NovelToon NovelToon
Veto Sang Ketua BEM

Veto Sang Ketua BEM

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kara

​"Bukan lo yang mutusin buat nolak gue. Gue sendiri yang mutusin apa yang bakal gue lakuin ke lo!"
​Arshaka Rumi Wiraguna adalah Presiden BEM yang arogan dan urakan. Bagi Lyana, bendahara BEM yang kaku, Rumi adalah definisi "salah gaul" yang harus dihindari. Namun, takdir memaksa mereka terus bergesekan.
​Saat demonstrasi besar membakar kampus, Rumi mempertaruhkan nyawa demi melindungi Lyana. Sejak hari itu, tembok formalitas "Mas" dan "Mbak" pun retak. Apalagi saat KKN memaksa mereka tinggal satu atap di pelosok desa. Tanpa birokrasi kampus, sisi posesif Rumi muncul. Lyana yang awalnya hanya ingin fokus pada beasiswa, perlahan terseret dalam obsesi sang Presiden BEM.
​Di antara politik kampus dan ego yang tinggi, mampukah Lyana bertahan? Atau justru ia akan tunduk pada aturan main Arshaka Rumi Wiraguna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Bawah Langit yang Pucat

Ruangan itu mendadak terasa begitu luas. Dinding-dinding putihnya seolah menjauh, meninggalkan Lyana sendirian di hadapan meja oval kaca yang memantulkan bayangan wajahnya yang tampak kuyu. Pak Tirta, pria paruh baya dengan kemeja batik yang kaku itu, masih diam. Ia tidak marah, ia tidak membentak, ia hanya menatap Lyana dengan tatapan yang kosong—tatapan seorang administrator yang sudah terbiasa mematikan mimpi seseorang tanpa perlu menaikkan nada bicara.

Lyana merasakan tenggorokannya tercekat. Ia ingin menangis, tapi air matanya seolah tersumbat di pangkal tenggorokan.

"Saya bekerja," suara Lyana akhirnya keluar. Serak, tapi tidak bergetar. Ia memutuskan untuk tidak berbohong lagi. Ia sudah lelah berpura-pura. "Saya bekerja bukan karena saya ingin hidup mewah, Pak. Beasiswa dari yayasan, mohon maaf sebelumnya, hanya cukup untuk biaya kos dan makan dua kali sehari dengan sangat irit. Untuk buku, fotokopi materi kuliah, dan sesekali mengirim uang untuk Ibu di kampung, itu tidak cukup."

Pak Tirta hanya mengangguk pelan, seolah sedang mendengarkan laporan cuaca, bukan pengakuan putus asa seorang mahasiswi yang sedang berjuang mempertahankan pendidikannya.

"Saya mengerti kesulitanmu, Lyana," sahut Pak Tirta datar. Ia menutup map plastik di depannya dengan suara klek yang terdengar sangat final. "Tapi di dalam kontrak yang kamu tanda tangani, kamu setuju untuk tidak bekerja. Yayasan membutuhkan komitmen penuh dari penerima beasiswa untuk mencapai prestasi akademik yang maksimal. Bekerja hingga larut malam sebagai barista, menurut evaluasi kami, adalah bentuk pelanggaran terhadap komitmen tersebut."

Lyana menggenggam ujung meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa prestasi akademik saya pernah turun, Pak? IPK saya selalu di atas 3,7. Saya tidak pernah absen di kelas. Saya tidak pernah meninggalkan tanggung jawab saya sebagai mahasiswi. Apa itu semua tidak cukup untuk membuktikan bahwa saya punya komitmen?"

Pak Tirta tidak menjawab. Ia hanya menyodorkan secarik kertas putih ke tengah meja. Di sana tertulis prosedur standar operasional yayasan mengenai evaluasi penerima beasiswa yang melanggar kontrak.

"Keputusan tidak bisa diambil sekarang," ucap Pak Tirta, matanya kini beralih menatap jam dinding. "Kami harus membawa kasus ini ke rapat pleno dewan pengurus yayasan minggu depan. Untuk sementara, status beasiswamu kami bekukan. Tidak ada pencairan dana untuk bulan depan sampai ada keputusan final."

Lyana merasa dunianya dijungkirbalikkan. Pembekuan beasiswa berarti ia tidak akan punya uang untuk membayar sewa kos bulan depan. Ia tidak akan punya uang untuk makan. Dan yang lebih menakutkan, ia tidak akan bisa berkonsentrasi pada kuliah karena pikirannya akan tersita oleh bagaimana cara bertahan hidup.

"Minggu depan?" tanya Lyana lirih.

"Minggu depan," jawab Pak Tirta singkat. "Kamu boleh kembali ke kelas. Tapi ingat, jangan ada lagi pekerjaan paruh waktu sampai kami mengeluarkan keputusan resmi."

Lyana berdiri. Kakinya terasa seperti milik orang lain. Ia tidak lagi peduli pada ordner biru yang tergeletak di atas meja. Ia tidak lagi peduli pada Satria, pada tuduhan korupsi yang sudah dibatalkan, atau pada apa pun selain fakta bahwa ia baru saja kehilangan pijakan terkuat dalam hidupnya.

Ia melangkah keluar dari ruangan itu. Pintu kaca buram terbuka, dan ia disambut oleh aroma lavender yang menusuk hidung—aroma yang kini ia benci lebih dari apa pun di dunia ini.

Rumi masih duduk di sana, di sofa ruang tunggu. Ia segera bangkit saat melihat Lyana keluar. Wajah Rumi yang tadinya tampak tenang, berubah menjadi khawatir saat menangkap sorot mata Lyana yang kehilangan fokus.

"Lyan?" Rumi melangkah cepat, mencekal lengan Lyana dengan lembut. "Apa yang terjadi? Mereka bilang apa?"

Lyana berhenti melangkah. Ia menatap Rumi, lalu menatap dinding di belakang Rumi. Ia merasa seperti sedang melihat dunia dari balik kaca film yang sangat tebal; semuanya tampak buram, bisu, dan jauh.

"Beasiswaku dibekukan," ucapnya datar.

Rumi tertegun. Cengkeramannya pada lengan Lyana mengendur, matanya melebar tak percaya. "Apa? Tapi... tapi kita udah buktiin semua laporan keuangan itu palsu! Apa hubungannya sama beasiswa?"

"Mereka tahu aku kerja di Drip & Draft," jawab Lyana, suaranya tetap datar. "Aku melanggar kontrak beasiswa."

Rumi mengumpat pelan, sebuah kata kasar yang jarang sekali keluar dari mulutnya kecuali ia benar-benar kehilangan kendali. Ia menatap pintu ruangan Pak Tirta dengan tatapan seolah ingin mendobraknya. "Ini nggak masuk akal! Mereka nggak bisa gitu aja ngebekuin beasiswa orang yang lagi berjuang!"

"Mereka bisa, Rumi. Mereka yayasan. Mereka punya aturan, dan aku yang melanggarnya." Lyana menarik lengannya dari genggaman Rumi. Ia berjalan menuju pintu keluar kantor cabang, langkahnya terasa berat dan tidak berirama.

Rumi mengejarnya, berjalan di sisi Lyana dengan langkah lebar-lebar. "Kita lawan! Aku bisa minta bantuan Ayah, dia punya kenalan di dewan pengurus—"

"Jangan bawa-bawa ayahmu lagi!" suara Lyana meninggi, memecah kesunyian lobi yang tenang. Orang-orang yang berlalu-lalang menoleh, tapi Lyana tidak peduli. "Cukup. Mas, semuanya sudah cukup. Aku sudah lelah. Aku lelah dikejar-kejar ancaman, lelah harus membuktikan diriku setiap hari, dan sekarang aku lelah harus kehilangan satu-satunya jaminan hidupku cuma karena aku berusaha bertahan hidup!"

Lyana berhenti di depan pintu utama kantor yayasan yang terbuka lebar. Cahaya matahari siang yang terik menyengat wajahnya, membutakan pandangannya.

"Aku cuma mau pulang," bisik Lyana, suaranya kini bergetar hebat. "Aku mau pulang ke kampung, Mas. Aku nggak mau di sini lagi."

Rumi mematung. Ia menatap Lyana yang kini tampak begitu kecil di bawah terik matahari siang yang kejam. "Kamu nggak bisa pergi, Lyan. Semester depan kamu tinggal skripsi. Kamu udah berjuang sejauh ini."

Lyana menoleh. Matanya yang biasanya penuh dengan keteguhan, kini tampak begitu kosong. "Berjuang untuk apa kalau akhirnya aku harus kehilangan segalanya? Aku bukan kamu, Mas. Aku nggak punya jaring pengaman. Kalau beasiswa itu hilang, aku bukan cuma berhenti kuliah, aku berhenti hidup sebagai seseorang yang punya masa depan."

Ia berbalik, berjalan menuju tempat parkir motor tanpa menunggu Rumi.

Rumi berdiri di sana, membiarkan punggung Lyana menjauh. Ia ingin mengejar, ia ingin berteriak agar gadis itu berhenti, tapi ia tidak punya kata-kata yang cukup kuat untuk membantah kenyataan.

Di kejauhan, di sudut parkiran yang agak tersembunyi, sebuah mobil sedan hitam berhenti. Kaca jendelanya terbuka sedikit, dan seseorang duduk di sana, memperhatikan drama kecil mereka dari balik kaca film gelap.

Lyana meraih helmnya, memasangnya dengan tangan gemetar. Ia menyalakan motornya, mesinnya menderu pelan di tengah kesunyian parkiran yang luas. Saat ia hendak melajukan motornya keluar, mobil sedan hitam di dekat gerbang itu perlahan maju, memotong jalannya.

Mobil itu berhenti tepat di depan motor Lyana, memaksanya mengerem mendadak.

Kaca jendela belakang turun.

Hendrik Wiraguna duduk di sana, dengan setelan jas abu-abunya yang masih terlihat sangat sempurna meski hari sudah beranjak siang. Pria itu tidak tersenyum. Ia menatap Lyana dengan tatapan yang begitu dingin, tatapan yang tidak pernah Lyana lihat sebelumnya—tatapan seorang pengusaha yang sedang melihat aset yang bisa diolah.

"Lyana," suara Hendrik terdengar tenang, namun memerintah. "Saya baru saja mendengar kabar tentang beasiswamu dari pihak yayasan. Sebuah kerugian yang sangat disayangkan untuk mahasiswa sekaliber kamu."

Lyana menatap pria itu dengan waspada, tangan kanannya mencengkeram stang motor lebih erat. "Ada perlu apa Bapak di sini?"

Hendrik tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah amplop cokelat tebal dari jok kursi di sampingnya, lalu meletakkannya di atas atap mobil, tepat di depan jangkauan tangan Lyana.

"Saya tidak suka melihat orang-orang yang berbakat hancur hanya karena aturan birokrasi yang kaku," ujar Hendrik. "Di dalam amplop itu ada dana yang cukup untuk membayar UKT-mu sampai lulus, biaya kos, dan biaya hidupmu selama satu tahun ke depan. Tanpa ikatan yayasan, tanpa aturan konyol yang melarangmu bekerja."

Rumi, yang sejak tadi berlari mengejar Lyana, sampai di tempat itu tepat saat ia mendengar kalimat ayahnya. "Yah! Apa-apaan ini?!"

Hendrik tidak menoleh pada anaknya. Ia tetap menatap Lyana. "Pilihannya sederhana, Lyana. Kamu ambil amplop itu, lanjutkan kuliahmu dengan tenang, dan lupakan semua drama kampus yang tidak berguna ini. Atau, kamu menolaknya, pulang ke kampungmu dengan tangan hampa, dan melihat beasiswamu benar-benar dicabut minggu depan."

Lyana menatap amplop cokelat itu. Ia menatap Hendrik. Ia menatap Rumi yang tampak marah namun tak berdaya.

Ini adalah momen di mana harga diri beradu dengan realita. Sebuah pilihan yang tidak akan pernah bisa ditarik kembali. Dan di tengah hiruk-pikuk suara klakson kendaraan di jalan raya, Lyana meraih amplop itu.

Tangan Rumi terulur, mencoba menahan tangan Lyana. "Jangan, Lyan. Jangan ambil."

Tapi Lyana sudah menggenggam amplop itu. Ia merasakan beratnya uang di dalam sana. Berat yang terasa sangat menyesakkan dada.

"Kalau saya ambil ini," suara Lyana nyaris tak terdengar, menatap Hendrik dengan mata yang penuh kebencian sekaligus keputusasaan, "apa syaratnya, Pak?"

Hendrik tersenyum—senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Syaratnya? Mudah. Setelah kamu lulus nanti, kamu bekerja untuk perusahaan saya. Selama sepuluh tahun. Sebagai tim legal, atau apa pun yang saya butuhkan. Kamu milik saya, Lyana."

Rumi mematung di samping motor Lyana, wajahnya berubah pucat pasi.

Di tengah keterdiaman yang mematikan itu, ponsel Lyana kembali berbunyi. Bukan surel, bukan telepon. Sebuah pesan teks masuk dari nomor asing. Lyana membuka pesan itu secara refleks.

“Selamat, Lyana. Kamu baru saja menjual kebebasanmu sendiri. Tapi tunggu sampai kamu tahu, siapa orang yang sebenarnya membocorkan foto kamu bekerja di kafe itu ke yayasan tadi malam.”

Lyana terpaku. Ia membuka lampiran foto di dalam pesan itu.

Sebuah foto yang diambil dari sudut ruang tunggu yayasan beberapa menit lalu. Foto Rumi yang sedang berdiri di sana, dengan ekspresi yang sangat jelas sedang menelepon seseorang—sebuah foto yang diambil dari dalam ruangan yayasan, dari sudut pandang staf yayasan sendiri.

Dan di bawah foto itu, tertulis satu kalimat pendek yang membuat jantung Lyana benar-benar berhenti berdetak:

“Tanya kekasihmu itu, kenapa dia ada di dalam ruangan direktur yayasan tiga hari yang lalu.”

1
Lilik Juhariah
mulai baca
Emi Sudiarni
kren kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!