Di dunia di mana ibu tiri selalu dicurigai sebagai penyihir jahat, Clara harus menerima nasibnya.
Mantan Penyembuh Agung yang telah kehilangan seluruh kekuatan sihirnya ini terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Kapten Alden, komandan militer yang dingin, kejam, dan ditakuti di seluruh Samudra Langit.
Tugas Clara sederhana namun nyaris mustahil:, menjadi "pengasuh" bagi tiga anak blasteran mistis sang Kapten di atas kapal layar terbang raksasa, The Sky Leviathan.
Anak sulung setengah Phoenix yang siap membakar siapa saja, anak kedua setengah Sirene dengan kutukan suara mematikan, dan si bungsu yang bisa melihat roh pelahap jiwa.
Mereka semua membenci Clara. Namun, berbekal ketulusan hati, keberanian bertaruh nyawa, dan sisa pengetahuan magisnya, Clara bertekad menjinakkan kekuatan liar anak-anak tersebut sekaligus mengusut misteri kutukan masa lalu yang menghantui mereka.
Mampukah seorang wanita tanpa sihir mencairkan hati beku sang Kapten Langit dan mengubah kapal penuh b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Raf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Sauh di Udara Selatan
Fajar menyingsing dengan lambat di balik cakrawala langit barat, membiaskan semburat warna jingga dan keperakan yang menembus jendela kaca bundar kabin utama The Sky Leviathan.
Kapal induk raksasa itu kini telah berlayar sejauh ratusan mil dari wilayah ibu kota bawah, membelah sabuk awan tebal dengan keanggunan yang senyap. Mesin penggerak magisnya hanya menyisakan dengungan halus yang konstan, memberikan getaran menenangkan yang meninabobokan seisi kapal.
Di dalam kabin utama yang luas, aroma teh herbal dahlia putih dan panggangan roti gandum hangat mulai menguar, mengusir sisa-sisa ketegangan malam konspirasi yang baru saja lewat. Hana bergerak dengan cekatan di area dapur kecil kabin, menata cawan-cawan pualam di atas nampan perak dengan penuh perhatian.
"Nyonya Clara, minumlah selagi hangat," ujar Hana lembut sembari meletakkan secangkir teh herbal di atas meja kayu di depan Clara. "Saya menambahkan sedikit esensi madu hutan selatan untuk membantu memulihkan energi fisik Anda yang sempat terkuras."
Clara yang sedang duduk menyikat rambut panjang Rin di dekat perapian menoleh, memberikan senyuman tulus kepada pelayan setianya. Wajah manis Clara kini sudah tidak sepucat kemarin malam. Rona merah alami perlahan kembali ke pipinya berkat udara kabin kapal yang bersih. "Terima kasih banyak, Hana. Keberadaanmu di ruang sidang kemarin benar-benar menjadi kekuatanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau dan Mayor Cakra tidak bergerak cepat mengamankan serangan itu."
Hana membungkuk hormat dengan tatapan mata yang berkaca-kaca karena haru. "Itu sudah menjadi kewajiban saya, Nyonya. Melihat Anda berdiri tegap menghadapi Penasihat Brakala kemarin... saya menyadari bahwa anak-anak ini berada di tangan seorang ibu yang tepat. Brakala tidak akan pernah bisa merebut mereka dari Anda."
Di sudut ruangan, Toby sedang asyik bermain dengan beberapa miniatur kapal kayu di atas karpet bulu tebal, sementara Rin sesekali terkikik geli saat jemari tangan kiri Clara dengan lembut merapikan kepangan rambutnya.
Pintu geser kabin dalam kemudian terbuka, menampilkan sosok Kapten Alden yang baru saja selesai memeriksa ruang kemudi utama bersama Bernet. Pria tegap itu telah menanggalkan zirah perang beratnya, kini hanya mengenakan kemeja militer hitam dengan kerah tinggi yang longgar, memperlihatkan postur tubuh bidangnya yang luar biasa atletis. Rambut hitam obsidiannya sedikit berantakan terkena angin geladak, namun sepasang mata abu-abu badainya langsung melunak begitu tatapannya jatuh pada sosok Clara.
"Toby, Rin, pergilah ke ruang makan bersama Hana. Kakak kalian, Leo, sudah menunggu di sana," perintah Alden dengan suara baritonnya yang rendah namun penuh wibawa seorang ayah.
"Siap, Ayah!" seru Toby riang, segera membereskan mainannya dan berlari kecil menggandeng tangan Hana, diikuti oleh Rin yang memberikan kecupan singkat di pipi Clara sebelum melangkah keluar kabin.
Begitu pintu kabin kembali tertutup dan menyisakan keheningan di antara mereka berdua, Alden melangkah mendekat. Langkah kakinya yang berat tanpa suara berakhir di belakang kursi tempat Clara duduk. Tangan kokoh Alden bergerak perlahan, meletakkan kedua telapak tangannya di atas bahu Clara, lalu memberikan remasan lembut yang protektif demi menyalurkan kehangatan mutlak yang ia miliki.
"Bernet melaporkan bahwa kapal akan memasuki wilayah udara Sektor Selatan dalam waktu tiga jam," bisik Alden, membungkukkan tubuh tegapnya hingga napas hangatnya berhembus di dekat daun telinga Clara. "Kediaman kita di pelabuhan selatan telah dibersihkan oleh pasukan Mayor Cakra. Kau bisa beristirahat dengan tenang di sana, Clara."
Clara memegang punggung tangan Alden yang berada di bahunya, merasakan kehangatan murni yang selalu berhasil meredakan badai kecemasan di dalam dadanya. "Aku memikirkan perkataan Brakala kemarin, Alden. Dewan hukum domestik Kekaisaran sangat kaku jika menyangkut tentang warisan sihir garis darah militer. Pria itu akan menggunakan fakta bahwa aku seorang wanita tanpa sihir untuk menyudutkan kita di persidangan satu bulan lagi."
Alden mengitari kursi, lalu berlutut dengan satu kaki di depan Clara. Sepasang mata abu-abu badainya menatap lurus ke dalam netra jernih istrinya dengan intensitas emosi yang luar biasa pekat dan posesif.
"Dewan hukum mungkin memiliki aturan tertulis, tetapi aku adalah hukum tertinggi di atas kapal dan komando selatan ini, Clara," tegas Alden, rahang kaku tampannya mengeras tegap. "Statusmu sebagai ibu tiri dari Leo, Rin, dan Toby tidak ditentukan oleh secarik kertas perizinan istana, melainkan oleh ikatan jiwa yang telah kau buktikan saat bertaruh nyawa di gua utara demi menyembuhkan racun mereka. Brakala hanya bisa menggugat di atas altar, tetapi dia tidak akan pernah bisa melangkah melewati ambang pintu rumah kita selama pedangku masih terhunus."
Clara merasakan dadanya bergemuruh mendengar penegasan mutlak dari suaminya. Sentuhan posesif Alden yang begitu kuat melenyapkan sisa-sisa rasa takutnya terhadap masa lalu. Ia memajukan tubuhnya, menangkup wajah tegas Alden dengan kedua tangannya, lalu menyatukan kening mereka di bawah kehangatan temaram perapian.
"Aku tidak akan bersembunyi di balik jubah perangmu lagi, Kapten," bisik Clara dengan tekad baja yang berkilat di matanya. "Jika Brakala mengira status wanita tanpa sihir menjadikanku target yang mudah, maka aku akan menunjukkan padanya bahwa perlindungan seorang ibu bisa jauh lebih mematikan daripada sihir makro terlarang miliknya. Satu bulan ini... kita akan membangun benteng pertahanan yang akan menghancurkan karir politiknya untuk selamanya."
Alden tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang sarat akan rasa bangga dan gairah cinta yang mendalam. Ia meraih pinggang ramping Clara, mengangkat tubuh istrinya dengan mudah ke dalam dekapannya, lalu mengecup bibir Clara dengan kelembutan yang intens, mengunci janji setia mereka untuk menghadapi badai hukum yang menghadang di depan.
Sementara itu, di bagian geladak observasi luar kapal, Mayor Cakra berdiri tegak sembari memegang teleskop mekanis bertenaga kristal energi. Di sampingnya, Leo berdiri dengan posisi istirahat di tempat yang sempurna, meniru postur militer yang biasa diperlihatkan oleh ayahnya.
"Mulai hari ini, latihan sihir Phoenix milikmu akan ditingkatkan dua kali lipat, Leo," ujar Mayor Cakra tanpa menoleh, menatap hamparan sabuk awan putih di bawah mereka. "Brakala mengincar inti sihir unik milikmu dan adik-adikmu sebagai dalih hukum. Kau adalah anak sulung. Kau harus siap menjadi perisai pertama bagi ibumu jika bajingan istana itu mencoba berbuat nekat."
Leo mengepalkan tangan kanannya hingga percikan api Phoenix berwarna merah keemasan berdesir halus di sela-sela jarinya. Wajah mudanya tampak begitu serius dan matang melampaui usianya. "Saya mengerti, Paman Cakra. Ibu Clara telah mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan Rin dan Toby dari kutukan hitam. Saya tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Penasihat Sihir Kekaisaran, menyakiti Ibu saya lagi."
Cakra menoleh, menatap keponakan angkatnya dengan binar kepuasan. Pengaruh pengasuhan Clara telah menanamkan ksatria sejati di dalam jiwa Leo. Faksi selatan tidak akan pernah runtuh selama ikatan keluarga ini tetap mengunci erat.
Gema peluit uap dari menara kendali The Sky Leviathan berbunyi sebanyak dua kali, menandakan bahwa sauh udara siap diturunkan. Di bawah lapisan awan, siluet menara-menara pengawas pelabuhan udara Sektor Selatan yang megah dan dipenuhi tanaman hijau mulai terlihat menyambut kepulangan sang Kapten Langit dan sang Ibu Tangguh.
Fase konfrontasi berdarah di ibu kota telah berakhir dengan kemenangan politik yang mulus, namun genderang perang domestik baru saja resmi ditabuh di langit selatan.
Mohon dukungan dan follownya ya. 🙏🙏