Frida yang seorang wakil direktur perusahaan lebih memilih hidup sederhana di desa dengan seorang pemuda desa yang telah memikat hatinya sejak dipersatukan dalam pernikahan terpaksa di masa lalunya ketika usianya masih 18 tahun. Herdi, nama lelaki itu, telah menerima dirinya apa adanya dan mau menikahinya walau dirinya pernah depresi dan hamil karena menjadi korban perkosaan. Ketulusan Herdi dan kebaikannya tidak dapat dilupakan oleh Frida walau Papanya telah memaksa mereka berpisah setelah bayi itu lahir. Bahkan Herdi memohon agar bayi itu dirawat olehnya sebagai kenang-kenangan Frida. Pak Danu, papa Frida tentu saja senang dan tak perlu repot menyembunyikan bayi yang tak diharapkan itu. Setelah beberapa tahun kemudian, cinta Frida dan Herdi tak tergoyahkan. Cinta mereka penuh perjuangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L. ROSA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 PERTUNANGAN YANG TAK DIINGINKAN
Malam itu Frida dan Galih pulang ke rumah sedikit terlambat karena banyak urusan kantor yang harus diselesaikan. Ketika mobil Frida memasuki halaman rumahnya, tampak ada sebuah mobil yang terparkir. Frida tidak tahu mobil siapa. Hanya saja, sudah sejak sore, Mamanya menelpon terus-terusan. Sehingga membuat kepalanya pening ditambah pekerjaan yang tak bisa ditunda lagi.
Ketika memasuki pintu rumah yang terbuka, barulah Frida tahu, ternyata rumahnya kedatangan keluarga Nathan.
"Assalamualaikum, Selamat malam Om, Tante, Kak Nathan," Frida menyalami keluarga Nathan. Kemudian salam ke Papa dan Mamanya juga.
"Malam Om, Tante. Hei, bro!" Galih juga menyalami keluarga Nathan dan sahabatnya itu. Setelah salam ke Papa dan Mamanya, Galih duduk di samping Frida.
"Maaf, Om, Tante, kami baru bisa datang karena di kantor sedang banyak pekerjaan," kata Galih.
"Tidak apa-apa Nak Galih. Sekarang sudah hadir semua. Kita bisa mulai saja pembicaraan tentang rencana pertunangan anak saya Nathan, dan Frida," kata Pak Roni, Papi Nathan.
Frida terkejut. Papa dan Mamanya tidak pernah membicarakan apa-apa. Tidak pernah juga menanyakan apakah Frida mau atau tidak bertunangan dengan Nathan. Lalu kenapa sekarang tiba-tiba keluarga Nathan dengan percaya diri akan membicarakan tentang pertunangan? Sebenarnya siapa yang dalam hal ini patut salahkan? Frida kesal, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Pantesan, Mama menelponnya terus menerus supaya cepat pulang. Jadi ini rencana mereka.
"Kalau kami sih gimana Keluarga Nathan saja mengenai waktunya," kata Pak Danu.
"Ya sudah, bagaimana kalau bulan depan?" ucap Pak Roni.
"Gimana Than, setuju?" tanya Pak Roni, Papi Nathan. Nathan mengangguk malu-malu.
"Nak Frida gimana, setuju?" tanya Pak Roni.
Frida hanya diam. Bingung mau menjawab apa karena masih terkejut dengan rencana pertunangan ini.
"Kalau perempuan diam itu tandanya setuju," kata Mamanya, yang disambut tertawa lega semuanya.
Setelah mengobrol sebentar, keluarga Nathan diajak Mama makan malam. Sheeren yang sejak tadi ada di kamarpun bergabung makan malam di meja makan. Semua tampak menikmati hidangan yang disediakan. Setelah selesai, keluarga Nathan pun pamit pulang.
"Aku pulang ya Frida," kata Nathan.
"Oke," jawab Frida pendek.
Sebenarnya Nathan ingin lebih lama berada di rumah Frida bila Frida memintanya. Tapi harapan itu cuma tinggal harapan, karena sampai Nathan menyalakan mobilnya, Frida tidak menyuruhnya tetap tinggal atau pun mengajaknya bicara. Frida diam saja, sampai mobil keluarga Nathan pergi.
"Kak Galih tahu kan mau ada acara ini? Kenapa gak bilang waktu masih di kantor?" Frida mulai emosi setelah pintu depan ditutup.
"Kakak kira, kamu tahu dari Mama," jawab Galih berkelit.
"Lho kata Papa, kamu tahu, keluarga Nathan mau ke sini?" Mama malah melempar ke Papa Frida.
"Waktu itu kukira tidak serius. Papa juga gak ngasih tahu keluarga Nathan hari ini mau ke rumah. Papa enggak nanya aku bersedia atau enggak. Papa enggak pernah nanya apa mau Frida. Selalu dan selalu begitu. Semua keputusan ditangan Papa," teriak Frida.
"Itu semua demi masa depanmu. Papa lakukan ini karena sayang padamu!" jawab Papanya.
"Sayang?! Kalau sayang enggak begini! Menyakiti hati keluarga Mas Herdi. Menyakiti hati Frida. Bahkan cucu Papapun mau di buang! Apa itu yang namanya sayang?!" Frida meraung-raung.
Mama dan Galih memeluk Frida berusaha menenangkan Frida.
"Masa depan seperti apa yang Papa inginkan buat Frida? Membodohi semua orang, kalau Frida pernah menikah dan punya anak?" jerit Frida sengit.
"Sudahlah, Frida, sudahlah," Mama membawa Frida ke kamar. Galih terpaku menyandar ke dinding. Banyak yang belum diketahuinya tentang adiknya setelah tragedi itu. Ia baru mengetahuinya sekarang.
Pak Danu hanya diam di sofa. Ini mungkin puncak kekesalan Frida pada keputusannya. Sudah lama Frida memendam kebencian padanya akibat segala tindakannya yang tanpa persetujuan Frida.
"Frida pernah menikah dengan siapa Pa? Punya anak? Dimana anak itu?" tanya Galih.
Pak Danu tidak menjawab. Ia hanya berdiri, kemudian sambil beranjak, ia berkata pada Galih.
"Pastikan tanggal 9 bulan depan Frida bertunangan dengan Nathan. Anak itu semakin lama semakin membangkang," kata Pak Danu pada Galih. Rupanya Papanya tidak bergeming, tetap pada rencananya.
*****
"Kak, tolonglah aku Kak! Aku saja yang ikut acara itu ke Semarang ya?" Frida sedang merayu kakaknya.
"Nanti Papa marah, Frida. Tanggal itu kan sudah mendekati tanggal acara pertunanganmu. Kamu mau kabur ya?" tanya Galih.
"Aku cuma ingin bertemu anakku. Ini sudah 6 tahun, Kak! Kami terpisah sejak ia masih berumur 3 hari!" kata Frida lagi.
"Apa kamu ingin kembali juga pada laki-laki itu? Siapa dia? Apa salah satu pemerkosa itu?" tanya Galih.
"Bukan, Kak. Bahkan dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seseorang yang mencintaiku apa adanya," jawab Frida.
****
Frida lagi-lagi dibuat terkejut. Siang itu setelah acara meeting dikantornya selesai, Papanya, Mamanya, Nathan, dan keluarga Nathan masuk ke ruangan meeting. Pak Danu berbisik pada Salma, sekretaris Galih.
"Sebentar, sebentar. Minta perhatiannya sebentar. Saya ada pengumuman sedikit. Hari ini ada berita gembira. Wakil Direktur AMC Group hari ini akan bertunangan dengan GM Hotel D. Silahkan Pak Nathan menyematkan cincin pada Bu Frida, dan Bu Frida, silahkan menyematkan cincin pada Nathan," kata Salma kemudian.
Frida benar-benar syok! Bukankah rencana bertunangan tanggal 9? Lalu kenapa jadi sekarang? di kantor?
Galih mendorong pelan adiknya supaya maju sedikit, Nathan mendekati Frida. Asisten Nathan menyerahkan kotak cincin pada Nathan. Dengan terpaksa, Frida mengulurkan jarinya. Nathan menarik pelan jari Frida. Kemudian menyematkan cincin itu pada jari manis Frida. Frida heran kenapa bisa pas. Padahal belum pernah diajak ke toko cincin ataupun mengukur cincin.
Kemudian dengan terpaksa pula Frida menyematkan cincin pada jari manis Nathan. Semua orang yang ada di ruangan itupun bertepuk tangan.
Nathan tersenyum bahagia, kemudian mengecup kening Frida. Semua pun bertepuk tangan kembali. Keluarga Frida, keluarga Nathan tampak berbahagia. Fridapun tersenyum. Senyum yang terpaksa. Ia tidak mau orang lain yang hadir di tempat itu mengetahui masalahnya.
"Silahkan anda semua mencicipi hidangan yang ada di depan ruangan ini," kata Salma.
"Hari ini hari bahagia. Semau karyawan di kantor ini silahkan menikmati hidangan yang telah tersedia," Pak Danu menambahkan perkataan Salma.
Semua karyawan dari berbagai bagian gembira karena ada makan siang gratis. Nasi kotak tampak berjajar didepan ruangan meeting. Di seluruh bagian di kantor itupun berjajar nasi kotak yang langsung diambil para karyawan.
Rupanya acara pertunangan Frida dan Nathan dipercepat karena Pak Danu mendengar Frida akan menggagalkan pertunangan itu. Frida benar-benar dibuat tidak berkutik.
*****
HAPPY READING
Lemod
kalau gak suka yah jangan mau dibpaksa dong.