa menusuk di kulit.
"Umur kamu sudah tidak muda lagi nak, wanita seumuran kamu sudah banyak yang menikah. Hari ini, besok bahkan beberapa tahun lagi kamu harus siap menghadapi hidup berumah tangga. Lupakan semua masa lalu, lupakan semua rasa perih yang pernah hadir karena batalnya pernikahanmu dulu!"
"Tidak mudah mah," ucap Azura lemah.
"Kamu pasti bisa! mamah yakin kamu orang yang kuat, bahkan kamu bisa melewati semua ini selama beberapa tahun terakhir. Berdamailah dengan masa lalumu nak!"
"Mamah salah dari luar aku memang terlihat kuat, tapi dari dalam lubuk hatiku yang terdalam aku belum bisa menghilangkan trauma karena pernikahan ku yang dulu batal."
"Ayo nak, kakek dan papahmu sudah menunggu di bawah!" ajak mamah Theolla, Azura mengangguk mengikuti langkah mamah Theolla.
🍂🍂🍂
Salah satu restoran mewah yang berada di pusat kota menjadi tujuan keluarga Azura kali ini. Terlihat Alvero yang memegang kemudi, sementara sang kakek duduk di samping Alvero. Azura sendiri duduk di kursi belakang di apit oleh mamah Theolla dan papah Jupiter.
Empat puluh lima menit kemudian mereka sudah tiba di tempat tujuan, keluarga Azura bergegas masuk mencari dimana keberadaan sahabat kakek. Setelah bertanya pada pelayan restoran, mereka di antar ke ruangan VIP yang berada di restoran tersebut.
Tampak seorang pria paruh baya di temani lelaki yang lebih muda darinya duduk di sebuah meja bulat besar, mereka berdua langsung berdiri tatkala melihat tamu yang di tunggunya datang.
"Pram.."
"Andre.."
Kedua pria yang sudah memasuki usia senja itu berpelukan karena lama tidak bertemu. Gantian dengan mamah dan papah Theolla juga Alvero dan Azura yang bersalaman dengan sahabat kakek.
"Kenalin ini Damar asisten pribadiku," ucap Opa Pramudya yang ternyata sahabat kakek Azura, dia memperkenalkan pria yang berdiri di sampingnya itu. Keluarga Azura kembali bersalaman dengan Damar sebelum akhirnya mereka duduk di tempat yang tersedia.
"Jadi ini cucu yang kamu maksud Andre?" tanya Opa Pram melihat kearah gadis muda yang duduk di antara mereka.
"Benar Pram dia cucuku, cantik bukan?"
"Sangat cantik, kamu tidak salah memperkenalkannya dengan cucuku?"
"Lalu dimana sekarang cucu anda pak?" tanya papah Jupiter, karena sedari tadi dia tidak melihat pria muda yang akan di kenalkan dengan Azura.
"Cucuku masih dalam perjalanan, dia terjebak macet paling sebentar lagi sampai."
"Bahkan di pertemuan pertama orang yang akan di kenalkan denganku terlambat, pria macam apa dia itu?" Azura bergumam dalam hatinya.
Para orang tua itu terus berbicara sambil menunggu pria yang akan di kenalkan dengan Azura datang. Bahkan Azura sudah masa bodoh, mau orang itu datang atau tidak. Justru Azura bersyukur jika pria itu tidak jadi datang, dengan begitu Azura tidak perlu repot-repot untuk menolak ini semua.
"Maaf saya datang terlambat." suara bariton dari arah pintu membuat semua orang menoleh kearahnya, kecuali Azura.
"Nah itu dia cucuku datang,"
Alvero dan papah Jupiter terlihat kaget melihat siapa cucu yang di maksud Opa Pram, karena mereka berdua sudah mengenal Tristan terlebih dulu.
"Tristan," ucap Alvero dan papah Jupiter bebarengan.
"Om Jupiter, Alvero?" sama terkejutnya Tristan tidak menyangka dengan kehadiran ayah dan anak itu. Azura yang mendengar suara seseorang yang di kenalnya terus menunduk, tanpa berani mengangkat wajahnya.
"Kalian kenapa bisa berada di sini?"
"Om datang kesini untuk memperkenalkan putri om pada cucunya pak Pramudya." jawab papah Jupiter dengan senyum yang lebar, karena dia tidak menyangka Tristan orang yang akan di kenalkan dengan Azura.
"Jadi kalian sudah saling mengenal?" tanya Opa Pramudya heran.
"Benar Opa, Alvero ini sahabat aku waktu di Jerman dan Om Jupiter ini papahnya Alvero, kebetulan kita juga sedang terlibat dalam sebuah proyek." ucap Tristan menjelaskan.
"Wah kebetulan sekali, jangan-jangan kamu juga sudah kenal dengan cucuku Azura?" kali ini kakek Andre angkat suara.
Tristan memperhatikan orang-orang yang berada di situ, dia menatap seorang gadis muda yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun warna peach. Senyumnya terukir begitu mengenali siapa gadis muda yang duduk di antara mereka, meskipun kali ini Azura masih menundukan wajahnya.
"Iya saya mengenalnya, dia Azura Kalingga Wijaya."
Azura merasakan debaran jantung yang tak biasa saat Tristan dengan fasih menyebutkan nama lengkapnya, perlahan Azura mengangkat wajahnya menatap semua orang yang tengah menatapnya. Bahkan kini matanya bertemu dengan mata Tristan yang sedang tersenyum kearahnya.
Deg!
Deg!
bersambung...
🍂🍂🍂
...Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, koment dan masukin daftar favorit💞dukungan kalian sangat berharga bagi author. Terima kasih🙏😍...
semangattt
mampir juga di karyaku ya kak😊
Dapat salam dari "Dear Sarah"
sukses
thor
keren
semangat